Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 58: Rencana


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...


β˜†


''Nad, ayo antarkan mama berbelanja kebutuhan lamaran. Adikmu mau melamar kekasihnya. Ayo Nad!'' Ucap Ranty sambil memegang tangan Nadia. Nadia yang mendengar ucapan mamanya pun ikut bahagia, ia melihat raut wajah adiknya yang jelas terlukis kebahagian .


Melihat Nadia yang masih diam menatap adiknya, Ranty pun menyenggol bahu putrinya itu.


''Sini, biar Rio sama mama, kamu cepatlah ganti baju dan bersiap-siap anterin mama cari keperluan lamaran untuk adikmu,'' ucap Ranty sambil mendorong pelan Nadia.


Nadia menggelengkan kepalanya melihat reaksi mamanya yang sekarang. Ia benar-benar merasa sangat bersyukur, mamanya sekarang banyak perubahan positif. Bahkan sekarang Ranty sangat menyayangi ketiga anak-anaknya tanpa membeda-bedakannya.


"Benar kata orang, setiap masalah pasti akan ada hikmahnya," Batin Nadia yang tersenyum menatap ke arah wajah mamanya. Ia pun segera bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.


''Mah, Alif baru mau meminta restu, kenapa mama sudah mau membeli perlengkapan lamaran?'' Alif berkata sambil menghampiri mamanya.


''Benar kata putramu mah, belum tentu Irena mau menerima lamarannya. Bagaimana jika ditolak? Kan sayang kalau kamu sudah beli-beli gitu,'' Ucap pak Ahmad, suami Ranty yang sekarang.


''Puiiih..puih, pah! Tarik lagi ucapanmu. Kata itu adalah doa, jadi jangan berbicara sembarangan. Iren pasti akan menerimanya lah! Lagi pula putra mama ini kan ganteng, baik dan pengertian. Tambah lagi SETIA, jadi mama rasa nggak ada alasan bagi Iren untuk menolak pinangan Alif,'' Ranty berucap penuh keyakinan.


''Bagaimana jika bukan karena Alif, Iren menolaknya? Bagaimana jika Iren menolaknya karena takut padamu?'' Tiba-tiba Ihsan papa kandung Alif berbicara. Ihsan masih ingat betul bagaimana sikap Ranty waktu itu saat menolak permintaan putranya untuk merestui hubungannya dengan Irena.


''Kau pasti mengingat masa lalu lagi bukan? San, bisakah kamu melupakan masa laluku yang buruk itu? Aku merasa sangat bersalah jika mengingatnya. Yang terpenting sekarang, bagiku adalah kebahagiaan anak-anakku semuanya. Entah itu Alif, Nadia, maupun Oliv. Mereka semua adalah harta yang paling berharga bagiku San,'' Ranty berkata dengan pandangan yang sendu.


Alif pun menghampiri mamanya dan memeluk bahu mamanya.


''Alif percaya, mamaku yang sekarang sudah berubah. Berubah menjadi lebih baik lagi. Alif harap, papa juga harus mempercayai mama juga, dan juga memaafkan kesalahan mama di masa yang lalu,'' Alif berkata sambil menghampiri papanya yang saat ini menatapnya dengan senyuman.


''Papa juga sudah percaya dengan mamamu kok Lif, dan juga, papa sudah memaafkannya jauh sebelum dia menyadari kesalahannya. Meskipun kami sudah berpisah, tapi nama kalian selalu ku sebut dalam doa-doaku,'' ucap Ihsan. Meskipun bibirnya tersenyum, namun terlihat jelas matanya yang mulai memerah menahan air mata.

__ADS_1


Meskipun sudah berpisah lama, dan mantan istrinya bahkan sudah menikah lagi dan hidup bahagia dengan keluarganya, namun hingga saat ini Ihsan belum menikah lagi. Bahkan ia berpikir tidak ingin menikah lagi. Dalam hati kecilnya masih ada penyesalan yang selalu mengurung hatinya. Penyesalan karena tidak bisa mempertahankan istri dan putra semata wayangnya.


Namun ditengah keseriusan dan keharuan, tiba-tiba terdengar suara tangis dari si kecil Rio.


''Aduh...Aduh sayang, cucu Oma, jangan nangis ya sayang, mama lagi siap-siap. Nanti kita jalan-jalan ya, cari perlengkapan buat lamaran om Alif ya,'' Ranty berusaha menenangkan cucunya, namun tangis Rio tak kunjung reda.


''Sini mah, biar Iman saja yang gendong. Mungkin Rio laper, soalnya tadi Nadia belum memberimya asi,'' ucap Iman sambil mengambil alih putranya dari gendongan Ranty.


''Apa? Belum dikasih asi? Waah, Nadia ini benar-benar keterlaluan, bagimana bisa ia membiarkan putranya kelaparan, kenapa dari tadi tidak disusui dulu,'' gerutu Ranty.


''Ya sudah kamu coba tenangin dulu Rio, biar mama manggil istrimu dulu,'' setelah berucap, Ranty pun bergegas masuk ke dalam untuk memanggil Nadia.


Sedangkan Ihsan dan Ahmad, kadua orang tua itu lebih memilih kembali ke halaman belakang untuk meneruskan kegiatan bakar-bakar daging, yang sempat mereka tinggal tadi.


Tak lama kemudian, Nadia datang dengan terburu-buru dan langsung menyusui putranya. Sedangkan Ranty tidak terlihat ikut ke depan.


''Mama kemana kak? Kok nggak ikut keluar?'' Tanya Alif.


''Oh iya, kalau kamu datang kesini, berarti Oliv sendirian dong di rumah?'' Tiba-tiba Nadia teringat dengan adik bungsunya itu.


''Astaga Lif, adikmu kamu tinggal sendirian!'' Tiba-tiba dari arah belakang Ranty berteriak dan menjewer telinga Alif saat mendengar ucapan Nadia.


''Ampun...ampun mah, Oliv nggak di rumah sendirian kok, tapi sedang bersama Mira. Mira mengajak Oliv untuk menemani Mura putrinya, jadi, Oliv tidaklah sendirian,'' ucap Alif sambil mengelus-elus telinganya yang memerah akibat bekas jeweran mamanya.


''Ooh.., baguslah kalau begitu. Setidaknya Mira adalah orang yang bertanggung jawab, meskipun gadis itu mempunyai tempramen yang sedikit buruk,'' Ranty berucap lega.


''Kamu istirahatlah di kamarmu dahulu Lif, kami para orang tua akan mendiskusikan terlebih dahulu tentang pinanganmu pada Iren,'' Ranty menepuk bahu putranya, lalu berjalan kembali ke halaman belakang.


...》>β™§........*β™‘*........β™§<γ€Š...

__ADS_1


Disisi lain, saat ini Irena tengah sibuk menata-nata pupuk yang baru datang dua truk tadi pagi. Satu truk berisi pupuk kompos, satu truk lagi berisi pupuk Urea.


"Pah, kak Arsen kemana? Kok dari pagi Iren tidak melihatnya?'' Iren bertanya pada pak Bayu, karena sejak pagi ia tidak melihat kakaknya.


''Pagi-pagi sekali Arsen sudah kembali ke kota Ren, sebab ada beberapa pesanan yang harus diantar hari ini. Jadi kakakmu harus kembali dulu ke kota. Nanti kalau urusannya sudah selesai, kakakmu akan kembali lagi kesini,'' ucap pak Bayu.


''Walau tidak ada kak Arsen, kan masih ada aku disini kak,'' tiba-tiba Kenzo menimpali pembicaraan mereka sambil mengangkat sekarung pupuk kompos, setelah mendengar pertanyaan kakaknya.


''Iya..iya, ada kamu. Tapi cepat antarkan dulu ke pelanggan itu pupuknya, jangan sampai pelanggan marah karena kamu telat mengirimkannya,'' Iren mengingatkan kembali Kenzo supaya lekas mengantarkan pupuk pesanan pelanggannya. Karena beberapa minggu yang lalu, Kenzo sempat lupa memgantarkan pesanan pelanggan. Alhasil, Irena yang kena marah, karena Kenzo sudah kembali bekerja di kota.


''Iya..iya kak, ini Ken baru mau anterin,'' ucap Kenzo. Kenzo pun segera melajukan mobil baknya untuk segera mengantarkan barang-barang pesanan para pelanggan.


''Pah, menurut papa, bibi Ranty apakah akan memberikan restunya untuk kami pah?'' Iren tiba-tiba bertanya pada papanya.


''Papa juga kurang tahu nak, kamu berdoa saja supaya Ranty membukakan pintu hatinya untuk merestui hubungan kalian,'' ucap pak Bayu.


''Iya pah, semoga saja,'' tanpa sadar Iren berucap.


''Waah, sepertinya ada yang berharap bisa segera menikah dengan nak Alif ini,'' pak Bayu meledek putrinya hingga membuat pipi Irena bersemu merah menahan malu.


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


πŸ‘like


❀ pavorit

__ADS_1


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih


__ADS_2