
"Astaga! sayang mengagetkan nenek aja," pekik Nina sambil mengelus dadanya dan jantungnya berpacu lebih cepat karena begitu sangat terkejut.
"Maaf nek," ucap Mega sambil cengengesan.
"Sejak kapan kamu disini? untung aja nenek tidak punya riwayat penyakit jantung," tanya Nina yang masih merasa geram.
"Sejak nenek bilang berhasil, berhasil apanya sih nek?" jawab Mega lalu bertanya dengan santainya kepada Nina.
Nina langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
Aku belum bisa menjelaskannya kepada Mega sekarang. Semoga Mega tidak bertanya-tanya kembali soal yang aku bicarakan di telepon tadi.
"Bukan apa-apa kok sayang, yuk kita sarapan," jawab Nina lalu menuntun Mega pergi ke ruang makan.
Aneh! nenek seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari aku. Aih! nenek kenapa selalu membuatku penasaran. Aku bisa mati karena rasa penasaran ini.
Mega pun menatap bingung ke arah Nina. Sebisa mungkin Nina bersikap biasa saja. Sesampainya di ruang makan, Mega dan Nina duduk di kursinya masing-masing. Keduanya menikmati sarapan bersama.
Kediaman Adidaryo
Pagi ini Adidaryo tampak berpikir keras sambil mundar mandir. Ia masih kepikiran perbincangan Nina kemarin siang.
Aku masih belum tau, sebenarnya apa yang telah terjadi antara cucunya Nina dengan para cucuku? Oh iya sebentar lagi kan akan ada peluncuran program terbaru dari perusahaanku. Lebih baik aku undang aja Nina dan cucunya begitupun dengan Arkam dan juga Vivi.
Adidaryo tampak begitu bahagia setelah ide briliannya muncul. Adidaryo begitu yakin, tak lama lagi semuanya akan terbongkar.
Tapi seingat aku anak dan menantu Nina sudah meninggal setahun yang lalu. Aku jadi tambah penasaran dengan cucunya Nina.
Adidaryo mencoba menerka-nerka. Saat dia sedang asik dengan pemikirannya sendiri, tiba-tiba suara ketukan pintu kamar pun terdengar olehnya.
TOKTOKTOK
Adidaryo berjalan mendekat ke pintu kamar, lalu ia pun membuka pintunya.
"Pagi kek, oh iya hari ini aku dan Albi akan ke perusahaan bersama karena untuk persiapan launching program yang akan kita luncurkan. Jadi kakek lebih baik beristirahat dirumah ya," ucap Alka yang kali ini memakai setelan jas kantor membuatnya terlihat berbeda dari biasanya sementara Adidaryo pun mengangguk.
__ADS_1
"Oh iya nanti pulangnya tolong berikan undangan ke perusahaan Amarany Grup ya, tulis aja untuk nyonya Nina Setyaningrum," kata Adidaryo.
"Oke kek, tapi apakah nyonya Nina akan datang ? mengingat dia salah satu orang yang berpengaruh di Asia dan Eropa loh," timpal Alka.
"Iya kakek juga tau, tenang aja kakek yakin dia akan datang," jawab Adidaryo santai.
"Baiklah kalau begitu aku pergi ya," pamit Alka dan Adidaryo mengangguk.
Adidaryo pun menutup pintu kamarnya kembali dan berjalan menuju tempat tidur kemudian membaringkan tubuhnya.
Sedangkan Alka mengendarai mobilnya untuk menjemput Albi di kediamannya. Sesampai di kediaman Albi, ternyata Albi sudah menunggu di teras rumah bersama Nindya.
Alka pun turun dari mobilnya lalu menghampiri Albi dan juga Nindya.
"Morning princess uncle," sapa Alka pada Nindya.
"Morning prince uncle," ucap Nindya.
"My princess, sepertinya terlihat bahagia sekali ada apa sih?" tanya Alka sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Nindya.
"Yeah uncle, because I have met an angel," jawab Nindya.
"Really uncle, rumahnya tak jauh dari sini. Aunty Mega bilang, kalau aku mau main dengannya, aku disuruh langsung aja datang ke rumahnya," jelas Nindya membuat Alka langsung menatap ke arah Albi sedangkan Albi hanya bersikap biasa saja.
"Albi? Mega ? apa kalian?" tanya Alka yang terlihat menuntut penjelasan dari Albi.
"Jad begini Alka, beberapa hari yang lalu saat aku dan Nindya pergi ke ke pusat kota Amsterdam. Aku dan Nindya main lari-larian, namun tiba-tiba aku kehilangan Nindya dan akhirnya aku menemukan Nindya tengah bersama seseorang wanita. Saat wanita itu menoleh ternyata Mega, lalu setelah itu kita makan ice cream bersama. Tapi sayang, belum sempat Mega memesan ice cream, dia keburu mendapat panggilan telepon dari neneknya," jelas Albi membuat Alka mengangguk paham.
"Lalu kenapa kamu dan Mega bisa saling mengenal?" tanya Alka yang semakin menatap lekat mata Albi. Sementara Albi tidak menjawab pertanyaan Alka, ia malah mengalihkan pembicaraannya.
"Sus, suster," panggil Albi tak lama baby sitter Nindya pun datang.
"Nindya, daddy berangkat kerja ya. Nindya di rumah sama suster atau Nindya mau main ke rumah aunty Mega tidak apa-apa, daddy izinkan kok," ucap Albi yang sebelumnya mensejajarkan tubuhnya dengan Nindya lalu mengelus pipi chubby Nindya dan Nindya pun mengangguk.
"Yes daddy, hati-hati dijalan ya," kata Nindya tersenyum.
__ADS_1
Alka pun berdiri begitu pun dengan Albi.
"Bye Nindya," ucap Alka dan Albi bersamaan sambil melambaikan tangan pada Nindya dan Nindya pun membalas lambaian tangan Alka dan juga Albi.
Albi dan Alka masuk kedalam mobil. Alka pun melajukan mobilnya ke kantor. Sepanjang jalan Alka masih berkecambuk dengan rasa penasarannya.
"Albi, kamu belum menjawab pertanyaanku," ucap Alka memecah keheningan diantara keduanya.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Albi pura-pura lupa.
"Kenapa kamu bisa kenal dengan Mega?" tanya Alka to the point.
"Dulu sebelum aku ke Belanda, aku.." belum sempat Albi melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ponsel Alka berdering.
Alka melihat dilayar ponselnya ternyata Vanesha.
"Vanesha kok dia meneleponku? Albi nih istrimu telepon jawab aja," ucap Alka lalu menyerahkan ponselnya kepada Albi, dengan santai Albi mengambil ponsel Alka lalu menjawab panggilan telepon Vanesha.
"Alka, kamu dimana? jemput aku ya di rumah James. Aku takut kalau Albi tau bisa-bisa Albi akan menceraikanku," ucap Vanesha membuat Albi langsung mengepalkan tangannya.
"Jadi kamu masih berhubungan sama laki-laki k*parat itu!" ucap Albi sambil menekankan kata-katanya.
"A-Albi," kata Vanesha terbata-bata.
"Aku gak mau tahu sebelum aku kembali ke rumah, kamu harus sudah tiba dirumah lebih dulu! pantas aja semalam kamu tidak pulang ke rumah. Aku semakin yakin kalau anak dalam kandunganmu itu bukan anakku," bentak Albi kemudian langsung memutuskan sambungan telepon Vanesha.
"Nih ponselmu," kata Albi sambil menyerahkan ponsel kepada Alka.
Seram juga kalau Albi sedang marah mengingatkanku pada ayah.
Albi mencoba mengatur emosinya kembali. Sedangkan Alka hanya terdiam.
"Sejak kapan Vanesha sering meminta bantuanmu?" tanya Albi tiba-tiba kepada Alka yang masih mengendarai mobilnya.
"Sering sekali, tapi tidak pernah aku tanggapi. Walaupun sebelum dia menikah denganmu aku sempat memiliki rasa dengannya karena kepolosannya, tapi setelah aku tau semua keburukannya aku sudah sangat merelakannya untukmu," jelas Alka dan langsung mendapat hantaman dari Albi.
__ADS_1
"Sialan kamu! kalau aja Lusy kembali, aku gak akan pernah menikahi Vanesha," timpal Albi membuat Alka menahan tawanya.
Tak terasa akhirnya keduanya pun sampai di perusahaan Adidaryo Grup. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam kantor dengan beriringan. Semua pegawai yang berlalu lalang di lobby begitu tercekat kagum dengan kedua orang laki-laki yang memiliki wajah yang sangat mirip dan sangat tampan datang ke kantor.