
"Setelah sadar, pasien bisa mulai melakukan terapi imun atau biasa disebut dengan imunoterapi. Cara ini mampu meningkatkan keberhasilan terapi kanker, sehingga tingkat kesembuhan pasien tinggi dan usia harapan hidup penderita kanker pun semakin membaik," jelas dokter membuat ketiga orang dihadapannya mengangguk paham.
"Terima kasih dok atas penjelasannya, saya minta tolong berikan perawatan yang terbaik untuk cucu saya dok," ucap Nina dengan penuh harap begitupun dengan Albi dan juga Alka.
Kemudian mereka pun pamit lalu keluar dari ruangan dokter tersebut.
"Nek, Albi aku pamit ya ke ruangan Nindya nanti setelah itu aku akan menjenguk Mega," ucap Alka dan dijawab anggukkan oleh Nina juga Albi. Alka pun pergi dari hadapan mereka. Setelah kepergian Alka, Nina dan Albi pergi ke ruang emergency.
"Nek, apakah nenek mau menemui Mega lebih dulu?" tanya Albi dan Nina langsung menggelengkan kepalanya. Albi pun mengernyitkan dahinya seakan bertanya kenapa.
"Nenek mau menghubungi Pinkan dan Dona soal keadaan Mega, lebih baik kamu duluan aja yang melihat Mega ya," jawab Nina dengan seulas senyum dibibirnya. Albi pun mengangguk dan Nina mempersilahkan Albi dengan gesture tubuhnya.
Albi masuk ke dalam, saat ia melihat Mega yang masih terbaring dengan beberapa alat medis yang terhubung ke tubuhnya. Albi menghela nafas lalu tersenyum. Albi berjalan menghampiri Mega.
Albi meraih tangan Mega lalu mengelus lembut pipi Mega.
Kenapa Tuhan mempertemukan dan menimbulkan sebuah rasa diantara kita? rasa yang tak pernah aku miliki sebelumnya. Tentu Tuhan tau kalau bahagiaku adalah bersamamu. Aku tak ingin kamu pergi lagi Mega.
Tanpa permisi air mata Albi pun terjatuh begitu saja, seolah otaknya yang terus berteriak kalau ia harus kuat tapi sayang air mata bersahabat dengan hatinya yang sangat rapuh. Saat Albi tengah menumpahkan perasaannya diiringi rintikan air mata yang menetes terkena tangan Mega, tiba-tiba tangan Mega pun bergerak. Tanda sang pemilik tubuh sudah tersadar. Albi merasakan gerakan tangan Mega, karena tangannya masih menggenggam tangan Mega.
Albi langsung menghapus air matanya lalu memberikan senyuman kepada Mega.
"Kakak menangis?" tanya Mega sambil berusaha untuk bangun namun ia langsung memegangi kepalanya yang masih terasa sakit
"Sayang, kamu tiduran aja ya. Kalau kepalamu masih sakit jangan dipaksakan untuk bangun," tutur Albi membuat Mega menurut untuk tetap terbaring di atas tempat tidur. Wajah Mega terlihat pucat namun tak menghilangkan aura kecantikan yang ada pada dirinya.
"Apa sedaritadi kak Albi menangis?" tanya Mega kembali membuat Albi menggaruk lehernya yang tak gatal.
__ADS_1
"Ti-tidak, aku.. aku hanya terharu melihat kamu sudah sadar," jawab Albi sambil terbata-bata. Albi menjadi salah tingkah saat Mega melihatnya sangat lekat.
Didepan ruang emergency, Nina baru saja selesai Menghubungi Pinkan dan Dona. Dan sekarang mereka sedang perjalanan ke rumah sakit. Tak lama Pinkan, Dona dan Irfan pun sampai di rumah sakit lalu mereka langsung ke ruang emergency.
"Nek, bagaimana keadaan Mega sekarang?" tanya Pinkan yang sangat khawatir begitupun dengan Dona.
"Mega masih di dalam bersama Albi, nenek belum melihatnya karena tadi nenek menghubungi kalian lebih dahulu," jawab Nina dan Pinkan pun ber oh ria.
Didalam ruang emergency, Albi langsung menekan tombol panggilan medis yang berada di samping tempat tidur Mega. Tak lama dokter pun datang. Sementara Nina yang melihat dokter masuk ke dalam ruang emergency tersebut perasaannya menjadi tak karuan. Jantung Nina pun berdetak sangat cepat.
Ada apa ya? kenapa dokter terlihat buru-buru sekali?
Albi keluar dari ruangan tersebut membiarkan dokter menangani Mega. Saat Albi membukan pintunya, keempat orang yang sedang berada di depan ruang emergency itu menatapnya.
"Albi ada apa dengan Mega?" tanya Nina.
Setelah menunggu cukup lama dokterpun keluar dari ruang emergency. Namun tiba-tiba ponsel Albi berdering. Albi mengambil ponselnya yang berada di saku jas, dilihatnya ternyata Alka yang memanggilnya.
"Hallo Ka," ucap Albi saat ia menerima panggilan telepon dari Alka.
"Albi gawat ini," timbal Alka membuat Albi tersentak bingung.
"Nindya Bi Nindya."
"Nindya kenapa Alka bicara yang jelas!" tegas Albi membuat Nina, Pinkan, Dona dan Irfan pun menoleh ke arah Albi.
"Nindya gak ada di ruangannya."
__ADS_1
"Gak ada? kok bisa! apa kamu sudah mencarinya ke seluruh ruangan ?" pekik Albi yang entah pikirannnya menjadi terpecah belah.
"Jadi saat kakek tinggal Nindya ke toilet karena buang air, Nindya masih tertidur dan saat kakek keluar dari toilet Nindya udah gak ada. Dan saat aku menuju ruangannya pun aku sama sekali tak melihat Nindya. Aku udah mencarinya keseluruh ruangan tapi nihil," jelas Alka membuat Albi kali ini benar-benar merasa frustasi.
Ya Tuhan Nindya dimana kamu nak?
Albi memijat keningnya, lalu ia pun membuka layar ponselnya kembali kemudian menghubungi semua orang-orang suruhannya untuk mencari keberadaan Nindya. Setelah selesai menghubungi semua orang-orang suruhan Adidaryo, Nina pun menghampiri Albi.
"Ada apa dengan Nindya?" tanya Nina sambil mengerutkan kedua alis matanya karena melihat raut wajah Albi sangat sulit diartikan.
"Nindya hilang nek, ada seseorang yang membawa Nindya. Dan sepertinya aku tau siapa orangnya," jawab Albi dengan pandangan lurus ke depan lalu melihat ke arah Nina.
"Siapa memangnya?" tanya Nina dingin.
"Lusy, ya aku yakin Lusy yang telah membawa Nindya. Karena sejak kemarin Lusy tak pantang menyerah untuk mengambil Nindya dariku, dan Lusy juga yang telah membuat Nindya keracunan seperti ini. Itu terbukti dari sebuah rekaman CCTV yang berada di rumah kakek," jelas Albi membuat Nina berpikir sejenak.
"Sebaiknya kamu membantu kakek dan saudaramu mencari Nindya, biar Mega nenek dan juga Pinkan serta Dona yang menjaganya," ucap Nina sambil melipatkan kedua tangannya di dada. Albi sebenarnya sangat berat meninggalkan Mega, namun disisi lain Nindya sedang membutuhkan pertolongannya.
"Baik nek, aku titip Mega. Dan ini ponsel Mega nek, kabari aku jika terjadi sesuatu dengan Mega," ujar Albi sambil menyerahkan ponsel Mega kepada Nina. Kemudian Nina pun mengambil ponsel Mega sambil mengangguk paham. Albi pergi dari hadapan mereka dan berjalan ke ruang rawat inap Nindya.
Kalau Alka tidak menemukan Nindya saat melewati lift, kemungkinan orang yang bawa Nindya akan melewati tangga darurat.
Albi membelokkan langkahnya lalu masuk ke dalam tangga darurat. Sebisa mungkin ia melangkah namun tidak didengar oleh siapapun yang disana. Albi membuka sepatunya lalu dipegangnya sepasang sepatu itu di tangan kirinya. Tiba-tiba saat Albi sudah naik satu lantai, Albi mendengar suara anak kecil yang sedang batuk.
Tunggu, itu seperti suara Nindya.
Albi mempercepat langkahnya, lalu...
__ADS_1