KELIRU

KELIRU
INGKAR JANJI


__ADS_3

"Aku.. aku tidak membawa pakaian ganti aunty. Dan aku tidak mau pulang kerumah. Aku takut dimarahi aunty Vanesha lagi," jawab Nindya sambil menundukkan kembali wajahnya.


Cairan bening sudah membendung di kedua pelupuk mata Nindya yang artinya tak lama lagi buliran itu akan jatuh membasahi kedua mimpi chubby miliknya.


Kasihan Nindya, apa yang telah terjadi padanya? sehingga Nindya sampai mengalami traumatik seperti ini.


"Hei, kan ada aunty Mega. Yuk biar aunty aja yang mengantarmu ke rumah, bagaimana?" tanya Mega dan cukup lama Nindya tak bergeming, akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya lalu menatap mata Mega dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Mega merasa tidak tega, ia pun menghapus air mata Nindya dengan sangat lembut.


"My princess kenapa menangis? kan ada aunty Mega disini," tanya Mega dengan senyumannya.


"Nindya hanya bahagia bisa bertemu dengan aunty lagi, aunty mau kan jadi mommy Nindya?" ucap Nindya lalu bertanya pada Mega membuat Mega seketika terkejut.


Tiba-tiba suara ketukan pintu pun terdengar dari depan kamar Mega. Lalu Mega menghela nafasnya dan turun dari tempat tidur kemudian berjalan untuk membukakan pintu.


"Permisi nona, di ruang tamu nyonya dan tamunya sedang menunggu nona dan juga nona Nindya," ucap pelayan rumah Nina.


"Oh iya, terima kasih. Bilang sama nenek kalau kami akan segera turun untuk menemuinya," kata Mega dan pelayan itu mengangguk lalu pergi dari hadapan Mega.


Mega pun menutup pintu kamarnya kembali.


"Nindya ayok, aunty akan mengantarmu ke rumah," ajak Mega dan Nindya pun langsung turun dari tempat tidur lalu menghampiri Mega.


Dengan telaten Mega menyisir terlebih dahulu rambut Nindya yang sempat berantakan, kemudian keduanya keluar dari kamar.


"Nindya kamu mau turun lewat lift atau tangga?" tanya Mega.


"Tangga aunty," jawab Nindya sambil tersenyum.


"Oke," ucap Mega dan mereka menuruni anak tangga.


Setelah sampai di lantai dasar, Nindya langsung berteriak saat ia melihat Adidaryo berada di ruang tamu bersama Nina.


"Grandpa," ucap Nindya yang langsung berlari kearah Adidaryo. Dengan sigap, Adidaryo langsung menyambut cicitnya.


"Hei my chubby," seru Adidaryo.


"Grandpa sejak kapan berada disini? daddy mana? kenapa bukan daddy yang menjemputku? aku tahu pasti daddy direpotkan oleh aunty Vanesha," gerutu Nindya sambil berjalan menghampiri Adidaryo, membuat Adidaryo terkekeh namun Nina dan Mega menatap mereka bingung.


Ada apa ya sebenarnya? aku jadi semakin penasaran.


Mega mencoba menerka-nerka dalam hatinya.

__ADS_1


"Nindya sekarang ikut kakek ya ke pemakaman," ajak Adidaryo.


Apakah dia cucunya Nina? sangat cantik dan terlihat cerdas. Tidak salah Nina menunjuknya sebagai pewaris tunggal generasi ke limanya.


"Kakek mau ke makam nanny dan didi?" tanya Nindya polos.


Nanny dan didi adalah sebutan Nindya kepada kedua orangtua Alka dan Albi.


"Bukan sayang, kita akan mengantar aunty Vanesha ke peristirahatannya yang terakhir," jawab Adidaryo membuat Nina dan Mega terkejut dan keduanya pun saling bertukar pandang.


"Maaf tuan, apakah benar ibunya Nindya telah tiada?" tanya Mega yang masih tidak percaya.


"Iya Mega, kalau kamu mau iku mari kita pergi bersama-sama. Nanti disana kita juga akan bertemu dengan Alka dan Albi," jawab Adidaryo sambil tersenyum.


"Grandpa, aunty Vanesha itu bukan ibuku," protes Nindya sambil mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Adidaryo hanya terkekeh menutupi rasa malunya.


Apa? bertemu pinang dibelah dua itu? rasanya aku belum siap untuk bertemu mereka.


"Hem.. maaf tuan tapi saya ada kuliah pagi hari ini," ucap Mega menolak secara halus karena hatinya belum siap untuk bertemu Alka maupun Albi.


Untung saja Mega maupun Nina tidak bertanya lebih banyak lagi soal Vanesha.


"Iya biar aku aja yang ikut kepemakaman," kata Nina dan Mega pun merasa sedikit lega.


"Oh iya tuan, tapi Nindya belum mandi. Tadi sudah aku ajak untuk mandi dia menolak karena tidak membawa pakaian ganti," ucap Mega hati-hati.


"Tidak apa nanti sesampai dirumah ada baby sitter yang akan mengurusnya," kata Adidaryo.


"Kalau begitu kami permisi, Nina, Mega," pamit Adidaryo sambil menggenggam tangan Nindya.


"Bye grandma, bye aunty," ucap Nindya sambil melambaikan tangannya.


Nina dan Mega pun membalas lambaian tangan Nindya. Setelah kepergian Nindya dan Adidaryo dari rumahnya, Nina dan Mega pun pergi ke ruang makan untuk menikmati sarapan bersama.


"Sayang, kamu yakin gak mau ikut ke pemakaman cucu menantunya Adidaryo?" tanya Nina.


"Tidak nek, aku mau berangkat ke kampus aja. Aku lagi malas bertemu dengan pinang kebelah dua itu," jawab Mega sambil menikmati makanannya.


Nina pun terkekeh, "memangnya ada apa sih? jangan bilang kamu mulai mencintai keduanya?" goda Nina membuat Mega mencebikkan bibirnya.


"Nenek jangan menggodaku," timpal Mega membuat Nina tertawa.


"Sudah cepat habiskan sarapanmu, setelah itu pergi ke kampus," ucap Nina dan Mega pun mengangguk.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, keduanya telah selesai menghabiskan sarapannya. Mega berpamitan untuk berangkat ke kampus lebih dulu, sementara Nina sedang bersiap pergi ke pemakaman Vanesha.


Zorgvlied Cemetery


Alka dan Albi sudah berada di tempat pemakaman lebih dulu karena mereka harus mengurus administrasi ke pihak tempat pemakaman mewah ini. Tak lama ambulance pun datang memasuki gerbang pemakaman.


Adidaryo, Nindya serta Nina pun baru saja tiba di halaman parkir pemakaman tersebut. Suasana haru menyelimuti pemakaman Vanesha, kecuali Nindya yang masih belum mengerti kalau Vanesha telah tiada.


Kenapa Mega tidak ikut bersama neneknya? apa dia masih marah denganku ataupun Alka?


Albi bertanya-tanya tentang Mega dalam hatinya. Walaupun Albi tidak mencintai Vanesha, namun Albi tidak bisa menampik rasa kehilangan sosok Vanesha di hidupnya.


Setelah pemakaman selesai, Nina pamit untuk berkunjung ke makam Adrian dan juga Hermelinda. Bayang-bayang kenangan tentang mendiang kedua anaknya pun memutar didalam memori otaknya.


Tiba-tiba saat Nina sedang memanjatkan doa untuk Adrian dan Hermelinda, ada seseorang yang menepuk bahu Nina. Dan Nina pun langsung menoleh karena terkejut.


"Maaf mengganggu waktu nyonya."


"Oh, kamu ternyata. Kamu Alka atau Albi?" tanya Nina kemudian laki-laki itu ikut berjongkok di samping Nina.


"Aku Albi nyonya."


"Ada apa kamu kemari?" tanya Nina dingin.


"Aku hanya ingin tau keberadaan Mega nyonya," jawab Albi dengan penuh hati-hati.


"Mega pergi ke kampus hari ini, ada apa memangnya kamu mencarinya?" ucap Nina lalu bertanya pada Albi.


"Aku hanya ingin berbicara banyak pada Mega, apakah nyonya mengizinkan jikalau aku menemuinya?" jawab Albi lalu bertanya pada Nina.


Kira-kira apa ya yang akan Albi bicarakan pada Mega? aku jadi semakin penasaran.


"Baiklah temui saja. Tapi ingat pesanku, jangan pernah kamu membuat janji padanya, jika pada akhirnya kamu sendiri yang mengingkarinya," jawab Nina sambil menatap tajam kepada Albi.


"Baik nyonya, terima kasih telah mengizinkanku bertemu dengan Mega," ucap Albi dan Nina pun mengangguk.


"Kalau begitu aku permisi nyonya," pamit Albi lalu pergi dari hadapan Nina.


Nina pun kembali memanjatkan doa untum mendiang Adrian dan Hermelinda serta Lesmana. Sedangkan di depan pemakaman Adidaryo sedang menunggu Albi kembali.


Tak lama saat Albi telah kembali, Nindya merengek untuk kembali ke rumah Mega.


"Daddy, bolehkan aku bermain dengan aunty Mega lagi?" tanya Nindya sambil menarik-narik ujung jas yang Albi pakai.

__ADS_1


"Iya boleh kok sayang," jawab Albi sambil tersenyum.


__ADS_2