
🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸
BRAAAK!!!
Suara pintu tertutup dengan keras, membuat Kenzo dan Mira terkejut. Bahkan si kecil Mura saja yang tadinya tidur langsung menangis karena terkejut.
''Astaga Ren! Ada apa? Kau membuat seisi rumah terkejut,'' Mira menghampiri Iren yang saat ini sedang mengatur nafasnya sambil bersandar dipintu.
''Tidak ada apa-apa Mir, aku hanya habis berlari saja,'' Iren tidak ingin membuat sahabatnya khawatir, makanya dia nggak bilang yang sebenarnya.
''La terus apa hubungannya dengan membanting pintu? Kamu itu seperti dikejar hantu saja. Kan cuma dari toko kan?'' Ucap Mira, ia benar-benar bingung dengan tingkah Iren.
''Bukan hantu, tapi depkolektor!'' Setelah mengucapkannya Iren lalu berjalan ke arah kulkas dan mengambil minuman dingin untuk segera ia minum. Entah kenapa rasanya haus sekali.
''Mana perbannya? Putriku sampai ketiduran nungguin kamu. Dan kebangun karena ulahmu yang mengejutkan,'' ucap Mira sambil mengambil perban yang sedang Iren genggam itu, lalu pergi meninggalkan Iren yang masih sibuk menenggak minumannya hingga tandas.
''Kenapa dengan kak Iren?'' Tanya Kenzo.
''Entahlah,'' ( Mira mengedikkan bahunya ) "Kamu tanya sendiri sama kakakmu,'' Mira pun kemudian sibuk mengobati luka putrinya itu.
''Nggak mau, paling juga dia habis ketemu sama Alif. Makannya tingkahnya aneh gitu,'' setelah mengucapkan itu Kenzo pergi meninggalkan kamar tempat Mira mengobati putrinya.
''Haiiiih...'' Kok aku bisa lupa tentang hal ini ya! Jangan-jangan benar lagi ucapan Kenzo,'' ucap Mira.
...~>•<~>•<~>•<~>•<~>•<~>♡<~>•<~>•<~>•<~>•<~...
Dua minggu setelah Iren mensurvei, lokasi untuk tokonya dan produsen pupuk serta bahan-bahan dan obat-obatan tanaman lainnya, akhirnya hari ini Iren resmi akan membuka toko kecil-kecilan miliknya. Mira dan Kenzo sudah sibuk dari pagi mulai menata-nata barang-barangnya dirak. Iren yang bertugas memeriksa semua barang yang akan masuk ke tokonya.
''Ren, ada pupuk kompos juga? Apa kau yakin akan menaruhnya di tokomu?'' Ucap Mira sambil bergidik, karena mencium baunya saja dia sudah merasa enek.
''Yang pupuk itu, taruh saja di depan toko, biar nggak terlalu bau. Itu semua titipan dari pak Yudi pemilik peternakan ayam potong. Kata orang-orang, selain pupuk dari pabrik, pupuk kompos dari kotoran ayam juga bagus buat tanaman. Makannya aku memintanya untuk menaruh beberapa karung disini,'' jelas Iren. Namun pandangannya masih fokus pada buku yang ia pegang.
__ADS_1
''Haiiis kau ini, orang-orang mah cantik wangi, pegangnya bolpoin, kamu malah pegang pupuk dan barang-barang pertanian,'' ucap Mira. Iren menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sahabatnya itu.
''Memang benar sih, kebanyakan orang akan memilih berpenampilan rapi dan wangi dengan bolpoin ditangannya. Tapi menurutku, meskipun tanganku akan kotor karena memegang pupuk dan barang-barang pertanian lainnya, itu tidak masalah buatku. Yang terpenting menghasilkan uang dan lagi, kita bisa membantu para petani. Kamu tahu sendiri kan? Pasar jauh, tempat penjual pupuk dan perlengkapan pertanian juga jauh. Dengan aku buka toko ini, para petani nggak akan lagi jauh-jauh pergi untuk membelinya. Iya kan?'' ucap Iren.
''Kau benar juga, dari pada yang asal membuka mulut lalu diberi uang oleh orang tuanya ya mending mandiri kaya kamu ya, eh kan aku juga Ren. Aku juga masih minta uang sama orang tuaku huwaaaaa...., aku mengatai diriku sendiri dong?'' Mira baru saja menyadari ucapannya.
''Mana ada, kamu bedalah Mir. Kan kamu juga punya usaha rumah makan kan sama suamimu,'' ucap Iren.
Bim....bim...bim...( anggap aja suara klakson mobil )
''Eeh, siapa tu yang datang?'' Ucap Mira menghampiri Iren.
''Entahlah. Yuk kita lihat!'' Iren dan Mira berjalan ke luar, untuk melihat siapa yang datang.
Ternyata yang datang pak Bayu dan Arsen, dan juga dua orang karyawan pak Bayu. Terlihat pak Bayu meminta dua karyawannya untuk menurunkan sebuah meja dan kursi, dan juga sebuah rak tinggi bertingkat yang bisa dilipat. Iren pun langsung menghampiri mereka.
''Papa!'' Ucap Iren dan langsung menghambur kepelukan papanya.
''Nggak apa-apa pah, papa datang saja Iren sudah senang. Dan ini apa pa? Kok papa bawa-bawa barang dari toko papa?'' Ucap Iren sambil memutari meja kursi dan rak yang tadi dibawa oleh papanya.
''Itu papa yang buat sendiri khusus untukmu, supaya kamu makin bersemangat lagi kerjanya. Bukan para karyawan papa yang buat, tapi papa sendiri.'' Pak Bayu menjelaskan supaya Iren mau menerimanya.
''Waah limited edition dong, kan khusus buat Iren,'' ucap Iren dengan semangat.
''Ya tentu saja dong. Apa sih yang enggak buat putri tersayangnya papa ini,'' ucap pak Bayu membuat Iren semakin bermanja ria. Meskipun sebatas papa dan anak tiri, tapi pak Bayu selalu memperlakukan Iren seperti anak kandungnya sendiri, bahkan mungkin kasih sayang yang Iren dapatkan malah lebih banyak ketimbang yang didapatkan kedua putranya. Apa lagi Arsen juga sangat menyayangi adik-adiknya tanpa membedakannya.
Dalam kegembiraan itu, terselip rasa sedih. Matanya tertuju pada jalanan didepannya. Iren juga berharap papa juga bisa hadir di sini, dan memberikan semangat untuk dirinya. Namun apa mau dikata, Dani selalu sibuk dengan usaha dan istri keduanya. Meskipun rindu kehadiran papanya, namun Iren tetap memaklumi keadaan papa kandungnya itu.
Pemotongan tumpeng nasi kuning pun segera dilaksanakan. Mereka juga mengundang para tetangga, untuk menghadiri pembukaan toko milik Iren. Bahkan ada bu Tuti dan putrinya juga hadir.
Di saat semua terhanyut dalam kegembiraan, tiba-tiba Danisha dan Jils datang melempar satu drum berisi air got ke arah tokonya. Semua orang terkejut, bahkan cipratannya sebagian terkena baju mbak Nur dan anak bu Tuti.
__ADS_1
''Kau gila ya Nish! Datang-datang mebuat masalah. Sebenarnya apa sih maumu!'' Teriak Mira dengan geram.
''Gila? Ya aku gila Mir! Dan itu semua gara-gara Iren! Kenapa dia selalu mendapatkan kebahagiaan dengan mudah, sedangkan aku harus bersusah payah dulu untuk mendapatkan apa yang kuinginkan! Bahkan setelah kudapatkan dan kurebut miliknya, dia masih dengan mudahnya mendapatkan kebahagiaan lain!'' Ucap Danisha.
Dan PLAAAAK!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Danisha.
''You really have gone crazy Danisha! Aku tidak pernah mengusikmu meskipun kamu banyak menyakitiku! Tapi kenapa kau masih saja mencari gara-gara. Sebenarnya apa sih salahku padamu? Tidak bisakah kamu bicarakan baik-baik? Lihatlah apa yang sudah kamu perbuat? Kamu mengotori tokoku dan juga baju orang!.....'' Belum selesai Iren berbicara Danisha langsung menyelanya.
''Ya aku gila! Apa kamu puas ha? Pasti sekarang kamu merasa senang dan bahagia karena Alif memilih menceraikanku kan! Bahkan kamu sudah tidak sabar melihatnya menjadi duda, sampai-sampai langsung menghampirinya!'' Ucap Danisha.
Iren benar-benar tidak mengerti maksud perkataannya, sampai...
''Apa kamu masih mau mengelak setelah melihat ini Ren?'' Danisha menunjukkan sebuah foto saat Iren ditoko Alif, difoto itu terlihat Alif memegangi tangan Iren.
'' Itu semua tidak benar Nish...
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih
__ADS_1