
🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸
''Bahkan aku sendiri sampai lupa ulang tahunku,'' Iren tersenyum membaca surat dari kak Hafiz. Ini sungguh kejutan yang tak terduga, setelah sekian lama mereka berpisah. Bahkan Hafiz sengaja tidak pernah mau menerima telefonnya jika Iren menghubungi. Hanya lewat Mira saja Iren baru bisa dapat kabar dari Hafiz dan orang tuanya.
Tok...tok...tok
Terdengar suara ketokan keras dari arah pintu.
''Pasti Mira,'' Iren menaruh kembali kadonya ke dalam dus, dan menyimpan suratnya juga dilaci, lalu pergi ke depan untuk membukakan pintunya.
''Cekleek'' Pintu terbuka, namun tak terlihat ada orang sema sekali. ''Orang iseng mana lagi ini yang ngerjain aku selain Mira?'' Ucap Iren dan hendak menutup pintunya, namun sebuah tangan menahannya.
''Selamat ulang tahun Ren!'' Tiba-tiba Mira datang bersama suami dan anaknya. Dan juga Pak Bayu, Arsen dan Kenzo. Ternyata mereka sengaja datang lalu bersembunyi untuk memberikan kejutan pada Iren.
''Huwaaaaaaaa....'' Iren memasang ekspresi terkejut namun...
''Aku dah tahu pun!'' Ucap Iren lalu masuk begitu saja meninggalkan mereka.
''Haaaaaah...'' Mereka semua heran melihat sikap Iren yang sama sekali tidak merasa terkejut.
''Laaah kok bisa? Kan kamu nggak tahu kalau kami akan datang ke sini untuk memberimu kejutan?'' Mira masih penasaran mengapa Iren tidak terkejut, Mira mengikuti langkah Iren sambil menaruh Kue dan beberapa kado ke meja.
''Terimakasih, papa sudah mau datang ke sini. Iren kangen sekali sama papa.'' Iren memeluk pak Bayu. Pak Bayu tersenyum dan membalas pelukan putrinya itu.
''Tapi maafkan papamu Dani yang tidak bisa hadir, karena istrinya tadi pagi tiba-tiba sakit perut katanya,'' ucap pak Bayu lalu duduk disofa.
''Pasti alasan itu! Bibi dan keponakannya sama saja. Banyak alasan! Sama-sama licik! Mungkin dia sengaja berpura-pura sakit supaya paman Dani tidak bisa hadir di sini,'' Mira menggerutu mendengar alasan Dani yang tidak hadir di ulang tahun putrinya sendiri.
''Sudahlah Mir, lagi pula kan ada kalian saja aku sudah bahagia kok. Aku tidak mau berharap lebih sama papa. Papa sudah punya keluarga sendiri, pasti juga memiliki kesibukan sendiri dengan keluarganya Mir. Hari ini adalah hari spesial ku, jangan harap kau merusaknya dengan emosimu ya!'' Iren tersenyum memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
''Iya Mir, ini hari yang istimewa untuk Iren, jadi kita jangan merusaknya ya! Lebih baik ayo cepat mulai saja acaranya.'' Pak Bayu berdiri lagi lalu mengambil sebuah kantong yang berisi sebuah kotak kado untuk Iren.
''Selamat ulang tahun sayang, papa tidak bisa memberimu apa-apa,'' pak Bayu menyerahkan kotak kado tersebut. Iren menerimanya dengan senang hati.
''Terimakasih pah, la ini apa pa kalau bukan kado? Papa ini, padahal ngasih barang tapi masih bilang tidak bisa memberi apa-apa,'' Iren tersenyum memeluk bahu papanya.
''Hei, tuan muda Kenzo! Mana kado untukku?'' Iren berucap sambil menoleh ke arah Kenzo dan mengulurkan tangannya.
''Oiiii, mana ada kado minta! Kado itu niat dari hati yang memberi, bukan diminta!'' Ucap Kenzo yang sedang berusaha mengelak.
''Diih! Bilang saja nggak mau kasih kado. Aku juga dari tadi tidak lihat kamu bawa kado buat kakakmu,'' Mira meledek Kenzo hingga membuat Kenzo tak bisa lagi mengelak.
''Maaf deh kak, aku lupa kalau hari ini kakak ulang tahun. Kukira masih beberapa hari lagi. Jadinya pas kakak sama papa mengajakku ke sini aku nggak bawa apa-apa deh. Tapi tenang saja kak, aku tetap bawain kamu yang paling spesial,'' ucap Kenzo memegang kedua bahu kakaknya.
''Apa?'' Iren ingin tahu ide apa lagi yang akan di gunakan Kenzo supaya dia tidak kehilangan muka. Bahkan papa sama kakaknya juga menantikannya.
''Tentu saja doaku yang paling tulus untuk kakakku tersayang,'' Kenzo langsung lari setelah mengucapkan kalimat itu.
''Paman Ken!'' Tiba-tiba Mura memanggil Ken dan membuat Kenzo menghentikan langkahnya seketika.
''Ada apa sayangku? Apa kau rindu sama paman Ken mu ini ha?'' Kenzo mendekat dan berniat untuk menggendong Mura. Tapi Mura malah langsung menolaknya.
''Aku tidak mau digendong paman Ken! Aku maunya digendong paman tampan,'' ucap Mira dengan catis, membuat semua orang yang ada disitu tertawa mendengar celotehannya. Arsen lalu berdiri menghampiri Mura, lalu mengendongnya.
''Ooo, Mura mau digendong paman Arsen ya?'' Arsen tersenyum menggendong Mura.
''Hwleeeek....'' Mura membuka satu matanya mengunakan jarinya dan menjulurkan lidahnya meledek Kenzo.
''Awas kau ya Mura, Bisa-bisanya meledek paman Ken. Lihat saja nanti kalau paman Arsenmu tidak ada, siapa yang akan kau ajak bermain ha?'' ( Double Kill ) Mura mendelik mendengar ucapan Kenzo.
__ADS_1
"Paman tampan turunkan aku. Aku main saja sama paman Ken," Hahahahhaha... Semua tertawa melihat tingkah gemas Mura yang ketakutan kalau nanti tidak ditemani bermain sama paman Ken nya. Mereka pun melanjutkan acaranya.
...☆•<♡>♧<♡>•☆...
Keadaan Alif sudah mulai membaik setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit. Mama dan papanya memintanya untuk kembali ke kota, biar mamanya bisa merawatnya. Lagi pula Nadia juga sudah kerepotan sendiri dengan pekerjaan rumah, mengurus suami dan juga putranya yang masih kecil. Tapi Alif tidak mau, dan tetap ingin kembali ke rumah kakaknya.
''Aku tidak apa-apa mah, aku yakin aku bisa mengurus diriku sendiri,'' Alif berusaha meyakinkan keluarganya.
'' Ya sudah kalau begitu, tapi nanti kalau ada apa-apa langsung telepon mama ya Lif!'' ucap Ranty membelai rambut putranya itu.
''Tapi ngomong-ngomong, soal hubungannya dengan Denisha, nunggu Papanya sembuh dulu ya Lif? Nanti baru kita bicarakan lagi. Papanya sedang sakit, nanti kalau kamu ada waktu, kamu bisa menjenguknya kan? Biar bagaimanapun, dia tetap lah masih Papa mertuamu Lif,'' ucap Ranti menasehati putranya. Alif hanya mengangguk paham. Namun tidak terdengar jawaban apapun dari mulutnya.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Alif hendak kembali ke kamarnya. Namun saat ia hendak berjalan kearah kamar terdengar suara teriakan kakaknya dari arah dapur.
''Jangan mengunci diri lagi di kamar ya Lif? Awas nanti kalau kamu berani mengunci pintu mu lagi, aku akan mengambil kuncinya, aku buang pintumu lalu mengganti pintumu dengan horden saja!'' Ucap kakaknya mengancam Alif supaya tidak bertingkah macam-macam lagi.
''Iya..iya kak, Alif janji! Alif nggak akan ngunci pintunya lagi. Nih, kalau perlu kakak yang pegang kuncinya,'' Alif menaruh kunci pintu kamarnya di tangan Nadia, lalu berjalan kembali ke kamarnya.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
__ADS_1
Terimakasih