Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 44: Nama yang tak asing


__ADS_3

🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸


Masakan sudah matang, Iren juga sudah rapi. Iren dan Mira pun segera kembali ke toko lagi dengan membawa tas besar berisi makanan dan perlengkapan Mura. Toko terlihat ramai saat Iren dan Mira sampai. Terlihat Kenzo sedikit kuwalahan melayani para pembeli.


''Kakak! Help me,'' ucap Kenzo.


Iren dan Mira tersenyum melihat Kenzo. Meski tangannya terlihat sibuk melayani pembeli, namun ia juga ternyata sambil menggendong Mura yang tertidur. Ia meletakkannya dibelakang punggungnya. Mira pun segera mengambil alih Mura. Sedangkan Iren langsung turun tangan melayani pembeli.


''Kok makanannya dibawa kesini? Banyak lagi. Apa kalian belum makan?'' Tanya Kenzo.


''Kamu makanlah dulu, biar kakak yang melayani pembeli. Nanti kita gantian.'' Iren menyuruh Kenzo untuk makan dulu, dilihatnya tinggal tiga pembeli lagi.


''Aku tadi sudah makan sama Mura di warung bakso pak Yamin kak, kebetulan tadi pas sepi. Makannya Ken tinggal makan dulu. Soalnya tadi Mura geger minta bakso mulu,'' ucap Kenzo.


''Haiiis anak ini, dah dibilangin jangan banyak jajan. Masih saja ribut minta jajan bakso!'' Gerutu Mira memarahi putrinya yang masih tertidur.


''Eeh, jangan memarahinya ya! Tadi aku sudah susah payah menidurkannya,'' gerutu Kenzo.


''Kakak makan dulu saja! Biar Ken yang layani. Toh tinggal beberapa orang saja kan.'' Setelah mendengar ucapan adiknya Iren pun pergi makan dulu dengan Mira. Saat tengah memakan makanannya..


''Makan kok nggak nawarin aku sih?'' Ucap Gio yang tiba-tiba sudah berdiri disebelah mereka. Sampai-sampai membuat Mira tersedak oleh makanannya.


''Uhuuuk...uhuk...uhuk,'' Iren membantu memukul-mukul pundak belakang Mira.


''Kau gila ya Gi!, Bisa tidak kalau berjalan itu ada suaranya. Jalan kok kaya hantu, gak kedengeran sama sekali suara langkah kakinya,'' omel Mira pada Gio.


''Maaf Mir, bukan maksudku buat kagetin kamu. Mungkin makanmu yang terlalu lahap, sampai-sampai kamu tidak mendengar langkah kakiku saat aku datang menghampiri kalian,'' ucap Gio yang tidak mau disalahkan.


''Sudah...sudah, jangan ribut lagi. Ini Mir, minumlah dulu supaya mendingan,'' Iren memberikan segelas air putih pada Mira.

__ADS_1


''Gara-gara Gio sih, ngagetin orang sampe kesedak. Gimana kalau aku mati muda gara-gara tersedak. Kan gak lucu nanti beritanya,'' Mira cemberut masih kesal dengan Gio.


''Orang cerewet sepertimu tidak mungkin mati cepat. Biasanya umurnya akan panjang, supaya nanti dunia ini nggak sepi karena yang tukang ngomel mati duluan,'' ucap Kenzo yang langsung ikut menimbrung.


''Gundulmu!'' Mira memukul bahu Kenzo.


''Oh iya Gi, ngomong-ngomong mau ngapain kamu disini?'' Mira memperhatikan barang-barang yang dibawa oleh Gio.


''Aku tadi sedang berbelanja, ku lihat toko Iren ramai dan ada kalian juga, makannya sekalian aku mampir menyapa kalian,'' jawab Gio sambil menunjukkan dua kantong besar ditangannya yang berisi sayur mayur dan belanjaan lainnya.


''Menyapa kami apa mau menyapa Iren?'' Sindir Mira. Gio tersenyum menggaruk belakang kepalanya.


''Apa sih kamu ini,'' ucap Iren yang menahan malu mendengar ucapan sahabatnya itu. Tidak ia pungkiri, Iren juga merasakan sikap Gio padanya yang sedikit berbeda. Bahkan ia juga pernah memergoki Gio yang diam-diam memandangnya. Namun entah kenapa hatinya belum bisa tergerak oleh sikap dan kelembutan hati Gio.


''Gi, ngomong-ngomong kamu lama juga ya di desa ini, kayaknya sudah dua atau tiga bulanan ya?'' Tanya Mira.


''Iya nih, tiga bulan kalau nggak salah. Dan untungnya pasienku juga sudah mulai membaik kondisinya. Jadi kemungkinan, aku akan segera kembali lagi ke kota,'' ucap Gio. Namun matanya malah tertuju pada Iren. Iren yang merasa ditatap oleh Gio, ia pun memalingkan wajahnya.


''Enggak juga, cuma ada beberapa pasienku yang kebanyakan tinggalnya jauh-jauh. Jadi kalau aku menetap disini, mereka pun harus menempuh perjalanannya makin jauh lagi,'' Gio menjelaskan juga kalau ibunya sedang sakit. Jadi tidak bisa jika harus ditinggal lama-lama.


''Sakit apa memangnya ibumu Gi? Seingatku tante Eva dulu selalu sehat-sehat saja, bahkan tante Eva sering kan olahraga teratur iya kan?'' Ucap Mira. ( Masih ingat kan sosok Eva ibunya Gio yang pernah menjadi asisten papanya Irena )


Irena yang mendengar nama ibunya Gio disebut, membuat hatinya bergetar. Kedua tangannya mengepal mencengkram ujung bajunya. Ia teringat kembali saat orang tuanya dulu sering bertengkar gara-gara wanita yang bernama Eva. Iren sendiri belum pernah bertemu dengan sosok wanita itu. Namun setiap orang tuanya bertengkar, nama Eva selalu mereka sebut-sebut.


''Mama sakit stroke Mir, gara-gara dulu sempat kecelakaan bareng atasannya. Dan sudah bertahun-tahun lamanya belum juga membaik, aku tidak tahu ini ujian atau hukum karma,'' ucap Gio. Namun pandangannya lurus menatap langit yang saat ini tengah mendung.


''Karma?'' Mendengar ucap Gio, tentu saja rasa penasarannya Mira pun membuncah.


''Iya Mir, aku tidak bermaksud membuka aib mamaku, tapi karena perbuatannya, hubungan keluarga atasannyq jadi kacau berantakan. Bahkan putri mereka saja hampir meregang nyawa karena ulahnya. Sampai saat ini aku masih mencari tahu atasan mamaku, aku ingin meminta maaf pada keluqrganya atas semua perbuatannya,'' ucap Gio.

__ADS_1


( Setelah lulus SMA, Gio memutuskan melanjutkan pendidikannya di Luar Negeri, jadi ia sama sekali tidak tahu menahu soal atasan mamanya, ia hanya mendengar ceritanya saja dari teman mamanya. )


''Lalu, apakah kau sudah bertemu dengan keluarganya Gi?'' Tanya Mira. Dan tanpa mereka sadari emosi Irena sudah di ubun-ubun kepala.


''Aku mau ketoilet dulu Ken, tolong jaga tokonya!'' Ucap Iren tiba-tiba dan berlalu begitu saja meninggalkan mereka semua.


''Ada apa dengan kakakmu Ken? Kok sikapnya sedikit aneh?'' Tanya Mira pada Kenzo. Kenzo hanya mengedikkan bahunya lalu kembali lagi melayani pembeli yang mulai berdatangan lagi.


Karena hujan mulai turun Gio pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.


...~♡•♡•♡•♡•>•<•♡•♡•♡•♡~...


Disisi lain, saat ini Iren tengah menangis di kamar mandi. Ia membiarkan kran kamar menyala begitu saja, supaya orang lain tidak mendengar tangisannya.


''Mama, ternyata perempuan itu adalah mamanya Gio! Wanita brengsek itu yang telah membuat orang tuaku selalu bertengkar, dan membuatku hampir kehilangan nyawa! Mama, apa yang harus kulakukan? Mendengar namanya saja membuat hatiku bergetar. Haruskah kubalaskan semua rasa sakit hati mama?''


Setelah puas menangis Iren segera mengusap air matanya, lalu mengoleskan Foundation disekitar bawah dan atas matanya, untuk mengurangi efek sembab karena menangis. Setelah itu ia pun kembali lagi kedepan.


''Kau lama sekali di kamar mandinyq Ren? Lihatlah! Mendungnyq sudah berkumpul diatas kepala, lebih baik kita tutup tokonya lebih awal, dan segera pulang saja sebelum hujan tiba,'' ucap Mira. Iren pun menyetujuinya dan mereka pun pulang bersama.


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit

__ADS_1


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih


__ADS_2