Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 48: Kedatangan yang tak terduga


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...


Karena musim penghujan, banyak pekerjaan yang tertunda. Tapi musim hujan ini sangat bagus untuk para petani menanam padi. Malah saat musim hujan begini, Iren kebanjiran orderan.


''Waah kalau hujan begini tokomu otomatis bakal tutup terus dong Ren?'' Mira berucap.


''Antarkan aku naik mobilmu ya? Aku nggak enak kalau nanti ada pembeli yang mencariku tapi toko belum buka,'' Iren merayu sahabatnya agar mau mengantarkannya.


''Kalau hujan begini mana ada yang datang ke tokomu Ren, para warga juga enggan pergi. Mereka saat ini pasti masih asyik didalam selimut,'' Tapi benar juga kata Mira, pas hujan begini pasti membuat kita malas untuk pergi kemana-mana, yang ada pengennya didalam selimut terus.


''Kau benar juga ya, tapi kalau ada yang nekat datang bagaimana?'' Iren masih merasa khawatir jika ada yang masih nekat datang untuk membeli sesuatu.


''Nggak ada. Percayalah,'' ucap Mira.


''Percaya padamu nanti musyrik,'' hahahaha ( suara Iren yang tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Mira memicingkan matanya seperti hendak bersiap untuk mencakarnya.)


Sambil menunggu hujan reda, Iren memilih membuat cemilan dibantu oleh Mira. Ada cilok goreng dan rebus. Ada pula lumpia. Mura sangat suka cilok dan lumpia, maka dari itu, Iren dan Mira sering membuatnya. Di musim begini, mereka akan membuatkannya kuah hangat, jadi terasa nikmat saat dinikmati di musim hujan.


Hujan mulai reda, Iren dan Mira bersiap-siap hendak pergi ke toko. Dan benar saja, saat baru sampai, terlihat sudah banyak orang yang menunggunya. Ada yang berdiri sambil mengobrol, ada juga yang duduk-duduk di emperan toko.


''Maaf ya pak buk, tadi hujan deras, jadinya saya menunggu reda dulu baru kesini,'' ucap Iren sambil membuka pintu tokonya.


''Iya mbak, nggak papa. Memang musimnya saja lagi begini. Tadi saja saya mau langsung kesini untuk membeli pupuk, karena mau langsung dibawa ke sawah. Tapi karena hujan, jadinya tertunda semua mbak,'' ucap salah satu pembeli.


''Kan bener kata bapaknya, Iren tu dari tadi dah mondar-mandir kaya setrikaan pak, mikirin kalau nanti ada yang datang ke tokonya tapi dia nggak ada. Padahal aku dah bilang dari tadi, hujan-hujan beginj orang akan malas kluar. Terkecuali kepepet. Iya kak pak?'' Ucap Mira.


''Bener itu mbak Mira. Saya saja kalau tidak pas musimnya mupuk padi, mana mau saya hujan-hujanan begini,'' ucap bapak itu lagi.


Iren pun langsung segera melayani para pembeli dibantu oleh Mira.


''Mama Mura mau bantu,'' ucap Mura yang menghampiri mereka.


''Eeeeh neng Mura, duduk aja atuh neng, nanti kecapean,'' ucap salah satu ibu-ibu pembeli.

__ADS_1


''Iya bu, Mura memang sukanya jalan-jalan lari-lari, gak mau anteng. Padahal kalau malam nangis kecapean. Katanya pegelah kakinya atau pusing lah, jadi bingung mikirinnya bu,'' ucap Mira.


''Anak kecil memang sukanya gitu mbak, cucu saya juga gitu, lari-lari. Apa lagi pas musim hujan begini, malah senengnya pool main air. Habis itu masuk angin mbak,'' ucap ibu-ibu itu.


''Walaaah, kalau anak saya malah gak suka becek-becekan bu, cumu ya itu, suka lari-lari sama sering minta jajan bu,'' ucap Mira. Dan obrolan mereka terhenti, karena ibu-ibu itu sudah selesai belanjanya.


Tanpa terasa sore telah tiba, terlihat langit mulai mendung kembali.


''Ayok Mir kita pulang dulu, nanti keburu hujan,'' Iren berucap sambil membereskan barang-barangnya. Mira segera menggendong putrinya. Mereka pun segera masuk mobil, sebab hujan dah mulai turun.


Sampai di halaman rumah Iren, terlihat ada sebuah mobil yang tak asing. Iren dan Mira segera turun dan berlari menuju rumah. Namun langkah Iren terhenti saat melihat sosok seseorang yang tidak ingin ia lihat sama sekali. Bahkan tanpa terasa bajunya kini sudah basah kuyup.


''Kenapa berhenti Ren?'' Tanya Mira yang belum melihat sosok seseorang itu.


Namun Iren tidak menjawabnya, pandangannya lurus menatap kedepan. Dan kedua tangannya terlihat mengepal memegang erat ujung bajunya. Mira pun menoleh ke arah Iren memandang.


''Gio?'' Mira segera membawa putrinya untuk masuk kedalam rumah, lalu keluar lagi menggampiri Iren yang masih berdiri di tempatnya dari tadi.


Iren berjalan perlahan menuju rumahnya, namun pandangannya masih menatap lekat sosok wanita yang saat ini tengah duduk dikursi roda.


''Ren, maafkan aku yang datang tiba-tiba. Aku juga membawa mamaku untuk kuperkenalkan padamu. Aku yakin, diantara kalian pasti ada kesalah pahaman Ren, aku ingin kita bisa menyelesaikan masalah kita,'' ucap Gio memegang tangan Irena.


Iren menutup kedua matanya, perlahan ia buka kembali. Mata mereka salaing menatap, namun bibir mereka masih terkunci membisu, baik Irena maupun mamanya Gio. Iren kemudian melepaskan genggaman tangan Gio.


''Lebih baik kamu bawa mamamu pulang Gi,'' ucap Iren.


''Ren, aku sungguh-sungguh sangat mencintaimu Ren, aku ingin kita bisa bersatu. Maka dari itu aku membawa mamaku untuk datang kesini, supaya kita bisa menyelesaikan kesalah pahaman ini,'' ucap Gio.


Mira berusaha memberi kode pada Gio dengan menggelengkan kepalanya. Mira berharap Gio bisa mengerti untuk jangan membahas masalah itu lagi. Namun sepertinya Gio sama sekali tidak melihatnya.


Iren tersenyum, namun dari sorot matanya seakan penuh dengan hunusan pedang.


''Salah paham?'' Ucap Iren. Gio pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


''Kau bisa tanya kepada mamamu, apa masalah yang terjadi pada keluarga ku itu hanyalah salah paham!'' Iren berkata dengan nada yang tinggi. Gio menoleh ke arah mamanya yang saat ini hanya bisa diam terisak. Baru kali ini ia mendengar Iren berkata dengan nada yang tinggi.


''Sudahlah nak, lebih baik kita pulang,'' ucap Eva mamanya Gio. Mendengar ucapan Eva, Iren tersenyum sinis kearahmya.


''Ternyata kau sama sekali tidak berubah ya, apa kau tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada putramu! Atau kau takut, aku membalas semua perbuatanmu pada putramu, sehingga kau langsung mengajaknya pulang.'' Iren berjalan menghampiri Eva.


''Ren! Kenapa kamu berbicara seperti itu pada mamaku? Kita bisa duduk bersama dan bicara baik kan Ren?'' Ucap Gio yang masih berusaha menenangkan Iren. Namun Irena hanya menjawabnya dengan senyuman sinis.


''Biarkan nak, ini semua salah mama. Mama yang salah pada Iren dan keluarganya nak, mama pantas mendapatkannya,'' ucap Eva. Air matanya pun mengalir membasahi pipinya.


''Cukup! Aku sudah muak mendengar ocehanmu wanita sialan! Jika kau tidak ingin putramu tahu segalanya, maka ajak pergi putramu dari sini!'' Teriak Iren.


''Ren!'' Gio tidak bisa berkata apa-apa lagi, namun ia ingin masalah ini cepat selesai meskipun ia tak tahu apa masalah sebenarnya.


Mira memegang tangan Iren, ia sendiri sudah tahu masalah Iren dari kakaknya. Karena Iren tidak ingin bercerita, akhirnya ia pun menelfon kakaknya untuk mencari tahu.


''Nak, saya tahu saya banyak salah sama kamu, walaupun kata-kata maafku tidak akan pernah mengubah kenyataan tapi....'' Belum selesai bicara Iren langsung memotongnya.


''Kau tahu jelas kata maaf tidak akan mengubah kenyataan, lalu kenapa.....


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2