
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Sebenarnya paman, Alif kesini untuk mengungkapkan perasaan Alif kepada Iren. Karena Alif masih mencintai putri paman, dan apabila Irena dan paman berkenan menerimanya, Alif ingin langsung ke jenjang yang lebih serius. Alif ingin Iren menjadi pendamping hidup Alif, paman,'' ucap Alif. Kedua tangannya mengepal, mencengkram erat ujung bajunya.
''Benarkah? Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu nak Alif?'' Ucap pak Bayu, namun matanya masih menatap tajam kearah Alif.
''Dengan segenap hati, saya benar-benar yakin dengan apa yang saya ucapkan ini paman,'' jawab Alif dengan penuh keyakinan.
''Apa mamamu sudah tahu dengan keputusanmu ini nak Alif?''
Deg... mendengar pertanyaan pak Bayu, raut wajah Alif tiba-tiba berubah, hatinya pun menjadi ragu. Sebab, mama, atupun keluarganya sama sekali belum ada yang tahu tentang maksud dan keinginan Alif yang ingin menjadikan Iren sebagai istrinya. Melihat Alif yang diam tidak menjawab sepatah katapun, pak Bayu pun menarik nafasnya dengan berat.
''Sebaiknya, nak Alif bicarakan dulu dengan keluarga nak Alif, terutama mamanya nak Alif. Biar bagaimanapun sebuah pernikahan itu tidak bisa lepas dari restu orang tua, terutama dari seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan nak Alif. Paman tidak bermaksud menolak pinangan nak Alif, karena semua keputusan ada ditangan Iren, dan juga nak Alif yang akan menjalaninya sendiri. Paman selaku orang tua, hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Tapi ada baiknya jika nak Alif membicarakannya dulu baik-baik dengan keluarga nak Alif ya? Jika sudah mendapat restu, nak Alif boleh datang kesini lagi untuk melamar putri saya,'' ucap pak Bayu dengan tersenyum.
''Benarkan Ren?'' Pak Bayu bersuara agak keras saat melihat Iren menuruni tangga.
Iren hanya tersenyum samar menanggapinya, pipinya saja sudah bersemu merah. Namun didalam hatinya masih banyak keraguan. Tapi Iren sendiri tidak ingin terlalu keras pada hatinya. Jika memang Tuhan ingin mempersatukannya dengan Alif, Iren pun lega dan sangat bahagia. Ia berharap semoga kali ini Tuhan benar-benar mempersatukan cinta mereka dalam ikatan suci pernikahan.
''Baiklah paman, Alif akan membicarakannya dulu dengan orang tua Alif. Alif harap paman memberi kesempatan untuk saya bisa membuktikan keseriusan saya terhadap putri paman,'' ucap Alif.
''Ya, paman tidak akan melarangmu, juga tidak akan menghalangi niat baikmu. Tapi, ingat pesan paman! Paman tidak mau jika nantinya putri paman saat bersamamu, malah lebih banyak menangis, ketimbang bahagia. Paman dan mamanya Irena, eh maksud paman, dengan kedua orang tuanya Irena, kami selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Irena. Paman tidak ingin kelak kau hanya baik di awal dan selanjutnya membuatnya menderita,'' ucap tegas pak Bayu.
__ADS_1
''Semoga itu tidak akan pernah terjadi paman. Saya berjanji, hanya akan membuatnya menangis karena bahagia bukan menderita. Saya juga akan berusaha memberinya yang terbaik sebisa dan semampu saya,'' ucap Alif.
''Saya tidak butuh janji nak Alif, karena banyak orang yang sering berjanji tapi tidak pernah menepatinya. Yang saya butuhkan itu bukti, bukan sekedar janji manis yang bisa kapan saja dilepah setelah hilang manisnya. Ingat pepatah Jawa, ''Kebo dicekel taline, menungso dicekel janjine,'' Apa lagi, nak Alif itu seorang laki-laki. Jadi paman harap janji nak Alif itu bukan hanya sekedar janji manis saja,'' ucap pak Bayu.
''Iya paman, Alif akan berusaha membuktikannya paman,'' Alif merasa sedikit lega setelah selesai berbicara dengan pak Bayu. Pak Bayu adalah sosok panutan baginya, bijak dalam perbuatan, tutur kata, dan nasehat, baik pula terhadap anak-anaknya, bahkan meskipun anak sambung sekalipun.
Alif pun pamit pulang setelah selesai mengobrol dengan pak Bayu. Iren sendiri tidak mengucapkan sepatah katapun pada Alif. Namun Alif bertekad ia akan membuat Irena percaya akan keseriusannya dan terus memperjuangkan cintanya.
Setelah kepergian Alif, Iren lebih memilih pamit ke kamarnya. Sedangkan Arsen dan Kenzo duduk bersama disebelah pak Bayu. Sambil menyeruput sisa tehnya yang tinggal tak seberapa, pak Bayu melihat putra-putranya melihatnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Pak Bayu pun tersenyum lalu berkata...
''Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?'' Ucap pak Bayu.
''Pah, apa papa akan menyetujui pinangan Alif begitu saja pah?'' Arsen yang pertama membuka mulutnya, karena penasaran kenapa papanya menyetujuinya begitu saja.
''Tapi pah, papa tahu sendiri kan bagaimana keluarganya saat itu sangat membenci Iren, bahkan sampai menghina mama. Arsen tidak mau kalau nanti Iren sedih lagi pah,'' Arsen masih tidak terima jika nanti keluarga Alif tidak merestui lagi dan akan membuat adiknya sedih lagi.
''Ken juga gak setuju pah, Ken tahu betul bagaimana sedihnya kakak waktu itu pah, kak Iren bahkan sampai menangis dipelukan Kenzo pah, papa tahu kan kalau kakak itu jarang sekali menangis?'' Kenzo pun ikut berbicara.
''Sudah..sudah! Kenapa kalian malah yang ribut. Lebih baik kalian fokus sama pekerjaan kalian saja dulu! Sambil melihat bagaimana usaha Alif nanti. Papa yakin, bocah itu sangat mencintai adikmu Ar, bahkan papa bisa lihat adikmu juga mencintai bocah itu. Jika adikmu saja bisa menerima, maka kita juga harus menerima dan mendukung semua keputusannya bukan?'' Ucap pak Bayu, pak Bayu pun lalu pergi meninggalkan putra-putranya yang masih terdiam memikirkan kata-kata papanya itu.
Di dalam kamar, Irena tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Memikirkan bagaimana jika mamanya Alif belum menyetujui niat mereka. Terus jika mamanya sudah setuju, bagaimana ia akan menjawab pertanyaan Alif yang belum sempat ia jawab tadi. Hingga lamunannya buyar tak kala ponselnya berdering. Ternyata Mira yang menghubunginya.
''Heem...'' Iren menjawab dengan malas panggilan dari Mira.
__ADS_1
''Bisa gitu ya jawabnya!'' Ucap Mira dari sebrang sana.
''Ada apa kamu menghubungiku? Biasanya cuma chat doang, dan jarang telefon,'' ucap Iren. Ya, Mira dan Iren lebih sering chat ketimbang telefon. Jika ingin berbicara biasanya mereka akan lebih memilih bertemu. Mungkin bisa dikatakan ponsel mereka jarang digunakan kecuali untuk hal-hal yang penting saja.
''Aku ingin bertanya serius padamu ini. Jadi jangan menjawabnya dengan malas!'' Ucap Mira penuh penekanan.
''Iya..iya, aku jawab ada apa tukang Kemal ( kepo maksimal )," ucap Iren.
''Apa Alif benar-benar datang ke rumahmu hari ini Ren?'' Tanya Mira. Dan benar saja dugaan Iren, pasti soal Alif.
''Iya....
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
__ADS_1
Terimakasih