
"Kamu!" pekik Mega.
"Hai, selamat bertemu lagi," ucap laki-laki yang pernah menolong Mega.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Mega.
"Aku hanya berkunjung ke makam ayah dan ibuku, kamu sendiri?" jawab laki-laki itu lalu bertanya kembali kepada Mega.
"Oh, aku berkunjung ke ma.." ucapan Mega berhenti kala Pinkan memanggil Mega.
"Mega!" teriak Pinkan.
"Maaf aku harus pergi, permisi," pamit Mega.
Mega, nama yang bagus.
Laki-laki itu menatap kepergian Mega sambil tersenyum. Tiba-tiba seseorang menepuk bahu laki-laki itu dari belakang.
"Hei, sedang apa kamu disini Alka?"
Alka pun menoleh ternyata Albi yang menghampirinya.
"Eh Bi, tadi aku bertemu lagi dengan wanita yang waktu itu aku ceritakan pada saat kami bertemu di West Frisian Island," jawab Alka.
Seorang wanita pun datang menghampiri Alka dan juga Albi.
"Kalian memang kembar identik, dari belakang aku sama sekali tidak bisa membedakan kalian," ucap wanita itu.
"Eh ternyata kamu, Vanesha," ucap Alka.
"Hunny yuk kita pulang, sudah selesai kan?" ajak Vanesha kepada Albi suaminya.
"Yuk, kamu mau iku pulang bersama kami atau tidak?" tanya Albi.
"Kalian duluan aja, aku mau ke kampus," jawab Alka.
"Baiklah, kami duluan ya," ucap Vanesha sambil melambaikan tangan pada Alka dan Alka pun membalas lambaian tangan Vanesha serta Albi.
Mereka pergi dari pemakaman tersebut dengan mobil masing-masing.
🌾
Disepanjang perjalanan Mega terus terdiam seolah pikirannya terus berputar mengingat wajah laki-laki yang baru saja ia temui.
Laki-laki itu sepertinya kita pernah bertemu, tapi kapan ya?
Mega memejamkan matanya sambil bersandar di jok mobil. Tiba-tiba ia pun mengingatnya.
__ADS_1
Ah! iya aku ingat. Dia laki-laki yang pernah mengantarku pulang dari club dua tahun lalu. Tapi kenapa dia tidak mengenaliku ya? bahkan saat Pinkan menyebut namaku aja dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Aish! aku lupa didunia ini kan konon katanya yang memiliki wajah yang mirip ada sekitar 7 orang. Pantas aja dia tidak mengingatku.
Mega menggeleng-gelengkan kepalanya. Pinkan dan Dona yang melihat Mega merasa aneh, keduanya pun saling bertukar pandang.
"Mega!" seru Pinkan dan Mega pun terkejut.
"Ah! iya, kenapa?" tanya Mega yang tersadar dari lamunannya.
"Kamu yang kenapa, daritadi kok diam, bersandar sambil menutup mata, tiba-tiba duduk sambil membuka mata lalu menggeleng-gelengkan kepala. Kamu kenapa sih? Ah apa karena tadi kamu bertemu dengan laki-laki itu ya?" tanya Pinkan dengan diselimuti rasa penasaran.
Mega masih tak bergeming, ia bingung harus menjelaskannya dari mana.
"Cerita dong Meles, aku kok merasa Mega seperti ada sesuatu yang berbeda deh. Lebih tepatnya sedang jatuh cinta," ucap Dona sambil mengukir tangannya di udara membentuk bentuk hati.
Mega hanya bisa menahan tawanya.
"Ya enggak mungkinlah, kami pun baru bertemu dua kali, aneh-aneh aja deh kalian," timpal Mega sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bertemu dua kali?" tanya Pinkan dan Dona bersamaan lalu Mega pun langsung mengangguk cepat.
"Dimana?" tanya Pinkan dan Dona lagi bersamaan.
"Pertama beberapa hari yang lalu saat aku ingin menenangkan pikiranku tempatnya cukup jauh dari sini, dan yang kedua tadi saat di pemakaman," jelas Mega lalu Pinkan dan Dona pun mengangguk paham.
Tak lama mereka pun sampai di Dam Square. Mereka pun turun dari mobil.
"Loh kok pergi mobilnya Ga?" tanya Pinkan.
"Iya karena disini gak bisa sembarangan parkir Pinkan," jawab Mega.
"Wah banyak turis mancanegara ya disini," seru Dona.
"Iya konon katanya, jangan bilang pernah ke Amsterdam kalau belum ke Dam Square ini," ucap Mega dan keduanya pun ber oh ria.
Seorang wanita yang terlihat seperti tour guide menghampiri Mega, Pinkan dan juga Dona.
"Permisi, perkenalkan saya Luna. Tour guide kalian yang ditugaskan langsung oleh nyonya Nina," ucap Luna sambil tersenyum.
"Hallo kak Luna, saya Mega. Ini Pinkan dan yang ini Dona," sapa Mega sambil memperkenalkan dirinya dan juga kedua sahabatnya. Dan mereka pun saling berjabat tangan secara bergantian.
"Baik mari ikut dengan saya," ajak Luna dan mereka pun berjalan selangkah dibelakang Luna.
"Dam Square adalah salah satu daerah yang paling padat turis di Amsterdam, dan untuk alasan yang baik. Fiturnya yang paling menonjol adalah Istana Kerajaan abad ke-17, yakni Istana Koninklijk. Bekas rumah keluarga kerajaan Belanda dan saat ini menjadi Lokasi untuk acara-acara kerajaan."
"Lokasi ini menghubungkan jalan-jalan Damrak dan Rokin. Di sebelah barat alun-alun terdapat istana neo-klasik Royal Palace. Bangunan ini berdiri sejak tahun 1655 sebagai balai kota yang kemudian berubah menjadi istana kerajaan pada tahun 1808."
"Dam Square juga merupakan tempat wisata di Amsterdam yang menjadi lokasi bagi tempat-tempat wisata terkenal seperti Gereja Baru (Nieuwe Kerk), Museum lilin Madame Tussauds, dan Monumen Nasional, yang didedikasikan untuk tentara Belanda yang kehilangan nyawa dalam Perang Dunia II."
__ADS_1
"Disini sering menjadi lokasi perayaan dan festival kesenian dan kebudayaan. Tempatnya di monumen yang berada di depan tadi, disana biasanya terdapat banyak hiburan, yang berkisar dari artis jalanan hingga festival musik tahunan," jelas Luna panjang lebar sambil berkeliling mengitari Dam Square.
"Waw luar biasa ya, ternyata disini terdapat tempat wisata yang sangat bersejarah," seru Dona.
"Iya, dan alun-alun umum yang besar ini juga dipenuhi dengan kafe dan toko, serta penuh dengan penjual yang menjual makanan dan suvenir. Kalian akan menemukan Ferris Wheel disini. Sebuah cara sempurna untuk mendapatkan perspektif yang berbeda dari Kota Amsterdam," ucap Luna.
Mereka bertiga pun bertepuk tangan.
"Terima kasih kak Luna, penjelasanmu cukup membuat kami paham," kata Mega dan Luna pun tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kita makan lebih dulu, saya punya rekomendasi kafe terenak disini," ajak Luna dan mereka bertiga pun mengangguk.
Mereka berjalan kearah utara yang terdapat banyak gedung kafe dan juga toko. Tak lama mereka pun sampai di kafe yang dimaksud oleh Luna.
Luna membukakan pintu kafe lalu membiarkan Mega, Pinkan dan Dona masuk lebih dulu.
"Silahkan," ucap Luna.
"Terima kasih," kata Mega, Pinkan dan Dona bersamaan sambil masuk ke dalam kafe.
Mereka memilih tempat duduk, karena hampir mendekati makan siang, kafe pun terlihat cukup ramai. Rata-rata pengunjung disini memang mayoritas para turis.
"Nona, mari duduk disini," ajak Luna saat dirinya telah menemukan tempat kosong.
Mereka bertiga pun mengangguk dan menghampiri Luna. Kemudian mereka memesan makanan dan juga minuman.
"Kak Luna sejak kapan menjadi tour guide disini?" tanya Dona penasaran.
"Sejak usia saya 19 tahun nona," jawab Luna sambil tersenyum.
"Benarkah? lalu sekarang usia kak Luna berapa tahun?" tanya Dona kembali.
"Sekarang usia saya 24 tahun, ya kurang lebih sudah 5 tahun saya menjadi tour guide. Selain menjadi tour guide disini, saya juga menjadi tour guide di The Royal Palace, The Rijksmuseum, The Anne Frank House, dan masih banyak lagi," jawab Luna.
"Berarti kak Luna sudah mahir berbahasa Belanda juga ya?" tanya Mega.
"Tidak, saya lebih sering berbahasa Inggris. Karena para turis yang bersama saya rata-rata dari negara Inggris, Indonesia, Singapura, dan masih banyak lagi. Namun untuk bahasa Belanda sendiri saya tidak terlalu mahir," jawab Luna.
Ditengah-tengah perbincangan mereka, seorang pelayan pun menghampiri mereka sambil membawakan pesanan mereka.
"Silahkan, selamat menikmati," ucap pelayan tersebut.
"Terima kasih," ucap mereka berempat bersamaan.
"Perbincangannya kita lanjut nanti setelah makan yah, selamat makan semuanya," kata Luna.
"Selamat makan," ucap Mega, Pinkan dan Dona bersamaan.
__ADS_1
Mereka pun menikmati makan siang dengan hidangan yang sangat pas dilidah mereka bertiga.