
"Damar sudah meninggal nak," jawab ibu Damar dengan lirih.
Bak disambar petir di pagi hari tanpa ada awan mendung yang menyelimuti langit. Mega terpaku seolah bibinya beku, tubuhnya pun lemas seketika dan matanya sudah berkaca-kaca. Ia pun melepaskan pelukan ibu Damar.
"Apa? meninggal?" tanya Mega tidak percaya.
"Iya nak, ayok masuk biar ibu ceritakan," jawab ibu Damar lalu mengajak Mega masuk ke dalam rumahnya.
Dengan langkah gamang, Mega mengikuti langkah ibu Damar masuk ke dalam rumah. Syok, itu sudah pasti.
Ternyata mimpiku kemarin itu benar, Damar benar-benar pamit untuk selama-lamanya.
Setelah keduanya duduk di kursi, ibu Damar pun menceritakan kejadian yang telah merenggut nyawa Damar. Tanpa permisi air mata Mega menetes begitu saja membasahi pipinya. Ada rasa bersalah karena sewaktu Mega bersama Damar, ia tidak selalu ada disamping Damar. Mega menyalahkan dirinya sendiri. Walaupun hal yang paling menyakitkan masih membekas di hati Mega, namun ia tidak pernah bilang kalau ia tidak pernah mencintai Damar.
"Bu bisakah ibu mengantarkanku ke makam Damar?" tanya Mega.
"Tentu, ayok nak. Makamnya tak jauh dari sini, kita berjalan kaki aja ya," jawab ibu Damar dan Mega pun mengangguk.
Mega pun mengirim pesan kepada pak Madih untuk menunggunya karena ia akan pergi ke makam Damar. Sepanjang perjalanan, Mega hanya terdiam. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, selain buliran bening yang masih membendung dikedua ujung matanya.
Tak lama keduanya sampai di tempat pemakaman umum tempat peristirahatan terakhir Damar. Tak lupa Mega membeli sebucket bunga mawar di toko bunga yang berada disamping pintu gerbang pemakaman.
"Ini nak makam Damar, terakhir ibu melihat wajahnya ia sangat bersih sekali. Bahkan sekilas ia tersenyum. Ibu tau, Damar pernah menyakitimu. Maafin semua kesalahan Damar ya Mega," ucap ibu Damar sambil mengelus lembut tangan Mega.
Mega pun mengangguk sambil tersenyum, lalu pandangannya beralih ke gundukan tanah yang masih dipenuhi bunga.
Damar, aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf padamu. Jujur sampai saat ini aku masih mencintaimu. Tapi apalah kuasaku dibanding dengan kuasaNya. Aku hanya bisa berdoa, semoga kamu selalu bahagia disana. Pergilah dengan tenang, Tuhan lebih menyayangimu Damar.
Mega memejamkan matanya mencoba menghirup udara dengan sebanyak-banyaknya. Seperti ada desiran pasir yang mengalir dalam darah Mega. Sakit rasanya, ketika kehilangan seseorang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya.
Setelah memanjatkan doa, ibu Damar dan juga Mega kembali ke rumah Damar.
"Bu, apakah ibu tahu dimana keberadaan April sekarang?" tanya Mega.
"Ibu tidak tahu Mega. Sejak kepergian Damar kemarin, April sama sekali tidak muncul di hadapan kami," jawab ibu Damar membuat Mega menghela nafasnya.
"Apa kamu mengetahui sesuatu tentang April?" tanya ibu Damar.
__ADS_1
"Ah, tidak bu. Aku hanya heran aja, Damar udah berkorban banyak untuk April tapi saat hari terakhirnya bahkan April tidak ada," jawab Mega sambil menggaruk lehernya yang tak gatal.
Tak terasa keduanya pun sampai di depan halaman rumah Damar. Mega berpamitan kepada ibu Damar.
"Bu, saya pamit pulang ya. Saya turut berduka cita ya bu atas kepergian Damar. Semoga bapak dan ibu bisa dilapangkan hatinya, supaya juga Damar tidak berat dialam sana," ucap Mega sambil menggenggam tangan ibu Damar.
Ibu Damar tersenyum menatap Mega yang penuh dengan kelembutan.
Kamu sangat baik dan cantik Mega. Semoga kelak, kamu mendapatkan jodoh yang terbaik dari Tuhan untuk kebahagiaanmu.
"Iya, terima kasih ya Mega. Sekali lagi kami atas nama Damar meminta maaf padamu. Maaf jika semasa hidup Damar pernah menyakiti perasaanmu," kata ibu Damar dan Mega pun tersenyum.
"Aku sudah memaafkan Damar bu, yang berlalu biarlah berlalu. Semoga bapak dan ibu tetap sehat selalu, aku pamit ya, permisi," ucap Mega tersenyum sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Ibu Damar pun juga ikut membungkukkan tubuh.
Mega pergi dari rumah Damar lalu masuk ke dalam mobil.
"Pak, kita pulang ya," ucap Mega dan pak Madih pun mengangguk.
🌾
Beberapa menit kemudian mobil yang Mega tumpangi sampai di depan gerbang rumahnya. Ubed pun langsung membukakan gerbang rumah. Pinkan dan Dona terlihat sedang olahraga di halaman rumah.
"Wah iya benar kamu Don, aku semakin penasaran deh. Kita samperin yuk," jawa Pinkan kemudian mengajak Dona menghampiri Mega.
Mega pun turun dari mobil di sambut Pinkan dan juga Dona. Mega langsung memeluk Pinkan dan Dona lalu menumpahkan tangisannya di bahu kedua sahabatnya.
"Damar gaes, Damar meninggal," ucap Mega sambil menangis tersendu-sendu.
Pinkan dan Dona tercekat kaget lalu saling bertukar pandang.
"Kamu serius Meles?" tanya Dona tidak percaya dan Mega pun mengangguk.
"Aku turut berduka cita," ucap Pinkan.
"Aku juga," timpal Dona.
Pinkan dan Dona mengelus punggung Mega. Setelah cukup lama Mega menangis, akhirnya tangisan Mega berhenti. Mega melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kita masuk yuk, tadi bi Surti katanya habis beli kue yang dilampu merah itu loh," ajak Pinkan dan mata Mega langsung berbinar-binar.
"Benarkah?" tanya Mega lalu Dona dan Pinkan mengangguk cepat.
Ketiganya pun masuk ke dalam rumah. Sesampai di ruang makan, terlihat bi Surti baru saja selesai menata kue-kue tersebut.
"Bibi makasih ya, Mega kangen sekali dengan kue-kue buatan bu Tumini," ucap Mega lalu duduk di kursi.
"Ayok semuanya makan bersama-sama" seru Mega mengajak semua penghuni rumah makan bersama.
Exclusive Bar&Cafe
April sedang menikmati minumannya, entah sudah kebotol berapa dirinya minum. Namun ia masih kuat dan belum mabuk terlalu parah.
Setelah ia tahu kematian Damar kemarin, April tidak berani datang menemui kedua orangtua Damar. April malah pergi ke club dan menyalurkan kesedihannya dengan para laki-laki yang menyewanya.
Damar! kenapa sih kamu mati? Sahrul udah pergi dan sekarang kamu. Aaaarrghh!
April merasa frustasi, pasalnya Damar adalah cinta pertama April. Bahkan ia sebenarnya masih sedikit memiliki perasaan kepada Damar, namun karena April tahu kalau Damar bukan dari keluarga yang tajir melintir. April mencari penghasilan lebih dengan menjual dirinya sendiri. April tidak pernah bersyukur, selama ini Damar sudah berkorban banyak untuknya. Mulai dari rumah, fasilitas dan juga biaya hidupnya.
April semakin menggila dan akhirnya dia pun pingsan di club tersebut. Seorang laki-laki membawa April pergi dari club tersebut.
Rumah Mega
Setelah menikmati kue, Mega dan kedua sahabatnya pergi ke kamar Mega untuk bersiap-siap kembali ke Belanda.
"Ga, sepertinya aku langsung pulang ke Solo ya. Maaf, sejak semalam ayah dan ibuku meneleponku dan menyuruhku pulang," ucap Dona sambil menundukkan kepalanya dan *******-***** ujung kaos yang ia kenakan.
Mega pun menatap Dona sambil tersenyum dan menghela nafasnya.
"Iya Mega aku juga sama sepertinya aku mau langsung kembali ke Yogya, karena ayah dan ibuku baru saja tiba di Yogya," kata Pinkan.
"Iya tak apa kalau kalian mau kembali, aku mau ucapin terima kasih ya sama kalian sudah menemaniku dan mengisi hari-hariku. Tanpa kalian, aku gak mungkin bisa sekuat ini," ucap Mega dan mereka bertiga pun berpelukan.
"Makasih juga Mega atas segala kebaikanmu," ucap Pinkan.
"Makasih my sultini," kata Dona.
__ADS_1
Mega pun tertawa kecil, "Iya sama-sama."