KELIRU

KELIRU
MERINDUKAN DIRIMU


__ADS_3

Rumah Nina


Setelah cukup lama perjalanan yang mereka tempuh, keduanya pun telah sampai di halaman rumah Nina.


"Kak terima kasih banyak untuk malam ini, aku masuk ke dalam rumah ya, kakak hati-hati berkendara," ucap Mega seraya membuka seatbeltnya dan memberikan senyuman tipis pada Albi.


"Aku akan selalu hati-hati karena sekarang ada hati yang harus aku jaga," timpal Albi sambil memutarkan sedikit tubuhnya kearah Mega yang sedang tertawa kecil.


Kenapa kak Albi menjadi bucin seperti ini? aku merasa seperti sedang berada di taman bunga yang sedang bermekaran.


Saat Mega akan membuka pintu mobilnya, Albi tiba-tiba menarik tangan Mega membuat Mega langsung menoleh.


"Ada apa kak?" tanya Mega menoleh kepada Albi dan membenarkan posisinya seperti semula.


Albi mendekatkan wajahnya kembali kehadapan wajah Mega dan hanya tersisa beberapa centi. Mega membulatkan matanya dan jantungnya berdegup sangat cepat membuat Albi pun mampu mendengarnya. Saat Albi telah memiringkan wajahnya, Mega langsung memejamkan kedua matanya.


"Aku sangat mencintaimu, jangan pergi meninggalkanku karena aku begitu takut untuk merindukan dirimu," bisik Albi ditelinga Mega. Bak mendapat siraman kehangatan dari deru nafas Albi yang terasa di telinga Mega. Membuat sekujur tubuh Mega merinding bukan main.


Albi membenarkan posisinya kembali di kursi kemudi diiringi kekehan kecil yang keluar dari mulutnya. Mega perlahan membuka kedua matanya dan menatap lekat kedua mata Albi dengan seulas senyum yang begitu merekah dan pipi yang ikut merona.


Aku harus berbicara apa? sepertinya aku terlalu bahagian sehingga aku gak bisa mengucapkannya lewat kata-kata.


"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Albi dengan nada lembut.


"Aku.. juga mencintaimu," jawab Mega dan Albi langsung memeluk Mega dengan sangat erat. Setelah cukup lama mereka berpelukan keduanya pun saling melepaskan pelukan itu.


"Kak, kalau begitu aku masuk dulu ya ke dalam, bye kak Albi," pamit Mega yang salah tingkah membuat Albi menahan tawanya. Albi memberikan tanda melalui tangannya untuk mempersilahkan Mega.


Mega membuka pintu mobil dan turun dari mobil mewah itu. Setelah menutup pintu, Albi membuka kaca mobil dan keduanya saling melambaikan tangannya.


Mega pun masuk kedalam, hanya ada beberapa pelayan yang masih sibuk dengan pekerjannya.

__ADS_1


"Selamat malam nona, maaf nyonya sudah menunggu nona di ruang kerjanya," pelayan rumah menyambut kedatangan Mega.


"Baik, terima kasih assistant," Mega memberikan senyumannya kemudian berlalu dari hadapan pelayan itu.


TOKTOKTOK


Mega mengetuk pintu ruang kerja Nina, tak lama Nina pun membuka pintunya. Mega pun tersenyum.


"Ada apa nenek memanggilku? bukankah ini sudah larut malam, kenapa nenek belum istirahat?" tanya Mega.


"Iya ada yang harus nenek bicarakan padamu sayang, ayok masuk," Nina menjawab lalu mengajak Mega masuk ke dalam. Sejak tadi Nina sedang bersama seorang laki-laki diruang kerjanya. Mega menatap Nina dengan tatapan menuntut sebuah penjelasan.


"Ini Fabio, sekretaris sekaligus asisten pribadi mendiang ayahmu," ucap Nina yang mengerti bahasa tubuh Mega.


"Selamat malam nona Mega, perkenalkan saya Fabio," Fabio memperkenalkan dirinya sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Mega pun ikut menundukkan kepalanya.


"Salam kenal om Fabio," ucap Mega.


Apa aku setua itu hingga Mega memanggilku dengan sebutan om? padahal menikah saja belum.


"Jadi apa yang akan nenek bicarakan?" tanya Mega to the point karena sebenarnya dirinya sudah merasa lelah dengan aktivitas seharian ini.


"Dua hari lagi akan ada grand launching program terbaru dari Adidaryo Grup dan Fabio bilang pemiliknya ingin kita datang ke acara tersebut," jawab Nina yang duduk di kursi kebesarannya.


Adidaryo Grup? bukankah itu perusahaan kak Alka dan kak Albi? Astaga tuan Adidaryo yang tadi pagi datang ke rumah.


"Lalu nek?" tanya Mega merasa belum paham arah pembicaraan Nina.


"Bisakah kamu tidak bilang apapun ke Albi mengenai kedatangan kita? karena nenek belum memberitahukan kepada publik kalau kamu adalah penerus generasi ke lima Amarany Grup. Nenek hanya tak ingin rival kita diluar sana mengincar dirimu dan akan membahayakan dirimu. Karena posisimu belum benar-benar memegang perusahaan," jelas Nina membuat Mega berpikir sejenak.


Tuhan semoga mulutku tetap terjaga didepan kak Albi untuk tidak mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Baik nek akan aku usahakan, toh aku masih harus belajar banyak dari nenek untuk mampu memegang perusahaan sebesar Amarany Grup," jawab Mega dengan keyakinan dalam hatinya. Nina pun tersenyum.


"Oh iya nek, tadi saat aku dan kak Albi makan malam. Ia ingin melamarku besok malam setelah ia pulang dari kantornya," sambung Mega yang sedang menyandarkan punggungnya di sofa.


"Benarkah?" Mega pun mengangguk sebagai tanda jawaban kepada Nina.


"Fabio apakah kamu sudah mendapatkan informasi mengenai pernikahan Alka dan juga Albi yang sangat tertutup itu?" tanya Nina dengan memasang wajah serius.


"Apa? jadi nenek selama ini mencari tau mengenai pernikahan pinang kebelah dua itu?" tanya Mega yang tak percaya. Nina pun dengan santai mengangguk.


"Nenek gak perlu repot-repot menyuruh om Fabio karena aku sendiri sudah mengetahui semuanya. Nenek kenapa mencari tahu sendiri tanpa bertanya padaku nek?" timpal Mega membuat Nina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sayang perlu kamu tau, nenek seperti ini karena nenek tak ingin kamu sakit hati dan dicampakkan oleh laki-laki lagi. Nenek terlalu menyayangimu," sahut Nina membuat mata Mega langsung berkaca-kaca. Ia pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Nina. Tak disangka Mega langsung memeluk Nina dengan penuh kasi sayang.


Fabio mengukirkan senyuman tipis melihat keharmonisan seorang nenek dan juga cucunya.


"Terima kasih nek selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku juga sangat sekali sama nenek. Sehat selalu ya nek, supaya kita bisa terus sama-sama," ucap Mega dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Suasana haru pun menyelimuti ruang kerja Nina.


"Sekarang coba ceritakan semuanya yang kamu tau tentang mereka," seru Nina dan Mega pun melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Nina.


Mega menceritakan semuanya tentang Alka dan Albi yang telah ia dengar langsung dari keduanya tanpa ada yang terlewat. Nina langsung tersentak kaget saat Mega menceritakan tentang Kiran anak dari rivalnya Adidaryo Grup.


Aku harus menyiapkan rencana yang matang jika sewaktu-waktu Samudera menghantam Adidaryo dengan serangan liciknya. Bagaimana pun sebentar lagi keluargaku dan keluarga Adidaryo akan menjadi satu keluarga. Ini tidak bisa disepelekan.


Telah cukup lama berbincang-bincang akhirnya Fabio berpamitan untuk kembali ke apartemennya. Sedangkan Mega dan juga Nina kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Kediaman Albi


Suasana rumah sangat sepi seperti biasanya, Albi juga hanya mempekerjakan beberapa pelayan saja. Rumah mewah berlantai 5 ini, begitu hampa untuk Albi tinggali hanya berdua dengan Nindya dan beberapa pelayan rumah.


Ia masuk kedalam kamarnya. Kamar yang selama ini tidak pernah ada seorang wanita yang masuk kedalamnya. Albi sengaja karena baginya hanya orang yang sangat ia cintai yang akan tidur bersamanya kelak di kamar ini. Dan ia berharap orang itu adalah Mega. Albi menatap kesekeliling kamarnya.

__ADS_1


Kelak aku berharap hanya akan menua bersamamu. Menikmati hari-hari kita dengan anak-anak kita. Dan setelah ini aku akan menceritakan semua tentang Nindya yang sebenarnya padamu. Aku mencintaimu, Mega.


Albi pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian. Setelah selesai, ia pun pergi ke alam mimpinya.


__ADS_2