
...💮 Selamat Membaca, dan Semoga sehat selalu 💮...
Tak terasa dua minggu telah berlalu sejak Iren dari rumah sakit. Kini rumah Iren sudah rapi kembali. Dan rencananya hari ini Iren akan pergi ke kota untuk menjenguk mamanya. Namun sebelum itu, ia ingin menemui Alif. Karena sejak dari rumah sakit itu, Alif seperti menghilang bak di telan bumi.
''Apa aku harus ke rumahnya?'' Batin Iren sambil mondar-mandir. Sesekali duduk, namun tak lama berdiri lagi.
Mira baru datang dan baru saja turun dari mobilnya. Mira heran melihat Iren seperti orang kebingungan. Sambil menggendong putrinya, Mira segera menghampiri sahabatnya itu.
''Oii,'' namun Iren masih sibuk dengan pikirannya dan tidak menyadari kedatangan Mira.
''Ren! Bisakah kau membantuku? Aku sedang kerepotan ini. Dan kau malah mondar-mandir kayak strikaan,'' ucap Mira dengan keras. Karena menyadari namanya dipanggil, Iren pun menoleh. Dan benar saja, di hadapannya sudah berdiri sahabatnya yang sedang menggendong Mura, dan kedua tangannya terlihat menenteng dua kresek belanjaan.
''Ya Tuhan Mir, kenapa tadi tidak memanggilku! Lihatlah tanganmu memerah karena keberatan bawa barang,'' ucap Iren, lalu mengambil dua kresek belanjaan yang ada di tangan Mira.
''Aku sudah memanggilmu dari tadi! Tapi kau malah asyik dengan duniamu sendiri,'' Mira kemudian meletakkan Mura di kursi lalu mengambil segelas air dingin di kulkas. Dan dalam sekejap satu gelas air itu sudah habis diminumnya.
''Kau tadi sedang apa? Kenapa mondar-mandir begitu? Bukannya hari ini kamu mau ke tempat mamamu?'' Tanya Mira.
''Rencananya begitu, tapi sebelum itu aku ingin bertemu dengan Alif dulu, untuk mengucapkan terimakasih karena kemaren mengantarkanku ke rumah sakit dan masih merawatku pula. Tapi saat aku telefon, gak aktif dan gak kelihatan orangnya mulai dari aku keluar rumah sakit,'' ucap Iren.
''Aku juga nggak tahu Ren, perasaan dari terakhir aku telefon, dia seperti menghilang. Apa jangan-jangan dia pulang ke rumah mamanya kali Ren,'' ucap Mira.
''Ya udahlah, nanti kalau ketemu aku akan sampaikan pesan kamu padanya. Lebih baik kamu segera berangkat! Takutnya nanti keburu malam, dan kamu masih di jalan,'' ucap Mira.
''Bener juga katamu Mir, Ya udah aku berangkat dulu lah. Eh, kamu gak ikut Mir? Mamaku dah kangen banget lo sama Mura dan kamu,'' Ucap Iren. Namun kali ini Mira tidak bisa ikut, sebab ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan dahulu.
''Aku nggak ikut Ren, biar suamiku saja yang mengantarmu. Aku masih ada urusan di sini. Cepat sana! Dimas sudah menunggumu dari tadi!'' Ucap Mira. Iren pun berangkat ke kota dengan di antarkan oleh Dimas. Sedangkan Mira, ia pun masuk rumah dan segera membereskan barang belanjaannya tadi. Mira dan suaminya memang di minta Iren untuk tinggal di rumahnya sementara Iren ke kota. Dan kebetulan Dimas juga ada keperluan, sehingga bisa bareng berangkatnya.
....................
Setelah sampai di kota, Iren bermaksud ingin membeli kue kesukaan mamanya dulu. ''Dim, tolong berhenti di toko kue yang biasa ya. Aku mau membelikan kue dulu untuk mama,'' ucap Iren.
''Baiklah, aku akan menunggumu di mobil,'' ucap Dimas. Iren pun kemudian turun ke toko kue langganan mereka. Namun siapa sangka saat di toko kue ia tak sengaja bertemu dengan Dafa.
''Sial, baru juga sampai di kota, malah bertemu dengan mantan,'' batin Iren.
__ADS_1
''Ren!'' Panggil Dafa saat ia melihat mantan kekasihnya memasuki toko langganannya.
''Long time no see,'' ucap Iren.
''Bagaimana kabarmu Ren? Aku dengar kamu pindah ke desa tempat tinggalmu dulu?'' Tanya Dafa, lalu ikut duduk di kursi depan Iren.
''Kabarku baik, dan aku memang sudah pindah,'' hanya itu kata yang terucap dari mulut manis gadis itu. Iren malas berbasa-basi dengan Dafa. Terlebih saat melihatnya, ia jadi teringat semua kenangan pahit saat bersama dengan pria yang saat ini duduk di hadapannya.
''Ren, bolehkah kita ngobrol sebentar? Aku ingin berbicara denganmu sebentar saja,'' pinta Dafa. Dengan terpaksa Iren pun mengiyakannya.
''Ren, apakah kamu masih marah padaku?'' Tanya Dafa.
''Tidak!'' Jawab Iren.
''Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya. Aku dengar kau sampai sekarang masih sendiri, bisakah kita berhubungan kembali Ren? Aku masih mencintaimu. Dan selama tiga tahun terakhir ini, aku masih sering memikirkanmu,'' Ucap Dafa. Iren hanya tersenyum mendengar ucapan Dafa.
Lalu Iren pun memberikan cerita dulu saat mereka masih pacaran, sambil menambah satu sendok garam ke dalam mangkok kue di hadapannya.
( Membayangkan on )
"Ini kesukaan kamu, makanlah yang banyak," ucap Dafa, lalu memberikan kue coklat ke piring Yao yao.
"Kamu makan juga sayang, kue ini sangat enak. Aku juga sering memakannya sejak kecil dan Yao yao sangat menyukainya juga," ucap Dafa.
"Kamu ingat semua makanan kesukaan dia, tapi kamu gak pernah ingat kalau aku alergi coklat," batin Irena.
( Bayangan Off )
"Hanya karena aku memberikan makanan yang kamu alergi?" Tanya Dafa.
"Bukan juga," jawab Irena. Lalu menambahkan lagi satu sendok garam kedalam mangkok kuenya.
( Membayangkan on )
"Kak Dafa! Di luar hujan. Aku membawakanmu payung," ucap Irena yang menghampiri Dafa dan teman-teman yang sedang berkumpul.
"Wow Daf, jadi ini pacarmu yang sekarang?" Tanya salah satu teman Dafa.
__ADS_1
"Hei Dafa, kenapa setelah putus denganku, seleramu jadi begini?" ucap seorang perempuan yang duduk di sebelah Dafa.
"Bukan kok, dia salah satu karyawan di kantorku. Kebetulan aku lupa membawa payung tadi," ucap Dafa kemudian menarik tangan Iren untuk menjauh dari teman-temannya.
"Ren, kakak kan pernah bilang, untuk sementara jangan ada yang tahu hubungan kita," ucap Dafa saat sudah di luar.
"Maaf kak, karena khawatir kakak kehujanan, Iren jadi gak lihat-lihat dulu keadaan sekitar kakak. Maaf kak, sekarang Iren akan pergi," jawab Irena. Padahal sebelum masuk Iren tak sengaja melihat Dafa sedang mencium gadis yang ada di sebelahnya itu. Namun karena tak ingin bertengkar, Iren sengaja tetap memasang senyuman di wajahnya.
( Bayangan off )
"Apa karena aku memintamu merahasiakan hubungan kita dulu?" Tanya Dafa.
"Bukan juga," ucap Iren sambil tersenyum, kemudian memasukkan satu sendok garam lagi ke dalam mangkok kuenya.
( Membayangkan on )
" Yang paling parah "
"Sudah kubilang kan? Kalau aku nggak cari orang untuk pura-pura jadi pacarku, kakak ipar pasti nggak akan percaya kalau kita nggak bersalah."
"Kak, kakak ipar itu sangat sulit untuk dibujuk ya..." U**cap Yao yao
"Yao yao, maafkan kakak. Kali ini, anggap saja kakak sudah menyusahkanmu." Ucap Dafa. Tanpa mereka sadari, Iren sudah mendengarkan semua yang mereka omongkan. Bahkan posisi mereka dalam kedaan pelukan dan Setengah telanjang. Kebetulan pintu ruangan Dafa sedikit terbuka, jadi Iren bisa melihat dengan jelas.
( Bayangan off )
"Aku tahu aku salah saat itu. Aku minta maaf Ren. Itu adalah kebodohanku yang sudah menyia-nyiakan kepercayaanmu," ucap Dafa.
"Kalau begitu, bisakah kau mengulang kembali waktu itu dan menghapus kenangan pahit itu?" Ucap Iren dengan santai sambil menambahkan semua garam yang ada di botol kedalam mangkok kuenya.
"Irena, waktu itu adalah ke khilafanku. Aku sudah meminta maaf padamu. Jadi bisakah kita bersama lagi?" Ucap Dafa sambil memegang tangan Irena. Irena pun dengan segera melepaskan tangannya dari genggaman Dafa.
"Cobain deh kuenya!" Ucap Irena sambil memberikan mangkok kuenya ke depan Dafa.
"Kamu tau kan kalau aku gak suka makanan yang terlalu asin," Ucap Dafa.
"Makanan yang manis juga gak mungkin tiba-tiba menjadi asin!" Ucap Irena, lalu berdiri meninggalkan Dafa yang masih diam setelah mendengar jawaban Iren.
__ADS_1
Hanya karena aku mencintaimu, kamu jadi berani menantang kesabaranku.