KELIRU

KELIRU
JANGAN SAMPAI


__ADS_3

Setelah dari pemakaman, Alka pulang bersama Adidaryo dan Nindya ke kediaman Adidaryo. Sedangkan Nina pergi ke perusahaan pusat Amarany Grup.


Dan Albi akan menemui Mega di kampusnya. Albi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Ya Tuhan semoga perasaanku tidak salah sasaran lagi. Dan semoga kelak jika Lusy kembali, tidak ada pertengkaran wanita antara Lusy dan Mega. Bantu aku Tuhan.


Albi terus berdoa disepanjang jalan. Sebenarnya ada sedikit lega di hati Albi setelah kepergian Vanesha. Namun ia sendiri masih tidak tahu perasaan Mega padanya.


Tak terasa mobil yang Albi kendarai sudah dekat dengan kampus tempat Mega belajar.


Universiteit van Amsterdam


Mega baru saja memulai pelajaran di kelas pertamanya pagi ini. Sedangkan Albi yang baru tiba di halaman kampus, ia pun memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang telah disediakan oleh pihak kampus.


Albi turun dari mobilnya dan berjalan menuju kelas Mega. Seingatnya Mega mengambil jurusan bisnis, namun ia tidak tahu lebih tepatnya.


Apa aku harus ke bagian administrasi aja ya? untuk mengetahui lebih lengkapnya tentang Mega.


Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Albi memutuskan untuk berjalan ke bagian administrasi yang berada di samping ruang ketua rektorat kampus.


TOKTOKTOK


Albi mengetuk pintu, lalu seseorang pun membukakan pintunya.


"Goedemorgen," sapa Albi pada seorang wanita dihadapannya.


(Selamat Pagi)


"Goedemorgen, hoe kunnen we u helpen?" tanya wanita itu.


(Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?)


"Ik zou graag iets willen vragen over een student genaamd Mega Lesmana over de lessen en majors die ze op deze campus volgde," jawab Albi sambil tersenyum.


(Saya ingin bertanya mengenai mahasiswi yang bernama Mega Lesmana soal kelas dan jurusan yang ia ambil di kampus ini)


"Kom binnen, meneer," ajak wanita itu.


(Silahkan masuk, pak)


Albi pun masuk ke dalam dan duduk di kursi tepat di hadapan wanita itu. Setelah ia mendapatkan informasi mengenai kelas dan jurusan Mega, Albi pamit keluar ruangan.


Albi berjalan dengan hati yang membuncah bahagia mengiringi setiap langkahnya. Entah kenapa dia begitu yakin dengan perasaannya terhadap Mega. Dengan izin yang telah ia dapatkan dari Nina, Albi mulai serius mendekati Mega.


Sesampainya di depan kelas Mega, Albi menunggu Mega dengan duduk di kursi yang berada di depan kelas. Albi pun memilih memainkan ponselnya sambil mengecek email yang masuk, ia sesekali melihat ke pintu kelas tersebut.


Setelah beberapa jam Albi menunggu dengan perasaan yang tak menentu, saat salah seorang mahasiswi keluar dari kelasnya. Albi pun langsung berdiri menyambut kedatangan Mega.


Ah udah ada yang keluar kelas.


Tak lama Mega pun keluar dari kelasnya. Mata Mega langsung membulat dengan sempurna karena terkejut Albi menemuinya di kampus. Mega menghampiri Albi sambil menatap matanya dengan lekat. Ia mencari sebuah perbedaan yang berada di wajah Albi dari Alka.


Ternyata perbedaannya terletak pada tahi lalat yang hampir tak terlihat di dekat bibirnya. Aku belum tau ini kak Albi atau kak Alka. Seingat aku setelah membandingkan dengan kak Alka kemarin, ia gak punya tahi lalat di dekat bibirnya. Fix aku yakin ini kak Albi.


"Sedang apa kak Albi disini?" tanya Mega dingin.


"Kamu sudah bisa membedakan aku dan Alka?" alih-alih menjawab pertanyaan Mega, Albi malah menggoda Mega dengan bertanya kembali kepada Mega.


"Iya aku sudah tau, lalu sedang apa kak Albi berada disini?" jawab Mega lalu mengulangi pertanyaannya lagi.


"Aku mencarimu," jawab Albi santai dengan senyumannya yang begitu menawan.


"Ada apa mencariku?" ketus Mega sambil berjalan melewati Albi.

__ADS_1


Sepertinya dia masih marah padaku ataupun Alka. Pantas saja dia tidak ikut ke pemakaman, tenyata dia sedang berusaha menghindar dariku maupun Alka.


Albi tersenyum melihat Mega sedang merajuk. Albi mengikuti Mega dari belakang.


"Bisakah kita berbicara sambil duduk?" tanya Albi sambil berjalan mengimbangi langkah Mega yang semakin cepat.


Aku masih kesal dengan pinang kebelah dua itu, susah banget sih buat cerita dan jujur sama aku. Merepotkan jika aku jatuh cinta pada keduanya. Aku jadi bingung sendiri untuk menetapkan hatiku pada salah satu diantara mereka.


"Baiklah kak," jawab Mega tanpa menoleh kepada Albi.


Keduanya pun pergi ke kursi yang dekat dengan danau. Sehingga pemandangan indah sekitar danau pun terlihat sangat jelas.


Mega duduk sedikit memberi jarak pada Albi. Albi pun memahami hal itu.


"Mega, aku.. ingin menceritakan semuanya tentang hidupku setelah pertemuan kita 3 tahun yang lalu," ucap Albi sambil menoleh kepada Mega.


"Ya ceritakan aja kak, aku siap kok mendengarnya," Mega menghela nafasnya lalu menoleh kearah Albi.


"Setelah pertemuan kita.."


Flashback on


Jakarta


Sepulang dari kantor, Albi tidak langsung pulang ke rumah, melainkan bertemu teman lamanya di sebuah club terbesar di Jakarta. Saat Albi akan keluar dari club, ia oun menabrak seorang wanita.


Dia adalah Mega, Albi bahkan mengantarkan Mega sampai kerumahnya. Lalu Albi melajukan mobilnya kembali kerumah.


Sesampai dirumah peninggalan kedua orangtua Albi pukul 3 dini hari waktu Jakarta. Albi langsung pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian Albi telah selesai berganti pakaian, Albi pun baru menyadari kalau ponselnya sejak tadi berdering. Ia melihat ke layar ponsel ternyata sang kakek, Adidaryo.


"Hallo kek," ucap Albi.


"Ada apa memangnya kek?" tanya Albi penasaran.


"Kakek akan segera menyiapkan pesawat pribadi untukmu, jadi segera bersiap dan 30 menit lagi kamu harus sudah tiba di bandara," jawab Adidaryo lalu mematikan sambungan teleponnya.


Ada apa ya? ya sudahlah lebih baik aku harus segera bersiap dan berangkat. Kalau kakek terlalu lama menunggu bisa-bisa aku dicoret dari daftar ahli waris dan tidak mendapat kasih sayang kakek lagi.


15 menit kemudian, Albi telah siap dengan membawa sebuah koper dan langsung bergegas pergi ke bandara. Ia pun menyambar kunci mobil yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.


Astaga aku belum sempat tidur semalaman. Ya Tuhan kuatkan mataku.


Dengan kecepatan penuh Albi mengendarai mobilnya membelah jalanan ibu kota yang masih sangat sepi. Albi berusaha bersusah payah menahan rasa kantuk yang mulai menguasai dirinya. Akhirnya Albi pun sampai di bandara.


Ia langsung check in dan segera masuk ke dalam pesawat. Sesampai di dalam pesawat Albi langsung tertidur pulas mulai dari pesawat take off hingga pesawat landing.


Belanda


13 jam perjalanan, Albi pun sampai di Schiphol Amsterdam Airport. Albi kemudian turun dari pesawat dan berjalan keluar dari bandara.


Di lobby, supir sang kakek pun telah menyambut kedatangan Albi. Saat ini telah menunjukkan pukul 12 siang waktu Belanda.


Saat tengah dalam perjalanan, Albi mendapat telepon kembali dari Adidaryo.


"Iya hallo kek?" tanya Albi.


"Albi kamu langsung ke rumah sakit Sint Lucas Andreas ya," jawab Adidaryo.


"Rumah sakit? siapa yang sakit kek? kakek sakit?" tanya Albi yang mulai panik.


"Sudah cepat bilang kepada supir untuk segera ke rumah sakit," jawab Adidaryo dingin lalu mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Albu pun langsung memberitahukan kepada supir. Tak lama Albi telah sampai di rumah sakit. Albi langsung turun dari mobil dan berjalan dengan cepat masuk ke dalam lobby rumah sakit.


Saat Albi membuka pintu lobby, ia melihat Adidaryo yang tengah berdiri menunggu kedatangan Albi dengan amarah yang masih ia tahan.


"Kakek, siapa yang sakit?" tanya Albi sambil menghampiri Adidaryo.


PRAKK


bukannya menjawab pertanyaan Albi, Adidaryo justru menampar Albi dengan sangat keras membuat sudut bibir Albi mengeluarkan sedikit darah dan Albi pun tersungkur ke lantai.


Albi merintih kesakitan sambil memegangi sudut bibirnya lalu perlahan berdiri.


"Kenapa kakek menamparku?" tanya Albi yang mulai ikut tersulut emosi.


"Siapa yang mengajarimu semena-mena terhadap wanita! kenapa kamu lari tanggung jawab Albi!" bentak Adidaryo dengan kedua tangannya yang masih mengepal lalu memijat keningnya.


"Ma-maksud kakek apa ? aku tidak mengerti," tanya Albi terbata-bata.


"Kenapa kamu tidak mau tanggung jawab terhadap anak yang Lusy kandung!" bentak Adidaryo kembali.


"Apa? apa yang telah terjadi pada Lusy kek? bukankah dulu ia yang ngotot untuk menggugurkan kandungannya?" tanya Albi tidak percaya.


PRAKK


Albi mendapat tamparan lagi dari Adidaryo.


"Lusy baru saja melahirkan anakmu dan sekarang jelaskan padaku kenapa Lusy bisa sampai mengandung anakmu!" tegas Adidaryo.


"Apa!" Albi tersentak kaget lalu ia pun menghela nafasnya.


"Oke aku akan jelaskan kek, satu tahun yang lalu aku tengah party bersama rekan kerjaku di sebuah club yang berada di pusat kota. Aku dijebak, seorang rekan kerjaku memasukkan obat perangsang kedalam minumanku. Saat itu hanya ada Lusy di sana karena dia adalah sekretarisku dan sebelumnya akulah yang memintanya untuk menemaniku ke club tersebut. Tapi sepulang dari club, sungguh diluar dugaan. Aku malah tidur dengan Lusy."


"Dua bulan setelah itu, Lusy mengaku hamil dan menyalahkanku karena dia belum siap untuk hamil. Dia bilang akan menggugurkan kandungannya dan aku melarangnya. Aku yang saat itu akan bertanggung jawab atas kehamilan Lusy. Tapi tiba-tiba 2 bulan setelah itu Lusy tidak ada kabar dan dia memberiku surat kalau dia telah menggugurkan kandungannya. Aku merasa frustasi, lalu kakek menyuruhku untuk pindah ke perusahaan yang berada di Indonesia. Dan aku tidak menolaknya, karena aku pikir dengan berada di Indonesia aku bisa melupakan kesalahanku bersama Lusy," jelas Albi panjang lebar.


"Lebih baik sekarang ikut aku, aku ingin menyelesaikan permasalahanmu dengan Lusy dan kamu harus menikahi Lusy. Kakek gak mau nama baik keluarga kita tercoreng karena ulahmu!" ajak Adidaryo yang sebenarnya sudah sangat naik pitam namun ia tetap berusaha tenang.


Saat Albi dan Adidaryo baru saja tiba di ruangan rawat inap Lusy. Keduanya tidak melihat keberadaan Lusy di dalam kamar.


Sial! kemana perginya perempuan itu!


Albi menggerutu dalam hatinya, dia pun langsung menghubungi pihak rumah sakit. Tak lama dua orang perawat masuk ke dalam ruangan rawat inap Lusy.


"Sus, kemana pasien yang menempati kamar ini?" tanya Adidaryo.


"Tadi saya lihat nyonya Lusy keluar dari kamarnya dan sudah mengganti pakaiannya. Saat saya tanya kemana ia akan pergi, namun nyonya Lusy tidak menjawabnya dan langsung pergi begitu saja bahkan saya tidak bisa menahannya karena ia sangat tergesa-gesa, padahal saat ini anaknya sedang membutuhkan ASI dari dirinya," jawab salah satu perawat itu.


Wanita macam apa dia! tega meninggalkan anaknya sendiri!


Adidaryo pun ikut geram. Akhirnya Albi memutuskan untuk merawat anaknya sendiri.


Setahun kepergian Lusy, Albi belum juga menemukan informasi mengenai keberadaan Lusy. Sejak kelahiran putrinya yang bernama Nindya, Albi memutuskan untuk menetap di Belanda.


Kemudian Albi bertemu dengan Vanesha yang saat itu adalah brand ambassador peluncuran program terbarunya untuk sebuah laptop terbaru yang sangat canggih pada masanya.


Sejak pertama Vanesha bertemu Nindya, ia hanya bersikap manis pada saat di depan Albi. Hingga mereka menikah, Nindya tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


Saat suatu hari Albi melihat CCTV rumah, Albi begitu terkejut melihat perlakuan Vanesha terhadap Nindya. Sejak saat itu Albi tidak pernah memperdulikan Vanesha lagi hingga akhir hidupnya.


Flashback off


Mata Mega langsung berkaca-kaca setelah mendengar penjelasan dari Albi.


"Sekarang, apakah kamu mau menjadi mommy untuk Nindya? dan tetap bertahan denganku walaupun suatu hari nanti Lusy kembali?" tanya Albi membuat Mega berpikir sejenak.

__ADS_1


__ADS_2