KELIRU

KELIRU
SENANG SEKALI


__ADS_3

Sesampainya di depan ruang ICU, ternyata dokter baru saja keluar dari ruangan tersebut. Adidaryo bangkit dari duduknya dan ikut menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan Nindya dan Albi dok?" tanya Alka pada dokter.


"Baiklah, jadi begini tuan-tuan dan nona-nona. Kondisi Nindya sudah semakin membaik sekarang dia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Sedangkan kondisi tuan Albi masih butuh perawatan ekstra karena luka tembak yang berada di punggungnya hampir mengenai jantung. Dan saat ini kami meminta persetujuan dari keluarga untuk segera melakukan operasi. Jika tidak segera maka akan berbahaya dengan kelangsungan hidup tuan Albi," jelas dokter tersebut.


"Kek, sebaiknya segera lakukan operasi," ucap Alka dan Adidaryo pun mengangguk.


"Lakukan yang terbaik untuk saudara saya dok," tegas Alka pada dokter.


"Baik, tuan sebaiknya tanda tangan disini sebagai tanda persetujuannya terhadap tindakan ini," ucap dokter lalu seorang perawat memberikan sebuah kertas yang berada di atas papan. Adidaryo pun menandatanganinya.


Setelah selesai, dokter dan perawat itu masuk kembali ke dalam ruang ICU.


"Kak apa sebaiknya Nindya berada satu ruang rawat denganku? biar aku tenang bisa melihat Nindya terus," pinta Mega lalu Alka pun berpikir sejenak.


"Oke deh, kek aku akan bilang ke pada perawat untuk memindahkan satu ruang rawat dengan Mega ya?" tanya Alka pad Adidaryo.


"Iya segera selesaikan administrasinya Ka," jawab Adidaryo sambil menepuk bahu Alka.


"Mega, Pinkan kalian tunggu disini ya, aku akan segera kembali," ucap Alka lalu Mega dan Pinkan pun mengangguk. Kemudian Alka pergi dari hadapan mereka.


Kak Alka menyebut namaku? kenapa rasanya senang sekali.


Pinkan menatap kepergian Alka dengan senyum tipisnya yang hampir tak terlihat.


"Mega," ucap laki-laki paruh baya yang duduk di sebelah kursi roda Mega. Mega yang merasa namanya di panggil pun menoleh.

__ADS_1


"Iya kek?" sahut Mega dengan seulas senyum dari kedua sudut bibirnya.


"Apa kamu yakin bisa menerima Alka dan Nindya menjadi bagian penting dari hidup kamu?" tanya Adidaryo membuat Mega mengerutkan kedua alisnya dan sedikit memiringkan kepalanya.


"Tentu kek, tanpa kakek bertanya lebih dulu. Kak Albi dan Nindya sudah menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku sangat menyayangi mereka," jawab Mega dengan senyuman tulus diwajahnya.


Tuhan, terima kasih telah mempertemukan kembali cucuku Albi dengan Mega. Aku merasa lega karena cicitku mendapatkan kasih sayang dari seseorang yang selama ini ia inginkan, yaitu seorang ibu. Walaupun Nindya bukan putri kandung Albi, semoga kasih sayang Albi ataupun Mega pada Nindya tak akan pernah berkurang.


"Kek aku ingin bertanya sesuatu pada kakek," ucap Mega dengan yakin.


"Bertanya mengenai hal apa Mega?" tanya Adidaryo sambil mengerutkan kedua alis matanya.


"Apa benar Nindya bukan anak kandung kak Albi?" tanya Mega ragu-ragu dan berhati-hati karena tak ingin Adidaryo merasa tersinggung. Sementara Adidaryo hanya menghela nafasnya lalu bersandar di kursi tunggu pasien.


"Iya kamu benar, apa Albi sudah menceritakan semuanya padamu?" jawab Adidaryo lalu bertanya pada Mega.


"Iya Albi diam-diam melakukan tes DNA dengan dirinya, Nindya dan juga Samudera. Kakek sendiri awalnya gak tau, tapi saat kakek mendapat laporan dari orang suruhan kakek, semuanya terungkap jelas. Dan satu hal yang belum kakek pahami sampai saat ini, rencana Lusy dan Samudera menyiksa Nindya seperti kemarin. Kalau mereka memang tak ingin merawat dan membesarkan Nindya, kakek tak masalah, sebab kakek juga sudah sangat menyayanginya sejak ia lahir. Sungguh malang nasib Nindya, dirinya telah lahir dari rahim seorang ibu yang tidak punya rasa kemanusiaan," jelas Adidaryo membuat Mega paham sekarang, sedangkan Pinkan masih mendengarkan dengan seksama.


Tiba-tiba Alka pun datang dengan membawa beberapa lembar kertas.


"Itu apa kak?" tanya Mega sambil menunjuk ke arah kertas yang berada di tangan Alka.


"Oh ini.. berkas administrasi Albi dan Nindya," jawab Alka sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Oh iya 2 jam lagi aku harus ke hotel tempat acara, apakah kakek akan pergi atau disini menemani Nindya dan Albi?" tanya Alka pada Adidaryo.


"Sepertinya kakek sini saja Ka, kamu bersama dengan Arif saja ya. Sampaikan salam kakek untuk semua yang hadir," jawab Adidaryo, sebenarnya hatinya berat jika membiarkan Alka hanya dengan Arif karena acara perusahaannya kali ini lebih besar dibanding tahun sebelumnya.

__ADS_1


"Baik kalau begitu kek, doakan semoga acaranya lancar ya," ucap Alka lalu Adidaryo menepuk bahu Alka.


"Sebentar lagi para perawat akan memindahkan Nindya ke ruangan yang sama dengan Mega. Dan Mega lebih baik sekarang kamu ke ruang rawat inapmu ya. Karena mengingat kondisimu juga masih lemah," sambung Alka yang begitu perhatian dengan Mega. Rasa yang pernah hadir untuk Mega sebenarnya masih ada sampai saat ini, karena waktu itu Mega hadir disaat yang tepat namun dalam posisi yang salah. Lalu sekarang sebisa mungkin Alka mengubah rasa sayang yang tadinya ingin memiliki Mega sebagai pendamping hidup menjadi seorang saudara perempuannya.


Pinkan hanya tersenyum melihat Alka yang begitu perhatian kepada Mega. Karena ia tak tahu apa yang telah terjadi antara Mega dan Alka.


Mereka pun pamit kepada Adidaryo untuk kembali ke ruangan rawat inap Mega. Sedangkan Adidaryo berjalan menuju ruang operasi dan menunggu di kursi yang berada di depan ruang operasi.


Saat Alka, Pinkan dan Mega baru saja sampai diruang rawat inapnya, pintu pun terbuka kembali. Mereka melihat ke arah pintu tersebut, ternyata dua orang perawat yang mengantarkan Nindya yang masih terbaring di atas tempat tidurnya. Para perawat itu pun menyetting tempat tidur Nindya.


Alka merasa lega dalam hatinya karena kini wajah Nindya tidak sepucat semalam. Nindya masih memejamkan kedua matanya.


Nindya, mommy sayang sekali sama Nindya.. Nindya cepat sembuh ya, biar nanti mommy, daddy dan Nindya bisa main bareng lagi, bisa makan ice cream bareng-bareng lagi.


Mega tersenyum melihat wajah polos Nindya yang masih terpejam.


"Tuan, nona nanti jika pasien sudah terbangun segera panggil kami ya dengan tombol ini, karena pasien masih dalam pengawasan ketat oleh kami," ucap salah satu perawat sambil memberitahu letak tombol panggilan. Mereka pun mengangguk bersamaan.


"Kalau begitu kami permisi ya tuan, nona," pamit kedua perawat itu lalu pergi keluar dari ruang rawat inap.


"Hmm.. kalau begitu aku mau langsung berangkat ya ke tempat acara. Pinkan kamu bisakan menjaga Mega dan Nindya disini?" ucap Alka lalu mentitah Pinkan sambil mengedipkan salah satu matanya. Pinkan pun salah tingkah sedangkan Mega berusaha menahan tawanya.


"Sudah sudah lebih baik kamu berangkat daripada sahabatku jadi mati kutu karena terlalu gugup," timpal Mega sambil terkekeh.


"Baiklah sampai bertemu lagi," Alka tertawa lalu mengedipkan kembali salah satu matanya kepada Pinkan. Seketika tawa Mega pun pecah.


Alka pun pergi keluar dari ruang rawat inap Mega dan juga Nindya. Sedangkan Pinkan menunjukkan raut wajah kesalnya dan duduk kembali di sofa sementara Mega merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2