
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
Dani masih duduk termenung di kursi depan teras rumah. Sejak kepergian Bayu, Arsen dan Mira, Dani masih belum masuk ke dalam rumah. Kata-kata yang Mira ucapkan sebelum ia pergi, rasanya masih jelas terngiang-ngiang terus di kepalanya. Lidiya yang melihat suaminya melamun, ia pun berinisiatif untuk membawakannya secangkir teh dan cemilan.
''Mas, kenapa malah melamun di sini?'' Ucap Lidiya sambil menyuguhkan secangkir tehnya dan juga cemilannya. Ia lalu berdiri disamping suaminya.
Dani sama sekali tidak menjawab ucapan istrinya, ia malah mengambil secangkir tehnya lalu meminumnya perlahan.
''Maaas..!'' Lidiya terlihat kesal karena merasa di cueki hingga...
''Mas! Kamu itu selalu seperti ini, tiap keluarga dari mantan istrimu datang ke sini ataupun bertemu denganmu! Kamu selalu marah padaku, dan cuek padaku. Itulah sebabnya aku membenci mereka terutama putrimu itu!'' Ucap Lidiya setengah berteriak.
''Cukup! Aku sangat lelah untuk berdebat denganmu Di! Kau selalu merasa benar sendiri, aku mau masuk saja ke kamar untuk beristirahat. Jangan menggangguku!'' Ucap Dani yang mulai berjalan meninggalkan Istrinya itu. Namun...
''Berhenti!'' Lidiya berteriak lebih keras membuat langkah Dani berhenti seketika.
''Jika kamu maju selangkah lagi, maka aku....'' Belum sempat Lidiya menyeselesaikan kata-katanya, Dani langsung memotong kata-kata Lidiya.
''Aku apa? Pergi dari rumah? Atau memotong nadimu lagi? Di, kita itu bukan anak usia belasan tahun lagi! Yang sedikit-sedikit pergi dari rumah, yang sedikit-sedikit menyakiti diri sendiri. Karena ulahmu aku selalu kehilangan momen bersama putriku. Aku sampai harus memohon kepada orang lain supaya menjaga putriku, supaya putriku tidak kehilangan figur sosok seorang ayah! Kau itu sangat keras kepala Di! Apa kau tahu ha? Gara-gara kamu bilang sakit kepala, sakit ini, sakit itu, aku sampai tidak punya waktu untuk putri kandungku sendiri. Aku bahkan belum menjenguk putriku yang saat ini terbaring koma di rumah sakit. Aku selalu memikirkan keadaanmu yang sendirian karena keluargamu mengusirmu Di.''
''Di, kau selalu tahu alasan mengapa aku menikahimu bukan? Jadi tolong mengertilah, kumohon!'' Dani mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
''Aku mohon padamu jangan egois lagi. Kamu punya kebahagiaan untuk hidup bersamaku selamanya, dan itu pasti. Tapi aku juga mempunyai seorang putri Di, seorang putri yang memerlukan kasih sayang dari ayah kandungnya. Putriku Iren juga berhak atas diriku Di, bukan cuma kamu!''
BRAAAAK....PYAAAR....
Dani menendang meja hingga piring yang berisi cemilan dan secangkir tehnya menjadi pecah berantakan. Ia kemudian meninggalkan istrinya yang masih berdiri diam karena terkejut melihat sikap suaminya saat ini. Biasanya, semarah-marahnya Dani, Dani tidak akan mengungkit tentang keluarganya, tentang pernikahannya, ataupun tentang rasa sakitnya. Biasanya Dani jika marah, ia hanya diam dan tertidur di dalam kamar. Dan baru kali ini Lidiya melihat marahnya suaminya bahkan sampai menendang meja hingga banyak barang yang pecah berceceran.
Lidiya menjatuhkan dirinya di kursi yang tadi diduduki oleh suaminya. Air matanya mengalir begitu saja. Kali ini, ia benar-benar bisa merasakan rasa sakitnya saat orang yang di cintai marah dan lelah hidup bersamanya. Ia pun kemudian menghapus air matanya, bibirnya tersenyum, tersenyum pahit karena ternyata suaminya selama ini masih saja mengingat kejadian yang membuatnya harus menikah dengan dirinya.
Di dalam kamar, Dani duduk di lantai dan menyandarkan badannya di ranjang tempat tidurnya. Pikirannya membayang menembus masa lalunya, masa di mana ia masih hidup bersama mantan istrinya dan juga putri kecilnya. ''Keluarga yang sangat bahagia, lalu mengapa ia bisa merasakan diposisi seperti ini?'' Monolog hari Dani.
...............•°¥○¥°•................
Beberapa hari kemudian...
Malam ini, di rumah irene sudah ramai oleh kedatangan saudara dan juga para tetangga terdekat, yang ikut membantu-bantu mempersiapkan pernikahan Iren dan Alif. Memang tidak diadakan resepsi, tapi rencananya mereka akan memasak-masak, lalu mengadakan acara selamatan untuk mendoakan Iren supaya lekas sembuh dan lekas bangun dari komanya. Setelah itu baru mereka akan membagi-bagikan masakannya yang akan di tata rapi di kotak makan, lalu dibagikan kepada seluruh warga yang ada di desa ini. Sedangkan akadnya sendiri akan dilaksanakan di rumah sakit tempat Iren dirawat.
''Paman! Mira berangkat dulu, nanti Mira akan meminta Kenzo untuk menjemput paman,'' ucap Mira yang berpamitan kepada pak Bayu untuk ke rumah sakit.
Dari kemaren malam, merek bergantian menjaga Iren, terkadang malam pak Bayu, lalu paginya Kenzo, dan malam ini giliran Mira yang menjaga Iren di rumah sakit. Dimas ingin ikut istrinya untuk menginap, tapi masih ada putrinya yang harus ia jaga. Akhirnya dengan terpaksa malam ini ia tidur sendirian bersama putrinya.
''Baiklah nak Mira, tolong berhati-hatilah di jalan. Jangan ngebut, jika sudah sampai segera kabari paman, dan jika ada apa-apa dengan Iren juga tolong segera kabari paman,'' pesan pak Bayu. Mira pun mengangguk paham, lalu dengan cepat mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
''Apa-apaan itu Mira, orang sudah dipesan supaya berhati-hati dan jangan ngebut di jalan, malah langsung tancap gas lalu ngebut, setelah mendapat izin,'' gerutu Arsen yang tiba-tiba sudah berdiri di samping papanya.
__ADS_1
Pak Bayu menggelengkan kepalanya mendengar gerutuan Arsen. Tapi jika dipikirkan, memang benar apa yang diucapkan oleh Arsen. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak seperti itu bukan Mira namanya, benar bukan?.
Pukul 20.19 WIB, mobil yang dikendarai oleh Kenzo, sudah terparkir dihalamannya. Kenzo pulang dengan keadaan lesu. Wajahnya terlihat sangat pucat. Pak Bayu yang melihatnya pun langsung menghampiri putranya itu.
''Ada apa nak? Kenapa wajahmu terlihat sangat pucat?'' Tanya pak Bayu, sambil memeriksa dahi Kenzo.
''Ken tidak apa-apa pah,'' jawab Kenzo yang benar, badannya pun tidak hangat, tidak seperti orang yang sedang sakit.
Pak Bayu merasa heran, lalu apa yang membuat Kenzo terlihat pucat?. Kenzo pun menceritakan jika tadi saat ia masih ada di rumah sakit, Kakaknya sempat mengalami kejang. Awalnya Kenzo hanya melihat jari tangan Iren bergerak, lalu dengan segera Kenzo memanggil Dokter untuk segera memeriksanya. Namun setelah itu, detak jantung Irena malah melemah, hingga membuat Dokter dan suster langsung segera memberi tindakan. Dan setelah cukup lama, akhirnya detak jantung Iren normal kembali. Itulah yang membuat Kenzo terlihat pucat karena ia takut jika sampai kehilangan kakaknya.
...-...
...-...
...Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa...
...👍like...
...❤ pavorit...
...dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala...
...Terimakasih...
__ADS_1