
Sesampai di kediaman Nina, Mega turun dari mobil lebih dulu karena ia ingin buang air kecil. Nina pun langsung menyusul Mega masuk kedalam. Sementara para pelayan membawakan koper milik Ninda dan Mega.
Setelah selesai buang air, Mega teringat dengan headset nya.
Astaga! headsetku sepertinya tertinggal di mobil.
Mega langsung berlari keluar rumah, beruntung mobilnya belum dimasukkan kedalam garasi.
"Pak tunggu! barang milikku ada yang tertinggal didalam mobil," ucap Mega dan supir pun menghentikan mobilnya.
Pak supir memberikan kode mempersilahkan Mega masuk ke dalam mobil. Saat Mega sedang mencari headsetnya di dalam mobil, mobil yang Albi kendarai melewati rumah Mega.
Yes, ketemu juga akhirnya.
Setelah mendapatkan headsetnya, Mega keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Hari sudah semakin larut, Mega memilih untuk membersihkan diri dan pergi ke alam mimpi.
🌾
Pagi hari di negara kincir angin, Mega terbangun dari tidurnya karena mendapat sapaan dari mentari yang masuk melalui sela-sela gorden. Mega langsung pergi ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Mega telah selesai mandi dan berganti pakaian. Mega keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.
Nina sudah menunggu Mega untuk sarapan bersama.
"Selamat pagi nek," sapa Mega.
"Selamat pagi sayang, yuk sarapan," ajak Nina sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya dan Mega pun mengangguk.
"Nek, nenek tahu gak suatu tempat yang sangat indah disini?" tanya Mega seraya duduk di kursi.
"Ada, namanya West Frisian Island. Ada apa memangnya sayang?" jawab Nina lalu bertanya pada Mega.
"Aku ingin menghirup udara kebebasan disini sebanyak-banyaknya nek," jawab Mega sambil tersenyum.
"Kalau kamu mau kesana nanti nenek antar," ucap Nina.
"Gak usah nek, nanti aku biar diantar supir aja ya," timpal Mega dan Nina pun tersenyum sambil mengangguk.
Setelah selesai sarapan, Mega kembali ke kamarnya untuk mengambil slingbag tak lupa juga ponsel miliknya. Mega pamit kepada Nina untuk pergi ke tempat tersebut.
__ADS_1
Mobil yang akan Mega tumpangi telah siap di depan teras rumah. Mega pun berangkat, sebelumnya supir yang mengendarai mobil tersebut sudah diberitahukan oleh Nina.
Sepanjang perjalanan, Mega hanya terdiam sambil memejamkan matanya dan menyandarkan punggungnya.
🌾
Beberapa jam perjalanan, akhirnya Mega telah sampai ditempat yang ia tuju.
"Nona, kita sudah sampai," ucap supir tersebut.
"Terima kasih pak," kata Mega dan supir pun mengangguk.
Mega turun dari mobilnya, berjalan dengan santai sambil menghirup udara segar.
West Frisian Island, kini menjadi saksi bisu atas kesedihan yang tengah Mega rasakan. Desiran angin yang tak hentinya menyibakkan rambut Mega. Membuat alunan suara merdu dari ilalang yang bergoyang.
Tak banyak yang tahu keberadaan Mega disini. Mega sengaja pergi dari kehidupannya yang berada di tanah kelahirannya. Mega ingin menghilangkan rasa sakit yang terus menghujam jantungnya jikalau Mega masih terus disana.
Hanya harapan yang sudah membawa Meg sampai ke tempat ini. Berjuta impian sudah Mega rangkai dalam memori masa depan. Sebuah harapan yang dirangkum menjadi untaian doa. Berharap ada sebuah ketulusan yang bisa dan mampu menerima kehadirannya dan juga dirinya yang tak lagi sempurna.
Sayup-sayup ketenangan mulai merasuki jiwa Mega. Saat menghirup udara segar sambil memejamkan kedua matanya.
Mega berjalan menelusuri pesisir pantai di sekitar pulau tersebut. Deru ombak serta hembusan angin pantai serta pasir putih seolah tahu apa yang tengah Mega rasakan.Dimana hatinya terus mencaci.
Apakah ada laki-laki yang mau denganku yang sudah menjadi bekas orang lain? apakah ada laki-laki yang bisa mencintaiku dengan tulus? mungkin ada, tapi entah itu siapa.
Bayang-bayang hujatan yang Damar lontarkan padanya selalu berputar-putar di memori otak Mega. Dan Mega terpaksa harus menelan pil pahit itu.
Seburuk itukah aku dimatanya? hanya karena aku memiliki kesalahan dimasalalu, bukan berarti semua yang aku lakukan saat ini salah dimata Damar. Aku terlalu memakai hati selama ini, sehingga aku lupa terhadap kekurangan yang ada di diriku selama ini.
Mega terus menitikkan air matanya sambil menatap laut lepas yang berada didepannya.
Kini aku sadar, ada rasa bimbang yang menyelimuti hatiku dan membuat hati Damar yang tersimpan untukku itu sirna. Ku kira cintanya yang tulus mampu menerima dan menutupi kesalahanku dulu, namun ternyata aku keliru.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Mega.
"Kenapa kamu menangis?" tanya seorang laki-laki.
Mega menoleh ke belakang, ia pun langsung menghapus air matanya.
__ADS_1
"Bukan urusanmu," jawab Mega ketus lalu pergi dari hadapan laki-laki itu.
"Bisakah kita berteman?" tanya laki-laki itu sambil mengikuti langkah Mega yang berjalan semakin cepat.
Mega tidak memperdulikan laki-laki itu, ia terus berjalan sepanjang tepi pantai Wadden. Sampai ia tak tahu sekarang berada dimana, laki-laki itu terus mengikuti Mega.
Mega kebingungan, dan ia pun menghentikan langkahnya. Laki-laki itu juga ikut menghentikan langkahnya walau jarak mereka cukup jauh.
Mega menoleh ke belakang.
"Kenapa berhenti?" tanya laki-laki itu.
"Aku tak tahu sekarang ada dimana, bisakah kamu mengantarku kembali ke tempat awal?" tanya Mega.
"Tapi tidak gratis ya," ucap laki-laki itu membuat Mega mengerutkan kedua alisnya.
"Tidak gratis? maksudnya?" tanya Mega yang semakin kebingungan.
Laki-laki yang sangat aneh. Tapi tunggu, kalau diperhatikan sepertinya aku pernah melihat laki-laki ini. Tapi dimana ya?
Mega menatap lekat laki-laki itu sambil berjalan menghampirinya. Mega berpikir keras namun nihil, pikirannya yang sedang tidak fokus sulit untum mengingat laki-laki itu.
"Iya, setelah ini kamu harus mau menjadi temanku," jawab laki-laki itu sambil melipat kedua tangannya di dada.
Mega tampak menimbang-nimbang, satu sisi ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan tapi disisi lain ia juga membutuhkan seorang teman sekaligus sahabat seperti Pinkan dan Dona yang berada jauh darinya sekarang.
"Baiklah aku mau menjadi temanmu," jawab Mega sambil tersenyum simpul.
"Mari aku antar," ajak laki-laki itu.
Mega mengikuti laki-laki itu dari belakang, keduanya tidak berjalan beriringan bersama. Namun Mega semakin bingung, saat laki-laki itu membawa ke tempat yang jauh lebih indah dari tempatnya tadi.
"Kita ada dimana? ku rasa ini bukan jalan menuju mobilku," tanya Mega sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Laki-laki itu hanya mengangkat kedua bahunya, "mungkin iya karena aku sendiri juga tidak tahu dimana mobilmu berada," jawab laki-laki itu membuat Mega membulatkan matanya dengan sempurna.
"Apa!" pekik Mega.
"Seandainya ... "
__ADS_1