KELIRU

KELIRU
PELUH BERCUCURAN


__ADS_3

Mega tidak menghiraukan laki-laki itu, ia langsung berjalan beriringan dengan Nina masuk ke dalam ruang rektorat kampus. Kedatangan mereka sangat disambut baik oleh ketua rektorat kampus tersebut.


Bagaimana tidak? Nina merupakan penyumbang dana terbesar di kampus ini.


Mengapa saat nenek datang semuanya nampak begitu tertunduk patuh pada nenek? apa ini juga kampus milik nenek?


Mega bertanya-tanya dalam hatinya. Dia tidak mengetahui yang sebenarnya karena Nina sendiri tidak menceritakannya pada Mega. Nina hanya ingin Mega belajar dengan baik di kampus ini.


Mega pun mengisi formulir yang telah disediakan serta ia pun memberikan berkas yang sudah ia siapkan sebelumnya. Ketua rektorat kampus tersebut begitu terkejut dengan nilai dan prestasi Mega.


"Mega ini sangat luar biasa nyonya, nilainya bahkan melampaui mahasiswi terbaik di kampus ini. Dengan ini saya nyatakan, selamat Mega kamu diterima di kampus ini. Dan mulai besok kamu bisa langsung masuk kelas sesuai dengan jurusan yang kamu pilih," ucap pak ketua rektorat kampus.


"Benarkah?" tanya Mega tak percaya dengan mata yang berbinar-binar. Ketua rektorat itu mengangguk sambil tersenyum.


"Nah Mega nanti selama kamu butuh apa-apa di kampus ini, kamu bisa hubungi Mr. Edric ini selaku ketua rektorat kampus," ucap Nina.


"Baik nek, terima kasih banyak Mr. Edric," kata Mega kepada Nina dan juga Mr. Edric.


Setelah selesai, keduanya pun langsung keluar dari ruang rektorat dan berjalan menuju tempat parkir.


"Sayang, nenek akan pergi ke perusahaan sekarang, apakah kamu mau ikut?" tanya Nina.


"Iya nek aku ikut," jawab Mega sambil tersenyum.


Kemudian Nina dan Mega masuk ke dalam mobil. Lalu mobil pun melaju. Jarak dari kampus ke perusahaan cukup jauh karena tempatnya berada di perbatasan antara Belanda dan Jerman. Sementara dari tempat tinggal Nina menuju kampus cukup dekat hanya beberapa menit saja. Karena mereka masih berada di kota yang sama, Amsterdam.


2 jam perjalanan yang mereka tempuh, kini mereka telah tiba di perusahaan pusat milik mendiang Adrian Lesmana. Mendiang Adrian sengaja memilih memusatkan perusahaannya disini karena permintaan dari Nina sebelum Adrian diketahui memiliki penyakit kanker.


Mendiang Adrian dan juga Hermelinda yang awalnya tidak setuju karena mereka ingin menetap di Indonesia namun karena alasan Nina yang bersikukuh untuk menetap di Belanda akhirnya mereka pun menyetujuinya. Sekarang di Indonesia hanya ada butik terbesar milik mendiang Hermelinda.

__ADS_1


Keduanya pun turun dari mobil. Mega menatap gedung yang menjulang tinggi serta memiliki design ekterior yang begitu menakjubkan sangat membuatnya terpukau.


"Nek, apakah ini perusahaan milik ayah?" tanya Mega.


"Tentu sayang. Dan sekarang ini semua adalah milik kamu. Dunia ada ditanganmu," jawab Nina sambil menggenggam erat kedua tangan Mega.


Mata Mega pun berkaca-kaca.


"Apa aku akan bekerja sendiria nek?" tanya Mega khawatir.


"Tidak sayang, selama nenek masih hidup. Nenek akan selalu mendampingimu hingga kamu benar-benar bisa menggenggam dunia yang saat ini menjadi milikmu. Jangan biarkan tangan kotor yang mengambil atau merampas paksa dari tanganmu. Tapi ingat, tetaplah rendah hari dan selalu berbagi terhadap mereka yang membutuhkan bantuan kita," jawab Nina dan Mega pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Keduanya masuk ke dalam perusahaan itu, namanya Amarany Grup. Para pegawai yang berlalu lalang di sekitar lobby merasa biasa saja karena Nina sama sekali tidak pernah menampakkan wajahnya ataupun mengakui siapa dirinya. Karena alasan Nina sendiri ingin dikenal orang sebagai rakyat biasa saja.


Nina langsung mengajak Mega naik ke lantai paling atas dan juga menggunakan lift khusus. Mega mencoba berjalan senormal mungkin, padahal kenyataannya ia sangat gugup.


Mega yang hanya dirumah dan terpaku untuk belajar, belajar dan belajar. Kini harus siap gak siap memegang perusahan besar se Asia dan Eropa.


"Perusahaan kita ini sudah menguasai banyak bidang bisnis. Mulai dari sandang, pangan dan juga papan. Dari kebutuhan sekunder, premier dan juga tersier. Kamu harus paham masing-masing kebutuhan tersebut. Dan tentunya harus mencintai produk yang kita buat. Kamu tahu sayang? semua aset properti yang kita miliki itu sebagian dari produk yang kita jual sendiri."


"Soal harga, perusahaan kita memiliki level harga tersediri mulai dari standar, elit dan juga executive. Dan untuk pasaran sekitar Eropa ini rata-rata pembeli dari kalangan elit, tapi tak jarang juga yang minat dengan level harga standar maupun executive. Sampai disini paham?" jelas Nina panjang lebar lalu bertanya pada Mega.


"Lalu apakah perencanaan kedepannya mengenai bahan baku ataupun modal lebih sudah disediakan nek?" tanya Mega yang semakin serius menanggapi yang dibicarakan oleh Nina.


"Tentu sudah. Per 5 tahun perusahaan kita selalu memperbarui rencana jangka panjang kedepannya dan juga tentunya modal lebih selalu kita persiapkan. Mengingat harga bahan baku dari suplier pun tidak selalu stabil, kadang naik dan kadang turun. Berbeda di dalam bidang jasa. Kalau jasa kita relatif stabil hanya ada biaya-biaya tertentu yang suka berubah-ubah, contoh untuk transportasi. Perusahaan kita akan bekerja sama dengan pemerintah Jerman untuk pengadaan jasa di bidang transportasi yaitu kereta bawah tanah," jelas Nina.


"Apa masing-masing bidang itu memiliki perusahaan tersendiri nek? atau hanya berpusat disini?" tanya Mega.


"Tentu sayang, kita memiliki kurang lebih 132 anak cabang yang tersebar di Asia dan sebagian Eropa. Namun pusatnya disini. Yang bekerja disini pun hanya orang-orang yang memiliki produktifitas terbaik seluruh dunia. Bukan hanya IQ yang tinggi namun seberapa cekatannya dia dalam menyikapi suatu masalah yang terjadi dan kemungkinan akan terjadi kedepannya," jelas Nina membuat Mega mengangguk paham.

__ADS_1


"Baik nek, aku sudah paham sekarang. Terima kasih sudah menjelaskannya padaku. Besok setelah pulang kuliah aku akan pergi ke makan ayah dan ibu ya nek," ucap Mega


"Iya sayang," kata Nina sambil mengelus lembut kepala Mega.


"Ya sudah pelajarannya cukup sampai disini ya, sekarang sepertinya kita makan makanan pedas enak," ucap Nina.


"Wah ide bagus nek, aku jadi ikut tergiur, ayok kalau begitu," ajak Mega sambil menggenggam tangan Nina.


Nina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Keduanya pun masuk ke dalam lift. Tak lama mereka sampai di lobby, Mega masih menggenggam tangan Nina dengan terus menyunggingkan senyumannya.


Pegawat yang melihatnya pun ikut tersenyum. Mobil Nina sudah terparkir rapih di depan lobby. Keduanya masuk ke dalam mobil.


"Pak kita ke station food ya," ucap Nina dan supir pun mengangguk.


1 jam perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di station food. Tempat makan ini terkenal dengan berbagai makanan pedas.


Mega begitu tercengang saat masuk ke dalamnya.


"Nek tempatnya sangat bagus sekali, dan aromanya begitu sangat harum," ucap Mega.


Keduanya mencari tempat duduk yang dekat dengan pemandangan perbukitan. Walaupun hari sudah beranjak sore, tapi suasana disini tambah ramai. Mega dan Nina pun memesan makanan yang menggugah selera mereka.


Tak lama makanan mereka pun datang.


"Nek ini luar biasa porsi yang jumbo," ucap Mega kemudian membaca doa sebelum makan begitu pun dengan Nina.


Lalu keduanya menikmati makanan yang seba pedas tersebut. Mega sudah bermandikan keringat begitu dengan Nina.


"Nenek kenapa sangat pedas sekali, rasanya aku tak sanggup menghabiskan semua ini," ucap Mega sambil mengeluh dengan keringat yang sudah bercucuran.

__ADS_1


"Ya sudah makan sesanggupmu, kalau tidak habis kan bisa dibungkus. Mungkin saja sampai rumah kamu mau lagi," kata Nina dan Mega pun mengangguk.


__ADS_2