KELIRU

KELIRU
TAK MENEMUKANMU


__ADS_3

"Tadi pagi kakek dan Nindya bermain di halaman rumah, lalu tiba-tiba perut kakek sakit ingin buang air besar. Akhirnya Nindya kakek titipkan kepada baby sitter. Dan setelah kakek selesai buang air besar ternyata Nindya sudah berada di ruang keluarga sedang menonton kartun bersama baby sitter tapi saat itu Nindya sambil membawa permen lolipop. Setelah kakek tanya pada baby sitter, dia bilang ada seorang wanita yang sedang lewat depan rumah terus memberi Nindya permen," jelas Adidaryo membuat Albi berpikir keras.


Siapa ya wanita itu? apa mungkin Lusy? atau hanya orang lewat aja. Tapi tidak mungkin orang tiba-tiba lewat memberi Nindya permen. Selama hampir 3 tahun ada disini, semua orang yang ada di kompleks ini pun terkesan cuek. Sekalipun menyapa kalau memang itu benar-benar kenal. Aku harus cari tahu, setelah aku tau pelakunya dan dia ingin berniat jahat pada Nindya, aku akan menjebloskannya ke dalam penjara.


Albi mengepalkan kedua tangannya merasa kesal dan marah.


"Albi kecerdasanmu kemana perginya? kenapa gak kamu lihat aja CCTV rumah? gampang kan," usul Alka sekaligus meledek Albi.


"Ck! terima kasih tuan Alka sarannya," ucap Albi sambil mencebikkan bibirnya dengan senyumannya yang dipaksakan.


"Apa tuan membawa lolipop yang tadi pagi di makan oleh pasien?" tanya dokter itu.


"Nindya memakannya sampai habis, bahkan kakek meminta pun tidak diperbolehkannya," jawab Adidaryo membuat Mega dan Alka menahan tawanya. Sedangkan Albi memijat keningnya kembali.


"Ya sudah untuk sementara ini anak tuan masih dalam penanganan ketat oleh kami. Tuan jangan khawatir, kami akan berusaha semaksimal mungkin sampai pasien benar-benar sembuh," ucap dokter tersebut kepada Albi sambil menepuk bahu Abi.


"Terima kasih banyak dok," Albi menundukkan kepalanya tanda hormat.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi," pamit dokter tersebut lale pergi dari hadapan mereka.


"Kek, Ka aku mau minta tolong ya. Kalian disini dulu, aku dan Mega akan pulang ke rumah untuk mengecek CCTV. Nanti setelah aku kembali ke sini, kita gantian untuk menjaga Nindya. Bagaimana?" tanya Albi yang sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa pelaku yang telah mencelakai Nindya.


"Ide bagus, toh kerjaan kantor dan kampus pun aku sudah senggang sekarang. Lebih baik kalian segera mencari tahu. Soal Nindya, aku dan kakek yang menjaganya di sini," sahut Alka dan Adidaryo pun mengangguk.


"Ya sudah kami berangkat ya Kek, Ka," pamit Albi sambil menepuk bahu Alka dan melambaikan tangan pada keduanya. Albi pun langsung menarik tangan Mega dan menggenggamnya erat-erat seolah tak ingin kehilangan Mega. Tiba-tiba Mega menghentikan langkahnya. Adidaryo dan Alka saling bertukar pandang merasa bingung saat melihat Mega menghentikan langkahnya yang sudah berdiri cukup jauh dari mereka.

__ADS_1


"Kak, bagaimana kalau sebaiknya kita mengurus ruang rawat inap untuk Nindya terlebih dahulu? bukankah kalau di ruang emergency bisa siapa aja yang masuk apalagi kalau ada pasien baru?" ucap Mega dan Albi pun tersenyum sambil menatap Mega.


"Calon istri yang cerdas," sahut Albi sambil mencubit kecil hidung mancung Mega. Sementara Alka melihat kemesraan Albi dan Mega merasa seperti ada goresan kecil di hatinya.


Telah ku cari letak dirimu didalam hatiku, tapi aku tak menemukanmu. Dan aku sadar tempatmu bukan disini tapi disana.


Alka menatap Mega dengan seulas senyum tipis yang terukir dari kedua sudut bibirnya yang hampir tak terlihat. Albi dan Mega pun membalikkan tubuhnya lalu berjalan menghampiri Alka dan Adidaryo.


"Ada apa Albi?" tanya Adidaryo dengan sekilas terlihat kebingungan dari raut wajahnyaa.


"Begini kek, sebelum pulang aku dan Mega akan mengurus ruang rawat inap untuk Nindya. Nanti supaya kakek dan Alka bisa menunggunya di dalam, tidaj di luar seperti ini," jawab Albi dan Mega pun mengangguk cepat.


"Iya kamu benar, ya sudah segera urus supaya Nindya bisa istirahat dengan nyaman," seru Adidaryo.


Tak lama Albi dan Mega pun sampai di bagian administrasi. Albi langsung mengurus untuk ruang rawat inap Nindya. Beberapa menit kemudian, Albi telah selesai dari bagian administrasi. Keduanya langsung menuju ke tempat parkir untuk pulang ke rumah.


Kediaman Adidaryo


Mobil yang dikendarai oleh Albi pun sampai di kediaman Adidaryo. Keduanya turun dari mobil dan menuju ruang khusus yang berada di samping garasi mobil. Ruangan itu adalah ruangan terlarang dan hanya Adidaryo, Alka serta Albi yang dapat masuk ke dalamnya karena memiliki kunci keamanan khusus. Dan saat ini pertama kalinya Albi mengajak orang lain masuk ke dalam.


Saat pintu ruangan itu telah terbuka, mata Mega membulat dengan sempurna. Banyak layar didalamnya, dan semuanya berukuran besar. Luas ruangan ini sebesar lapangan futsal pada umumnya.


"Kak ini ruangan apa?" tanya Mega yang masih menatap ke sekeliling lapangan. Albi tidak menjawab pertanyaan Mega melainkan langsung berjalan menuju ke salah satu layar di ruangan tersebut. Mega pun menghampiri Albi lalu memperhatikan Albi didepan layar tersebut.


Setelah Albi memasukan sebuah kode, muncullah sekatan video yang merupakan hasil dari CCTV di rumah mewah tersebut. Albi langsung mengklik salah satu video yang menyorot ke depan halaman rumah serta jalan. Ia memutar ke belakang rekaman CCTV tersebut.

__ADS_1


Tibalah di waktu 07:03:15 Albi dan Mega memperhatikan dengan seksama. Ia pun memperlebar video tersebut.


Sial! itu Lusy! awas aja kamu Lusy! kamu telah berani menyentuh keluargaku! Jangan kira aku akan tinggal diam. Bagaimanapun kenyataan Nindya yang sebenarnya, dia akan tetap menjadi anakku!


"Apa kak Albi mengenal wanita itu?" tanya Mega dengan wajah serius sambil menatap Albi yang tengah tersulut emosi. Mega melihat banyak guratan nadi yang terlihat di leher putih Albi. Mega paham Albi sedang naik pitam saat ini. Namun ia harus tetap tenang.


Sabar Mega sabar, jangan ikut emosi. Bantu kak Albi untuk tetap tenang. Aku pasti bisa.


Mega mengelus lembut punggung Albi.


"Selesaikan saat dirimu sudah tenang kak, jangan gunakan emosimu untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi manfaatkan otakmu supaya kakak tidak salah langkah," ucap Mega dengan nada lembut dan Albi langsung menatap Mega dengan tatapan sendu dan tanpa sengaja air matanya keluar begitu saja.


Dia menangis?


Mega menatap lekat mata Albi, mencari sesuatu didalamnya. Tersirat ada kesedihan yang begitu mendalam yang tengah ia rasakan saat ini. Kesedihan akan masa lalunya yang telah ia lewati dan berlangsung cukup lama. Albi pun langsung memeluk erat Mega. Menumpahkan segala beban yang bertumpuk pada bahunya. Berat itu pasti, tapi baik Mega maupun Albi keduanya pernah sama-sama melewati masa-masa sulit yang tak ingin mereka rasakan kembali.


Setelah cukup lama berpelukan, Albi pun meelepaskan pelukannya. Mega mengusap lembut air mata Albi. Keduanya saling tersenyum.


"Jadi siapa wanita itu?" tanya Mega yang masih penasaran karena tadi Albi belum menjawabnya.


"Dia adalah Lusy, ibu kandung Nindya," jawab Albi membuat Mega tercengang tidak percaya.


"Setega itukah ibu kandung yang mampu meracuni darah dagingnya sendiri?" tanya Mega namun Albi hanya mengangkat ke dua bahunya tanda tidak tahu.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya kak?" tanya Mega kembali membuat Albi berpikir sejenak.

__ADS_1


__ADS_2