Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 54: Kakak beradik


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...



Hari ini Iren terlihat sangat sibuk sekali. Bahkan belum beristirahat dari pulang mengantarkan ponsel Mira hingga sekarang yang sudah pukul 01.32. Kenzo juga sudah mau sore belum juga datang. Semua makanan sudah tertata rapi di meja. Kamar yang biasanya di tempati oleh Kenzo juga sudah ia bersihkan. Tinggal menunggu sang adik datang.


''Jika sampai jam 3 dia belum datang, aku tinggal pergi ke toko saja. Kalau tahu dia bakal datang telat, lebih baik dari pagi aku ke toko dulu. Haiiis semua gara-gara Kenzo!'' Gerutu Iren.


Namun tak lama kemudian terdengar suara deru motor yang terparkir dihalaman rumahnya. Iren menaruh piring yang ada ditangannya karena ia sedang mencuci piring. Lalu pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang.


''Kakak!'' Suara Kenzo berteriak memanggil kakaknya.


''Iya...iya! Ini kakak sedang berjalan,'' jawab Iren.


''Kak bantuin aku, lihatlah! Papa dan kak Arsen mengirimimu banyak makanan. Aku sampai kesusahan bawanya,'' gerutu Kenzo setelah kakaknya sampai dihadapannya.


''Siapa suruh kamu bawa motor. Kan kamu bisa bawa mobilmu yang mahal itu biar gampang bawa barangnya. Sekalian kamu bisa buka kaca jendela mobilnya lalu se hay ke orang-orang yang bertemu denganmu di sepanjang jalan,'' Iren meledek adiknya.


''Mana boleeh, papa sama kak Arsen bisa-bisa langsung mencincang diriku nanti,'' ucap Kenzo.


''Enak dong malahan, nanti sekalian kakak bisa cocol sama sambel terasi, daging cincangmu itu, pasti sedap-sedap ulet kalau digigit,'' Iren menirukannya seperti menggigit paha ayam.


''Astaga kak, sejak kapan kakak belajar menjadi psikopat?'' Kenzo berekspresi ngeri melihat tingkah kakaknya.


''Ya sudah ayo cepat masuk! Kakak tu sudah masak dari jam 9 pagi, dan kau malah datang jam segini. Semua masakanku jadi dingin semua, bahkan aku sudah lapar dari tadi belum makan karena menunggumu!'' gerutu Iren.


''Itu bukan salahku ya kak, salahkan saja kak Arsen. Dia yang dari pagi repot masak ini itu buat kakak. Lihatlah!'' Kenzo menunjukkan tas besar titipan Arsen untuk Irena.


''Waaah, kakaku satu itu memang yang paling sayang padaku,'' Iren langsung merebut tas tersebut lalu membuka isinya.


''Diih, senengnya.'' Kenzo meledek kakaknya.


''Kenapa tidak dibawa masuk dulu Ren? Kau membukanya di halaman rumah?'' Ucap suara seseorang yang berasal dari belakang Kenzo.


''Papa! Kak Arsen!'' Kenzo melongo terkejut melihat kedatangan papa dan kakaknya.


''Arsen sialan...! Kau mengerjaiku ya?'' Kenzo menghampiri kakaknya seakan hendak bergelut.


Arsen : ''Adiknya emosian....''

__ADS_1


Kenzo : ''Kakaknya suka cari gara-gara...''


Iren tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan kakak dan adiknya itu. Pak Bayu lalu menjewer telinga kedua putranya.


''Aaaaaaa...'' Ampun pah..ampun pah,'' ucap keduanya saat telinga mereka di jewer bersamaan oleh pak Bayu.


''Kalian ini ya, tidak di rumah sendiri tidak pula di rumah adikmu, selalu saja ribut. Apa akan kiamat jika kalian akur sehari saja ha?'' Ucap pak Bayu melepaskan jeweran telinga kedua putranya itu.


''Salahkan Arsen pah! Dia mengerjaiku, menyuruhku membawa banyak barang. Tapi dia sendiri datang sama papa bawa mobil. Ken kan jadi emosi karena barangnya banyak tapi dia bisa santai duduk nyaman di mobil,'' rengek Kenzo. Pak Bayu menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua putranya itu.


Satu jahilnya minta ampun, satunya emosian. Pak Bayu menepuk jidatnya.


...>°○~○°<...


Saat ini Mira dan Dimas tengah memakan sarapannya. Dimas ingin mengatakan sesuatu pada istrinya, namun bingung harus memulainya dari mana. Mira sebenarnya dari tadi sudah memperhatikan gerak-gerik suaminya yang aneh sejak tadi.


''Kau itu kenapa sih Yang? Dari tadi aku perhatikan seperti kebingungan?'' Ucap Mira sambil melahap makanannya.


''Eem...'' Dimas bingung harus berkata apa.


''A...em...a em! Apa sih Yang? Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu dariku ya?'' Mira mulai tidak sabar dengan sikap suaminya. Dimas menggaruk tengkuk lehernya...


''Haaaaa?'' Enggak kok Yang, kamu itu ngawur wae.'' Dimas memegang tangan istrinya agar garpunya tidak mengarah padanya.


Mira : ''La terus?''


Dimas : "Sebenarnya tadi pagi aku dan Alif sedang mengobrol tentang perasaan Alif. Dari mulai sebelum menikah hingga penyebab perceraiannya. Dan yang terakhir aku bertanya tentang perasaannya. Dan sepertinya tanpa sengaja Iren mendengarnya. Aku tidak tahu Iren mendengarnya atau tidak sih, tapi perasaanku mengatakan sepertinya Iren mendengar semuanya. Aku bingung jika sampai Iren salah paham Yang,'' ucap Dimas menjelaskan.


''Bagus dong kalau Iren denger semuanya. Jadi tinggal Alif saja gimana nantinya. Apa dia akan tetap diam saja atau apa akan memperjuangkan cintanya,'' Mira.


''Kau benar Yang, tadi sih katanya Alif mau datang ke rumah Iren untuk bicara langsung. Kita lihat sajalah nanti,'' ucap Dimas.


........♧....♧....♡....♧....♧........


Tanpa terasa hari sudah menjelang malam. Iren dan keluarganya tengah menyantap makan malamnya di meja makan. Namun tak berselang lama terdengar suara ketokan dari arah pintu.


''Biar Ken buka,'' Ken berdiri lalu berlari ke arah pintu.


''Kau?'' Kenzo terkejut saat mengetahui siapa yang datang bertamu.

__ADS_1


''Apa Irennya ada?'' Ucap Alif. Ternyata yang datang bertamu adalah Alif.


''Untuk apa kamu ingin bertemu dengan kakakku? Kalau ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan, kau bisa langsung bicara denganku. Nanti biar aku sampaikan pada kakakku,'' ucap Kenzo dengan suara yang terkesan dingin.


Bukan apa-apa, tapi Kenzo tidak ingin jika kakaknya bertemu dengan Alif lagi, kakaknya bisa sedih lagi. Ia teringat bagaimana saat kakaknya harus melapangkan hatinya yang hancur karena pernikahan Alif.


''Bolehkah saya bertemu sebentar saja. Saya ingin berbicara langsung dengan Iren, Ken,'' ucap Alif yang berusaha meyakinkan Kenzo.


Kenzo masih diam membisu tanpa menjawab sepatah kata pun. Hingga sebuah tepukan dibahunya menyadarkannya dari lamunan.


''Kamu masuklah dahulu Ken, lanjutkan saja makanmu.'' Ternyata Iren yang keluar menyusul Kenzo karena Kenzo lama sekali tidak masuk-masuk lagi meneruskan makannya.


Kenzo : ''Tapi kak..''


Iren : "Sudahlah, masuk sana.'' Iren mendorong punggung adikknya agar adiknya masuk ke dalam rumah.


Iren kemudian menutup pintunya, lalu menoleh kearah Alif.


''Mari bicaranya sambil duduk,'' Iren berkata sambil berjalan menuju bangku yang ada di taman mininya di halaman rumahnya. Alif pun duduk di bangku tersebut sedangkan Iren masih berdiri.


''Apa ada sesuatu yang harus kita bicarakan Lif? Sepertinya mendesak sekali,'' Iren memulai pembicaraannya karena Alif masih diam menatapnya.


Alif menundukkan kepalanya bibirnya menyunggingkan senyuman.


''Kenapa malah tersenyum?'' Iren bingung melihat sikap Alif. Terhitung sudah lumayan lama dia tidak mengobrol berdua dengan laki-laki yang pernah mengisi hatinya sejak SMA itu.


''Ren.....


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2