
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Apa Alif benar-benar datang ke rumahmu hari ini Ren?'' Tanya Mira. Dan benar saja dugaan Iren, pasti soal Alif.
''Iya,''jawab Iren. Tapi....
''Wait a minute....'' Dari mana kau tahu kalau Alif datang kesini?'' Iren baru menyadari kalau ternyata Mira tahu tentang kedatangan Alif. Namun Mira belum juga menjawab pertanyaan Irena.
''Jangan-jangan kau dan Dimas sudah tahu juga maksud kedatangan Alif? Iya kan?'' Irena menebak dengan nada sedikit meninggi hingga membuat Kenzo berteriak terkejut, karena kamarnya bersebelahan dengan kamar Irena.
''Apa perlu kupinjamkan TOA sekalian kak!'' Sindir Kenzo dari kamar sebelah.
''Tuh kan adikmu jadi terganggu dengan suaramu. Makannya kalau ngomong jangan keras-keras! Telingaku saja sampai sakit mendengarmu berteriak,'' Mira berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Iren tidak menebak-nebak lagi. Namun sepertinya harapan Mira hanyalah tinggal harapan saja. Karena...
''Jangan mengalihkan pembicaraan kita tadi ya! Kau dan Dimas tahu segalanya tentang kedatangan Alif bukan? Ayo jawab! Kau ini sebenarnya sahabatku atau sahabatnya Alif sih Mir? Mentang-mentang Dimas sahabatnya Alif, kau pun jadi ikut-ikutan gitu mendukung mereka dan tidak mendukungku,'' Irena berucap dengan nada seperti orang mengambek.
''Bukan begitu Ren, hanya saja kan aku juga bisa merasakan kalau kalian itu masih saling mencintai,'' ucap Mira.
''Kalau begitu kamu harus menjelaskan yang sebenarnya. Kalau kau tidak mau menjelaskannya, jangan menemuiku lagi, dan jangan menelfonku lagi,'' Irena harus mengancam Mira terlebih dahulu jika ingin Mira mau berterus terang.
''Iya..iya, baiklah aku mengaku. Jujur, aku dan Dimas memang tahu maksud kedatangan Alif, karena Alif saat berencana datang ke rumahmu, dia masih ada disini bersama suamiku. Bisa dibilang kami yang berusaha keras membantu Alif agar mempersatukan cinta kalian,'' Mira pun mengatakan segalanya, bahkan saat bagaimana ketakutan Alif, jika sampai Irena salah paham dengan pembicaraan mereka kemaren.
''Jadi, terimalah niat baiknya Ren, aku yakin dan percaya bahwa kalian sebenarnya masih saling mencintai bukan? Aku tahu, Alif memang pernah menikah sih, aku juga tahu keraguan dalam hatimu tentang hatinya Alif. Tapi aku percaya dan yakin 100% kalau Alif masih sangat mencintaimu Ren,'' Ucap Mira. Mira berharap Irena mau membuka kembali pintu hatinya.
''Saling mencintai saja itu tidaklah cukup Mir, apalagi saat harus berhadapan dengan restu seorang ibu. Kau tahu sendiri bukan, bagaimana sifat dan sikapnya bibi Ranty dulu padaku? Aku hanya takut kejadian yang lalu terulang kembali. Aku tidak berani mempunyai harapan besar padanya Mir,'' Iren menundukkan kepalanya, tanpa terasa air matanya sudah membasahi pipinya.
''Jangan pesimis dulu dong, kamu harus kuat, kamu harus punya keyakinan pada Alif. Aku percaya Alif bisa mendapatkan restu dari mamanya! Jika sampai bi Ranty masih keras kepala, nanti biar aku mutilasi saja! Kupotong-potong jari-jarinya lalu kulempar ke sungai biar dimakan sama buaya!'' Ucap Mira. Iren yang mendengar ucapan sahabatnya itu pun tertawa terbahak-bahak.
''Kau ini seperti psikopat saja, hahahaha... tahu nggak Mir, kemaren aku juga dikatain psikopat sama Kenzo. Eh sekarang kamu juga gitu, ternyata kita benar-benar pasangan sahabat psikopat,'' Iren dan Mira pun tertawa terpingkal-pingkal menertawakan tingkah mereka. Bahkan hingga larut malam sampai ketiduran mereka lupa mematikan sambungan telefonnya.
__ADS_1
...........~¤♡¤°☆°¤♡¤~...........
Disisi lain...
Pagi-pagi sekali Alif sudah memanasi mesin motornya. Kakak dan kakak iparnya juga keponakan tidak ada di rumah, mereka sedang menginap di rumah orang tuanya di kota. Alif berencana akan pulang juga menyusul kakaknya, sekalian ingin membicarakan soal rencananya yang ingin meminang Irena.
''Kakak mau kemana pagi-pagi sudah menstater motor kakak?'' Oliv bertanya pada kakaknya. Sebab jika kakaknya pergi, ia sendirian di rumah.
''Kakak mau menyusul kak Nadia, sekalian ada hal penting yang harus kakak bicarakan sama mama papa,'' Alif berkata sambil memakai jaketnya.
''Laaah...'' Kok aku ditinggal sendirian? Aku ikuuuuut...'' Oliv merengek karena hendak ditinggal oleh kakaknya.
''Kau dirumah saja sebentar ya? Setelah kakak bicara sama mama papa dan kakak, kakak akan langsung pulang. Jika kamu ikut, bagaimana dengan toko kak Nadia? Kan kamu disuruh jaga selama kak Nadia nggak di rumah,'' Alif berusaha memberi pengertian kepada adiknya. Namun tak berapa lama, Mira datang menghampiri mereka.
''Biar Oliv sama aku Lif, tapi kalau disini aku juga nggak bisa, soalnya aku mau ikut suamiku ke rumah makan. Bagaimana jika tokonya ditutup dulu sementara, sampai kamu pulang. Dan Oliv aku ajak ke tempat kerja suamiku, bagaimana?'' Ucap Mira.
''Bilang saja Oliv kau suruh untuk menjaga Mura, iya kan?'' Alif menebak isi pikiran Mira.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Alif sampai di halaman rumah orang tuanya. Terlihat kakak dan kakak iparnya sedang bermain dengan keponakannya.
''Looh Lif! Kamu kesini kok nggak bilang-bilang? Tahu gitu kan kita bisa bareng,'' ucap Nadia yang terkejut saat melihat adiknya sedang memarkirkan motornya di halaman.
''Mama dimana kak?'' ucap Alif.
''Ada di dalam sedang masak. Kenapa kelihatannya kamu sedang buru-buru Lif?'' Nadia sedikit bingung karena melihat adiknya yang sedang buru-buru masuk untuk bertemu dengan mamanya.
''Nanti kita bicara lagi kak! Aku mau cari mama dulu.'' Teriak Alif yang berlari masuk ke dalam rumah. Bahkan suaranya sudah tidak terdengar lagi oleh Nadia.
''Mungkin ada hal penting yang mau dibicarakan sama mama Dek,'' ucap Iman pada istrinya. Iman Bagus Saputra nama suaminya Nadia. Mereka pun melanjutkan kegiatan mereka tadi.
Di dalam...
__ADS_1
''Mama!...mama!'' Alif berteriak memanggil-manggil mamanya, karena di dapur ia tidak menemukan keberadaan mamanya.
''Ada apa sih Lif, kamu itu datang-datang teriak-teriak,'' mendengar panggilan putranya, Ranty pun menghampiri putranya.
''Ada hal penting yang ingin Alif bicarakan sama mama dan papa,'' ucap Alif. Ranty pun mengajak putranya untuk pergi ke halaman belakang. Disana ada papa dan ayahnya juga. Ternyata mereka sedang mengobrol sambil membakar daging. Sepertinya ada acara makan-makan.
''Ayah juga ada disini?'' Ucap Alif setelah sampai di hadapan ayah dan papanya.
''Iya, kebetulan ayahmu datang mengantarkan barang untukmu. Katanya oleh-oleh dari pamanmu yang kebetulan baru pulang dari LN,'' Ranty menjelaskan karena melihat kebingungan putranya.
''Kebetulan kalau begitu,'' ucapan Alif membuat para orang tua sedikit bingung.
''Alif datang karena mau meminta restu kepada mama, papa dan ayah. Alif ingin melamar Iren,'' ucap Alif.
Mendengar ucapan putranya, mata Ranty langsung membulat dengan sempurna. Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan halaman belakang, membuat Alif dan juga kedua ayahnya sedikit terkejut. Alif takut jika mamanya belum merestui keinginanya tapi....
''Nadia..! Nad!'' Teriak Ranty yang memanggil-manggil nama Nadia. Alif dan pun mengikuti mamanya. Ia takut kalau mamanya akan memarahi kakaknya lagi tapi langkahnya berhenti seketika ketika mendengar mamanya berkata...
''Nad, ayo antarkan mama berbelanja kebutuhan lamaran. Adikmu mau melamar kekasihnya. Ayo Nad!'' Ucap Ranty sambil memegang tangan Nadia. Nadia yang mendengar ucapan mamanya pun ikut bahagia, ia melihat raut wajah adiknya yang jelas terlukis kebahagian .
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
__ADS_1
Terimakasih