
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
BRUUUUUM..... BRAAAAAAK!!!!....Pyaaaaar...
( Suara mobil yang dikendarai oleh Mira menabrak sebuah pot bunga besar yang ada di halaman rumah Danisha.)
Danisha dan mamanya yang saat itu sedang memasak, langsung terkejut setelah mendengar suara keras seperti barang yang jatuh dan pecah. Mereka mengira ada maling atau kucing yang memasuki halamannya. Mereka pun menaruh barang yang ada ditangan mereka, kemudian bergegas keluar untuk melihatnya.
''Mira!'' Ucap bu Nunik, Mamanya Danisha yang terkejut setelah melihat siapa yang datang ke rumahnya, ternyata bukan maling ataupun kucing. Melainkan Mira. Melihat kedatangan Mira, bu Nunik sudah bisa merasakan hawa yang tidak enak. Apa lagi saat melihat raut wajah Mira saat turun dari mobilnya. Bu Nunik tahu betul bagaimana sifat Mira. Ia pun hanya bisa merapalkan doa dalam hatinya supaya apa yang ia takutkan tidak jadi kenyataan.
''Mira! Are you crazy!'' Danisha berteriak menghampiri Mira. Namun saat sudah sampai di depan Mira, Mira langsung mencekiknya hingga badannya mepet di dinding.
''Mira! Apa yang kau lakukan!'' Bu Nunik berusaha menyelamatkan putrinya dari cengkraman Mira. Namun Mira sama sekali tidak menghiraukannya.
''Tentu saja membantumu menyingkirkan putrimu yang tidak berguna ini!'' Ucap Mira yang menoleh ke arah bu Nunik sambil tersenyum. Namun senyumnya terlihat sangat mengerikan.
''Ka....u! Sudah Gilaaa!'' Ucap Danisha yang terbata-bata karena berusaha keras melepaskan tangan Mira dari lehernya.
Mira menarik ujung bibirnya, ia kemudian merogoh sakunya untuk mengambil sebuah ponsel yang diduga milik Danisha. Setelah itu langsung memplay Vidio yang sempat Danisha rekam waktu itu.
''Aku gila? Bukankah kau yang jauh lebih gila dariku Nis?'' Ucap Mira. Danisha terkejut, karena ponselnya ternyata ada ditangan Mira. Sewaktu merekam pertengkaran antara Iren dan Yao yao, Danisha tak sengaja menjatuhkan ponselnya karena di pergoki oleh mbak Widia. Dan saat sudah sampai di rumah ia baru teringat oleh ponselnya. Ia pun kemudian balik lagi ke tempat tadi, namun saat sampai disana ponselnya sudah tidak ada. Tadinya ia berpikir, mungkin ponselnya di ambil oleh orang, namun ia tidak mengira kalau yang memegang ponselnya saat ini adalah Mira.
"Gawat, habis sudah riwayatku kali ini," Danisha membatin dalam hati, saat ini ia benar-benar merasa sangat ketakutan, karena ia sangat tahu betul sifat Mira jika sampai menyinggungnya.
__ADS_1
''Kumohon Mira, lepaskan Danisha. Bibi tahu kalau Danisha bersalah, nanti biar dia minta maaf sama Iren. Tapi bibi mohon, tolong lepaskan dulu Danisha. Kau bisa membunuhnya jika seperti itu,'' Bu Nunik mengatupkan kedua tangannya memohon pada Mira.
''Minta maaf?'' Mira memiringkan kepalanya menoleh ke arah bu Nunik. Bu Nunik pun menganggukinya.
''Apa kau pikir dengan sifat putrimu itu bisa mengucapkan maaf kepada orang lain, terlebih lagi kepada sahabatku Iren?'' Ucap Mira.
''Bibi janji, jika Danisha tidak mau melakukannya, nanti bibi yang akan langsung memaksanya Mir, bibi mohon,'' ucap Bu Nunik.
''Uhuk...uhuk....uhuk..'' Danisha terbatuk-batuk setelah Mira melepaskannya.
''Kau benar-benar sudah tidak waras Mir! Hanya karena Iren, kau sampai rela menjadi pembunuh?'' Ucap Danisha.
''Aku memang ingin sekali membunuhmu, tapi bukan karena Iren! Aku sudah membencimu sejak dulu karena kelakuanmu yang menjijikkan itu. Jika aku sampai membunuhmu, itu tidak ada hubungannya dengan Iren, melainkan untuk mengurangi sampah masyarakat sepertimu!'' Mira mendorong keras dagu Danisha.
''Kenapa selalu Iren terus, semua orang selalu membelanya? Aku hanya ingin mempertahankan milikku! Apa aku salah Mir?'' Teriak Danisha.
''Kau sendiri yang mengkhiyanati Alif, pakai acara selingkuh dengan pria mana pun, kau sendiri yang tidak bisa menghilangkan kebiasaan burukmu menjadi ****** dimana-mana! Dan yang paling membuatku tidak suka padamu adalah hatimu yang kotor Nish, yang selalu iri dan dengki dengan kebahagiaan orang lain. Sampai-sampai mengabaikan kebahagiaanmu sendiri. Kau itu selalu melihat orang lain, tapi tidak pernah melihat diri sendiri!'' Ucap Mira jarinya menunjuk ke arah Danisha.
Tanpa terasa air matanya Danisha membasahi pipinya, Danisha tidak mampu lagi berkata-kata. Semua yang diucapkan oleh Mira benar adanya. Tapi mengapa saat mendengar kebenarannya rasanya seperti ribuan anak panah langsung menusuk ke jantungnya. Selamq ini ia selalu dibutakan oleh kebahagiaan Iren, ia selalu merasa Tuhan tidak pernah adil padanya.
Namun tak lama kemudian suaminya Mira yaitu Dimas datang menghampiri istrinya. Dimas sangat terkejut saat melihat halaman rumah Danisha terlihat sangat berantakan. Dan mobil istrinya saja hampir mencium pintu rumah.
''Sayang, apa yang kau lakukan di sini?'' Dimas memegang tangan Istrinya, pikirannya sudah kemana-mana. Ia takut istrinya akan berbuat nekat.
''Aku hanya sedang memberi Koala ini pelajaran. Agar kedepannya tidak berbuat ulah lagi, apa lagi terhadap sahabatku!'' Ucap Mira.
__ADS_1
''Sudahlah Yang, jangan terbawa emosi. Kita bisa bicarakan ini baik-baik bukan, apa kau tahu, putrimu sedari siang tadi tidak mau makan karena terus mencarimu,'' ucap Dimas sambil memeluk bahu istrinya.
Mira pun membuang nafasnya dengan kasar kemudian mengikuti suaminya untuk pulang ke rumahnya. Namun sebelum pergi...
''Ingat perkataanku Nish, ''Tidak semua yang kamu lihat itu benar, dan tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Iri dan dengki hanyalah penyakit hati. Semakin kamu memeliharanya semakin cepat dia membunuhmu,'' setelah mengucapkan kata-kata itu, Mira pun kemudian masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan rumah Danisha.
Danisha merosot ke lantai, bu Nunik pun langsung menghampiri putrinya dan memeluknya. Danisha baru menyadari kalau ternyata sebenarnya dia sudah mendapatkan kebahagaan yang di impikan semua orang. Suami yang baik dan setia, orang tua yang lengkap dan warisan yang sudah menunggunya. Namun semua itu hilang seketika karena kebodohannya. Kini ia hanya bisa menangis tersedu-sedu dipelukan mamanya.
Di rumah sakit...
Saat ini Dokter sedang memeriksa keadaan Iren. Alif pun dengan setia menunggunya di depan ruangan tempat Iren di rawat.
Tak lama kemudian, Kenzo datang bersama pak Bayu dan Arsen.
Setelah mendapatkan telepon dari Kenzo, pak Bayu langsung meminta putranya Arsen untuk mengantarkannya ke rumah sakit tempat Iren di rawat. Pak Bayu juga sudah menghubungi Dani, namun Dani tidak bisa ikut datang sekarang. Katanya istrinya juga sedang sakit. Alhasil hanya pak Bayu dan Arsen saja yang datang.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
__ADS_1
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih