
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Gila? Bukan aku yang gila, tapi kau sendiri ya gila Yao!'' Mira menjambak rambut Yao yao hingga membuatnya berteriak kesakitan.
''Aku tidak mengenalmu, tapi kenapa kau malah menyiksaku! Akan aku laporkan ke polisi karena kamu sudah menganiya diriku!'' Teriak Yao yao yang berusaha melepaskan rambutnya dari jambakan tangan Mira.
''Lapor? Lapor saja sana! Sekalian akan aku masukkan kamu ke penjara karena sudah membuat sahabat aku celaka!'' Ucap Mira melepaskan tangannya dengan kasar dari rambut Yao yao.
''Sahabatmu? Siapa?'' Yao mengerutkan keningnya. Selain Iren, tidak ada lagi orang yang dicelakainya akhir-akhir ini.
''Apa jangan-jangan....'' Yao terkejut setelah ia memikirkan kalau kemungkinan Iren adalah sahabat yang dimaksud oleh perempuan itu.
''Ya! Sahabatku yang kau celakai adalah Iren! Kau membuatnya sampai koma hingga sekarang! Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup dan bernafas dengan bebas?'' Mira memegang dagu Yao yao lalu mendorongnya hingga terpental kebelakang.
''Kau sudah gila ya! Apa hubunganku dengan Iren? Aku tidak salah apapun padanya!'' Yao yao masih tidak mau mengakui kesalahannya pada Iren, membuat Mira semakin murka.
Mira kemudian mengambil air di sumur menggunakan embernya yang tadi, lalu dengan satu gerakan langsung membuat Yao yao basah kuyup kedinginan.
''Kau ini kacungnya apa pengawalnya sih? Sampai-sampai rela di suruh-suruh untuk membalasku! Jika dia memang punya nyali, suruh dia datang menemuiku langsung. Jangan hanya bisanya bersembunyi diketiak orang lain!'' Teriak Yao yao. Dan karena keributan yang ditimbulkan oleh mereka berdua membuat semua warga berdatangan untuk melihatnya.
''Tolong pak, bu,'' Yao yao memasang wajah sekasihan mungkin, supaya orang-orang yang melihatnya, merasa iba padanya. Mira tersenyum sinis melihat Yao yao yang mulai memainkan perannya.
''Kau pikir ini drama atau sinetron! Kau berakting, lalu orang-orang akan membelamu ha! Ini bukan kota yang orang-orangnya tidak peduli satu sama lain. Ini desa, di sini semua orang saling peduli. Mereka hanya meyakini apa yang mereka lihat. Saat orang-orang di desa ini melihatmu mendorong Iren ke jalan raya, aku rasa mereka tidak akan peduli lagi padamu, meskipun kamu berakting nangis darah sekalipun!'' Ucap Mira.
BRAAAK....
Mira menjatuhkan ember yang ada di tangannya dengan sangat keras, membuat Yao yao semakin terkejut. Ia sungguh tidak mengira, kalau ia akan berhadapan dengan wanita yang lebih gila darinya. Yao yao berharap ia bisa segera pergi dari desa ini. Bahkan sumpah serapah ia ucapkan di dalam hati kalau ia tidak akan pernah mau kembali lagi ke desa ini.
Mira kemudian membalik badannya, lalu melihat sekelilingnya. Ia kemudian mengeluarkan segepok uang 20 ribuan, lalu menghampiri para warga yang berkumpul.
''Pak, buk, ini ada uang untuk kalian semua. Tapi saya minta tolong buat jagain temen saya yang gila ini ya, sampai petugas rumah sakit jiwa datang. Soalnya kemaren dia kabur dari kandangnya,'' ucap Mira sambil menyerahkan uang itu kepada salah satu warga yang ikut melihatnya sedari tadi.
''Baik mbak, kami akan menjaganya. Soalnya kami juga takut kalau perempuan itu akan mengamuk lagi disini,'' ucap salah satu warga.
__ADS_1
''Hei! Kau pikir aku ini gila apa! Aku tidak mengenalmu kenapa kamu menjebakku! Aku tidak gila...tidak gila!'' Yao yao berteriak sambil berusaha melepaskan ikatan yang mengikat tubuhnya. Melihat Yao yao seperti itu, sudah pasti para warga semakin mengiranya benar-benar gila.
Mira menghampiri kembali Yao yao, lalu memegang ujung dagunya.
''Makannya kalau kamu mau berbuat jahat, pikirkan akibatnya. Dan kamu harus ingat! Jika kamu masih berani menyakiti sahabatku Iren, aku Mira! Ingat ya namaku, M, I, R, A. Mira! Aku yang akan langsung membalasmu kontan tanpa dicicil!'' Ucap Mira melepaskan dagunya Yao yao hingga kembali terpental.
Mira kemudian memasuki mobilnya kembali, di dalam mobil...
''Masih ada satu koala lagi yang harus aku urus!'' Mira kembali menjalankan mobilnya.
.................~>♡<~..............
Di sisi lain....
Dimas berjalan dengan terburu-buru untuk segera bisa sampai di ruangan tempat Iren di rawat.
Driiiit.....
Suara deritan pintu yang terbuka, membuat Alif membuka ke dua matanya untuk melihat siapa yang datang.
''Dimas!'' Alif mengerutkan keningnya saat melihat kedatangan Dimas. Begitu pula dengan Dimas, ia juga mengerutkan keningnya dan seperti mencari sesuatu karena terlihat matanya melihat ke kanan dan ke kiri.
Dimas merasa heran dengan pertanyaan Alif.
''Aku kemari untuk menjenguk Iren lah, dan sekalian menjemput istriku. Mura sedari tadi tidak mau makan kalau tidak di temani mamanya,'' ucap Dimas.
Alif yang mendengar perkataan Dimas pun semakin bingung. Sebab Mira sudah berpamitan pulang padanya sejak beberapa jam yang lalu.
''Mira?'' Ucap Alif. Dimas menganggukkan kepalanya, ia merasa bingung dengan pertanyaan Alif.
''Ada apa Lif, kenapa kau terlihat kebingungan saat aku bilang akan menjemput istriku?'' Ucap Dimas.
''Tentu saja aku bingung Dim, Mira sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Bukankah seharusnya ia sudah sampai di rumah?'' Ucap Alif.
''Sudah pulang? Belum kok, makannya aku datang kemari untuk menyusulnya. Ku kira Iren kenapa-napa makannya Mira belum pulang-pulang,'' Dimas ikut bingung memikirkan kemana istrinya saat ini pergi.
__ADS_1
''Gawaaat!....'' Ucap Alif, lalu terlihat ia mengambil jaketnya.
''Gawat kenala Lif? Kamu jangan membuatku penasaran!'' Ucap Dimas menahan tangan Alif.
''Aku berpikir kalau istrimu jangan-jangan, dia sedang mendatangi Yao yao di balai desa. Kita harus segera kesana Dim!'' Ucap Alif.
''Ke balai desa mendatangi Yao yao? Maksudnya bagaiman? Dan apa hubungannya de Yao yao? Bukankah gadis itu seharusnya ada di kota?'' Ucap Dimas yang belum mengerti ucapan Alif.
''Yang menyebabkan Iren kecelakaan adalah Yao yao Dim, dan saat ini Yao yao sedang di amankan oleh warga di balai desa. Nanti aku jelaskan. Lebih baik sekarang kita harus segera ke sana dulu, sebelum Mira berbuat nekat,'' ucap Alif.
''Biar aku saja yang ke sana Lif, jika kamu ikut, siapa nanti yang akan menjaga Iren. Kenzo juga sedang menjemput paman Bayu bukan?'' Ucap Dimas. Alif pun mengiyakan perkataan Dimas.
''Jam berapa Mira perginya?'' Tanya Dimas.
''Sekitar jam 6 yang lalu,'' ucap Alif.
''Telat!''
''Haaah'' Alif melihat jam yang melingkar di tangannya. Sekarang sudah pukul 09.20.
''Aku akan pergi mencarinya saja. Selain Yao yao, siapa lagi yang terlibat kecelakaan yang di alami Iren?'' Tanya Dimas.
''Hanya Yao yao, tapi mbak Widia bercerita kalau Danisha juga ada di lokasi kejadian dan dia bukannya menolong, dia malah merekamnya,'' ucap Alif.
''Sepertinya aku tahu, sekarang dia ada dimana.'' Dan akhirnya Dimas yang pergi sendirian. Sedangkan Alif tetap di rumah sakit untuk menjaga Iren.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
__ADS_1
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih