Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 36: Bukan debat Caleg


__ADS_3


...🌸 Selamat Membaca, Sehat selalu ya 🌸...


Setelah mendapatkan perawatan, Alif akhirnya sadarkan diri. Namun ia bingung karena tiba-tiba sudah berada di rumah sakit dan keluarganya pun sudah di situ semua. Termasuk papa kandungnya.


''Lif, kamu sudah bangun?'' Ucap Nadia yang melihat Alif pertama bangun.


''Iya kak, tapi kenapa aku bisa ada di sini?'' Tanya Alif.


''Kemaren kamu pingsan di kamar mandi Lif, Dimas yang membawamu ke sini saat kakak pergi ke rumah mama papa,'' ucap Nadia.


''Bagaimana perasaanmu sekarang Lif? Apakah ada yang di rasakan sakit?'' Tanya papanya. ( papa kandung Alif bernama Ihsan, sedang papa sambungnya bernama Ahmad )


Ihsan menggelengkan kepalanya sambil menutup kedua matanya. Ia baru mendapat kabar tentang kondisi Alif, dan tentang rumah tangga anaknya itu.


Ranty menghampiri putranya itu dan memeluknya. Ia sungguh merasa sangat bersalah setelah tahu tentang kondisi putranya. Nadia sudah menceritakan semuanya. Bahkan membuat Ranty mendapatkan omelan keras dari suaminya dan mantan suaminya, karena telah memaksakan perjodohan Alif. Hingga membuatnya pada kondisi seperti ini.


''Maafkan mama ya Lif, mama benar-benar bodoh karena buta akan harta, hingga membuatnya menjadi seperti ini,'' ucap Ranty penuh penyesalan, sambil memegang tangan putranya itu. Air matanya bahkan sampai menetes, Alif merasa tidak tega melihat mamanya menangis. Namun tiba-tiba dari arah pintu...


''Bukankah sudah telat penyesalan bibi sekarang!'' Ucap Mira dari arah pintu. Semua orang yang ada di ruang itu pun terkejut mendengar perkataan Mira.


''Yang! Kita ke sini untuk menjenguk Alif, bukan untuk membuat keributan,'' ucap Dimas memegangi tangan istrinya untuk berusaha menenangkannya.


''Aku tidak membuat keributan kok Yang. Jika aku berniat membuat keributan, pasti sudah ku jambak rambut bibi Ranty,'' sarkas Mira.


''Maafkan sikap Mira bi, tolong jangan di masukkan ke dalam hati,'' ucap Dimas. Namun Ranty hanya diam, ia memikirkan perkataan Mira yang semua benar. Jika bukan karena keegoisannya, putranya tidak akan mengalami hal seperti ini.


''Untuk apa kamu minta maaf padanya Yang, lebaran masih lama. Lagi pula bibi tahu jelas kok apa yang aku katakan ini benar atau salah,'' ucap Mira lalu menghampiri Alif. Semua yang ada di ruangan itu hanya diam membisu.


''Gimana kondisimu sekarang Lif?'' Tanya Mira sambil meletakkan buah-buahan yang ia bawa tadi.

__ADS_1


''Sudah mendingan. Oh iya Dim, aku mau ucapin terimakasih padamu, karena sudah menolongku dan membawaku ke rumah sakit,'' ucap Alif.


''Santai saja bro, yang terpenting sekarang pulihkan dulu badanmu. Cepatlah sembuh!'' Ucap Dimas.


Mereka pun mengobrol ringan, untuk menghilangkan kejenuhan. Besok Alif sudah boleh pulang, karena dia sendiri yang memintanya dengan alasan tidak betah berlama-lama di rumah sakit. Saat masih asyik mengobrol, tiba-tiba dari arah pintu datang orang yang tak ingin di lihat.


''Mas..'' Kamu nggak apa-apa kan?'' Ucap Danisha dan langsung duduk di depan Alif.


Plaaaak!!


Danisha memegangi pipinya karena di tampar oleh Ranty, mama mertuanya.


''Masih berani kamu datang kesini hah! Ternyata masih punya muka juga kamu. Dasar perempuan tidak tahu malu! Jika memang kamu masih ingin bermain-main dengan pria lain di luar sana, kenapa kau mau menikah dengan Putraku! Seharusnya kau katakan semuanya dari awal. Kau sendiri yang datang padaku, memohon-mohon untuk mau di jodohkan dengan Alif, dengan alasan permintaan kakekmu!'' Ucap Ranty dengan emosi. Dan tanpa disadarinya, ia malah membuka kebohongannya dan Danisha selama ini.


''Aku tahu aku salah mam, aku khilaf,'' Danisha menoleh ke arah Alif.


''Mas maafin aku ya, aku janji aku gak bakal ngulangi lagi kesalahan itu lagi Mas, Kita baikkan lagi ya. Kumohon...'' Ucap Danisha dengan memasang mimik muka yang memelas. Namun Alif masih tetap diam saja bahkan membuang muka.


''Ciiih! Dasar perempuan tak tahu malu. Masih berani berjanji-janji. Dihadapan Tuhan saja diingkari, apa lagi cuma di hadapan manusia. Sekali tukang selingkuh, selamanya akan tetap selingkuh!'' Sarkas Mira mencibir Danisha dengan pandangan jijik.


''Sayang sekali aku bukan Tuhan yang pemaaf! Apa lagi memaafkan manusia menjijikkan sepertimu. Apa kau tahu Nish, kenapa aku tidak menyukaimu sejak dulu?'' Ucap Mira, Danisha hanya tersenyum menggerdikkan bahunya.


''Haiiiis! Benar-benar muka babi ya? Aku sudah lama tahu kebusukanmu Nish, apa kau ingat saat kita masih SMA? Saat itu jam olahraga?''


Mendengar ucapan Mira, tiba-tiba hatinya menjadi tidak karuan. Jantungnya berdegup kencang, kedua tangannya pun mengepal erat memegangi ujung bajunya.


''Sungguh kau tidak ingat Nish? Atau..., pura-pura lupa!'' Ucap Mira tepat berdiri di depan Danisha.


''Sebenarnya apa salahku padamu sih Mir? Kenapa kau begitu membenciku. Apa kau tidak ingin melihatku dan Alif bahagia?'' Ucap Danisha dan masih memasang wajah seakan polos tanpa dosa.


''Ciih..'' Kau tanya apa salahmu? Kau tanya apa aku tidak bahagia melihat Alif bahagia? Nish come on! Jangan munafik. Kau tahu jelas gimana busuknya dirimu. Merayu guru olahraga demi mendapatkan nilai yang sempurna. Bahkan sampai menjebak sahabatku Irena. Are you crazy still asking your mistake?'' Ucap Mira dengan emosi.

__ADS_1


''Sudahlah Yang, jangan membuat keributan lagi. Nanti kalau sudah di rumah baru dibicarakan lagi,'' ucap Dimas.


''Biarin saja Dim, biarin istrimu mengatakan semuanya. Biar perempuan itu sadar kesalahannya!'' Ucap Ranty.


''Eew... Bi, kau pun sama dengan Danisha. Menjerumuskan putranya sendiri kedalam kehancuran,'' Mira pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dan di susul oleh suaminya.


''Sudahlah Nish, lebih baik kamu pulang dulu ke rumah. Nanti kalau Alif sudah sembuh dan pulang, baru kita bicarakan lagi gimana kedepannya. Untuk saat ini jangan dulu menemui Alif,'' ucap pak Ihsan papa kandungnya Alif.


''Tapi pah...'' Ucapan Danisha langsung di sela oleh pak Ahmad.


''Pulanglah dulu Nish, jika kamu masih menghormati kami sebagai mertuamu, maka turuti dulu ucapan kami,'' pak Ahmad lalu membukakan pintu untuk Danisha.


''Sialan, gue di usir! Awas ya kalian! Jika bukan karena ide mama, aku juga nggak akan sudi ke sini,'' ucap Danisha setelah keluar dari ruangan Alif.


Flashback on


''Kalau kamu mau warisan kakekmu, kamu harus bisa kembali ke keluarga Ranty. Mama akan membicarakannya dengan papamu. Tapi kau harus berusaha bagaimanapun caranya supaya mereka memaafkanmu dan menerimamu kembali. Nanti kau bisa meminta mereka untuk menutup mulut tentang dirimu dihadapan kakekmu,'' ucap mamanya Danisha.


''Tapi mah, apakah mungkin mereka mau memaafkanku, setelah apa yang kulakukan pada mereka?'' ucap Danisha.


''Maka... Pikirkanlah caranya kalau begitu,'' Mamanya kemudian pergi meninggalkan Danisha


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit

__ADS_1


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih


__ADS_2