Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 11: Luapan Emosi


__ADS_3


...💮 Selamat Membaca, dan Semoga sehat selalu 💮...


''Aku diam bukan berarti aku lemah! Aku hanya tidak ingin membuat keributan yang tidak ada untungnya sama sekali untukku, dan hanya menambah dosa. Tapi kau, semakin di diamkan malah semakin nglunjak! Apa aku selama ini pernah mengusikmu? Kenapa kamu begitu sangat membenciku? Padahal, mengobrol saja kita tidak pernah? Kapan aku pernah mengganggumu?'' Ucap Iren.


Waah seketika membuat semua orang yang ada di sana diam membisu. Bahkan Mira saja ikut menganga mendengar emosi yang diluapkan oleh sahabatnya itu.


Plok...plok...plok...( suara tepuk tangan Mira )


''Wow Ren,'' ucap Mira yang masih tidak percaya kalau sahabatnya bisa juga menyuarakan isi hatinya dan meluapkan emosinya.


''Dengerin tuh Jils! Buka telinga kamu lebar-lebar. Bahkan kalian saja tidak pernah saling mengobrol, tidak pernah juga mengganggumu, tidak pernah menghinamu, tidak pernah membicarakanmu. Tapi mengapa kamu sangat membencinya! Memang benar kata orang ya ''Meskipun kita diam saja, tapi bagi orang yang sudah membenci kita dari urat sampai kedaging. Kita akan tetap salah di mata mereka." Jils pun lebih memilih pergi dengan kesal bahkan langkah kakinya saja seperti sedang Paskibraka.


Akhirnya ibu-ibu itu pun pergi satu persatu meninggalkan rumah Iren. Ada yang hanya diam saja, ada yang meminta maaf, ada pula yang masih berbisik-bisik.


''Oiiii... Bu Tuti,'' Tadi Mira belum jawab lo ucapan ibu!'' Astaga gadis itu benar-benar pembuat onar, Bisa-bisanya masih inget omongan yang tadi.


''Apa lagi!'' Ucap bu Tuti dengan kesal.

__ADS_1


''Tidak apa-apa buk! Hanya saja saya, Mira Husnaini hanya ingin mengatakan kalau saya memiliki sopan santun juga. Tapi, ada tapinya... tapi di lihat dulu! Kita harus sopan sama siapa? Jika orang yang baik dan mengerti arti sopan santun, tentu saya akan sopan juga. Orang tua saya menyekolahkan saya jauh-jauh keluar negeri, bahkan sampai S2 dan mendidik kami semua anak-anaknya untuk selalu menghormati orang yang lebih tua. Namun jika dilihat dari sikap dan sifat bu Tuti, seharusnya anda tidak memerlukan sikap sopan santun dari saya.'' ( lebih baik jangan membuat masalah dengan Mira, jika tidak ingin seperti Bu RT Tuti )


''KAU!'' Sepertinya Bu Tuti sudah sangat geram, karena merasa di permalukan oleh Mira.


''Anda seorang istri dari ketua RT dan juga memiliki anak seorang gadis yang bahkan usianya lebih tua dari Iren, belum menikah pula. Seharusnya anda menjadi penengah saat ada perselisihan antar warganya. Bukan malah menjadi api yang menyulut minyak tanah. Bayangkan jika anak ibu di posisi yang sama seperti yang Iren alami, belum tentu anak ibu masih hidup hingga sekarang.'' Ucap Mira, kemudian langsung mengajak Iren untuk masuk meninggalkan bu Tuti begitu saja. Bu Tuti pun pergi dengan perasaan kesal dan penuh emosi.


Di dalam rumah...


''Kau itu berani sekali dengan bu Tuti, bagaimana jika nanti kamu di blokir jadi warganya?'' Tanya Iren dengan candaan meledek supaya sahabatnya reda emosinya.


''Biarkan saja! Jika ibu-ibu gendut itu memblokirku, maka aku akan membuat keluhan sama Bupati. Biar dia di deportasi sekalian dari kampung ini.'' ( Sebenarnya yang menjadi Bupatinya salah satu kerabat keluarga Mira )


''Iiis kau ini. Baiklah aku akan memasakanmu mie dulu. Kamu mqndilah dan istirahatlah dulu! Nanti jika sudah jadi, aku akan memanggilmu.'' Ucap Mira.


Iren pun pergi kelantai atas, untuk membersihkan diri. Rumahnya sudah mulai diperbaiki, tinggal beberapa saja yang belum selesai. Bahkan kamar Iren pun yang pertama yang diperbaikinya. Itu semua Alif yang mengatur. Tapi entahlah sampai hari ini pria itu belum juga ada kabarnya.


Disisi lain...


''Lif, kapan kamu kembali ke rumah? Mama sudah sangat merindukanmu Lif. Lihatlah! mama sampai bela-belain datang ke desa ini untuk menemuimu. Kamu malah betah tinggal bersama Nadia. Apa sekarang kamu sudah tidak sayang lagi sama mama sama papa Lif?'' Ucap Ranty, mamanya Alif.

__ADS_1


''Mah, bagaimana pun kak Nadia itu kakakku, aku memang betah tinggal di sini. Selain udaranya yang masih bersih dan sejuk, di sini juga penuh dengan kedamaian dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Dan aku bisa melakukan apa pun yang aku mau, tanpa harus merasa dikekang.'' Ucap Alif.


''Maksud kamu selama ini mama ngekang kamu gitu Lif, jadi kamu lebih memilih tinggal bersama kakak tirimu. Lif, mama nggak mau kamu menderita sayang. Mama nggak mau kehidupan mama yang dulu terulang lagi padamu.'' Ucap mamanya.


''Mah, bisa tidak, mama jangan menyebut kak Nadia anak tiri! Dia kakakku, dan sampai kapan pun dia tetap akan menjadi kakakku. Lebih baik mama pulang dulu ke kota, Alif masih ingin tinggal di sini,'' ucap Alif.


''Apa maksud kamu? Kamu ngusir mama Lif? Mama tahu, kamu betah tinggal di sini bukan hanya karena kakakmu kan? Tapi karena gadis itu! Irena bukan? Lif, dia itu bukan gadis yang baik, dia pernah punya pacar di kota. Kamu sendiri tahu bukan, bagaimana gaya pacaran orang kota yang bebas itu? Belum lagi orang tuanya yang entah di mana. Menurutmu, jika orang tuanya saja tidak peduli, lalu untuk apa kamu peduli?'' Ranty masih berusaha meyakinkan putranya untuk segera kembali ke kota bersamanya.


''Alif capek mah, Alif mau istirahat. Oh iya, dan satu lagi, Alif dan Danisha cuma teman sekelas. Alif gak punya perasaan apa-apa padanya. Alif harap, mama tidak lagi menjodoh-jodohkan Alif dengannya!'' Ucap Alif, Kemudian pergi ke lantai atas di kamarnya.


''Lif!..Alif! Mama belum selesai bicaranya Alif!'' Anak itu benar-benar keras kepala! Sama seperti papanya.'' Mamanya Alif kali ini benar-benar dibuat kesal oleh putranya. Namun, ia masih tetap akan bersikeras untuk menjodohkan Alif dengan Danisha.


Tak berapa lama, Nadia kakaknya Alif datang sambil menggendong putrinya yang masih bayi. Ia melihat ibu sambungnya yang tengah emosi, kemudian menghampirinya.


''Mah?'' Panggil Nadia.


''Kau sudah pulang? Mama ingin kamu membujuk adikmu supaya mau kembali ke kota bersama mama! Kamu juga harus menasehatinya, jika perempuan yang bernama Iren itu, bukanlah perempuan baik-baik!'' Ucapnya dengan emosi kemudian pergi kekamarnya.


''Iya mah,'' Nadia hanya bisa pasrah menerima perlakuan mama sambungnya itu. Meskipun sering mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan, bagaimana pun papanya sangat mencintai mama tirinya dan juga ia sudah sangat menyayangi Alif seperti adik kandungnya sendiri

__ADS_1


Hubungan antar keluarga Alif memang sedikit rumit. Ranty ibunya Alif adalah istri kedua dari ayahnya yang memiliki seorang putri dari istri pertamanya. Namun, Ranty sangat tidak menyukai Nadia. Bahkan saat Nadia dipersunting suaminya, Ranty sangat senang karena Nadia akan tinggal di desa dan jauh dari keluarganya. Namun Alif sangat menyayangi kakaknya. Meskipun beda ibu, tapi Alif selalu menaggapnya seperti kakak kandungnya sendiri.


__ADS_2