
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Tunggu dulu,'' ucap Alif, dan membuat semua orang menghentikan langkahnya seketika.
''Ada apa lagi sih Lif?'' Ucap Mira.
Alif kemudian berjalan menghampiri Iren dan langsung membopongnya begitu saja.
Haaaaaah...... ( suara semua orang yang tercekat kompak terkejut karena melihat perbuatan Alif )
''Kita harus segera kembali ke rumah sakit sekarang. Kamu belum pulih betul, aku nggak mau jika sampai terjadi apa-apa sama kamu,'' ucap Alif.
Mira yang mendengarnya pun langsung menghampiri Alif dan memukul pundaknya.
''Enak saja! Aku sudah susah payah membawanya pulang, dan mendandaninya sampai cantik seperti ini, bak seorang putri dongeng. Kau malah mau membawanya lagi ke rumah sakit. Tidak bisa, kalian harus menikah dulu, baru setelah itu kita antarkan lagi Iren untuk dirawat di rumah sakit untuk pemulihan,'' omel Mira.
Iren hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu.
''Tapi Mir, Iren baru saja bangun dari komanya, bahkan kau bilang sendiri tadi, katanya Dokter saja menyuruhnya untuk banyak beristirahat dan jangan banyak gerak,'' ucap Alif.
''Gak ada tapi-tapian Lif, apa kamu nggak ingin menikah dengan Iren sekarang Lif? Kesempatan ada di depan matamu, paman Bayu saja sudah susah payah meminta izin pada Dokter agar bisa membawa Irena untuk pulang sebentar. Apa kau akan menyia-nyiakannya perjuangan kami Lif?'' Ucap Mira.
''Benar kata Mira Mas. Lagi pula, papa juga sudah susah-susah meminta izin pada Dokter, agar bisa membawaku pulang. Jika sekarang kamu membawaku kembali ke sana, bukankah semua hal yang dilakukan oleh papa dan Mira akan menjadi sia-sia?'' ucap Iren dengan tersenyum.
''Dengar tuh! Bahkan istrimu jauh lebih pintar darimu,'' ucap Mira.
''Tapi....'' Alif bingung harus berkata apa lagi sekarang, tapi ia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Iren.
''Aku nggak apa-apa, lihat! Aku baik-baik saja bukan? Aku nggak ingin menunda keinginan kita untuk bisa bersatu dan bersama selamanya. Apa kamu tidak kasihan melihat perjuangan papa dan Mira? Belum lagi mama dan papa kamu dan juga keluarga kita semua,'' ucap Iren.
Dengan berat hati, Alif pun menyetujuinya untuk segera melangsungkan akad nikah dahulu, sebelum membawa Iren ke rumah sakit.
Kini semua sudah siap dan duduk rapi di tempat yang akan Alif gunakan untuk mengucapkan sumpah suci atas nama Tuhan untuk biduk rumah tangganya. Semua nampak terlihat bahagia, terlihat pula senyuman manis tak luntur dari wajah papanya. Kenzo dan Arsen pun terlihat bersandau gurau. Namun dibalik itu semua, terselip kesedihan dihati Irena.
__ADS_1
Matanya pun selalu menatap lurus ke arah pintu. Ada harapan dihatinya seandainya saat ini, papa kandungnya juga bisa ikut hadir dalam acara pernikahannya. Dan tanpa ia sadari bahkan Alif sudah selesai mengucapkan sumpah sucinya dihadapan pak penghulu dan seluruh anggota keluarganya.
Tepukan dibahunya dari sahabatnya Mira, membuatnya tersadar kembali dari lamunannya.
''Kau ini nikah kok gak didengerin janji dan sumpah suamimu! Bagaimana jika Alif berjanji akan menikah lagi? Bagaimana ha?'' Bisik Mira ditelinga Iren.
Iren terkejut mendengar perkatan Mira, ia pun menoleh ke arah Alif dan yang lainnya yang ternyata acaranya sudah sampai mengucap syukur dan berdoa.
''Laaah, dah mau selesai ternyata?'' ucap Iren dan langsung ditoyor kepalanya oleh Mira.
''Dasar...!'' Ucap Mira, dan semua pun tertawa melihat tingkah kedua sahabat itu.
...~¤~¤~¤~♡~¤~¤~¤~...
Setelah selesai Alif mengucapkan sumpahnya, kini mereka telah resmi menyandang status sebagai suami dan istri yang sah dimata agama dan dimata hukum. Satu persatu para tamu mulai meninggalkan kediaman rumah Irena bahkan keluarganya Alif pun juga ikut berpamitan untuk pulang. Sebab, Olive juga belum sehat betul, dan tidak boleh terlalu kelelahan. Jadi mama dan papanya Alif harus segera pulang untuk menemani Olive di rumah.
Di teras belakang, Iren terlihat sedang melamun lagi. Bahkan minuman hangat yang ia pegang sedari tadi, kini sudah dingin terterpa dinginnya angin malam. Alif senduri masih menemani pak Bayu yang kini juga sah menjadi papa mertua itu.
''Iren kemana Lif?'' Tanya Mira yang sedari tadi tidak melihat Iren.
Awalnya, setelah selesai akad Iren akan langsung dibawa ke rumah sakit, namun Iren menolaknya. Iren ingin menunggu papanya. Ia takut, jika ia dibawa ke rumah sakit, lalu papanya datang kerumah, otomatis mereka tidak dapat bertemu. Apa lagi, papanya sangat minim waktu terhadapnya.
''Iren sedang minum teh di teras belakang Mir, tapi ia sedang ingin sendirian. Bahkan aku saja di usir supaya tidak mengganggunya,'' ucap Arsen.
Alif hendak berjalan menemui Iren namun langkahnya terhenti saat Mira mengatakan...
''Biar aku saja yang menemaninya Lif, aku rasa Iren akan lebih nyaman mengobrol denganku dahulu. Kamu temani papa mertuamu dulu, baru nanti menyusul Iren,'' ucap Mira. Alif pun mengangguk mengiyakan ucapan Mira.
''Kau sedang apa disini?'' Ucap Mira saat sudah melihat Irena yang kini bersandar di sebuah tiang penyangga rumah, sambil memegang gelasnya.
''Melihat bulan.'' Ya, hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya Iren.
''Bulan?'' Mira pun menghampiri Iren, lalu kemudian menatap ke langit, ke arah mata Iren melihat.
''Gila ya lo! Orang mendung gini mana ada bulan!'' Omel Mira.
__ADS_1
''Ada ya, coba lihat saja dengan teliti,'' ucap Iren.
''Ren kamu melihat bulan di mana sih Ren? Mendung kayak gitu, hitam pekat bagaimana bisa ada bulan? Kau ini lama-lama minta dipukul ok,'' ucap Mira.
Mira lalu lebih memilih duduk menyandarkan punggungnya di bangku, sambil meminum minuman yang ada di meja.
''Astaga! Bahkan minumannya saja sudah dingin,'' gerutu Mira.
''Benarkah? Aku malah merasakannya masih panas tadi,'' ucap Iren.
''Ren, sebaiknya kita masuk dulu deh, daripada nanti ada apa-apa sama kamu. Bisa- bisa habis Aku diomelin sama Alif,'' ucap Mira. Namun tak lama malah terdengar suara keributan dari dalam rumah.
''Ren, kamu dengar tidak?'' Ucap Mira.
''Iya, sepertinya di dalam sedang ada keributan, ayo cepat lihat,'' Iren dan Mira pun kembali masuk ke dalam Rumah.
Ternyata suara keributan itu berasal dari ruang tamu. Terlihat di sana ada Danisha yang sedang berdiri diam, tangannya mengepal erat ujung bajunya. Dan sepertinya ia terlihat sedang menangis.
''Kenapa mereka ribut?'' Ucap Iren.
''Entahlah, tapi lihatlah! Sepertinya Danisha sedang di maki-maki oleh Alif,'' Mira menunjuk ke arah Alif. Dan sepertinya benar yang dikatakan oleh Mira.
''Kenapa Alif memarahi Danisha?'' Ucap Iren.
''Entah, ayo kita bergegas kesana. Jangan sampai terjadi perang ke 10,'' ucap Mira.
...-...
...-...
...Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa...
...👍like...
...❤ pavorit...
__ADS_1
...dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala...
...Terimakasih...