
💮 Selamat Membaca, dan sehat selalu 💮
Iren sangat kecewa mendengar ucapan Dafa. Lalu ia pun pergi meninggalkan ruangan rapat begitu saja, Dafa pun langsung ikut pergi untuk menyusul Iren. Dafa menarik tangan Iren dan...
''Proyek Danau Biru ini, Yao yao sangat menginginkannya. Kuharap kamu tidak marah ya. Kumohon,'' ucap Dafa.
''Tapi, bukankah kakak sangat tahu! Demi proyek Danau Biru ini, aku udah korbanin begitu banyak energi dan waktu! Bahkan klien saja sangat ingin aku yang memegang proyek itu! Tapi tiba-tiba kakak begitu saja memberikan proyek Danau Biru kepada Yao yao yang bahkan menggunakan rancanganku kak! Apa menurut kakak, aku tidak pantas untuk marah?'' Irena benar-benar tidak habis pikir dengan Dafa. Jelas-jelas Dafa tahu dan bahkan semua yang bertanggung jawab atas proyek itu tahu jika Irena lah yang di percaya para investor untuk memegang proyek Danau Biru.
''Irena! Bagaimana pun juga dia itu adikku. Anggap aja kamu mengalah demi dia oke? Yao yao kan baru kembali dari luar negeri. itung-itung dengan dia memegang proyek ini, bisa membantunya untuk beradaptasi dengan teman-teman sekantor dan juga lingkungan di sini.
''Sudahlah, jangan marah lagi,'' ( Dafa memeluk Iren dari belakang.) ''Sore nanti Mama akan datang ke kantor. Ingat untuk menjemputnya gantikan aku ya. Soalnya sore nanti aku ada rapat dengan beberapa klien.'' Irena tak dapat lagi membantah perkataan Dafa. Bagaimana pun Yao yao adiknya, tentu saja Dafa akan lebih mengutamakan Yao yao ketimbang dirinya.
Sorenya, Iren sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan tante Maya. Dan dari arah lobi tante Maya ternyata sudah datang. Irena pun bermaksud untuk menghampirinya.
''Tante...''
Namun dari samping Irena, tiba-tiba Yao yao juga langsung memanggil tante Maya.
''Mami...'' ucap Yao yao. Irena pun terpaksa hanya diam melihat tante Maya dan Yao yao berpelukan. Namun...
''Aduuh menantuku yang baik ini. Yao yao sayang, bagaimana hari pertama bekerja? Apa kamu betah bekerja di kantor ini sayang?'' Ucap Tante Maya.
__ADS_1
Dan Deg...
Rasanya sungguh sakit saat mendengar ucapan tante Maya. ''Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tante Maya berkata demikian? Padahal jelas- jelas tante Maya tahu jika aku yang pacarnya kak Dafa.'' Batin Irena. Tanpa sadar, air matanya sudah menetes begitu saja.
''Aduuh mami, kakakku itu sudah punya kakak ipar, bagaimana bisa mami bilang seperti itu. Bagaimana jika kakak ipar sampai salah paham terhadapku,'' ucap Yao yao.
''Memangnya kenapa kalau dia tahu? Kamu itu menantu yang sudah keluarga kami anggap sejak kalian masih kecil. Kalau saja nenekmu tidak menyuruhmu kuliah di luar negeri, pasti sekarang kalian sudah bertunangan.'' Iren benar-benar tidak menyangka, jika ternyata Yao yao bukanlah adik kandung Dafa. Dan yang lebih membuatnya terkejut, ternyata Yao yao yang seharusnya menjadi pasangan Dafa.
''Mami, bagaimana kalau mami masuk dulu keruangan kak Dafa? Aku akan pergi mengambilkan mami minuman dulu.'' Ucap Yao yao.
''Baiklah kalau begitu, mami akan menunggumu di ruangan Dafa,'' Ucap tante Maya. Iren masih diam rasanya seperti terpaku di tempat. Dengan langkah sombongnya Yao yao menghampiri Irena.
''Kamu bukan mengira kalau aku benar-benar adik kandung kak Dafa kan? Seharusnya kamu sudah tahu kalau kak Dafa anak tunggal mami Maya. Apa jangan-jangan kamu nggak tahu lagi?'' Mendengar ucapan Yao yao Irena hanya bisa diam saja. Sebab apa yang dikatakan gadis itu, memang tidak ada yang salah. Irena baru menyadari ternyata selama ini, ia sama sekali belum mengenal Dafa sepenuhnya.
Dari arah ruang rapat, Dafa sudah selesai dengan rapatnya ia melihat Irena yang masih diam bersandar di pintu ruangannya.
''Irena, mengapa kamu melamun di sini?'' Mendengar Dafa memanggilnya, Iren pun menegakkan pandangannya.
''Ayo masuk dulu. Apa mama sudah datang?'' Tanya Dafa. Irena hanya mengangguk, sebagai jawaban iya.
''Ren, beberapa hari lagi ulang tahunmu kan? Aku membelikanmu sepatu keluaran terbaru.'' Ucap Dafa sambil menyerahkan kotak berwarna putih dengan hiasan pita dan bunga. Baru juga Iren mau melihatnya, namun tiba-tiba...
''Waaah! Sepatu ini cantik sekali kak~ untukku kah? Terimakasih kak Dafa,'' ucap Yao yao tiba-tiba sambil merangkul lengan Dafa. Habis sudah kesabaran Iren.
__ADS_1
''Lepas! Itu milikku!'' Ucap Iren dengan tatapan marah.
''Maaf ya, kakak ipar.''
''Sudahlah Ren, berikan saja pada Yao yao, lagi pula jarang-jarang Yao yao begitu suka dengan barang ini. Jadi tolong berikan dulu padanya ya. Kalau kamu suka, nanti akan aku belikan lagi yang baru untukmu.'' Ucap Dafa.
''Adik? Dia itu adikmu yang dari mana? Atas dasar apa aku harus mengalah dan memberikan semua hal yang jadi milikku kepadanya?!'' Iren tidak bisa lagi menahan emosinya. Matanya pun sudah memerah dengan linangan air mata.
''Maafkan aku kakak ipar, aku sungguh nggak sengaja. Aku tidak bermaksud untuk merebutnya. Jadi tolong kakak jangan menyalahkan kak Dafa,'' ( Sambil merangkul lengan Dafa, Yao yao berpura-pura menangis.)
''Irena! Usianya baru 20 tahun. Bisakah kamu mengalah sedikit padanya? Apa kamu ga lihat sekarang adikku menangis? Jangan seperti anak kecil! Aku sungguh muak dengan sifatmu yang kekanak-kanakan itu!'' Dafa benar-benar sudah buta akan kepalsuan Yao yao atau memang selama ini Dafa tidak pernah menganggap Iren berarti dalam hidupnya?. Namun dari arah pintu...
''Kalau begitu apa kamu juga tidak melihat adikku menangis ha!'' Seorang pria datang dengan emosi saat melihat keadaan Irena.
''Kak Hafiz...'' Ucap Iren. Ya, pria itu adalah Hafiz kakak dari Mira sahabatnya Iren. Hafiz sudah menganggap Iren seperti adiknya sendiri. Dan selama Iren pindah di kota, selain Dafa yang menjaganya, Hafiz jugalah yang menjaga Irena selama ini.
''Jangan menangis lagi Ren, kakak sudah datang,'' ucap Hafiz lalu memeluk Iren.
''Dafa, usia adikmu 20 tahun, usia adikku juga 20 tahun. Atas dasar apa dia di tempatmu diperlakukan seburuk ini?'' Ucap Hafiz.
''Kamu siapa?'' Tanya Dafa. Karena memang Dafa belum pernah bertemu dengan Hafiz, sebab karena kesibukan Hafiz, makannya mereka belum sempat dipertemukan. Padahal rencananya, saat ulang tahun, Irena akan memperkenalkan Dafa pada kak Hafiz dan kedua orang tuanya.
''Meski tak seayah dan seibu, tapi aku adalah kakaknya! Jika kamu tidak terima adikmu menangis, maka aku juga punya hak untuk marah saat kau memperlakukan adikku dengan buruk!'' Ucap Hafiz lalu mengajak Iren untuk pergi dari situ.
__ADS_1
''Kakak....?''