
💮 Selamat Membaca, dan semoga sehat selalu 💮
''Nak, ibu dan ayah akan berpisah. Jadi kamu harus pikirkan akan ikut siapa nantinya.'' Ucap Ibunya.
DEG.....
Bak petir di siang bolong, entah kenapa masalah demi masalah datang bersamaan. Baru saja ia putus dari Dafa, tapi kini ia harus menerima kenyataan bahwa ayah dan ibunya akan berpisah. Iren tidak terlalu terkejut jika orang tuanya akan berpisah. Sebab akhir-akhir ini orang tuanya sering bertengkar karena kesibukan masing-masing dan jarang ada waktu untuk keluarga. Namun yang membuat Iren tidak menyangka jika orang tuanya akan berpisah secepat ini.
Karena melihat Iren yang diam saja namun matanya sudah dipenuhi dengan air mata, membuat Hafiz sedikit panik dan Khawatir.
''Ren, ada apa? Apa ada masalah di rumah?'' Tanya Hafiz. Tiba-tiba Iren menangis dengan kencang, sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Hafiz bermaksud untuk menepi dahulu, namun tidak terduga dari arah yang berlawanan ada sebuah mobil sedang melaju dengan sangat kencang. Hingga, tabrakan pun tak bisa terhindarkan. Iren tidak sadarkan diri, sedang Hafiz terluka cukup parah, sebab ia malah melindungi Iren dan mengunakan badannya untuk menutupi badan Iren dari tabrakan. Sehingga Hafiz yang terluka cukup parah.
Selama dua minggu Iren koma, kedua orang tuanya pun tidak ada yang menjenguknya. Sedangkan Hafiz, karena kecelakan, kedua kakinya pun menjadi lumpuh. Ia pun harus menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda. Setelah Iren sadar, Iren selalu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Hafiz.
flashback off
Alif terdiam setelah mendengar apa yang di ceritakan oleh Mira. Alif sengaja mencari Mira setelah ia mengantarkan Iren pulang. Tadinya Alif ingin menunggu sampai Iren sendiri yang bercerita. Tapi mengingat bagaimana sifat Iren, sepertinya meskipun langit runtuh juga dia nggak akan pernah mau bercerita.
''Jadi karena laki-laki brengsek itu yang membuat Iren menjadi seperti ini?'' Tanya Alif setelah ia terdiam cukup lama.
__ADS_1
''Aku juga kurang tahu kalau soal itu, bisa jadi juga karena perceraian orang tuanya. Aku saja yang sahabatnya tidak tahu menahu tentang Dafa. Aku hanya sering mendengar jika Iren punya pacar dan akan bertunangan dengan pria yang pernah menolongnya, yaitu Dafa. Aku terus mendesak kakakku untuk menceritakan apa yang terjadi pada Iren, baru aku tahu deh kejadiannya.''
''Dan apa kau tahu Lif, semenjak kecelakaan itu, Iren selalu menyalahkan dirinya hingga ia bersikeras ingin merawat kakakku sendiri. Kami sekeluarga tidak ada yang menyalahkannya. Karena itu mungkin memang sudah takdir dan kehendak dari Tuhan. Namun Iren tidak berpikir demikian, akhirnya Iren tinggal bersama kami untuk mengurus kakakku.''
''Kakakku sangat kasihan padanya, ia tidak ingin Iren menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk mengurusnya. Maka dari itu kakak meminta pindah ke luar negeri bersama ayah dan ibuku agar Iren bisa menikmati masa mudanya. Tapi setelah kepergian kakakku, ternyata Iren malah lebih memilih kembali ke desa ini,'' ucap Mira.
''Lalu, bagaimana Jils bisa tahu tentang pertunangan Irena?'' Tanya Alif.
''Setelah perceraian orang tuanya, ternyata papanya Iren menikah dengan adik dari ibunya Jils. Mungkin tantenya yang bercerita, makannya gadis sialan itu bisa tahu! Ingin sekali aku merobek mulutnya itu. Sumpah deh!'' Mira benar-benar ingin meluapkan emosinya. Tapi sayang sekali, suaminya selalu punya cara untuk membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
''Aku akan melindunginya Mir,'' ucap Alif spontan.
''Ha? Apa tadi kau bilang?'' Mira sebenarnya tahu jika Alif menyukai Iren. Ia juga mengira kalau Iren sebenarnya masih ada rasa untuk Alif. Dua orang yang masih saling mencintai, tapi mengapa takdir seakan mempermainkan cinta mereka.
''Sayang, Mura nangis nih!'' Teriak Dimas dari dalam.
''Yaaa! Aku sudah mendengarnya. Bahkan suara putrimu sampai ke Hongkong.'' Ucap Mira. Putrinya memang jika menangis sangatlah keras suaranya. Mira pun berpamitan pada Alif, dan berpesan agar Alif tidak membahas apapun tentang masa lalu Iren selama di kota.
...................
Keesokan harinya, Mira sudah sampai di depan rumah Iren. Namun rumah itu masih tertutup rapat pintunya.
__ADS_1
''Apa gadis itu belum bangun?'' Batin Mira. Ia pun kemudian mengetok pintu rumah itu. Namun setelah sekian lama mengetok, tidak terdengar jawaban apapun dan bahkan seperti tidak ada orang di dalam. Mira berusaha melihat dari balik jendela, Mira sangat terkejut saat melihat Iren tergeletak di lantai dekat perapian. Ia segera berusaha membuka pintunya sambil berteriak memanggil-manggil sahabatnya itu, namun tetap tak ada jawaban dan pintu juga tidak bisa terbuka. Sebab Iren menguncinya dari dalam. Untung saja Alif datang bersama para tukang. Alif bingung saat melihat Mira dalam keadaan panik.
''Apa yang sedang kau lakukan Mir? Kenapa kamu berteriak-teriak?'' Tanya Alif yang bingung melihat Mira dalam keadaan panik.
''Lif, tolong Iren Lif! Sepertinya Iren pingsan. Soalnya sejak tadi aku sudah memanggil-manggil namanya, namun ia sama sekali tidak bangun. Lihatlah dari jendela! Iren tergeletak di lantai!'' Ucap Mira.
Alif pun panik setelah melihatnya. Ia lalu meminta para tukang untuk membukakan pintunya. Setelah pintu berhasil dibuka, Alif segera menghampiri Iren dan ternyata benar, Irena tak sadarkan diri dengan beberapa botol obat yang berserakan di sampingnya.
''Apa yang terjadi pada Iren? setelah kau mengantarkannya. Apa semalam kalian bertengkar?'' Tanya Mira pada Alif.
''Tidak,'' kami tidak bertengkar sama sekali. Bahkan saat aku pulang, ia masih tersenyum dan baik-baik saja,'' ucap Alif.
''Gawat! Jangan-jangan...''
''Jangan-jangan apa Mir?'' Tanya Alif penasaran. Karena Mira tidak meneruskan ucapannya.
''Sebenarnya setelah kejadian itu, Iren mengalami trauma berat. Ia juga mengkonsumsi obat penenang. Kami sudah menemaninya untuk berkonsultasi sama dokter. Dan kata dokter, karena beberapa kejadian yang menimpa Irena, membuatnya mentalnya terguncang. Dan bisa Kapan saja kambuh. Tapi kami tidak menyangka, jika ternyata selama ini Iren selalu memendamnya sendiri. Kami kira penyakitnya sudah tidak kambuh lagi. Sebab Iren tidak pernah menampakkan gejala apapun dan bahkan ia tidak pernah bercerita apapun pada kami,'' ucap Mira.
''Alif pun dengan segera membawa Iren ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan. Panik dan khawatir jelas tergambar di wajah Alif dan Mira. Dokter sudah memeriksa keadaan Irena dan mengatakan Iren cuma butuh waktu untuk istirahat. Sepertinya ia sangat kelelahan dan terlalu memforsir pikirannya. Dokter juga berpesan agar jangan mengungkit apapun yang membuat pasien kambuh kembali.
Mira tidak bisa berlama-lama di rumah sakit. Sebab karena panik, tadi putrinya sampai dititipkan kepada para tukang. Mira pun pamit untuk pulang dulu. Sementara Alif yang menjaga Iren.
__ADS_1
''Mengapa kamu melakukan ini Ren? Aku harap, setelah ini kamu tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji, aku akan menjagamu, dan melindungimu. Mulai saat ini, aku tidak akan pernah membiarkan ada orang yang menyakitimu lagi. Ku harap kau segera bangun Ren.'' Batin Alif sambil menggenggam telapak tangan Iren.