
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Kenapa mama dan mami Rena menangis? Apa ada yang sakit?'' Ucap Mura dengan suara yang menggemaskan.
Mendengar suara Mura, Iren dan Mira segera menghapus air matanya, lalu tersenyum ke arah bocah kecil itu.
''Iya nih Ra, mamimu Iren terluka saat memasak tadi,'' ucap Mira yang mencoba membohongi putrinya itu.
''Memasak? Bukankah kita baru pulang dari toko mam? Kapan mami memasak?'' Mura bertanya sambil menggaruk-garuk bagian kepala atas telinganya, sambil berusaha mengingatnya. Mira yang melihat ekpresi putrinya pun langsung tertawa terbahak-bahak. Putrinya ini sungguh menggemaskan.
''Sudahlah, jangan banyak berpikir lagi. Ayo sekarang Mura mandi,'' Mira berdiri dan juga menarik Iren supaya duduk saja di Sofa. Mira kemudian pergi membawa Mura untuk dimandikannya.
''Ra, kalau malam ini kita menginap dirumah mami kamu mau nggak?'' Ucap Mira disela-sela menyabuni putrinya. Mira khawatir dengan keadaan Iren. Ia tidak tega meninggalkan Iren sendirian dalam keadaan seperti ini. Dan lagi, kalau ada Mura, paling tidak akan ramai dengan tingkah bocah menggemaskan ini.
''Tapi mama, kalau kita menginap di rumah mami, bagaimana dengan papa nanti? Papa sendirian kan? Kasihan nanti papa,'' ucap si kecil Mura.
''Papa nggak apa-apa sendirian. Papa kan cowok sayang, papa kuat dan papa berani. Kamu tadi lihat kan mamimu Rena? Dia lagi sedih lo,'' Mira berusaha membujuk putrinya supaya mau di ajak menginap di rumah Iren.
''Memangnya mami Rena takut sendirian ya mama?'' Ucap Mura. Mendengar pertanyaan putrinya, Mira menepuk jidatnya.
''Astaga bocah ini,'' batinnya.
''Bukan begitu sayang, tapi saat ini kita tidak bisa meninggalkan mami sendirian. Mami sedang sedih, jadi kita harus menghiburnya, iya kan?'' Mira berkata sambil mengelus-elus kepala Mura.
''Tapi, papa bagaimana ma?'' Mura masih memikirkan papanya yang akan sendirian jika ia dan mamanya menginap di sini.
''Papa tidak apa-apa sendirian, mami sudah menghubunginya tadi,'' ucap Mira meyakinkan putrinya.
Wajah Mura masih diselimuti kebingungan, namun akhirnya ia pun juga berkata...
''Baiklah mam,'' ucap Mura. Mendengar jawaban putrinya yang setuju, Mira pun mencium pipi putrinya kanan dan kiri.
Setelah Mura selesai mandi, mamanya menyuruhnya untuk menemani maminya Rena. Sedangkan Mira, ia akan menelfon suaminya. Tadi katanya sudah, padahal belum, hedeeh....
Disisi lain, setelah menerima telefon dari istrinya, Dimas menghela nafas panjang.
__ADS_1
''Kau kenapa Dim?'' Tanya Alif. Rupanya saat ini Dimas dan Alif sedang bersama. Mereka sedang membereskan barang-barang yang akan dibawa ke rumah makan milik Dimas. Sebenarnya Alif salah satu suplayer juga di rumah makan Dimas. Kakaknya Nadia, selain mempunyai toko sembako, tapi juga membuat cemilan-cemilan ringan. Dimas sering memesannya untuk ditaruh di meja-meja pelanggan. Dan Alif lah yang dapat bagian untuk mengantarkannya.
''Istriku mau menginap di rumah Iren,'' jawabnya dengan ekspresi yang lesu. Alif yang melihatnya pun tersenyum.
''Kenapa? Apa kamu takut tidur sendirian? Atau takut gak bisa tidur karena nggak dapat jatah?'' Alif tertawa meledek puas Dimas.
''Kau ini ya, mentang-mentang sudah pisah, meledekku. Aku itu nggak bisa jauh dari istriku tahu.'' Dimas berucap dengan kesal. Namun tak lama kemudian terdengar suara...
Tiiing.... ( sebuah pesan chat masuk )
Dimas pun segera membacanya. Namun setelah selesai membaca pesan tersebut, terlihat raut wajahnya yang berubah. Alif mengernyitkan dahinya.
''Kenapa? Apa Mira nggak jadi menginap?'' Tanya Alif.
''Bukan, tapi karena Iren hari ini kedatangan tamu yang tak terduga,'' jawaban Dimas membuat Alif semakin bingung.
Alif : ''Tamu?''
''Iya, dan gara-gara tamunya itu, suasana hatinya Iren menjadi kacau. Jadi Mira sengaja meninap di rumahnya karena khawatir dengan kondiri Iren,'' jawab Dimas.
''Bukan orang yang kau pikirkan! Tapi mantan pacar papanya,'' Dimas berkata dengan ekspresi wajah yang kesal. Tadinya Alif berpikir kalau tamu itu adalah Danisha dan Jils yang mencari gara-gara.
''Mantan pacar paman Dani?'' Alif bingung karena sama sekali tidak tahu menahu soal hubungan terlarang papanya Iren.
''Dulu setelah mereka pindah ke kota, papanya bekerja di kantor dan memiliki seorang asisten perempuan. Dan gara-gara asistennya itu, mama dan papanya Iren sering bertengkar. Awalnya Iren mengira orang tuanya bertengkar karena kesibukan masing-masing dan kurangnya komunikasi sehingga sering terjadi pertengkaran itu. Namun saat ia tak sengaja tahu penyebab sebenarnya, yaitu saat ia pulang sekolah. Karena papanya tak kunjung menjemputnya ia pun naik bus dan mendatangi kantor papanya. Disana dia melihat papanya sedang bercumbu mesra dengan asistennya itu, mereka sempat bertengkar hingga menyebabkan Iren berlari pergi meninggalkan kantor papanya. Namun saat di jalan ia tak sengaja tertabrak sebuah mobil yang hampir merenggut nyawanya. Waktu itu Iren koma dua minggu.'' Dimas menjeda ceritanya.
Tatapan Alif berubah sendu setelah mendengar cerita tentang Iren sewaktu tinggal di kota.
''Dan apa kau tahu siapa asisten wanita itu Lif?'' ( Alif masih diam mendengarkan ) ''Wanita itu adalah mamanya Gio. Tadinya Gio sengaja datang dan membawa mamanya untuk menyelesaikan kesalah pahaman diantara mereka. Gio berpikir kalau mamanya dan Iren ada salah paham. Karena beberapa hari yang lalu ia di tolak cintanya oleh Iren.'' Dimas membuang nafas.
''Ditolak? Apa Irena sudah tahu sejak awal?'' Tanya Alif.
''Tidak. Ia baru tahu saat Gio bercerita tentang mamanya saat di tokonya waktu itu,'' ucap Dimas.
''Apa Gio tidak tahu masalah masa lalunya mamanya?'' Alif mulai sedikit mengerti. Tapi ia merasa penasaran apakah Gio tahu tentang masa lalu mamanya atau tidak.
''Gio sama sekali tidak tahu, makanya dia syok setelah tahu kebenarannya,'' ucap Dimas.
__ADS_1
''Padahal tadinya aku dan Mira mau menjodohkan mereka. Sebenarnya Gio itu laki-laki yang baik, dan dia tulus mencintai Iren. Tapi... karena masa lalu mamanya, sepertinya Gio harus mengubur dalam-dalam perasaanya itu.
Alif menundukkan kepalanya. Ternyata Gio juga mencintai Iren, meskipun belum pernah mengobrol secara langsung, tapi Alif tahu kalau Gio adalah laki-laki yang tulus juga.
''Kenapa kamu?'' Dimas bertanya pada Alif saat melihat ekpresi Alif yang berubah sendu.
''Tenang saja Lif, meskipun Gio baik dan tulus mencintai Iren, tapi aku yakin, mereka bukanlah jodoh yang di takdirkan oleh Tuhan. Jadi, semangatlah! Kejar kembali cintanya Iren,'' ucap Dimas sambil menepuk bahu Alif.
Alif hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu.
..............♡...........
Pukul 02.30, Iren terlihat buru-buru keluar dari rumah dan menutup pintunya. Sebab dia tadi mendapat telefon dari salah satu pelanggannya yang saat ini sudah berada di tokonya. Pelanggannya memesan beberapa karung pupuk yang akan segera dikirim ke ladang pagi harinya. Jadinya Iren harus bangun pagi-pagi untuk segera ke tokonya. Sedangkan Mira masi tidur dengan putrinya.
Setelah selesai melayani pembelinya, Iren hendak pulang kembali ke rumah, karena hari masih gelap. Lumayan kan lanjutin tidur lagi hehehe.
''Nak Iren....''
Mendengar panggilan suara itu, membuat Iren mengehentikan langkahnya. Ia pun membalikkan badan untuk melihat sang pemilik suara. Namun setelah melihatnya, Iren diam membisu....
.....
Kira-kira siapa ya yang datang menemui Iren?
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih
__ADS_1