KELIRU

KELIRU
TIDAK PERLU KEMBALI


__ADS_3

Setelah menikmati makan siang mereka, Mega, Pinkan dan juga Dona akhirnya pamit untuk pulang ke rumah.


"Terima kasih kak Luna telah menemani kami berkeliling di Dam Square ini. Kami begitu terbantu sekali dengan kak Luna, jadi banyak mendapat informasi terbaru yang baru kami temui selama ini. Ini merupakan pengalaman pertama bagi kami," ucap Mega.


"Sama-sama, karena semua ini sudah tugas saya untuk menemani nona-nona sekalian disini," kata Luna bersikap ramah dan penuh senyuman.


Mega pun langsung menelepon supirnya. Tak lama mobil mereka tepat berada di dihadapan mereka.


"Kak Luna sekali lagi terima kasih ya, kami pulang dulu, bye," pamit Mega sambil melambaikan tangannya begitupun dengan Pinkan dan juga Dona.


"See you next time," ucap Luna membalas lambaian tangan mereka.


Ketiganya pun masuk ke dalam mobil. Kemudian supir pun melajukan mobilnya.


🌾


Indonesia


Damar baru saja tiba di rumahnya, hari ini ia terpaksa lembur karena Damar begitu banyak melakukan kesalahan, dan akibatnya ia harus merevisi ulang berkas-berkas yang seharusnya ia sudah mendapatkan tanda tangan pimpinan perusahaan.


Apes! Apes! Dam, Dam. Apa karena kamu terlalu pemilih sehingga sulit mendapatkan wanita yang benar-benar tulus padamu? udah bener si Mega, eh kamu tinggalin begitu aja bahkan kamu maki-maki.


Damar menyesali perbuatannya terhadap Mega beberapa waktu lalu. Saat Damar baru selesai mandi dan berganti pakaian, pintu kamarnya pun di ketuk oleh ibunya.


"Dam, makan malam dulu nak. Kami tunggu di ruang makan ya," ucap ibu Damar dari depan pintu.


"Iya bu," jawab Damar dari dalam kamarnya.


Setelah ibunya pergi, Damar pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Damar merasa hari ini begitu sangat penat. Pikirannya pun terpecah belah. Setelah kejadian kemarin, April bahkan sulit untuk dihubungi.


Sesampainya diruang makan, Damar pun langsung duduk di kursi.


"Kamu kenapa sih Dam? hari ini gak di kantor gak di rumah mukanya di tekuk terus," tanya ayah Damar.


"Aku lagi pusing aja yah," jawab Damar singkat.


"Pusing kenapa? kan posisi kamu di kantor sudah naik sekarang begitupun dengan gajimu," tanya ayahnya kembali.


"Masalahnya, gaji Damar bulan ini sudah benar-benar habis yah. Damar minta uang lagi ya yah," jawab Damar sambil merengek kepada ayahnya.


"Kamu ini Dam, Dam seperti usiamu belasan aja. Inget usiamu saat ini sudah 22 tahun, bijaklah dalam mengelola keuangan. Setelah kamu berumah tangga nanti, kamu harus bisa memisahkan mana kebutuhan dan mana keinginan, jangan semua yang di pingin kamu beli, tapi utamakan kebutuhan," ucap ibu Damar membuat Damar tidak bisa berkata apa-apa.


"Lalu hubungan kamu dengan tunanganmu bagaimana?" tanya ayah Damar sambil memberikan tatapan tajam padanya.


"Aku akan mengakhirinya yah," jawab Damar dengan singkat, membuat ayah dan ibunya saling bertukar pandang dan mengerutkan kedua alisnya.


"Kenapa?" tanya ayah dan ibu bersamaan.


Damar hanya menghela nafasnya, "karena dia melarang prinsip pertama Damar bu, yah."

__ADS_1


"Prinsip pertama? apa memangnya?" tanya ayah Damar penasaran.


"Karena April sudah bukan perawan sama seperti Mega," jawab Damar mantap, namun dengan cepat ayahnya memukul kepala Damar dengan centong sayur.


"Sontoloyo! kamu pikir mencintai wanita itu hanya karena keperawanannya? kamu pikir menikah hanya ingin enak-enaknya aja? Tidak Damar! kamu itu jadi laki-laki harus memiliki jiwa besar dan berlapang dada. Kamu kalau sudah membuat wanita jatuh cinta sama kamu lalu kamu buat luka didalam hatinya sekecil apapun, maka dia tidak akan pernah sudi menerima kamu kembali sekalipun kamu memohon di kakinya. Ingat itu!" tegas ayah membuat Damar bersusah payah menelan salivanya.


"Ya, kalau begitu aku tak perlu kembali kepada mereka kan yah," ucap Damar dengan entengnya.


Ayah dan ibunya hanya menghela nafas, "terserah kamulah, kamu yang menjalani. Ayah dan ibu hanya mengingatkan supaya kamu gak menyesal dikemudian hari," kata ayah Damar.


Mereka pun melanjutkan makan malam kembali dengan penuh keheningan dan tidak ada percakapan.


🌾


Belanda


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Setelah sampai di rumah, Mega, Pinkan dan juga Dona sangat kelelahan. Mereka pun tertidur di kamar Mega.


Nina yang masih berada di rumah sakit untuk mengecek kondisi Sahrul sedari tadi menelepon Mega namun tak kunjung dijawab. Akhirnya Nina menelepon lewat telepon rumah.


"Selamat sore, kediaman Lesmana," ucap seorang pelayan wanita yang mengangkat telepon rumah.


"Sore assistant, saya Nina. Mega kemana ya? apakah ia dan kedua temannya sudah berada di rumah?" tanya Nina.


"Oh iya nyonya, non Mega sudah tiba di rumah sekitar 1 jam yang lalu. Mungkin sekarang nona-nona sedang menikmati tidur siang," jawab pelayan rumah.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih informasinya," ucap Nina lalu memutuskan panggilan teleponnya.


2 jam berlalu, Mega terbangun karena ia melihat keluar jendela kalau langit mulai mendung. Tanda hujan pun akan turun. Sebentar lagi memang akan masuk musim dingin. Jadi cuaca malam hari terasa begitu dingin dan pada siang hari terasa begitu terik dan panas.


Mega turun dari tempat tidurnya lalu menyalakan semua lampu kamarnya dan menutup gorden kamarnya. Ia langsung pergi ke kamar mandi, sementara Pinkan dan Dona masih asik bermain dialam mimpi mereka.


Beberapa menit kemudian Mega pun keluar dari kamar mandi lalu pergi ke ruang ganti pakaian. Tak lama Mega keluar dengan menggunakan kaos oblong yang kebesaran dan juga hot pants levis. Tak lupa ia pun menggulung rambutnya.


Mega membangunkan Dona dan Pinkan, karena hari sudah semakin sore.


"Donut, Pinkan bangun udah sore nih mandi dulu ya. Setelah itu kita bersiap untuk makan malam," ucap Mega sambil menggoyang-goyangkan punggung kedua sahabatnya.


Dona dan Pinkan pun terbangun dengan mengejap-ngejapkan kedua matanya.


"Pukul berapa sih sekarang?" tanya Pinkan sambil meregangkan otot-otot yang kaku ditubuhnya.


"Udah pukul 4 sore Pinkan," jawab Mega.


"Kamu udah mandi Meles?" tanya Pinkan kembali.


"Iya dong, ayok kalian mandi gantian setelah ini aku akan tunjukkan kamar kalian selama disini," ajak Mega lalu dengan cepat Pinkan dan Dona turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.


Sesampainya di depan pintu kamar mandi, terjadi keributan pada keduanya.

__ADS_1


"Gak usah perebut juga kali, gantian. Suit dah suit," seru Mega.


Kemudian Pinkan dan Dona pun suit.


"Yes, aku menang. Aku duluan, bye Pinkan," seru Dona yang langsung masuk ke dalam kamar mandi sambil menjulurkan lidahnya kepada Pinkan lalu menutup pintu.


Pinkan hanya mencebikkan bibirnya.


"Dona jangan lama-lama mandinya," teriak Pinkan dari depan pintu namun Dona yang berada di dalam kamar mandi pura-pura tidak mendengarnya.


"Ga, memangnya di rumah ini ada berapa kamar sih?" tanya Pinkan yang duduk kembali di tepi tempat tidur.


"Banyak banget, aku aja tidak tahu persisnya berapa kamar," jawab Mega sambil terkekeh.


"Oh iya aku masih penasaran sama cowok yang kamu temui di pemakaman tadi pagi deh Ga," ucap Pinkan sementara Mega hanya mengangkat kedua bahunya.


"Ih rese deh, kamu mau membuat aku mati penasaran?" pekik Pinkan sambil melemparkan bantal sofa ke arah Mega.


Mega pun tertawa.


"Mati aja kalau udah siap," ledek Mega sambil menjulurkan lidahnya kepada Pinkan.


"Aish! kamu itu nanti kamu orang pertama yang aku gentayangi loh," kata Pinkan menakut-nakuti Mega.


"Pinkan ih aku merinding tau," seru Mega, dan sekarang Pinkan yang tertawa.


"Nanti kalau aku sudah siap, aku akan cerita semuanya pada kalian," sambung Mega.


"Baiklah aku mengerti, semoga luka dihatimu segera cepat sembuh ya. Tenang aja laki-laki di dunia ini tuh banyak. Apalagi kalau mereka tahu kamu yang sebenarnya. Bisa sampai bertekuk lutut deh aku jamin," timpal Pinkan.


"Tapi sayangnya aku gak butuh laki-laki yang mencintaiku karen harta Pinkan. Bukannya naif atau bagaimana. Yang namanya hati kalau udah cinta sama seseorang itu sulit banget buat ngelupain orang yang kita cintai itu. Ya apalagi aku kan punya trauma berat. Kelemahanku hanya satu, aku paling gak bisa nolak perlakuan lembut seorang laku-laki Pinkan," jelas Mega panjang lebar.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, ternyata Dona baru selesai mandi, ia masih menggunakan handuk yang melilit di tubuh ya.


"Kalian ngobrolin apaan sih? seru banget kayaknya," tanya Dona yang masih berada di ambang pintu kamar mandi.


"Kita lagi ngobrolin soal hantu," jawab Pinkan asal.


"Serius? dimana?" tanya Dona yang mulai gelisah.


"Dibelakang kamu," jawab Pinkan asal.


Dona pun langsung keluar dari kamar mandi dan berlari menuju ruang ganti. Sementara Pinkan langsung masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya.


BRUKKKK


"Aw! sakit," teriak Dona.


Mega langsung berlari ke ruang ganti, ternyata Dona jatuh tersungkur karena terpeleset akibat kakinya masih basah dan dia tidak keset dengan benar. Mega langsung membantu Dona berdiri.

__ADS_1


"Pinkan! awas kamu ya!" teriak Dona dan sebisa mungkin Mega menahan tawanya.


__ADS_2