
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
Setelah acara lamarannya seminggu yang lalu, kini Iren sudah resmi menjadi calon istri Alif. Pernikahan mereka akan diadakan dua bulan lagi, sebab Alif sendiri juga belum lama perceraiannya. Acara lamaran mereka cukup tertutup, hanya keluarga dekat saja yang baru tahu. Sedangkan para tetangga belum ada satupun yang mengetahuinya.
Dan semenjak setelah acara lamaran, kini Alif pun harus membagi waktunya. Dulu Alif lebih sering menghabiskan waktunya bekerja di tempat kakaknya, kini ia pun harus juga membantu-bantu di toko calon istrinya itu. Dulu ia lebih sering memegang barang-barang sembako, ataupun makanan-makanan buatan kakaknya untuk di jual, kini ia pun harus berurusan dengan obat-obatan tanaman dan juga pupuk kompos yang notabennya adalah kotoran hewan.
Seperti hari ini. Pagi-pagi sekali Alif sudah ada di toko Iren, sebab ada beberapa pelanggan yang sudah datang untuk mengambil pesanan mereka. Setelah selesai berbelanja kebutuhan di toko kakaknya, Alif langsung membantu melayani para pembeli di toko Iren. Lagi pula Iren juga sudah memberikan kunci cadangan tokonya kepada Alif.
''Looh! Kok Mas Alif yang jaga disini? Memangnya kemana mbak Iren Mas?'' Salah satu pelanggan Iren yang bernama bu Halimah yang juga salah satu tetangganya. Bu Halimah merasa heran saat melihat Alif yang melayaninya saat ia membeli pupuk.
''Iren belum datang bu, mungkin masih masak buat sarapan,'' Alif tersenyum menjawab pertanyaan ibu-ibu tersebut.
''Oalah.... La terus, ini Mas Alif kerja disini juga Mas?'' Tanya bu Halimah.
''Nggak bu, saya disini cuma bantu-bantu saja,'' jawab Alif.
Bu Halimah mengerutkan keningnya setelah mendengar jawaban Alif. Ia berpikir mungkin saking rajinnya kali, makannya sampai mau bantu-bantu di tokonya Iren tanpa di bayar. Bu Halimah sendiri mempunyai anak perempuan yang bernama Aisha yang berusia 20 tahun. Aisha bekerja disalah satu bank yang ada di desa itu. Sebenarnya bu Halimah sejak lama sudah merasa kagum terhadap Alif, karena rajin dan giat bekerja, juga baik dan sopan tutur katanya. Ia ingin kelak putrinya bisa mempunyai pasangan hidup seperti Alif. Namun setelah tahu Alif bercerai dari Danisha, bu Halimah mempunyai pikiran untuk menjodohkan Aisha dengan Alif, meskipun Alif sekarang berstatus duda sekalipun.
''Oh iya Mas Alif! Kemaren anak saya baru naik jabatan, dan kami baru saja mengadakan syukuran. Ini ada makanan buat Mas Alif. Tadinya mau buat mbak Iren, tapi karena mbak Iren belum datang, makanannya buat Mas Alif dulu. Biar nanti saya bawakan lagi buat mbak Iren,'' ucap bu Halimah sambil menyodorkan sebuah kantong kresek yang berisi kotak makanan.
''Waalaah, malah jadi ngrepotin. Terimakasih bu, sepertinya ini saja sudah cukup untuk kami berdua bu, jadi bu Halimah nggak usah repot-repot lagi bawain makanan untuk Iren. Biar ini saja,'' ucap Alif.
''Laah, nggak papa Mas, lagian kan juga beda. Yang ini buat Mas Alif, nanti kalau buat mbak Iren biar saya bawakan lagi,'' ucap bu Halimah.
__ADS_1
Alif jadi bingung sendiri mau ngomong apa sama bu Halimah. Tapi tiba-tiba terdengar sebuah suara...
''Selamat pagi bu Halimah?'' Sapa Iren.
''Pagi mbak Iren. Mbak Iren sudah datang? ( Kalau ada Mira, pasti Mira bakal jawab ''Belum!'' sudah tahu baru datang, masih memberikan pertanyaan ''mbak Iren sudah datang? wkwkwkw ) "Maaf ya mbak Iren, tadinya saya kesini untuk mengantarkan makanan, karena kemaren keluarga saya mengadakan acara syukuran atas kenaikan jabatan anak saya Aisha, sekalian mau beli pupuk mbak. Tapi tadi mbak Iren belum datang, jadinya makanannya saya berikan pada Mas Alif dulu. Nanti saya kembali lagi ngambil makanan buat mbak Iren,'' ucap bu Halimah.
''Nggak usah repot-repot bu, ini aja sudah cukup untuk kami berdua,'' ucap Iren.
Bu Halimah pun semakin bingung dengan ucapan Iren. Tadi Alif juga berkata demikian, bu Halimah sampai menggaruk-garuk atas telinganya.
''Oo...'' Ya sudah kalau begitu mbak, saya mau pamit soalnya suami sudah menunggu di sawah. Takut kesiangan,'' ucap bu Halimah. Namun sebelum pergi bu Halimah berkata lagi...
''Nanti kalau nggak sibuk, Mas Alif mampir dan mainlah ke rumah saya, mumpung putri saya Aisha masih dalam cuti Mas,'' bu Halimah berkata sambil tersenyum lalu pergi dari toko Iren dengan mengendarai motornya. Bahkan Alif hendak menjawab saja sampai belum sempat.
''Ooooo.... Ada yang disuruh main tuh ke rumahnya sama calon mertua!'' Ucap Iren menyindir Alif.
''Bukan papaku, tapi bu Halimah oiy.....'' Heem!'' Iren pergi ke ruangan penyimpanan meninggalkan Alif yang masih tersenyum karena melihat tingkah calon istrinya yang menggemaskan saat marah.
Alif pun mengikuti Iren dengan membawa kotak makanan yang diberikan bu Halimah tadi. Iren yang melihatnya semakin marah, karena Alif masih saja membawa-bawa makanan yang dari bu Halimah tadi.
''Untuk apa mengikutiku? Bukankah seharusnya kamu langsung pergi ke rumah Aisha saja!'' Iren berkata sambil menata barang-barang yang tadi ia bawa.
Alif pun menghampiri Irena. Menaruh kotak makanannya di meja lalu langsung memeluk Iren dari belakang.
''Untuk apa aku pergi ke rumahnya? Sedangkan disini ada hati yang harus aku jaga. Lihatlah! Kecemburuanmu itu membuat wajahmu jadi terlihat lucu,'' ucap Alif. Iren berusaha melepaskan pelukan Alif, namun tenaganya sepertinya kurang. Entah karena belum sarapan atau memang Alif saja yang terlalu kuat.
__ADS_1
''Jangan dilepaskan dulu pelukanku Ren, aku butuh sarapan energi untuk menghadapi amukanmu nanti,'' ucap Alif.
Baru saja Iren akan tersenyum mendengarnya, tapi langsung cemberut lagi setelah mendengar kalimat terakhir Alif.
''Amukan? Kamu kira aku ini singa apa? Huuh!'' Iren pun langsung melepaskan pelukan Alif, lalu pergi keluar dari ruangan itu meninggalkan Alif yang masih tersenyum gemas dengan sifat dan sikap Iren.
''Sepertinya aku akan awet muda jika aku benar-benar menikah dengan Iren,'' Alif tersenyum menggelengkan kepalanya. Lalu pergi menyusul Iren yang saat ini tengah melayani para pembeli.
Senyuman Alif langsung hilang seketika tak kala melihat Iren yang saat ini tengah mengobrol ria dengan Hafiz. Tiba-tiba ada perasaan aneh didalam hatinya saat ia melihat Iren tertawa lepas seperti itu. Entah mengapa di dalam hatinya seperti ada ketakutan tersendiri saat melihat Iren dengan Hafiz.
''Hai Alif? Selamat pagi?''
Lamunannya buyar seketika saat ia mendengar panggilan dari Hafiz. Alif berusaha menenangkan hatinya, dan berusaha untuk tetap percaya dengan cintanya dan Iren.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
__ADS_1
Terimakasih