KELIRU

KELIRU
AKU PERGI


__ADS_3

Indonesia


Pagi hari ditempat April berada. April yang masih tidak berpakaian terbangun dari tidurnya namun ia tidak melihat keberadaan Dany di sampingnya.


Kemana perginya mas Dany? ish kepalaku terasa pusing sekali.


April melihat ke sekeliling kamar Dany sambil memegangi kepalanya. Ia pun perlahan turun dari tempat tidur dengan menutupi tubuhnya dengan selimut lalu berjalan ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit kemudian, April telah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia keluar dari kamar Dany sambil mencari keberadaan Dany, namun April tak kunjung menemukan laki-laki yang hampir paruh baya itu. Tak sengaja ia melihat selembar kertas di atas meja ruang tamu. April mengambilnya lalu membacanya.


Dear April,


Aku pergi untuk sementara waktu. Aku titip kebun dan jaga dirimu baik-baik. Aku akan merindukanmu. Sampai bertemu kembali, jangan pernah mencoba untuk kabur. Karena aku pasti akan segera menemukanmu. Jika ada anakku dalam kandunganmu, jaga dia baik-baik. Suatu saat aku pasti akan kembali dan berkumpul denganmu serta si kecil.


Fardany Ramli


Air mata April jatuh seketika, tubuhnya pun ikut terjatuh keatas kursi yang berada di ruang tamu.


Kenapa mas Dany pergi? aku gak mau disini sendirian. Aku takut mas. Kenapa kamu tega mas!


Tangis April semakin menjadi sambil meraung meratapi nasibnya yang kini hanya sendiri. Ia pun langsung mengelus perutnya yang masih rata.


Gak! gak boleh ada anak mas Dany di dalam perutku sebelum mas Dany kembali! aku harus mencari cara supaya aku bisa pergi dari sini dan bisa bertemu dengan mas Dany.


Seketika April seperti kehilangan akal sehatnya. Ia pun bangkit dari duduknya lalu mundar mandir mencari cara yang tak ia sadari dengan kedua tangannya yang mulai bergetar karena ketakutan.


Flashback on


Pukul 3 dini hari, Dany mendapat telepon dari Adidaryo karena di Belanda masih pukul 10 malam. Dany yang saat itu baru tidur 1 jam yang lalu merasa sangat lelah karena pertempurannya dengan April yang sangat panas.


Dany diminta Adidaryo untuk segera ke Belanda untuk mengurus masalah perceraian Alka dan Kira. Dany merupakan tangan kanan sekaligus pengacara handal yang sangat keluarga Adidaryo percayai.


Satu jam setelah menerima telepon dari Adidaryo ia pun berangkat ke Belanda sebelumnya kemudian ia meninggalkan selembar surat untuk April. Walau hatinya berat, tapi demi tugas ia harus rela meninggalkan April sendiri.

__ADS_1


Flashback off


🌾


Belanda


Suasana pagi di negara kincir angin. Semilir angin yang berhembus begitu terasa masuk kedalam pori-pori kulit. Tak lama lagi musim dingin pun akan tiba, namun kabut di pagi ini masih sangat tebal menyelimuti kompleks rumah mewah di sudut kota Amsterdam.


Rumah Nina


Mega telah terbangun sejak 15 menit yang lalu. Rasa bahagia yang tengah ia rasakan membuatnya bersemangat bangun lebih awal. Mega pun telah selesai dan berganti pakaian dan dengan handuk kecil yang masih melilit di kepalanya karena habis keramas.


Mega duduk di depan meja riasnya. Ia pun mulai memoles wajahnya dengan makeup tipis seperti biasanya. Setelah beberapa saat ia melepas lilitan handuk yang berada di kepalanya dan mengambil hairdryer lalu menyalakannya. Saat ia tengah asik mengeringkan rambutnya, matanya tak sengaja tertuju pada sebuah bingkai foto yang berdiri diatas meja riasnya. Didalam bingkai itu terdapat foto dirinya saat kecil bersama mendiang ayah dan ibunya sedang menunjukkan senyum bahagia. Mega mematikan hairdryernya dan menaruhnya kembali di tempat semula.


Kemudian Mega mengambil bingkai foto itu dan menatapnya dengan lekat. Terbesir rasa rindu kepada mendiang kedua orangtuanya, tanpa permisi air mata pun lolos seketika dari pelupuk matanya yang sejak tadi sudah membendung.


Ayah, ibu aku rindu kalian. Seandainya kalian masih berada disini bersamaku, kebahagiaanku pasti terasa sangat sempurna. Kalian tau? sebentar lagi aku akan dilamar oleh seorang laki-laki yang pernah menolongku dulu. Aku berharap kak Albi bisa menerimaku apa adanya, dengan keadaanku yang sebenarnya. Tanpa aku berpura-pura. Semoga kelak kita bisa bertemu kembali.


Tes


Tes


Tes


Darah? kenapa bisa? apa yang telah terjadi padaku?


Mega langsung membersihkan darah yang berada diatas bingkai foto tersebut dan juga hidungnya. Sambil menundukkan wajahnya ia pun berharap darahnya akan berhenti. Cukup lama ia menunduk, darahnya pun tidak keluar kembali dari hidungnya. Setelah selesai, Mega keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan.


"Pagi nek," sapa Mega lalu mencium pipi Nina.


"Pagi, tumben cium pipi nenek. Oh iya nenek tau pasti karena nanti malam ya?" goda Ninda dan Mega hanya mengukir senyuman diwajahnya. Mega menarik kursinya dan ia pun duduk.


"Nek, apakah nenek yakin kak Albi berbeda dari Damar?" tanya Mega seraya mengambil sarapannya. Dalam hatinya penuh harap Nina akan menjawab iya atas pertanyaannya.

__ADS_1


"Tentu, walaupun mereka dari satu keluarga yang sama namun sifat mereka sangat bertolak belakang," jawab Nina dengan santai, seketika membuat Mega membulatkan matanya.


"Apa? jadi kak Albi dan Damar adalah saudara nek?" tanya Mega tidak percaya membuat Nina menghentikan makannya.


Jadi Mega belum tau soal hubungan Albi dan Damar? haduh aku kelepasan berbicara. Pasti setelah ini ia akan menuntut penjelasan padaku.


Nina menghela nafasnya, "memangnya selama ini kamu gak sadar kalau nama belakang mereka itu sama?" tanya Nina membuat Mega memutar memori otaknya jauh ke belakang saat pertama kali ia bertemu dengan Damar di cafe Sentosa.


Benar juga ya, tapi kenapa Damar dulu bilang kalau dia hanya pegawai biasa? apa aku harus tanya langsung pada kak Albi ya?


"Aku kira nama belakang mereka sama hanya kebetulan tapi ternyata tidak ya nek?" tanya Mega sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Nina pun menceritakan tentang keluarga Adidaryo kepada Mega tanpa ada yang terlewat satu pun. Mega langsung membulatkan matanya setelah ia tau kebenarannya.


"Jadi seperti itu nek ceritanya? astaga kenapa aku tidak peka ya nek?" Mega tak percaya sementara Nina menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil.


"Bagaimana kamu bisa peka dengan sekitarmu jika kamu tidak pandai bergaul sayang," ucap Nina dan Mega hanya tersenyum.


"Ya sudah cepat selesaikan sarapanmu, nanti kamu bisa terlambat loh," sambung Nina dan Mega pun mengangguk.


Beberapa menit kemudian, Mega telah menyelesaikan sarapannya.


"Nek aku berangkat ke kampus ya, hari ini nenek ada acara kemana?" pamit Mega lalu bertanya pada Nina.


"Nenek akan ke butik hari ini tapi nanti siang setelah dari kantor. Nanti sepulang kuliah kamu menyusul nenek ya ke butik D'Amore. Itu salah satu butik milik mendiang ibumu," jawab Nina.


"Benarkah?" sahut Mega tidak percaya dan Nina pun mengangguk.


"Baik nek, sampai bertemu nanti siang ya, bye nek," ucap Mega seraya mencium pipi Nina lalu pergi menuju teras rumah.


"Hati-hati dijalan ya," teriak Nina yang hampir tak terdengar oleh Mega karena langkah Mega sangat cepat untuk mengejar waktu supaya tidak terlambat.


Mega pun naik ke dalam mobil, lalu supir pun melajukan mobilnya.

__ADS_1


Universiteit van Amsterdam


"Alka!" teriak seorang wanita kepada laki-laki yang ada di depannya. Karena merasa namanya di panggil, laki-laki itupun menoleh.


__ADS_2