KELIRU

KELIRU
JANGAN GEGABAH


__ADS_3

"Mereka sedang di periksa oleh dokter karena saat tadi kakek menjenguk Albi dan Nindya, tiba-tiba tangan Albi bergerak lalu kakek langsung menekan tombol yang berada di samping tempat tidur Albi. Sedangkan Nindya terus memanggil nama Mega," jawab Adidaryo sambil menghela nafasnya.


"Kita terus berdoa ya kek, semoga mereka bisa cepat pulih," ucap Alka dan di aamiin kan dalam hati oleh Adidaryo.


"Kek, sepertinya aku mau menjenguk Mega di ruang rawat inapnya. Nanti kabari aku ya kek kalau Nindya dan Albi sudah selesai di periksa," ujar Alka lalu Adidaryo pun mengangguk dan menepuk bahu Alka.


Alka pergi dari hadapan Adidaryo dan berjalan menuju ruang rawat inap Mega lalu menaiki lift. Tak lama lift pun berhenti di lantai tempat Mega di rawat. Alka melangkahkan kakinya keluar dari lift tersebut.


Sesampai di depan ruang rawat inap Mega, Alka pun mengetuk pintu lalu membuka pintu tersebut. Terlihat Mega sedang tertidur pulas dan ada seorang wanita yang sedang membaca majalah. Ini merupakan keempat kalinya Alka melihat Pinkan.


"Permisi," ucap Alka dengan suara sedikit berbisik karena tidak ingin membangunkan Mega yang sedang beristirahat lalu menutup pintunya kembali.


Pinkan pun menoleh ke arah pintu yang terbuka, saat ia melihat itu Alka. Nafasnya seketika sulit untuk dihembuskan kembali, dirinya terpaku dan lidahnya terasa kelu. Mata keduanya pun bertemu.


"Iya," hanya kata itu yang keluar dari mulut Pinkan. Alka berjalan menghampirinya, semakin dekat Alka melangkah semakin cepat jantung Pinkan berdegup. Pinkan berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Ya Tuhan kenapa jantungku berdegub begitu cepat? apakah aku merasakan cinta pada pandangan pertama? tapi kan aku sudah empat kali bertemu dengan kak Alka.


Alka dengan santainya duduk bersebelahan dengan Pinkan. Ada rasa sesak yang menguasai Pinkan, namun sebisa mungkin Pinkan mengontrol dirinya supaya tidak terlihat salah tingkah.


"Ada apa kak?" tanya Pinkan dengan penuh hati-hati sambil menoleh ke arah Alka. Perasaan Pinkan seperti sedang membawa segelas air dengan isi yang penuh lalu berjalan dipinggir kolam. Antara berhasil sampai dengan sedikit tumpahan air atau terpeleset lalu masuk ke dalam kolam.


"Tadinya aku mau mengajak Mega menjenguk Albi dan Nindya tapi berhubung Mega sedang tertidur, lebih baik aku menunggunya sampai Mega bangun," jawab Alka dengan santai.


"O-oh gitu," lagi-lagi Pinkan sulit untuk berkata-kata saat Alka duduk di sampingnya.


"Memangnya kak Albi dan Nindya udah sadar kak?" tanya Pinkan.


"Tadi kata kakek udah dan sekarang mereka sedang di periksa oleh dokter," jawab Alka lalu mengalihkan pandangannya ke depan.


"Oh iya nenek mana?" tanya Alka sambil menoleh ke sekeliling ruang rawat inap Mega.


"Oh itu.. nenek baru aja keluar katanya mau ke perusahaan," jawab Pinkan yang mulai terlihat salah tingkah.


Sepertinya dia mulai salah tingkah. Pepet terus Alka, mungkin aja jodoh.

__ADS_1


Alka menyadari hal itu, ia pun berusaha menahan tawanya supaya Pinkan tidak bertambah salah tingkah.


"Hm," Alka berdehem lalu sengaja memiringkan tubuhnya dengan satu kaki dinaikkan ke atas sofa menghadap ke arah Pinkan. Membuat Pinkan semakin terpaku dan tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Senang, itulah yang tergambar dihati Pinkan.


Ya Tuhan kenapa kami duduk jadi sedekat ini? oh hati bersabarlah jangan gegabah untuk mencintai.


"Kamu tau gak nama perusahaan milik keluarga Mega?" tanya Alka dengan nada sedikit berbisik. Kejahilan Alka membuat desiran darah didalam hati Pinkan kian mengalir hebat.


"Tau, memangnya kak Alka gak tau?" jawab Pinkan menoleh ke arah Alka lalu ia pun bertanya pada Alka.


"Oh, memangnya apa nama perusahaannya?" tanya Alka menganggukkan kepalanya lalu kembali membuat Pinkan berpikir sejenak.


Masa sih kak Alka gak tau perusahaan milik keluarga Mega? kan sangat terkenal sekali bahkan se Asia dan hampir seluruh Eropa.


"Apa kakak yakin gak tau perusahaan milik keluarga Mega?" bukanya menjawab pertanyaan Alka, tapi Pinkan malah bertanya kembali kepada Alka.


Alka pun mengangguk, "iya kalau aku tau, aku gak akan bertanya padamu," jawab Alka lalu kembali ke posisi duduk seperti semula.


"Maaf kak, bukannya gak mau ngasih tau. Tapi aku sendiri belum bertanya pada Mega," ucap Pinkan yang merasa tidak enak hati.


"Karena Mega tertutup tentang keluarganya," ucap Pinkan dengan nada berbisik pada Alka tanpa menoleh ke arah Alka melainkan melihat Mega yang sedang tertidur.


Lagi-lagi ide jahilnya Alka muncul, saat Pinka menoleh ke arahnya, Alka mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Pinkan dan hanya berjarak beberapa centi saja. Mata Pinkan langsung membulat dengan sempurnya. Kedua pasang mata lagi-lagi bertemu. Nafas Pinkan begitu tercekat, ia seperti kehabisan oksigen.


Beberapa detik kemudian, tawa Alka pun pecah melihat wajah Pinkan yang mulai memerah karena begitu canggung dan menahan kegugupannya.


Saat Alka tertawa, Pinkan langsung menghempaskan nafasnya dengan kasar.


Sial! menyebalkan sekali laki-laki ini. Bisa-bisanya dia mengerjaiku!


Pinkan langsung menunjukkan wajah kesalnya tapi membuat Alka semakin tertawa sampai terpingkal-pingkal. Karena Alka terlalu kencang tertawa membuat Mega terbangun dari istirahatnya.


"Kak Albi," ucap Mega yang saat ia membuka matanya sekilas melihat Alka adalah Albi karena kesadarannya belum penuh.


"Eh Mega udah bangun?" tanya Alka yang menghentikan tawanya saat melihat Mega membuka matanya. Mega mencermati kembali suara Alka yang sedikit berbeda dari suara Albi.

__ADS_1


"Oh ternyata kak Alka. Kak Albi bagaimana kak? Nindya bagaimana ?" tanya Mega dengan dipenuhi rasa khawatir.


Pinkan langsung menghampiri Mega dan duduk di tepi tempat tidur Mega.


"Ga, tenang yah. Kak Albi dan Nindya sudah sadar, mereka sedang diperiksa oleh dokter. Ingat kesehatan kamu juga penting," ucap Pinkan yang berusaha menenangkan hati Mega.


Alka bangkit dari duduknya lalu berjalan dan berdiri di ujung tempat tidur Mega.


"Iya Mega, kamu tenang aja Albi sama Nindya sudah membaik. Apa kamu juga sudah merasa membaik Mega?" ucap Alka lalu bertanya pada Mega.


"Sudah kak," jawab Mega sambil menghela nafasnya.


"Bagaimana kalau sekarang kita menjenguk Albi dan Nindya? kata kakek Nindya terus menyebut-nyebut namamu, mungkin dia terlalu merindukanmu Mega," seru Alka dengan mengajak Mega bertemu calon suami dan anak sambungny.


"Benarkah kak?" tanya Mega dengan mata yang berbinar-binar. Alka pun mengangguk sambil mengukir seulas senyum dari kedua sudut bibirnya. Pinkan begitu terpesona melihat senyuman Alka.


"Kamu tunggu sebentar ya, aku akan ambilkan kursi roda terlebih dahulu," ucap Alka dan Mega pun mengangguk.


"Pinkan.. Pinkan..!" teriak Mega saat Pinkan tengah tertegun menatap kepergian Alka yang keluar dari ruang rawat inapnya.


"Eh kenapa Mega?" seru Pinkan yang tersadar dari lamunannya.


"Kamu yang kenapa, jangan-jangan kamu jatuh hati ya sama duren, hayo ngaku," ledek Mega sambil terkekeh.


"Duren? siapa emangnya?" tanya Pinkan yang belum menyadarinya. Sebenarnya Pinkan tahu kalau duren itu singkatan dari duda keren tapi Pinkan tidak tahu kalau Alka sebenarnya adalah seorang duda sama seperti Albi.


"Ayo, kursi roda datang.. silahkan nyonya Albi naik ke kursi roda," seru Alka yang tiba-tiba datang dari luar dengan membawa kursi roda membuat Mega menahan tawanya melihat raut wajah Pinkan yang merasa kecewa.


"Mau dibantu?" tanya Alka sambil melepaskan botol infus dari tiang penyangganya lalu memindahkannya ke tiang penyangga yang ada di kursi roda.


"Gak usah, terima kasih kak. Aku bisa sendiri," jawab Mega tersenyum tipis. Dengan perlahan Mega turun dari tempat tidur lalu duduk di kursi roda.


"Pinkan, minta tolong bawakan ponselku ya," titah Mega dan Pinkan pun mengangguk lalu mengambil ponsel Mega yang ada di atas nakas samping tempat tidur.


Ketiganya pun berjalan keluar dari ruang rawat inap Mega menuju ruang ICU. Tak lupa Pinkan menutup pintunya kembali.

__ADS_1


__ADS_2