
💮 Selamat membaca, dan sehat selalu 💮
''Apa kau masih akan menemui putrimu lagi pah? Pah, Iren itu nggak pernah nganggep kamu sebagai papanya, melihatmu saja dia nggak mau. Malah lebih sayang sama papa tirinya ketimbang papa kandungnya sendiri. Jadi, buat apa kamu masih repot-repot mau menemuinya!'' Ucap seorang perempuan yang tak lain adalah Lidiya istri kedua Dani, mama sambung Irena, yang kini tengah bertolak pinggang di depan suaminya itu.
''Biar bagaimana pun Iren itu putriku satu-satunya Di, senang atau tidaknya dia bertemu denganku, setidaknya aku akan berusaha terus agar dia mau memaafkanku. Kesalahanku padanya bukanlah kesalahan kecil Di, apa yang Iren alami selama kami masih tinggal bersama tidaklah mudah baginya.'' Dani memejamkan matanya setiap kali mengingat apa saja yang sudah ia perbuat hingga membuat putrinya itu membencinya.
''Tidak bisakah kamu melupakannya Pah? Bisakah kita hidup tenang berdua dan menua bersama, tanpa harus ada Iren di tengah-tengah kita. Lagi pula Iren juga sudah dewasa dan hidup mandiri,'' ucap Lidiya. Mendengar ucapan Istrinya, Dani sedikit geram. Bagaimana bisa istrinya berpikiran seperti itu.
''Apa kau tahu apa yang sedang kau ucapkan itu Di? Apa kamu tidak ingat mengapa aku bisa menikahimu? Jika bukan karena Sriyana yang memintaku untuk menikahimu, mungkin sampai sekarang aku masih bisa menjaga Iren putriku. Sedangkan hidup berdua denganmu dan menua bersama, aku tidak pernah keberatan akan hal itu, dan pasti itu yang akan kita lakukan dan lalui bersama. Tapi jika kau menyuruh aku melupakan putriku, aku tidak mungkin mengabulkannya. Iren putriku satu-satunya Di, sebagai seorang ayah, aku tidak pernah membahagiakannya selama ini. Bahkan yang ada malah sering membuatnya menderita. Seharusnya kamu tidak akan mengucapkan hal itu Di, aku sungguh kecewa padamu,'' ucap Dani lalu pergi begitu saja meninggalkan istrinya.
''Bukan gitu maksudnya pah, Pah!...papah!'' Teriak Lidiya yang memanggil-manggil suaminya. Namun Dani tidak menghiraukannya sama sekali, dan tetap memilih pergi dengan mengendarai mobilnya itu.
》~}•{~☆~}•{~《
Di sisi lain......
Mira menghampiri Iren yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda gara-gara kedatangan bu Tuti tadi pagi. Sambil membawa segelas lemon tea, dan menaruhnya di meja.
''Ren, istirahat dulu lah. Perasaan dari tadi kamu sibuk terus, sampai-sampai aku kamu cuekin dari tadi Ren,'' ucap Mira.
''Bentar lagi ya Mir, ini tinggal membereskan peralatannya saja kok,'' jawab Iren. Dan benar saja, setelah membereskan peralatannya, Iren pun menghampiri Mira.
''Mura di mana Mir? Kok nggak kelihatan tumben?'' Tanya Iren.
''Tidur,'' jawab Mira dengan singkat.
''Ren, besok kau mau kemana?'' Tanya Mira.
''Em.....'' Kayaknya nggak kemana-mana deh, soalnya kak Arsen dan Kenzo katanya mau datang ke sini besok. Jadi, mungkin aku besok seharian akan sibuk memasak dan bersihin tempat tidur mereka. Katanya mereka mau menginap,'' ucap Iren.
__ADS_1
''Sama paman Bayu kah?'' Tanya Mira.
''Enggak tahu kalau itu Mir, papa juga nggak bilang apa-apa. Tapi, lebih baik ya aku siap-siap aja dulu buat jaga-jaga kalau papa ikut ke sini. Memangnya kenapa Mir? Kok kamu tanya aku soal besok mau ke mana?'' Ucap Iren.
''Sebenarnya, besok itu suami aku mau ketemu sama kliennya yang akan menjadi investor di rumah makan kami. Dan kamu tahu nggak siapa yang jadi kliennya Ren?'' Ucap Mira memberi tebakan pada Iren.
Namun Iren hanya menggerdikkan bahunya pertanda ia tidak tahu.
''Gio Ren,'' ucap Mira dengan semangat.
''Haaah? Gio? Mantan kamu kah?'' Tanya Iren.
Mira yang melihat reaksi Iren, langsung memukulnya dengan selendang yang biasanya buat gendong si kecil Mura.
''Laaah, kok aku kamu pukul Mir? Apa jangan-jangan benar lagi, kalau klien suamimu itu mantanmu.'' Iren tertawa terbahak-bahak, membuat Mira semakin kesal.
''Mantan gundulmu! Kau itu sudah berteman denganku berapa tahun sih Ren? Jelas-jelas kau tahu kalau mantanku cuma Dimas doang! Bagaimana bisa Gio jadi mantan aku,'' ucap Mira dengan kesal.
''Hedeeeh ni bocah, kenapa jadi lemot gini sih otaknya? Dimas jadi mantan aku karena dia menikahiku ''OON'' Aaaaaaaak.... ku gigit lama-lama kamu Ren,'' ucap Mira yang gemas dengan tingkah sahabatnya itu.
''Iya...iya maaf.'' ( Iren masih tertawa melihat ekspresi sahabatnya yang sedang kesal dengan dirinya ) ''Jadi, siapakah Gio itu? Ding dong...'' Ucap Iren yang menirukan suara seperti acara kuis di televisi.
''Mbahmu,'' jawab Mira dengan kesal, lalu berdiri pergi meninggalkan Iren yang masih tertawa terbahak-bahak.
Tak ingin membuat sahabatnya kesal lagi, Iren pun menyusul Mira ke dalam. Setelah melihat sahabatnya cemberut di sofa, Iren pergi mengambil sepiring manisan mangga kesukaan Mira. Lalu pergi menghampirinya.
''Udaaah...'' Jangan cemberut lagi ya. Maaf deh,'' ucap Iren sambil memeluk sahabatnya itu.
''Baiklah, karena kamu tulus minta maafnya, jadi aku pun terpaksa harus memaafkanmu. Tuhan aja pemaaf masa aku nggak. Iya kan?'' Ucap Mira, lalu merebut piring yang berisi manisan mangga dari tangan Iren.
''Eh, tapi ngomong-ngomong siapa Gio Mir?'' Tanya Iren yang ternyata penasaran juga dengan sosok Gio.
__ADS_1
''Astaga Ren, kamu benar-benar lupa dengan Gio?'' Iren mengangguk mendengar pertanyaan Mira. Karena ia benar-benar tidak ingat siapa itu Gio.
''Gio Ren, teman SMA kita! Yang duduknya sebangku sama Jils, ingat kan? Ingat dong masa lupa. Dia pernah lo nolongin kamu pas kamu pingsan waktu sakit dulu,'' ucap Mira. Iren pun mulai mengingat-ingatnya. Dan akhirnya....
''Aaaaaa...'' ( Mira senang, akhirnya Iren mengingatnya. Namun...)
''Aku lupa Mir,'' jawab Iren dengan tampang tak berdosanya itu membuat Mira langsung memukul bahu Iren.
''PLAAAK'' ( Anggap saja suara pukulan Mira ke bahu Iren )
''Sakit Mir,'' ucap Iren sambil mengelus-elus bahunya yang habis di pukul sahabatnya itu.
''Kau sih! Nyebelin. Nanti deh aku ajak ketemu orangnya. Biar kamu ingat!'' Ucap Mira.
''Iya...iya, aku akan ikut menemuinya kapan-kapan. Biar aku bisa mengingatnya. Maklum lah Mir, faktor U,'' ucap Iren. Namun tak lama kemudian obrolan mereka harus terhenti tak kala terdengar suara ketokan dari arah pintu.
''Biar aku buka dulu,'' ucap Mira.
''Baiklah, aku akan mandi dulu,'' Iren pun pergi ke lantai atas untuk membersihkan diri, sementara Mira membukakan pintu untuk seseorang yang sedang bertamu di rumah Iren. Namun saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Mira saat mengetahui siapa sosok orang yang bertamu itu.
''Pamaaan.....
-
-
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
__ADS_1
Terimakasih