
💮 Selamat Membaca, dan semoga sehat selalu 💮
"Kakak..." Irena tidak mampu berkata apapun lagi, Ia pun lebih memilih pergi dengan kak Hafiz meninggalkan Dafa.
"Ren!" Panggil Hafiz saat melihat Iren berjalan di depannya, namun dalam keadaan melamun.
"Aku tidak apa-apa kak, terimakasih tadi kakak menolongku," ucap Iren dengan tatapan sedih.
"Sudah sewajarnya, aku sebagai seorang kakak membela adiknya. Aku sungguh kecewa dengan Dafa! Ren, apa dia laki-laki yang sama yang kau ceritakan pada kakak setiap kali kamu menelpon? Kenapa sikapnya sangat buruk sekali padamu? Kakak sangat kecewa padanya." Ucap Hafiz sambil mengelus puncak kepala Iren. Namun tiba-tiba....
"Lepaskan dia!" Iren dan Hafiz menoleh kearah suara yang berseru itu. Ternyata, Dafa berlari menyusul Iren. Dan dengan segera memegang tangan Irena.
"Lepaskan!" Ucap Iren.
"Kenapa?" Tanya Dafa. Aku tidak tahu apakah Dafa bodoh atau tidak menyadari kesalahannya?.
"Begini saja kamu sudah tidak tahan? Kalau begitu apa kamu pernah memikirkan perasaanku saat kamu bersama adikmu yang baik itu? Di hadapanku dia mengaku sebagai tunanganmu, bahkan di akui langsung oleh Mamamu, sebagai tunanganmu dan menantu di keluargamu! Saat mendengarnya, apa kak Dafa tahu apa yang aku pikirkan saat itu?" Ucap Irena.
"Ren, aku salah. Aku.....
"Kak..." Belum selesai Dafa berbicara Yao yao datang merangkul lengan Dafa. Irena hanya bisa tersenyum penuh kepahitan.
"Kak, aku lapar. Ayo kita pulang!" Ucap Iren pada kak Hafiz. Lalu pergi meninggalkan dua orang tersebut. Dafa hendak menyusulnya lagi, namun Yao yao...
"Kak, kepalaku pusing," ucap Yao yao sambil memegang kepalanya.
"Yao yao, apa kamu ada bicara sesuatu dengan kakak iparmu?''
''Yao yao, kamu tahu kan sejak kecil sampai dewasa aku selalu menyayangimu sebagai adikku. Dan apa pun yang kau minta, aku selalu menurutinya. Aku juga tidak pernah meminta sesuatu padamu. Tapi kali ini, aku harap kamu minta maaf pada Irena!" Kemudian Dafa pun pergi meninggalkan Yao yao.
Di sisi lain...
Saat ini Irena tengah makan di sebuah restoran dengan Hafiz. Bahkan ia sudah menghabiskan bakso dua mangkok.
"Jangan makan lagi!" Ucap Hafiz sambil mengambil mangkok yang ada di hadapan Iren.
__ADS_1
"Aku akan membayarnya dulu. Kamu minum air putih ini dulu! ( Sambil menyerahkan segelas air putih kepada Iren ) "Setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Hafiz, kemudian pergi kekasir untuk membayar makanan mereka.
"Irena.." Tiba-tiba Dafa datang langsung bersimpuh di hadapan Iren sambil memegang tangannya.
"Lepaskan!" Seru Iren.
"Aku tahu aku salah, aku mohon maafkan aku. Aku juga membawa Yao yao untuk meminta maaf padamu."
"Yao yao!" Panggil Dafa. Seketika itu Yao yao datang dan meminta maaf pada Iren.
"Maaf ya kakak ipar, saat itu aku hanya bercanda kepadamu. Tolong jangan di masukkan ke dalam hati. Kakakku sudah memarahi ku dari tadi...
"Cukup! Kenapa kalian masih saja datang menghampiriku. Kalian datang untuk membuatku jijik lagi, ha!" Bentak Iren.
"Beneran kak, sebenarnya aku sudah punya pacar sendiri,"
"Natan!" ( Yao yao memanggil seseorang yang ia sebut pacarnya.)
"Iya, aku disini!" Ucap seorang pria yang bernama Natan. Lalu menghampiri mereka.
"Lihatlah kak, kami sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Kakak ipar, kamu dan kak Dafa juga harus baikan ya, maaf aku yang kelewatan bercandanya." Ucap Yao yao lalu pergi bersama Natan meninggalkan mereka berdua.
"Jangan bohongi aku lagi," ucap Iren.
"Tidak akan pernah,"
"Aku berjanji untuk itu. Kamu boleh membuat permintaan sebagai kado ulang tahunmu. Apapun itu, aku akan setuju." Ucap Dafa.
"Baiklah!" Iren pun bahagia, lalu memeluk Dafa. Dari arah samping, Hafiz melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Beberapa hari kemudian
"Ren, kamu beneran balikan sama Dafa? Apa kamu sudah pikirkan baik-baik?" Tanya Hafiz saat mengantarkan Iren ke tempat kerjanya.
"Apa kak?" Ternyata dari tadi Iren sibuk membalas pesan-pesan dari Dafa, hingga ia tidak mendengarkan dengan jelas pertanyaan Hafiz.
"Tidak apa-apa." Jawab Hafiz.
__ADS_1
"Tapi kalau dia berani memperlakukanmu dengan buruk lagi, kakak bantu kamu untuk menghajarnya!" Ucap Hafiz.
"Dia gak akan berani lagi kak! aku jamin itu." Jawab Iren supaya kakaknya tidak khawatir lagi. Namun saat ia akan masuk ke ruangan Dafa...
"Sudah kubilang kan? Kalau aku nggak cari orang untuk pura-pura jadi pacarku, kakak ipar pasti nggak akan percaya kalau kita nggak bersalah."
"Kak, kakak ipar itu sangat sulit untuk dibujuk ya..."
"Yao yao, maafkan kakak. Kali ini, anggap saja kakak sudah menyusahkanmu." Ucap Dafa. Tanpa mereka sadari, Iren sudah mendengarkan semua yang mereka omongkan. Bahkan posisi mereka dalam kedaan pelukan dan Setengah telanjang. Kebetulan pintu ruangan Dafa sedikit terbuka, jadi Iren bisa melihat dengan jelas.
"Si brengsek ini benar-benar minta dihajar!" Ucap Hafiz. Namun dengan segera Iren memegang tangannya.
"Kak, jangan membuatku semakin malu." Iren meremas ujung bajunya, tangannya gemetar, matanya sudah mulai memerah dengan tetesan air mata. Iren pun langsung masuk begitu saja, sehingga membuat Dafa dan Yao yao terkejut.
"Iren..." Kaka ipar!" Ucap Dafa dan Yao yao bersamaan.
"Ren, ini semua gak seperti yang kamu pikirkan. Tadi baju kami basah karena tersiram minuman yang dibawa Yao yao." Ucap Dafa dengan panik. ( Sungguh alasan yang sangat konyol ) Namun dengan santai Iren maju menghampiri mereka.
"Kak Dafa, kau bilang kemaren, aku boleh meminta permohonan untuk ulang tahunku! Apapun itu kamu juga akan menyetujuinya. Kata-katamu itu masih berlaku kan?" Tanya Iren dengan santai. Meskipun sudah hancur berkeping-keping hatinya kini.
"Tentu!...Tentu tentu." Ucap Dafa dengan tergagap-gagap.
"Kita putus saja." Ucap Iren. Lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Urusan kita belum selesai!" Ucap Hafiz, lalu berlari mengejar Iren.
''Sial!!''
Dafa benar-benar sial sepertinya hari ini.
Selama di perjalanan Iren hanya diam saja. Hingga sebuah dering ponsel membuatnya sadar dari lamunannya.
''Halo?" Sapa dari sebrang sana. Yang ternyata itu adalah Ibunya.
"Iya bu," jawab Iren.
''Nak, ibu dan ayah akan berpisah. Jadi kamu harus pikirkan akan ikut siapa nantinya.'' Ucap Ibunya.
__ADS_1
DEG.....
Bak petir di siang bolong, entah kenapa masalah demi masalah datang bersamaan. Baru saja ia putus dari Dafa, tapi kini ia harus menerima kenyataan bahwa ayah dan ibunya akan berpisah. Iren tidak terlalu terkejut jika orang tuanya akan berpisah. Sebab akhir-akhir ini orang tuanya sering bertengkar karena kesibukan masing-masing dan jarang ada waktu untuk keluarga. Namun yang membuat Iren tidak menyangka jika orang tuanya akan berpisah secepat ini.