Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 87: Hasil penyelidikan


__ADS_3

🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸


Bayu pulang kembali kerumah dengan Arsen. Wajahnya tampak lesu dan penuh dengan guratan-guratan kekhawatiran. Bahkan Bayu terkejut saat tiba-tiba Arsen menghentikan mobilnya setelah sampai di rumah.


''Pah, Arsen tahu papa mengkhawatirkan Iren. Tapi papa juga tidak boleh terlalu banyak pikiran. Arsen tidak mau papa jatuh sakit nantinya. Biar nanti Arsen yang pelan-pelan berbicara dengan Iren,'' ucap Arsen saat melihat papanya termenung.


Bayu tidak menjawab ucapan putranya. Ia malah menghela nafasnya.


''Ayo turun pah, Iren, Alif dan Kenzo pasti sudah menunggu kita sedari tadi. ''


Arsen membukakan pintu mobil tempat papanya duduk.


''Ar, jangan bicarakan apapun pada adikmu sebelum pihak polisi memberikan keterangan yang akurat. Untuk sementara, tolong jangan membahas apapun tentang masalah ini ya?'' Ucap Bayu sambil menepuk pundak Arsen.


''Baik pah, Arsen tidak akan bicara apapun tentang masalah ini. Sekarang kita masuk dulu ya,''


Bayu pun mengangguk dan segera turun dari mobil. Di pintu, ternyata Irena sudah menunggunya sambil bersender di daun pintu.


''Mana ooleh-olehku?'' Irena mengulurkan tangannya.


''Oleh-oleh apa?''

__ADS_1


Arsen kebingungan saat melihat adiknya tiba-tiba sudah menunggunya di pintu dan mengulurkan tangan meminta oleh-oleh.


''Kata Kenzo, kakak dan papa pergi membeli martabak. Tapi.....''


Irena celingukan mencari-cari plastik martabak. Namun Arsen dan papanya tidak terlihat membawa apapun.


''Ooooo....'' Martabaknya habis. Iya kan pah?'' Kilah Arsen sambil memberikan kode mata kepada papanya. Bayu yang mendapat kode dari putranya, langsung paham dan mengiyakannya.


''Ayo masuk saja. Papa sudah kelaparan,'' Bayu mendorong pelan pundak Irena untuk mengalihkan pembicaraan.


''Yaaaah... Nggak ada martabak. Padahal tadi aku sudah menghayalkannya. Hujan-hujan begini tuh paling enak makan martabak. Apa lagi martabak telor. ''Uummm.... pasti enak sekali,'' ucap Irena. Terlihat ia menelan ludahnya seperti benar-benar membayangkannya.


Pak Bayu dan Arsen menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.


Setelah melakukan berbagai pemeriksaan Lidiya di vonis memiliki penyakit mental. Dan ia juga memberikan keterangan-keterangan acak tentang permasalahannya dengan keluarganya dan juga suaminya_ Dani selama ini. Polisi juga mendapatkan petunjuk beberapa rekaman suara dan vidio. Termasuk dari rekaman CCTV.


Lidiya sudah ditempatkan di rumah sakit jiwa dengan pengamanan yang cukup ketat karena cukup membahayakan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ternyata bukan hanya Dani saja yang menjadi korbannya. Bahkan orang tua kandungnya sendiri, juga Lidiya yang menghabisinya dengan memberikannya racun tikus di makanan dan minuman orang tuanya.


''Bagaimana ini pah? Apakah kita akan tetap diam saja dan tidak memberitahukannya pada Iren tentang masalah ini? Arsen rasa,Irena juga berhak mengetahuinya pah.''


''Papa tahu Ar. Tapi melihat keadaan adikmu sekarang ini, Papa benar-benar tidak tega mengatakannya. Papa takut, papa takut akan mempengaruhi kesehatan adikmu. Kita sudah susah payah membawa Adikmu ke kota dan membantunya melupakan kesedihannya. Jika kita memberitahukannya....''

__ADS_1


Arsen merangkul pundak papanya. Ia tahu betul bagaimana kekhawatiran papanya pada adiknya itu. Meskipun tidak ada hubungan darah, tapi papanya benar-benar tulus menyayangi Irena dan menganggapnya sebagai anak keduanya sendiri.


Dan tanpa mereka sadari, Irena sudah mendengarkan semuanya dari balik dinding belakang mereka. Tadinya Iren akan mengantarkan minuman dan cemilan sore untuk papa dan kakaknya. Namun saat ia sampai di belakang dinding tempat kakak dan papanya duduk, ia malah mendengar papanya sedang berbicara dengan seseorang yang terdengar seperti seorang polisi.


Irena menghentikan langkahnya, dan mencoba ikut mendengarkannya. Air matanya langsung jatuh seketika saat ia mengetahui tentang kematian papanya_ Dani.


Tangannya mendekap mulutnya hingga air mata membasahi pipinya. Ia sungguh tidak menyangka ada sebab dibalik kematian papanya.


-


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2