
💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮
''Jika kakakku tahu aku berpergian dengan seorang pria, pasti dia akan mengamuk,'' entahlah apa yang sedang dikatakan oleh Irena, tapi yang pasti ia sedang berusaha mencairkan suasana. Karena selama perjalanan dari rumah menuju tempat kerjanya pak Bayu, suasananya seperti sedang mengheningkan cipta.
''Haah...'' Alif menoleh ke arah Irena karena kurang mendengar apa yang dikatakan oleh Irena.
''Hehehe... bukan apa-apa kok, aku hanya bilang, kemungkinan kakakku akan merah kalau sampai ia tahu kalau aku sedang berpergian dengan seorang pria,'' ucap Iren.
''Ooo...kakakmu yang sedang pergi itu ya, kak Arsen ya kalau nggak salah namanya,'' Irena menangguk mengiyakan ucapan Alif.
''Tapi mungkin yang lebih parah marahnya kak Hafiz, kakaknya Mira, kamu tahu kan?'' ( Alif mengangguk.) "Kak Arsen sama kak Hafiz itu sahabatan dari TK sampai kuliah. Meskipun kami tak sedarah, tapi rasa tanggung jawabnya sebagai seorang kakak tak dapat diragukannya lagi," ucap Iren. Alif masih setia mendengarkan Irena bercerita. Karena jarang-jarang Irena bisa berbicara cukup banyak padanya.
"Meskipun aku anak tunggal, tapi aku malah sama sekali tidak dekat dengan orang tua ku. Bahkan saat mereka masih bersama saja, mereka lebih mengutamakan pekerjaan mereka. Jika dibandingkan, mungkin aku lebih dekat dengan keluarga Mira yang sudah seperti keluargaku sendiri. Apa lagi setelah Mama papaku bercerai, mereka tambah seakan jauh dariku. Meskipun begitu, tapi keluarga papa Bayu juga sangat baik padaku. Seperti kak Arsen dan Kenzo, mereka menganggapku seperti anak dan saudara mereka sendiri, meskipun hubungan kami sebatas anak dan saudara tiri."
"Namun setelah aku tahu kebenarannya di masa lalu aku mulai dekat lagi dengan mamaku walau bisa dikatakan terlambat. Karena kebersamaan kami yang benar-benar Full hanya berselang dua bulan saja." Irena menunduk mengingat saat-saat terakhir kebersamaannya bersama mamanya. Alif menepuk pelan pundak Irena.
''Setidaknya mamamu benar-benar menyayangimu,'' ucap Alif tiba-tiba. Irena mendongakkan kepalanya untuk melihat ekspresi Alif. Pandangannya lurus kedepan, sorot matanya seakan banyak menyimpan kesedihan. Selama ini mamanya selalu mementingkan ego, harta dan harga diri. Tidak pernah peduli dengan perasaan anaknya sendiri, apa lagi dengan orang lain. menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya meskipun harus mengorbankan kebahagiaan suami dan anaknya sendiri. Melihat ekspresi Alif, Irena pun berkata...
__ADS_1
''Apa kau tahu Lif? Sebelum meninggal, mamaku pernah berkata ''Bahwa kebohongan akan membuat dunia lebih baik. Sama seperti anestesi, kamu bisa hidup dalam ilusimu tanpa harus menghadapi realitas yang kejam. Jadi ketika kamu tahu yang sebenarnya kamu bahkan akan mengatakan, ''Kenapa tidak mengatakan kebohongan saja? Kenapa malah memberitahuku yang sebenarnya?'' Karena terkadang hidup di dunia kebohongan membuat kita lebih merasa bahagia,''
''Aku yakin, semua ibu di dunia ini punya kasih sayang yang tulus untuk putra dan putrinya, hanya saja setiap orang berbeda-beda dalam penyampaiannya. Aku yakin mamamu juga punya alasan tersendiri mengapa ia bisa bersikap begitu,'' ucap Irena sambil tersenyum. Alif pun ikut tersenyum.
Akhirnya mobil yang mereka kendarai sampai juga di tempat kerjanya pak Bayu. Irena turun lalu segera mencari papanya. Sedangkan Alif, ia diminta untuk tetap di mobil saja, karena Irena berkata hanya sebentar saja. Namun saat sampai di dalam, terlihat pak Bayu sedang mengobrol dengan seorang wanita paruh baya yang sedang memilih-milih perabotan untuk rumahnya.
''Iren!'' Pak Bayu menghampirinya saat melihat Iren. Wanita itu pun berbalik untuk melihat Irena. Betapa terkejutnya wanita itu saat melihatnya. Dengan emosi wanita itu langsung menampar Irena.
PLAAK!!
Tamparan keras menggema seakan mengisi seluruh ruangan itu. Sakit sudah pasti, tapi Irena sungguh tidak tahu apa salahnya dan mengapa mamanya Alif menamparnya. Ya, wanita itu adalah mamanya Alif, entah kebetulan atau bagaimana... ternyata mamanya Alif adalah klien papanya. Pertemuan yang tak terduga ini membuat semua orang terkejut.
''Kenapa bibi menampar saya?'' Irena sungguh penasaran, mengapa mamanya Alif terlihat begitu membencinya.
Iren benar-benar tidak mengerti maksud ucapan mamanya Alif, bahkan ia tidak tahu jika Alif sudah ada tunangan.
''Maaf bibi, sepertinya ada kesalah pahaman di sini...'' Belum selesai Iren berkata Ranty sudah akan menamparnya lagi. Namun dengan cepat pak Bayu menangkap tangannya.
''Maaf bu, sepertinya ada salah paham di sini. Saya percaya putri saya tidak mungkin merebut putra anda dari tunangannya. Karena setahu saya selama ini putri saya tidak punya hubungan apapun dengan seorang pria akhir-akhir ini. Jadi lebih baik anda jangan membuat keributan dan menuduh putri saya,'' ucap pak Bayu lalu melepaskan pegangan tangannya.
__ADS_1
''Putri pak Bayu? Bagaimana mungkin? Setahuku Papanya bukan pak Bayu,'' Ucap Ranty.
''Iren memang bukan putri kandung saya, tapi bagi saya Iren adalah salah satu anak-anak saya. Jadi saya harap bu Ranty tidak membuat keributan dan jangan lagi menuduh putri saya!'' Ucapan pak Bayu seakan menjadi tekanan bagi Ranty. Pak Bayu di kenal sebagai pengusaha furnitur terbesar di kota ini. Dan usahanya sudah merambah di kota-kota lainnya. Bahkan sudah ekpor ke luar negeri. Ranty sungguh tidak mengira Sriyana bisa seberuntung itu. Bagi orang yang hanya bisa menggunakan pandangannya hanya untuk menilai semua dengan harta, tentu saja membuat Ranty terkejut.
Alif yang menunggu Iren di mobil merasa ada yang tidak beres. Ia pun turun dari mobil dan masuk ke dalam untuk menyusul Iren. Alif terkejut saat melihat mamanya ada di dalam, ia juga melihat pak bayu memeluk Irena. Pipinya terlihat merah seperti bekas tamparan, bahkan terlihat air matanya membasahi ujung matanya.
''Apa yang mama lakukan?'' Ucap Alif. Ranty tambah terkejut ( Syok karena ternyata putranya tiba-tiba ada di sini juga ).
''Alif.....!'' Ranty menutup mulutnya, Ia sungguh tidak mengira putranya ada di sini, belum lagi saat ia tahu kalau Irena putri tirinya pak Bayu. Seorang pengusaha furnitur tersukses di kota ini. Jika di bandingkan, keluarga pak Bayu lebih kaya dari keluarga Danisha.
''Nak Alif tolong bawa pergi mama kamu dari sini!'' Ucap pak Bayu. Di lihat dari sorot matanya, terlihat jelas kekecewaannya terhadap mamanya. Alif menutup kedua matanya sejenak, lalu membuang nafas dengan kasar.
''Sekali lagi Alif minta maaf atas apa yang di lakukan oleh mama saya Paman, maafin mamaku ya Ren,'' Alif pun kemudian menarik mamanya untuk meninggalkan tempat kerjanya pak Bayu.
''Lif! Jangan tarik-tarik mama, mama belum selesai bicara!'' Ucap Ranty.
''Mamaaa...''
-
__ADS_1
-
- Maaf ya teman-teman jika Authornya jarang up soalnya realnya benar-benar menyita waktu jadi sesempetnya aja nulisnya yang penting jangan sampai nggantung ceritanya