
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, matahari pun sudah mulai menampakkan sinarnya yang mulai menelisik melalui celah-celah jendela. Alarm dari jam weker yang ada dimeja samping tempat tidurnya Iren dan juga Alarm dari ponselnya Iren semua berbunyi bersamaan. Namun sang punya malah cuma bangun mematikan alarm lalu melanjutkan tidurnya kembali.
Hingga terdengar suara dering ponsel yang berbeda dengan milik Iren, membuat Iren harus segera membuka kedua matanya. Tangannya mencari-cari asal muasal suara ponsel tersebut. Ternyata suara dering ponsel tersebut berasal dari ponsel milik Mira yang tak sengaja tertinggal di kamarnya.
''Dasar Mira si nenek tua pikun. Bisa-bisanya dia meninggalkan ponselnya,'' gerutu Iren.
Ia pun segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia ingin segera ke rumah sahabatnya itu, agar ia bisa marahi karena ponselnya sudah mengganggu tidurnya.
Namun saat hendak mengetuk pintu, terdengar suara tangisan anak kecil dari arah taman. Iren pikir ada apa-apa dengan Mura. Ia pun segera berjalan menuju taman. Namun niatnya ia urungkan tak kala ia melihat ada Alif di sana. Iren pun lebih memilih menunggu di depan teras rumah. Dan tanpa sengaja ia mendengar obrolan Dimas dan Alif.
(''Lalu bagaimana perasaanmu dengan Iren Lif? Apakah kau masih benar-benar mencintainya?'' Tanya Dimas. Alif pun termenung menundukkan kepalanya. Ia memejamkan kedua matanya, kedua tangannya pun saling bertautan.
''Aku masih mencintainya Dim, bahkan dari kami masih SMA. Perasaanku dan cintaku sampai sekarang, masih sama besarnya. Meskipun aku sempat hendak mengubur dalam-dalam perasaanku itu, namun rasanya malah semakin tumbuh subur dihatiku. Tapi aku takut Dim, dengan statusku ini, apakah Irena masih mau menerimaku. Aku juga tidak tahu bagaimana perasaannya kepadaku. Dulu sebelum aku menikah, aku masih meyakini kalau kami saling mencintai. Tapi saat melihat bagaimana orang tuaku menyakiti hatinya, aku takut dan tidak berani berharap lagi. Aku hanya bisa melihatnya tersenyum dan mencintainya dalam diam,'' ucap Alif dengan wajah yang sendu.)
Deg.....
Jantung Iren berdegup kencang. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Akhirnya Iren meninggalkan ponsel dan sebuah kertas yang bertuliskan kalau ponsel Mira tertinggal di rumahnya, lalu memasukkannya lewat celah jendela.
Iren pun berjalan pulang ke rumahnya dengan melamun. Sampai-sampai ada mbak Nur yang bertanya padanya saja tidak ia dengar.
''Mbak Iren? Habis dari mana?'' Tanya mbak Nur. Namun Iren tidak mendengarkannya karena dipikirannya masih terngiang-ngiang kata-kata Alif.
''Mbak Iren? mbaaak!'' Mbak Nur menyenggol bahu Iren, hingga membuatnya tersadar dari lamunannya.
''Aaah? Iya..? Siapa?'' Iren seperti orang kebingungan. Mbak Nur menggelengkan kepalanya melihat tingkah Iren.
''Mbak Iren ini lo, malah melamun di jalanan! Nanti kalau ada apa-apa bagaimana mbak? Banyak motor, mobil sepeda berlalu lalang,'' ucap mbak Nur.
__ADS_1
''Iya mbak, maafkan saya yang tidak mendengar ucapan mbak Nur, saya hanya sedang banyak pikiran mbk, jadinya kebawa melamun malahan,'' Iren berkata sambil tersenyum.
''Ya udah mbak lain kali jangan melamun lagi di jalanan ya mbak? Kalau lagi kurang sehat atau banyak pikiran buat istirahat saja,'' ucap mbak Nur. Iren pun mengangguk paham, lalu melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Hari ini Iren tidak ke toko, karena ia akan membersihkan rumah dan memasak makanan kesukaan adiknya Kenzo, karena rencananya hari ini Kenzo akan datang ke rumahnya.
...~°~•♧•~°~...
Di tempat lain, Mira sudah bangun karena matanya hanya bisa terpejam satu setengah jam saja. Ia pun turun ke lantai bawah. Suaminya masih mengobrol dengan Alif. Sepertinya membahas soal pekerjaan.
''Yang! Kamu lihat ponsel aku nggak yang?'' Mira membuka-buka laci dan dan memeriksa seluruh meja yang ada di rumahnya, namun ponselnya tak kunjung ditemukan.
''Aku juga tidak melihatnya Yang, mungkin ada disamping tempat tidur atau nyelip-nyelip di kasur kali Yang.'' Dimas menghampiri istrinya yang masih sibuk mencari-cari ponselnya.
''Sudah ku cari Yang! Tapi nggak ada. Apa ketinggalan di rumah Iren ya?'' Ucap Mira.
''Coba aku telefon dulu siapa tahu jatuh atau nyelip,'' Dimas merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.
Dari arah ruang tamu terdengar suara dering ponsel milik Mira. Mira pun segera mengambilnya. Dan benar saja ponselnya ada di sofa dekat jendela. Namun bukan hanya ada ponselnya saja, tapi juga ada secarik kertas yang berisi tulisan milik Iren.
"Oiii, nenek tua pikun! Ponselmu mengganggu tidurku. Aku menjatuhkan ponselmu di dekat jendela, aku harus segera pulang karena adikku akan datang hari ini," seperti itulah isi kertas tulisan Iren.
''Laaah...Yang, tadi Iren kesini ya? Kok tumben nggak naik ke atas dulu?'' Ucap Mira menghampiri suaminya.
Dimas dan Alif sangat terkejut setelah mendengar ucapan Mira.
''Tadi Irena disini?'' Batin Dimas dan Alif secara bersamaan.
Dimas memberi kode mata pada Alif, namun Alif malah sibuk dengan pikirannya sendiri.
''Apa tadi Iren sudah mendengar ucapanku semua ya?'' Alif bertanya-tanya didalam hatinya.
__ADS_1
''Ooi! Kenapa di tanya malah kagak ada yang ngejawab oiii!'' Mira memukul lengan suaminya, membuat lamunan suaminya dan Alif buyar seketika.
''Kami juga tidak tahu sayang. Soalnya dari tadi tidak ada yang datang ataupun memanggil-manggil. Apa mungkin Iren hanya menaruhnya saja lalu kembali pulang?'' Ucap Dimas.
''Benarkah seperti itu?'' Mira memastikannya kembali. Dan Alif juga menjawabnya dengan jawaban yang sama dengan jawaban suaminya.
''Ya sudah nanti biar aku tanyakan saja. Ngomong-ngomong Mura dimana Yang?'' Ucap Mira yang mencari keberadaan Mura putrinya.
''Tuu... dia lagi tidur di sofa. Tadi mau aku antar ke kamarnya malah nggak mau karena katanya mau tidur sambil dipangku saja,'' ucap Dimas.
''Dasar bocah nakal, haiiis.'' Mira menghampiri putrinya menggendongnya untuk dipindahkannya di kamar. Setelah kepergian Mira, Dimas menghampiri Alif.
''Menurutmu apakah Iren sudah mendengar obrolan kita tadi Lif?'' Dimas bertanya pada Alif, ia sedikit khawatir jika benar Iren mendengarnya. Ia takut akan menbuat Iren sedih.
''Aku juga tidak tahu Dim, tapi jika memang Iren mendengarnya, aku akan menjelaskannya. Tapi sepertinya aku harus segera pulang dulu Dim, setelah mengantarkan kotak-kotak ini, aku akan ke rumah Irena. Aku akan berbicara langsung sama Iren. Aku juga sangat khawatir padanya, aku takut karena perkataanku tadi membuatnya sedih. Aku tidak pernah membuatnya bahagia, aku tidak ingin hanya karena perkataanku malah menjadi beban di hatinya,'' ucap Alif.
''Ya sudah, kau pulanglah dulu Lif. Aku doakan semoga pembicaraanmu dengan Iren berjalan lancar. Dan semoga Iren tidak salah paham dengan obrolan kita tadi,'' ucap Dimas.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih
__ADS_1