
...πΈ Selamat membaca, dan sehat selalu πΈ...
β
Masa pemulihan sudah Iren jalani dengan penuh perjuangan. Alif pun sebagai seorang suami, sudah sangat membuat Iren bangga dan bahagia. Sebab kesabaran dan kesetiaan Alif lah yang menjadi motivasi utama bagi Iren. Sewaktu ia masuk kembali ke rumah sakit, dalam hatinya selalu ia tanam kan untuk bisa secepatnya sembuh dan pulih kembali, supaya bisa lekas membalas semua kebaikan Suaminya dengan menjalankan kuwajibannya sebagai seorang istri yang seutuhnya dengan baik.
...γβββ‘ββγ...
Pagi ini Iren sudah pergi ke pasar pagi-pagi sekali, ditemani oleh sahabatnya Mira. Ia ingin memasak makanan kesukaan suaminya, sebelum suaminya pulang dari toko. Semenjak mereka menikah, Iren meminta Alif untuk yang mengelola tokonya. Ia hanya ingin fokus untuk menjalankan kuwajibannya sebagai seorang istri. Meskipun terkadang ia juga masih ikut membantu-bantu di toko.
Awalnya Alif dengan keras menolak. Sebab, toko itu didirikan mandiri oleh istrinya. Ia tidak ingin jika nantinya malah disangka memanfaatkan jerih payahnya Iren. Ia sendiri memiliki rencana untuk membuka toko snak, atau lebih gampang memanggilnya makanan ringan, dengan bekerja sama dengan kakaknya Nadia. Namun karena Iren sudah memutuskan, Alif pun akhirnya menyetujui permintaan Iren. Dengan syarat, toko itu tetap atas nama Iren, ia hanya bertugas untuk mengelolanya saja.
Saat Iren masih asyik memilah-milah sayuran, tiba-tiba Mira merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasa seperti ada yang mengikuti setiap langkah mereka.
''Ren, sebaiknya kita lekas pulang saja,'' ucap Mira.
''Iya aku tahu. Tapi kan aku lagi milih-milih ini,'' jawabnya yang sibuk memilih beberapa sayuran.
''Ren, kamu ngerasa ada yang mengikuti kita nggak sih? Kok aku ngerasa sejak kita dari warung bakso tadi, aku merasa seperti diikuti ya Ren,'' mata Mira masih mencari-cari sosok yang mengikuti mereka sedari tadi.
''Ah kau ini. Mana ada yang ngikuti kita. Mungkin hanya perasaanmu saja kali. Lagi pula, kita ini bukan anak kecil yang gampang diculik, dan juga kita ini bukan orang kaya yang memiliki harta berlimpah, sehingga ada orang yang ingin menculik kita. Buat makan besok saja aku masih bingung, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh deh,'' Iren berusaha menenangkan sahabatnya itu, meskipun ia juga tidak bisa memungkiri, kalau ia juga merasakan hal yang sama. Namun ia tidak ingin membuat sahabatnya itu khawatir.
Sepulang dari pasar, Iren langsung menyibukkan diri di dapur. Ia sudah memikirkan apa saja yang akan ia masak nanti untuk suaminya.
''Sepertinya, kamu sangat sibuk sekali Ren, apa perlu papa bantu?'' Ucap Pak Bayu saat melihat putrinya itu sedang sibuk berperang dengan peralatan memasak.
__ADS_1
''Iren hanya memasak beberapa makanan kesukaan Mas Alif, Pah. Papa duduk saja di situ, sambil baca koran pah. Nanti biar Iren buatkan teh hangat untuk papa,''
''Oooh, baiklah kalau memang kamu tidak butuh bantuan papa kalau begitu.'' Pak Bayu pun pergi ke belakang rumah. Disana ia lebih memilih untuk mencabuti rumput liar yang mengganggu tanaman di kebun kecil milik Iren.
Setelah pernikahan Iren dan Alif, Kenzo dan Arsen kembali ke kota. Tadinya, Pak Bayu juga seharusnya kembali. Namun ia diminta Iren untuk tetap tinggal bersama. Dan tentu saja, Pak Bayu dengan senang hati menerima permintaan putrinya. Sedang untuk usaha furniturnya, ia serahkan kepada Kenzo, sambil dibantu para karyawan Pak Bayu. Karena Arsen sendiri juga memiliki pekerjaannya sendiri. Jadi yang menggantikan Pak Bayu untuk mengurus bisnisnya, ya hanya Kenzo.
Selain itu, Pak Bayu juga sempat mendapatkan sebuah pesan rahasia dari Dani. Yaitu untuk sementara jangan meninggalkan Irene sendirian. Namun Dani tidak menuliskan keterangan tentang mengapa ia harus menjaga Irena dan tidak boleh pergi ke kota terlebih dahulu. Pak Bayu mendapatkan pesan itu melalui sebuah surat yang diantar oleh seorang anak kecil. Bahkan surat itu pun dilipat rapi menyerupai sebuah pesawat kertas mainan anak-anak.
''Sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu Dan? Dan kenapa kau malah memintaku untuk menjaga Iren dengan baik? Sepertinya ada yang tidak beres dengan Dani,'' Bayu semakin merasa sangat curiga, apalagi Bayu juga masih memikirkan kejanggalan saat terakhir ia berkunjung ke rumah Dani. Namun ia memilih untuk tidak memberitahukan pada putrinya, sebab ia tak ingin membuat Irena khawatir.
Tak berapa lama, Alif datang. Alif melihat Papanya sedang melamun sambil berjongkok, dan di tangannya pun masih ada sejumput rumput yang sepertinya baru saja Papanya cabut. Alif pun menaruh barang yang ia bawa, lalu menghampiri Pak Bayu.
''Papa sedang apa di sana?''
Lamunan Pak Bayu pun buyar tak kala mendengar seruan dari Alif.
''Sepertinya Papa punya hobi baru Lif, yaitu menggantikan istrimu untuk berkebun,'' kelakar Pak Bayu. Alif pun tertawa mendengarnya. Namun tawanya itu tidak bisa menyingkirkan pemikiran Alif yang merasa ada yang disembunyikan oleh Pak Bayu. Alif lebih memilih untuk diam saja. Pikirnya, ''Nanti juga Pak Bayu akan bercerita, jika sudah waktunya bercerita,'' batinnya.
''Irene ada di mana Pa?'' Tanya Alif.
''Istrimu sedang sibuk memasak di dapur. Katanya ia akan memasak makanan spesial untuk mu. Kau lihatlah saja sendiri sana,'' ucap pak Bayu, dan masih melanjutkan kegiatannya tadi.
''Baiklah Pa, kalau begitu Alif masuk dulu. Nanti kalau papa sudah selesai, segera masuk saja ke dalam rumah. Jangan melamun di luar,'' ucap Alif sebelum meninggalkan Pak Bayu. Lalu masuk ke dalam.
Bayu menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Alif. Ternyata Alif menyadari kalau tadi dia sedang melamun.
__ADS_1
Di dapur, Alif melihat istrinya masih berkutat dengan peralatan memasak. Ia pun pelan-pelan menghampiri istrinya. Dan dari arah belakang, Alif langsung memeluk pinggul istrinya. Dan menciumi pelipis istrinya. Hingga membuat Iren terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan pisau yang ia genggam hingga membuatnya berteriak.
''Maaas...!''
''Bisa tidak sih, kalau berjalan itu pakai suara? Kau selalau membuatku terkejut. Bagaimana jika saat aku terkejut, aku mati karena jantungan? Mau kamu jadi duda dadakan ha!'' Ucap Iren sambil memukul bahu suaminya.
Alif yang mendengar istrinya mengucapkan kata-kata mati, membuatnya takut seketika dan langsung meminta maaf pada Istrinya.
''Maafkan aku sayang, aku mohon? Tapi tolong, jangan lagi mengucapkan kata-kata mati ya? Aku sungguh tidak suka mendengarnya,'' ucap Alif.
Iren yang melihat perubahan ekpresi wajah suaminya, langsung merasa tidak tega. Iren pun membalikkan badannya. Dan mereka kini saling berhadapan di dalam pelukan. Iren lalu dengan cepat mencium bibir suaminya itu.
''Iya...iya, aku tidak akan mengucapkannya lagi. Sudahlah, jangan merasa sedih begitu,'' ucap Iren sambil bersandar didada Alif.
...-...
...-...
...Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa...
...πlike...
...β€ pavorit...
...dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala...
__ADS_1
...Terimakasih...