
Tiba-tiba, ponsel Albi berdering. Ia mengambil ponselnya dari dalam jas lalu dilihatnya di layar ponsel ternyata yang menelepon adalah Adidaryo.
"Hallo kek," sapa Albi. Tawa Mega berhenti saat ia melihat Albi yang sedang menjawab panggilan teleponnya. Ia pun memperhatikan Albi dengan seksama.
"Albi, bisa pulang sekarang? Nindya demam," ucap Adidaryo yang terdengar panik. Albi langsung tersentak kaget.
"Kok bisa kek? ya sudah Albi pulang sekarang ya kek," jawab Albi kemudian memutuskan sambungan teleponnya dan menaruh kembali ponselnya ke dalam jas. Albi langsung menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja lalu berdiri.
"Ada apa kak?" tanya Mega kepada Albi sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Nindya demam, sepertinya aku harus pulang sekarang," jawab Albi yang mulai panik karena khawatir sambil memeriksa kembali barang yang ia bawa sebelumnya supaya tidak tertinggal.
"Aku ikut ya kak," usul Mega dan di jawab anggukan oleh Albi.
"Semuanya aku duluan ya soalnya Nindya sakit, sampai bertemu nanti sore," pamit Albi kepada semua yang berada satu meja dengannya.
Dona dan Pinkan saling bertukar pandang. Mereka terlihat bingung karena Dona maupun Pinkan belum mengetahui status Albi yang merupakan calon suami Mega.
"Ka sorry ya aku gak bisa wakilin kamu, sepertinya di meja sana client kita Ka," ucap Albi pada Alka lalu menunjuk ke arah meja yang berada di dekat pintu masuk kafe.
"Oh iya benar, ya sudah kamu dan Mega hati-hati dijalan ya. Semuanya aku pamit pindah meja karena ada meeting, permisi," ujar Alka kepada Albi lalu pamit kepada semua yang berada di meja yang sama kemudian Alka pergi dari hadapan mereka.
"Mega, nanti kita pulang bagaimana kalau kamu ikut?" tanya Dona yang mulai gelisah karena dia dan yang lain belum tahu jalan di kota ini. Mega tampak berpikir sejenak.
"Kalau begitu aku telepon supir ya supaya nanti kalian langsung pulang ke rumah, bagaimana?" jawab Mega lalu bertanya pada Pinkan dan Dona. Keduanya pun mengangguk bersamaan.
Mega pun menelepon supir yang biasa mengantar jemput dirinya, karena sewaktu di kampus Mega meminta supirnya untuk pulang kerumah. Setelah selesai Mega pun langsung pamit.
"Aku udah share foto supir yang akan menjemput kalian, nanti kalian tunggu aja didepan lobby ya. Supirku sedang on the way ke sini, aku pamit ya kalian hati-hati dijalan," ucap Mega melambaikan tangannya kepada Pinkan dan Dona.
__ADS_1
"Kalian juga hati-hati dijalan ya, semoga cepat sembuh untuk Nindya, salam dari kedua aunty yang cantik dan om Irfan yang ganteng," kata Pinkan membalas lambaian tangan Mega. Mega pun terkekeh mendengar perkataan Pinkan.
Mega dan Albi langsung pergi meninggalkan mereka. Albi menggenggam tangan Mega berjalan menuju tempat parkir. Tanpa disangka keduanya berpapasan dengan Kiran saat akan keluar dari kafe tersebut. Kiran menunjukkan wajah sinisnya kepada Mega. Sedangkan Mega hanya tersenyum simpul, sementara Albi seolah tidak melihat Kiran.
Mega dan Albi langsung masuk ke dalam mobil. Ditempat mereka saling berpapasan, Kiran memperhatikan Mega dan Albi dari jauh.
Jadi itu pengganti Vanesha? masih lebih cantik aku.
Kiran pun langsung menuju ke mobilnya.
Kediaman Adidaryo
Nindya terus menangis karena merasakan tubuhnya yang terasa tidak enak. Adidaryo pun menggendong Nindya setelah Nindya diberi obat penurun demam.
Di depan rumah, mobil yang Albi kendarai baru saja tiba. Mega dan Albi pun turun dari mobil lalu langsung masuk ke dalam.
Sesampai di kamar Nindya, mereka melihat Adidaryo yang masih berusaha menenangkan Nindya. Mega pun merasa iba melihat Nindya yang menangis tiada henti. Mega dan Albi menghampiri Adidaryo.
"Suhunya masih tinggi," sambung Albi.
"Kek, sini biar aku aja yang menenangkan Nindya," ucap Mega lalu Adidaryo pun mengangguk. Nindya di pindahkan ke tangan Mega.
Mega tersenyum membuat Nindya merasa lebih tenang.
"Sayang, apanya yang sakit? coba bilang sama aunty Mega?" tanya Mega dengan nada lembut saat Nindya sudah berada dalam gendongannya.
"Mommy, Nindya mau bobo sama mommy," jawab Nindya dengan air mata yang masih membendung di kedua sudut matanya.
"Tadi saat kakek tengah makan siang, kakek ingin mengajak Nindya juga untuk makan siang. Setiba di depan kamar Nindya, tiba-tiba Nindya menangis dan kakek langsung masuk kedalam. Setelah kakek cek ternyata dia demam dan kakek baru mengetahuinya. Kemudian kakek meminumkannya obat penurun demam. Nanti jika masih demam tinggi lebih baik kita bawa saja Nindya ke rumah sakit," jelas Adidaryo dan dijawab anggukan dari Mega serta Albi.
__ADS_1
"Aunty Mega mau kan jadi mommy untukku?" tanya Nindya sambil menunjukkan puppy eyes yang ia miliki.
Mega ngerutkan kedua alisnya lalu melihat ke arah Albi dan juga Adidaryo. Mega pun mendapat anggukan dari keduanya.
Mega pun tersenyum lalu mengangguk, "iya sayang, aunty Mega mau jadi mommy Nindya. Sekarang Nindya istirahat ya," jawab Mega sambil tersenyum, Nindya pun juga ikut tersenyum.
"Kalau sekarang Nindya panggil aunty mommy boleh kan?" tanya Nindya yang sudah terbaring di tempat tidur. Mega mengelus lembut kepala Nindya dengan seulas senyumannya.
"Boleh sayang, mommy ada disini untuk Nindya," jawab Mega membuat Albi dan Adidaryo saling bertukar pandang. Adidaryo pun menepuk pelan bahu Albi. Nindya pun tersenyum lalu memejamkan kedua matanya.
Rasanya aku ingin menikahi Mega saat ini juga. Ya Tuhan mudahkanlah niat baik kami.
"Kalau begitu kakek mau ke ruang kerja dulu ya soalnya ada yang mesti kakek kerjakan," pamit Adidaryo pada Albi dan Mega. Keduanya pun melihat Adidaryo lalu mengangguk bersamaan. Kemudian Adidaryo keluar dari kamar Nindya.
Albi menghampiri Mega yang duduk di tepi tempat tidur sambil mengelus lembut kepala Nindya. Tak disangka Mega merasakan kepalanya ada yang mengelus, siapa lagi kalau bukan Albi.
Mega menatap mata Albi dan mata mereka pun saling bertemu.
"Mungkin aku tak pandai merangkai untaian kata yang indah. Tapi aku ingin menulis cerita yang indah tentang aku, kamu dan juga Nindya," ucap Albi membuat jantung Mega berdetak lebih cepat. Mega hanya membalas dengan senyuman. Ia pun tak tahu harus berkata apa. Semuanya menjadi satu dalam rasa bahagia.
Akhirnya Nindya pun tertidur pulas. Albi menuntun Mega duduk di sebuah sofa yang berada di kamar Nindya.
"Ada apa kak?" tanya Mega sambil sedikit memiringkan kepalanya menatap Albi yang tengah terlihat gelisah.
"Aku tidak bisa berlama-lama jauh darimu, ditambah Nindya sangat membutuhkanmu. Ada satu hal yang harus aku katakan soal Nindya," jawab Albi sambil menggenggam kedua tangan Mega.
"Soal Nindya? ada apa memang sebenarnya?" tanya Mega yang mulai penasaran.
"Sebenarnya.. Nindya bukanlah anak kandungku. Dia adalah anak kandung Lusy dan Samudera. Lusy sengaja meninggalkan anaknya kepadaku untuk suatu saat bisa mencapai tujuannya," jawab Albi dengan hati-hati karena takut Mega tidak bisa menerima Nindya. Namun siapa sangka Mega menjadi ingin ikut lebih menjaga Nindya.
__ADS_1
"Memangnya apa tujuannya mereka?" tanya Mega dengan raut wajah serius.
"Tujuannya..."