Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 46: Demi kebaikan bersama


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...


''Wanita itu? Maksudmu Ren? Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang kau maksud mamaku? Ada apa dengan mamaku Ren?'' Ucap Gio yang menghentikan langkah Iren.


''Karena aku tidak ingin kamu sedih, lebih baik kamu tidak perlu tahu alasannya Gi, fokuslah dengan pekerjaanmu dan merawat mamamu. Aku yakin, suatu saat kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku Gi,'' ucap Iren tanpa menoleh kearah Gio.


''Tapi kamu adalah satu-satunya wanita terbaik bagiku Ren, aku yakin pasti ada alasan yang kuat sehingga kamu menolakku kan Ren? Kumohon, katakan yang sejujurnya Ren! Atau karena mamaku sakit makannya kamu keberatan? Aku bisa atur kembali jika kamu tidak ingin tinggal bersama mamaku Ren, aku bisa mencari pengasuh untuk merawat mamaku,'' Gio berdiri menghampiri Iren.


Iren menarik nafasnya dengan berat. Air matanya pun tak mampu lagi ia bendung. Sungguh ia tak ingin membuat Gio sedih dan merasa bersalah jika dia tahu kebenarannya. Iren akui, Gio adalah sosok laki-laki yang baik, dia selalu menghargai Iren selama ini. Namun ia tidak mau menjadikan rasa sakit dihatinya sebagai beban untuk Gio. Gio tidak tahu soal mamanya waktu itu, bahkan Gio sangat merasa bersalah saat menceritakan soal mamanya yang membuatnya hampir kehilangan nyawanya.


''Bukan karena itu Gi, aku memiliki alasan lain, mengapa aku tidak mau menerimamu. Kurahap kau mau mengerti, karena ini juga demi kebaikan kita Gi. Berteman juga bukanlah suatu hubungan yang buruk. Aku mohon, tolong mengertilah, dan jangan mencari tahu lagi soal apapun alasanku menolak kita berhubungan.'' Iren pun kemudian pergi meninggalkan Gio yang masih berdiri memandangi punggungnya yang mulai menghilang dibalik pintu.


Gio merasa ada yang tidak beres dengan Iren. Semenjak ia bercerita di tokonya waktu itu, bahkan sikapnya pun mulai berubah.


''Aku akan mencari tahu kebenarannya Ren, sebenarnya ada apa denganmu dan mama?'' Batin Gio, kemudian pergi dari toko Iren.


Iren sendiri saat ini tengah menangis dibalik pintu. Tangannya mencengkram kuat ujung bajunya. Bahkan kuku-kukunya sampai melukai telapak tangannya. Iren berusaha keras menekan emosinya. Ia tidak ingin jika sampai kehilangan kesabaran.


''Maafkan aku Gi. Jujur, aku juga sudah mulai merasa nyaman dengan kehadiranmu. Tapi maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku tidak mau jika nantinya dendam dan rasa sakit hatiku melukai perasaanmu. Aku tidak mau jika pada akhinya harus memberimu pilihan antara aku atau mamamu,'' batin Iren diantara isak tangisnya.


Setelah pulang, Gio berencana akan menemui Mira nanti sore. Ia berharap bisa mendapatkan petunjuk tentang masalahnya. Karena lusa ia harus segera kembali ke kota, maka ia harus segera mendapatkan jawaban atas pertanyaannya yang akan bisa membuat hatinya lega.


Namun saat Gio datang ke rumah Mira, dan menceritakan segalanya, ternyata Mira pun tidak tahu menahu soal masalah Iren dan mamanya Gio. Ternyata bukan hanya Gio yang menyadari perubahan sikap Iren. Namun Mira sebagai sahabatnya pun juga merasakannya.

__ADS_1


Setelah mereka bertemu di toko waktu lalu, Iren berubah lebih pendiam, bahkan terkadang Mira melihatnya sering tidak fokus. Mira takut jika kejadian dulu terulang kembali. Iren sudah mulai bangkit dan mulai menata hidupnya kembali. Mira tidak ingin Iren seperti dulu lagi, bahkan sampai kecanduan obat penenang.


''Aku juga penasaran mengapa sikapnya berubah sejak kamu bercerita tentang mamamu Gi, coba kau ingat-ingat kembali! Apa saja yang kau ceritakan, bisa jadi kita menemukan petunjuk untuk bisa mengetahui kebenarannya,'' ucap Mira.


Namun seberapa keras pun Gio mencoba mengingatnya, tetap saja ia tidak tahu bagian mana yang ia lewatkan, sehingga membuat sikap Irena berubah.


''Nanti kapan-kapan aku akan mencoba mengobrol dengan Iren, siapa tahu dia mau bercerita padaku. Bersabarlah dulu ya Gi, jika memang kau harus kembali ke kota dulu, maka kembalilah! Mamamu lah yang saat ini membutuhkan kehadiranmu. Nanti aku bisa mengabarimu jika aku sudah mendapatkan petunjuk atau mendapatkan jawaban dari Iren,'' ucap Mira.


''Baiklah Mir, aku kesini untuk meminta tolong tentang hal itu, juga sekalian mau pamit. Karena mamaku tadi pagi jatuh di kamar mandi. Jadi aku harus segera kembali malam ini juga,'' ucap Gio.


''Apa tidak bisa jika besok saja kamu kembalinya Gi? Bahaya malam-malam kamu menyetir sendirian. Kondisi jalan yang mengarah ke kota sedang rusak. Aku takut jika sampai terjadi apa-apa denganmu Gi,'' ucap Mira yang mengkhawatirkan temannya itu.


''Tenang saja Mir, pasienku meminjamkanku seorang sopir untuk menggantikanku menyetir nanti jika aku kelelahan. Kami bisa bergantian, Jadi kamu tidak usah khawatir padaku, yang terpenting kamu harus segera mengabariku jika sudah mendapatkan alasannya,'' setelah mengucapkan itu, Gio pun pamit pada Mira dan Dimas.


...¤~¤~¤~♡~¤~¤~¤...


Benar saja, toko Iren saat ini sedang ramai. Terlihat juga Iren kelelahan karena tidak ada yang membantunya, karena Kenzo sediri juga nggak cuti kerjanya. Otomatis Iren sendiri yang menghandle tokonya. Mira buru-buru menghampiri Iren. Ia menaruh putrinya dan memberikannya mainan.


''Hai Ren? Kau terlihat seperti baru kecemplung disumur Ren?'' Ledek Mira. Iren tersenyum menoleh kearah Mira. Namun tangannya masih sibuk melayani para pembeli.


Setelah mulai senggang pembeli, Iren duduk dan mengehela nafas di dekat Mura.


''Mami capek ya? Sini Mura pijitin,'' si kecil Mura pun berdiri dan mulai memijiti bahu Iren. Meskipun gak ada rasanya. Namun saat melihat senyum bocah kecil itu, membuat rasa pegal dan capek Iren seperti terbang seketika.

__ADS_1


''Waah enak sekali kau Ren, aku yang melahirkannya dengan susah payah, tapi kau yang malah dipijitin. Padahal aku saja yang mamanya tidak pernah,'' gerutu Mira lalu mencium pipi putrinya.


''Mama geli,'' Mura lari saat Mira mau menciumnya lagi.


''Isss, mentang-mentang di depan maminya, pura-pura gak mau dicium sama mama ya? Awas saja nanti kalau kamu minta gendong mama. Mama juga mau pergi berbelanja, nanti kamu di sini saja sama mamimu,'' ucap Mira yang pura-pura marah dan membelakangi putrinya.


''Nggak mau! Disini bau pup ayam,'' Mura menutup hidungnya. Iren dan Mira yang melihat tingkah bocah kecil itu pun tertawa terbahak-bahak. Mura yang merasa ditertawakan pun menjadi kesal dan cemberut. Lalu pergi bermain di ruangan dalam.


''Ren, aku ingin menanyakan sesuatu. Bisakah kita berbicara sebentar?'' Ucap Mira tiba-tiba.


''Tentang apa?'' Tanya Iren.


''Tentang Gio Ren,'' jawab Mira. Mendengar ucapan sahabatnya Iren pun mengangguk paham. Pasti sahabatnya akan bertanya tentang alasannya menolak pernyataan cintanya Gio.


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit

__ADS_1


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih


__ADS_2