
"Apa kakek menyembunyikan sesuatu dari kami?" tanya Albi sambil memicingkan kedua matanya.
Adidaryo tampak bingung dengan pertanyaan Albi.
Mungkin memang sudah waktunya aku memberitahu mereka tentang orang yang membuat Damar meninggal dunia.
"Ada apa kek? apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Alka yang begitu sangat penasaran.
"Baik.. baik.. kakek akan menceritakan kepada kalian tentang rencana kakek yang bekerja sama dengan Dany," jawab Adidaryo membuat Alka dan Albi saling bertukar pandang.
"Rencana apa kek?" tanya Alka dan Albi bersamaan.
"Jadi kakek menyuruh Dany yang tinggal di Indonesia untuk menangkap April dan membawanya ke tempat rahasia keluarga Adidaryo. Karena dialah alasan dibalik kematian Damar," jawab Adidaryo yang mulai geram.
Mega yang mendengarkan langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
"Apa tidak sebaiknya di laporkan ke kantor polisi kek?" tanya Mega ragu-ragu.
"Dia itu gak punya backing yang kuat, jadi lebih baik di beri pelajaran lewat kehidupan yang keras," tegas Adidaryo membuat Mega menahan nafasnya sejenak lalu mengeluarkannya perlahan.
"Lalu perempuan yang bernama April itu tinggal dengan Dany kek?" tanya Alka dan Adidaryo pun mengangguk.
Astaga wanita itu.. bukankah dia yang telah bersekongkol dengan Sahrul juga?
Tiba-tiba Mega merasa pusing, ia pun refleks memegang kepalanya. Mega merintih dengan cukup keras sehingga ketiga laki-laki yang dihadapannya menyadari rintihan Mega.
"Mega kamu kenapa?" ucap Albi yang langsung panik. Mega tidak menjawab pertanyaan Albi lalu Mega pun tak sadarkan diri. Beruntung Albi dengan sigap menangkap Mega kedalam pelukannya.
"Mega.. Mega kamu kenapa? Astaga apa yang telah terjadi dengan Mega?" Albi bergumam namun masih terdengar oleh Alka dan Adidaryo.
__ADS_1
"Aku akan membawa Mega ke ruang emrgency, kek, Ka aku titip Nindya ya," sambung Albi dengan perasaanya yang sudah tak karuan. Albi langsung mengendong Mega ala bridal style dan keluar dari ruang rawat inap Nindya.
Mega, sayang sadarlah aku gak mau lihat kamu seperti ini. Kamu kuat Mega.
Sepanjang jalan menuju ruang emergency, tiba-tiba Albi melihat ada darah yang mengalir dari kedua lubang hidung Mega. Ia semakin mempercepat langkahnya. Albi merasa tubuh Mega sudah semakin lemas.
"Sus bantu saya, calon istri saya pingsan!" teriak Albi lalu kedua perawat menghampiri Albi yang sedang menggendong Mega. Salah satu perawat membuka pintu ruang emergency, Albi langsung membawa Mega masuk ke dalam.
Kemudian Mega pun dibaringkan diatas tempat tidur. Salah satu perawat memeriksakan kondisi Mega dan perawat lainnya memanggil seorang dokter.
"Mohon maaf tuan, sebaiknya tuan menunggu di luar," ucap salah satu perawat itu, dengan berat hati Albi pun keluar dari ruang emergency itu. Dokter dan seorang perawat pun masuk ke dalam ruang emergency tersebut.
Albi duduk di kursi tunggu, kemudian ia meraih ponselnya lalu menghubungi Alka untuk mengantarkan ponsel Mega yang tertinggal kepadanya. Tak lama Alka pun datang.
"Bagaimana kondisi Mega, Albi?" tanya Alka yang ikut duduk disebelah Albi. Sedangkan Albi hanya menggeleng lemah.
"Gak tau Ka, Mega masih di periksa di didalam," jawab Albi dengan lirih.
Albi pun mengambil ponsel Mega dari tangan Alka kemudian ia membuka layar di ponsel Mega. Beruntung ponselnya tidak memakai kunci layar sehingga Albi dapat membukanya lalu ia mencari kontak Nina.
Ternyata isi kontaknya sangat sedikit sekali dan sepertinya hanya orang-orang terdekatnya.
Tak lama Albi menemukan kontak Nina. Ia langsung melakukan panggilan.
"Hallo sayang," sapa Nina diseberang telepon.
"Nek ini Albi," ucap Albi dengan tangannya yang mulai bergetar.
"Albi? bagaimana ponsel Mega bisa ada di kamu?" tanya Nina mulai curiga.
__ADS_1
"Begini nek, sewaktu kami berada di ruang rawat Nindya, Mega tiba-tiba pingsan dan dari hidungnya mengeluarkan darah," jawab Albi dengan deru nafas yang masih tak beraturan serta detak jantung yang sangat cepat karena merasa terlalu khawatir.
Kenapa kasusnya sama seperti Adrian saat awal diketahui penyakitnya ya?
"Baik, nenek akan segera kesana," ucap Nina lalu mematikan sambungan teleponnya.
Albi begitu gelisah begitu pun dengan Alka. Dua orang yang mencintai wanita yang sama dan keduanya memiliki ikatan yang sangat kuat. Cukup lama Mega berada di ruang emergency, dokter pun tak kunjung keluar dari tempat Mega berada.
Nina yang baru saja tiba di rumah sakit, langsung bergegas turun dari mobil. Melihat Alka dan Albi didepan ruangan emergency, membuat Nina yakin bahwa Mega sedang diperiksa dokter di dalam.
1 jam kemudian, dokter telah selesai memeriksakan kondisi Mega. Dengan cepat Albi, Alka dan Nina langsung berjalan menghampiri dokter tersebut.
"Dok bagaimana keadaan cucu saya?" tanya Nina sambil merumat-rumat kedua tangannya merasa cemas.
"Bisa kita bicara di ruangan saya?" dokter itu bertanya kembali kepada ketiga orang yang ada di hadapannya. Mereka pun mengangguk bersamaan.
Mereka mengikuti dokter itu masuk kedalam ruanganya. Mereka pun duduk bersamaan di sebuah sofa yang ada di ruangan dokter tersebut.
"Begini, setelah kami memeriksakan kondisi pasien dan juga uji laboratorium. Terdapat sel kanker yang mengalir di dalam darah. Sel kanker tersebut sudah menjalar ke bagian otaknya. Saat ini kanker yang diderita pasien sudah berada di stadium 2. Kita masih bisa menjalani pengobatan secara bertahap supaya sel kanker itu mati," jelas dokter membuat Albi dan Nina tercengang. Ada segelintir rasa sakit yang berdesir didalam hati Albi begitu pun dengan Nina. Nina tak ingin kehilangan orang yang paling ia sayangi lagi.
"Dok, apakah kanker itu bisa terjadi dari keturunan?" tanya Nina dengan hati-hati.
"Tentu. Apalagi jika sejak didalam kandungan, si ibu menderita kanker. Secara perlahan kanker itu mengalir ke bayi yang ia kandung lewat tali plasenta. Namun semua itu kuasa Tuhan, jika anak itu memang kuat maka sel kanker itu akan mati dengan sendirinya," jelas dokter kembali membuat Nina mengangguk paham.
"Berapa persen kemungkinan sel kanker itu akan mati dok setelah melakukan berbagai perawatan?" tanya Albi dengan raut wajahnya yang sangat serius sedangkan Alka masih memperhatikan dan mencermati apa yang tengah dibicarakan mereka.
"Kemungkinan 85 persen dan itupun tidak sepenuhnya berhasil. Disamping itu, tetaplah berdoa kepada Tuhan semoga pasien segera di berikan kesembuhan," jawab dokter dengan seulas senyum tipisnya.
Nina, Alka dan juga Albi hanya bisa menghela nafas mereka. Mau tidak mau, ikhlas tidak ikhas suatu saat Mega akan pergi entah kapan itu waktunya. Terutama Albi yang tak ingin berpisah lagi dengan Mega. Bagaimana pun nasib kisahnya nanti dengan Mega. Itulah yang terbaik yang telah di tetapkan oleh Tuhan.
__ADS_1
"Lalu setelah ini pengobatan apa yang akan Mega jalani dok?" tanya Nina dengan penuh harap Mega segera lekas sembuh. Walau kenyataannya kanker tidak dapat disembuhkan secara total selain dari mukjizat dari-Nya.