
...🌸 Selamat Membaca, Sehat selalu ya 🌸...
Setelah berpikir cukup lama, tentang apa yang akan Iren kerjakan. Iren pun akan membuka usaha toko pertanian. Ia menjual berbagai pupuk dan obat-obatan untuk tanaman. Hari ini ia akan pergi untuk melihat-lihat lokasi yang akan di jadikannya tempat tokonya. Ia sekalian juga memilih-milih Produsen untuk mensuplay tokonya nanti. Dan saat memilih-milih barang, ia tak sengaja bertemu dengan Gio yang saat itu sedang berbelanja di pasar.
''Hai Ren,'' sapa Gio yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Iren.
''Hai Gi, apa yang sedang kau lakukan di sini?'' Iren bertanya sambil sibuk memilih-milih barang-barang yang akan ditaruh di tokonya.
''Aku tadi selesai berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Sepertinya kamu lagi sibuk banget Ren? Apa kau perlu bantuan Ren?'' Tanya Gio, ia pun lalu menaruh barang belanjaanya.
''Iya nih, rencananya aku mau buka toko usaha, yang untuk nyediain perlengkapan pertanian gitu Gi. Tapi aku juga masih bingung karena minim wawasan soal pertanian.'' Iren menelungkupkan kepalanya di atas pupuk.
''Eeh, jangan menaruh kepalamu di atas pupuk Ren, bagaimana jika kulitmu iritasi dengan bahan-bahan tersebut,'' Gio merasa khawatir saat ia melihat Iren asal menaruh kepalanya.
''Nggak papa kok Gi, kulitku nggak sensitif jadi aman-aman saja lah,'' Iren menjawab dengan senyuman. Ia sendiri tidak terlalu peduli dengan penampilannya. ( Yang terpenting, kerja lembur bagai kuda, yang penting banyak cuannya. Hehehehe )
Ia tidak mungkin selalu merepotkan pak Bayu dan kakaknya, apa lagi papa kandungnya. Papa kandungnya sendiri sudah memiliki keluarga barunya sendiri. Jadi Iren harus benar-benar bisa mandiri.
''Aaah?'' Gio sedikit bingung. Padahal biasanya seorang wanita, mereka lebih mementingkan penampilan. Tapi kenapa Iren berbeda? Ia seakan tidak peduli dengan penampilannya,'' Gio tersenyum mendengar ucapan Iren.
''Tidak apa-apa Gi, aaah! Sepertinya toko ini bagus barang-barangnya kalau untuk jadi suplayer tokoku nanti,'' Iren kemudian berjalan untuk menemui bos produsen tersebut. Setelah berbincang cukup lama, Iren kembali dan membereskan barang-barangnya.
''Eeh...!'' Kukira kau sudah pulang Gi, apa belanjaanmu masih ada yang kurang?'' Tanya Iren. Ia sedikit terkejut saat melihat Gio masih berada di tempat tadi.
''Tidak, aku memang sengaja menunggumu. Kita bisa pulang bareng, lagian kamu ke pasar naik bus kan?'' Mendengar perkataan dari Gio membuat Iren sedikit bingung. Mengapa Gio menunggunya?
''Oooh, ya sudah. Mari kita pulang! Kebetulan aku juga sudah selesai.'' Tak ingin ambil pusing Iren pun mengiyakan ajakan Gio untuk pulang bareng. Itung-itung hemat ongkos juga. Andai Mira datang tadi, pasti Mira yang mengantarkannya dan menemaninya.
Mobil yang mereka kendarai pun sudah sampai dihalaman rumah Iren. Terlihat ada ibu-ibu yang berkumpul di salah satu rumah tetangga. Mereka saling berbisik sambil mencari kutu dikepala anaknya. Salah satu dari mereka menghampiri Iren...
''Mbak Iren. Tadi ada paket dan surat buat mbak Iren. Tapi karena mbak Iren pergi, makannya dititipin ke saya,'' ucap mbak Nur, nama tetangga itu.
__ADS_1
''Oh iya mbak, terimakasih sudah disimpankan ya. Maaf ya malah merepotkan mbak Nur,'' Iren tersenyum sambil menyerahkan sekantong plastik buah jeruk ke mbak Nur, sebagai tanda ucapan terimakasih.
''Walaaah, malah repot-repot ngasih oleh-oleh mbak Iren. Terimakasih ya mbak jeruknya, kalau begitu saya tak pamit dulu,'' ucap mbak Nur berjalan ke arah rumahnya.
''Apa aku juga akan mendapatkan sekantong jeruk juga Ren? Tapi sepertinya jerukmu sudah habis,'' ucap Gio bercanda.
''Kamu mau juga? Tenang saja aku masih ada banyak untukmu,'' Iren pun kemudian pergi ke arah belakang rumahnya. Di sana ada kebun kecil milik Iren. Selain bunga, Iren juga menanam buah-buahan dan sayur-sayuran. Semua tertata rapi di belakang rumahnya. Gio yang mengikutinya pun tercengang melihat kebun mini milik Iren.
''Wow Ren, kau hebat sekali. Aku pikir dirimu selalu menganggur setiap harinya, ternyata pekerjaanmu jauh lebih banyak dariku,'' ucap Gio tersenyum.
''Menganggur? Enak saja. Siapa bilang aku menganggur, walau aku sering menghabiskan waktuku di rumah, tapi aku juga bekerja. Namun secara online. Membantu-bantu papaku yang sedang jualan furnitur,'' jelas Iren.
''Iya...iya bercanda. Itung-itung biar kamu nggak tegang.'' Gio tertawa melihat reaksi Iren yang menggemaskan saat ia dikatai menganggur.
''Tegang? Tegang kenapa? Dan kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?'' Iren cemberut karena Gio tidak berhenti tertawa.
''Iya...iya maafkan aku. Aku akan berhenti tertawa, tolong jangan marah ya.'' Iren hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah pria itu.
''Ini buah-buahan untukmu. Dan terimakasih sudah mengantarkanku pulang sampai di rumah,'' Iren menyerahkan kantong plastik yang berisi buah-buahan itu kepada Gio.
''Waah, banyak sekali Ren. Terimakasih ya kalau begitu, aku juga pamit pulang dulu, bay Iren sampai jumpa lagi,'' ucap Gio, dan di balas dengan lambaian tangan Iren, lalu ia pun menaiki mobilnya untuk kembali ke rumahnya.
Iren lalu membawa sisa buah-buahannya untuk di bawa masuk ke rumah, dan di simpannya di lemari pendingin.
''Huwaaaaa.... panas sekali rasanya. Sepertinya nanti akan turun hujan. Sebaiknya aku membereskan cucian keringku dahulu,'' Iren pun kemudian berdiri lagi setelah minum, lalu pergi untuk mengangkat jemurannya.
''Oh iya lupa! Tadi aku dapat paket kan? Belum ku buka lagi. Dahlah lebih baik aku segera mengambil jemuranku semua. Agar bisa cepat membukanya,'' ucap Iren.
Setelah selesai membereskan semua baju-bajunya Iren kembali ke ruang tamu untuk membuka paketnya. Pertama ia membuka suratnya dulu.
''For Miss Irena ...'' Dari siapa ya..?" Irena pun langsung membukanya.
__ADS_1
''Kak Hafiz.....''DEG'' Jantung Irena berdegup kencang saat tahu kalau surat itu dari kak Hafiz. Ia pun segera membaca surat tersebut.
...~•°•~•°•☆•°•~•°•~...
Salam kangen Dari kakakmu
Hafiz
Hai Iren?
Apa kabarmu sekarang? Pasti sekarang kau sedang duduk sambil membawa semangkok cemilan sambil membaca suratku kan? Jangan sering ngemil makanan yang kurang sehat! Perbanyak makan-makanan yang bergizi. Kurangi begadang dan jangan memporsir pekerjaanmu! Ya Tuhan aku mengirimimu surat tapi kenapa isinya nasehat semua ya Ren? Tapi nggak papa, kakak harap kamu sehat-sehat dan bahagia selalu. Selamat Ulang Tahun Iren semoga panjang umur dan sehat selalu...
Salam sayang dari kakakmu
Hafiz
...~•°•~•°•☆•°•~•°•~...
Dan seketika Iren menangis saat selesai membaca surat itu. Di bukanya paket yang ternyata kado dari Hafiz yang berisi sebuah Bola salju kesukaan Irena sewaktu mereka masih tinggal bersama. Bola salju tersebut ia berikan pada Hafiz sebagai kenang-kenangan ketika mereka berpisah.
''Bahkan aku sendiri sampai lupa ulang tahunku,''
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih
__ADS_1