KELIRU

KELIRU
JANGAN SAMPAI LENGAH


__ADS_3

Dona pun duduk disofa yang berada di dalam ruang ganti pakaian. Sedangkan Mega mengambilkan pakaian untuk Dona.


"Donut kamu bisa kan pakai baju sendiri?" tanya Mega dan Dona pun mengangguk.


"Makasih ya Meles," ucap Dona dan Mega pun mengangguk sambil tersenyum lalu ia keluar dari ruang ganti pakaian.


Mega pun menuju kotak P3K di kamarnya dan mengambil obat luka untuk Dona. Tak lama Dona pun keluar dari ruang ganti dan berjalan sedikit tertatih.


"Apa lukamu parah Don?" tanya Mega.


"Lumayan Ga, lututku menjadi lebam," jawab Dona dengan wajah murung.


"Kamu duduk di sofa ya, aku akan mengoleskanmu salep untuk mengobati luka lebam," ucap Mega dan Dona pun menurut.


"Wah salepnya terasa dingin ya Ga, makasih banyak ya. Uh untung aku orangnya sabar bisa-bisa aku pites itu si Pinkan," kata Dona sambil *******-***** jemari tangannya.


Pinkan pun keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan bathdrobe serta gulungan handuk di kepalanya.


"Aaah segar sekali setelah mandi," ucap Pinkan yang merasa tidak bersalah sama sekali.


Dona langsung memberi tatapan tajam ke pada Pinkan. Dengan wajah polosnya Pinkan pun menahan tawa melihat lutut Dona terlihat lebam.


"Don, kamu habis baku hantam dimana sih? lutut sampai lebam seperti itu," ucap Pinkan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mega pun hanya menahan tawanya sebisa mungkin.


"Ini karena ulahmu, coba aja kalau kamu tidak menakut-nakutiku perihal hantu aku gak akan seperti ini tau," jawab Pinkan.


"Kok aku yang disalahin sih, kamu aja kali yang kesetnya gak benar," timpal Pinkan.


"Iya karena aku panik, lalu aku langsung lari ke ruang ganti," seru Dona sambil mencebikkan bibirnya.


"Yaudah maaf ya Dona yang cantik dan baik hati, penyabar dan rajin menabung supaya bisa jadi sultini," ledek Pinkan dan Dona langsung melempar Pinkan dengan bantal sofa.


Namun saat Pinkan akan menghindar keningnya malah terbentur oleh dinding. Seketika tawa Mega dan Dona pun pecah.


"Rasain kena batunya kan," seru Dona sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Sial! ini kenapa dinding ada disini sih!" gerutu Pinkan dan langsung masuk ke dalam ruang ganti pakaian dengan wajah yang ditekuk karena menahan malu.


Beberapa saat kemudian, Pinkan pun keluar dari ruang ganti pakaian tersebut.

__ADS_1


"Mega ada obat gak? keningku memar," tanya Pinkan denga nada merengek, sementara Dona langsung tertawa kecil yang masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Nih pakai aja, tadi juga Dona pakai itu udah membaik sekarang. Lagian kalian sih bercandanya keterlaluan," jawab Mega.


"Bisa pakai sendiri gak salepnya?" tanya Mega.


"Kamu nih meledek aku, kan yang sakit keningku bukan tanganku," jawab Pinkan sambil mencebikkan bibirnya.


"Bagus deh kalau begitu," ucap Mega sambil tertawa kecil.


"Gaes, lihat deh ini bukankah April yang tunangannya Damar itu ya? kok di berita selebritis, dia terlibat kasus perselingkuhan dengan aktor papan atas loh," seru Dona.


Mega dan Pinkan langsung menghampiri Dona dan ikut duduk bersamanya.


"Wah iya benar, hahaha rasain tuh si Damar emang ya dasarnya karma itu selalu berlaku," ucap Pinkan sambil tertawa.


"Tapi apa Damar tau soal ini? dan bukankah dalam waktu dekat ini mereka akan menikah?" tanya Mega pada Pinkan dan Dona.


"Aku rasa sih si Damar pasti langsung mutusin secara dia pengen ngerasain perempuan perawan jadi aku yakin si April ini udah diapain aja sama aktor itu," jawab Dona begitu sangat yakin.


"Kalian benar juga sih, ah ya sudahlah ya. Aku kan ke sini untuk melupakan perasaanku padanya," ucap Mega sambil mengangkat kedua bahunya.


"Benar juga sih apa katamu Pinkan, baiklah aku harus tetap hati-hati walaupun banyak mata-mata nenekku di sekelilingku tapi bagaimanapun mereka juga manusia kan. Kehendak Tuhan lebih berkuasa," ucap Mega.


TOKTOKTOK (suara ketukan pintu)


Ceklek, pintu pun di buka oleh Mega.


"Permisi non, makan malam sudah siap, nona sudah ditunggu nyonya di ruang makan," ucap pelayan rumah.


"Terima kasih, kami akan segera ke ruang makan," kata Mega ramah.


"Baiklah non kalau begitu saya permisi," pamit pelayan itu.


Mega menutup pintunya kembali.


"Gaes turun yuk ditungguin nenek diruang makan, saking keasikan ngegosip kan jadi lupa waktu," ajak Mega lalu Pinkan dan Dona pun mengangguk.


"Don apa lututmu sudah lebih baik?" tanya Pinkan.


"Sudah Pinkan sepertinya salep yang diberikan Mega begitu mujarab untukku," jawab Dona terkekeh.

__ADS_1


"Kamu lupa, dia kan seorang sultini jadi salep yang dipakai pasti harganya mahal," ucap Pinkan sambil berbisik.


"Aku denger ya kalian ngomong apa, salep tadi tuh aku beli banyak sewaktu di Solo karena harganya sangat murah, kalau gak salah itu tujuh belas ribu rupiah deh per pcs nya," jelas Mega membuat Pinkan dan Dona tercengang.


"Serius Ga? aku kira harganya sampai enjut enjutan," tanya Pinkan tidak percaya.


"Dua rius malah," jawab Mega sambil mengangkat dua jarinya.


Mereka pun keluar dari kamar Mega dan berjalan menggunakan lift supaya cepat sampai di ruang makan.


"Malam nek," ucap Mega, Pinkan dan Dona bersamaan.


"Malam, kalian kok lama sekali turunnya, itu lutut Dona sama kening Pinkan kenapa pada lebam?" tanya Nina sementara ketiganya duduk di kursi.


"Biasa nek ada tragedi kecil tadi sehabis mandi," jawab Mega sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ya sudah lebih baik kita makan malam ya setelah itu nanti kalian istirahat," ajak Nina dan mereka pun mengangguk.


Setelah selesai makan malam, mereka bertiga pamit kepada Nina untuk ke kamar Mega. Mereka naik menggunakan lift kembali.


Sesampai di kamar Mega, Dona langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Meles aku tidur disini aja ya, aku takut tidur sendirian," ucap Dona sambil merengek kepada Mega.


"Iya Donut," jawab Mega sambil tersenyum.


"Apa aku juga ikut tidur disini?" tanya Pinkan dengan wajah yang berbinar-binar.


"Gak boleh," jawab Mega dan Dona bersamaan.


"Aish! kalian jahat sekali padaku," ucap Pinkan sambil mengerucutkan bibirnya.


Mega dan Dona pun tertawa melihat ekspresi Pinkan. Dan akhirnya terjadilah perang bantal.


Dua jam berlalu, mereka sudah kelelahan.


"Gaes sudah ya, aku ngantuk sekali," ucap Pinkan sambil menguap sam menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Iya sama, ayok tidur," ajak Dona yang juga ikut menguap tertular dari Pinkan.


Mereka pun akhirnya pergi ke alam mimpi, dengan lampu kamar yang sengaja diredupkan.

__ADS_1


__ADS_2