Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 14: Belum bisa memaafkan


__ADS_3


💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮


Pagi menjelang, sinar matahari mengusik paras cantik yang kini masih tertidur lelap di samping mamanya. Sepertinya ia terlalu lelah setelah menangis semalaman. Samar-samar terdengar suara orang mengobrol, membuat mata lentik yang terpejam itu harus terbuka sempurna. Karena masih setengah mengantuk, Irena melihat seseorang sedang mengobrol dengan mamanya.


''Kau sudah bangun nak?'' Tanya seseorang itu yang tak lain Dani, papa kandungnya Irena.


''Papa!'' Irena sedikit terkejut melihat papanya datang ke rumah sakit. Karena dulu, siapa pun yang sakit, papanya tidak pernah memperdulikannya.


''Iya Ren, ini papa. Apa kamu tidak senang bertemu dengan papa?'' Ucap Dani.


Tiba-tiba Irena terbayang saat papanya menampar keras pipi mamanya, bahkan memarahi Iren dan mengurungnya di kamar, karena waktu itu Iren membela mamanya.


Flashback on


PLAAAK!!


suara tamparan keras menggema sampai di kamar Irena yang saat itu masih 19 tahun. Terdengar samar-samar suara mama dan papanya bertengkar. Suasana seperti ini sudah biasa terjadi. Karena kesibukan masing-masing membuat mereka saling cemburu. Dan pertengkaran pun tak pernah bisa terhindarkan.


"Jelas-jelas asisten papa yang sengaja mematikan telefon mama, dan membuat Irena telat di jemput! Dan mengalami kecelakaan! Dan sekarang papa malah menyalahkanku! Jelas-jelas dia sengaja mengadu domba kita pah!" Teriak Sriyana.


"Eva tidak tahu menahu soal telepon darimu, dan kau masih saja menyalahkannya? Perempuan sepertimu memang keras kepala dan ingin menang sendiri" Dani pun tak mau kalah dengan teriakan istrinya. Karena merasa bosan dengan pertengkaran orang tuanya, Iren datang menghampiri mereka dan membanting sebuah vas bunga.


PYAAAAAR!!!.... Pecahan kaca berserakan dimana-mana.


''Cukup! Kenapa kalian selalu bertengkar hanya karena wanita itu! Pah, mah, bisa tidak? Sehari saja keluarga kita damai? Wanita itu selalu jadi biang masalah untuk keluarga kita!'' Ucap Irena yang membuat papanya semakin emosi. Sehingga membuat Irena di kurung di kamarnya.


Itulah salah satu contoh pertengkaran yang pernah Irena hadapi, papanya sangat keras baik sifat mau pun sikap. Dan gampang percaya dengan orang lain, maka dari itu sering di tipu dan di manfaatkan.

__ADS_1


Flashback off


''Tidak!'' Hanya kata itulah yang terucap dari bibir manis Iren setelah mendengar perkataan papanya. Irena tidak berkata apa-apa lagi dan langsung pergi keluar meninggalkan kedua orang tuanya.


''Irena!'' Sriyana berusaha memanggil putrinya, namun sepertinya Iren sengaja mengacuhkannya.


''Biarkan saja mah, Irena berhak marah. Kesalahan papa memanglah sangat banyak.'' Ucap Dani. Terlihat jelas Dani sedikit kecewa melihat reaksi putrinya, ia pikir Irena sudah memaafkannya. Namun ia juga menyadari kesalahannya terlalu besar di masa lalu, Dan membuat putrinya terluka.


( Catatan: meskipun sudah berpisah dan memiliki keluarga masing-masing, namun kedua orang tua Irena tetap mempertahankan panggilan mama papa, agar Irena tidak terlalu merasa bahwa perpisahan mereka membuatnya kehilangan sosok orang tua )


.......................


Irena saat ini tengah berjalan-jalan di taman rumah sakit. Sambil membawa sekotak cemilan, Iren duduk sambil mengamati orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Sampai ia dikejutkan oleh sebuah suara...


''Kenapa duduk melamun di sini?'' Ternyata Pak Bayu yang menghampiri Irena. Saat ia akan menemui istrinya, ia tak sengaja melihat putri sambungnya tengah duduk sendirian.


''Hanya mencari udara segar saja Pah,'' ucap Iren. Pak Bayu tahu betul keadaan Irena, Meskipun hanya papa sambung, tapi pak Bayu sudah menganggap Iren sebagai putri kandungnya sendiri. Iren akan menyendiri jika ada masalah. Pasti tadi karena bertemu dengan papa kandungnya. Karena setiap kali Iren bertemu dengan papanya, pasti tingkahnya jadi seperti itu.


''Waaah pah, kau memang papa terbaikku,'' Irena memeluk pak Bayu dengan gembira. Irena memang lebih dekat dengan pak Bayu. Awalnya hubungan mereka tidaklah sebaik itu, tapi karena kebaikan dan ketulusan pak Bayu, membuat Irena tersentuh. Apa lagi melihat kemaren saat pak Bayu begitu telaten merawat dan menjaga mamanya.


''Es krim ini enak sekali...'' Setidaknya dengan memakannya, bisa mengurangi emosinya dan membantunya mendinginkan kepalanya. Walau bagaimana pun, Dani tetaplah papa kandungnya. Jadi Irena harus belajar memaafkan dan berdamai dengan keadaan.


''Pah, masa cuma Iren sendiri yang dibelikan. Aku tidak?'' Ucap sebuah suara dari belakang Irena. Ternyata suara itu adalah Kenzo yang datang bersama dengan Arsen.


''Long time no see,'' ucap Irena.


''Kupikir kita tidak akan pernah bertemu lagi setelah kau lebih memilih tinggal di desa,'' ucap Kenzo.


''Ya, tadinya aku tidak ingin kembali ke sini lagi. Apa lagi bertemu dengan wajahmu yang menyebalkan itu. Iya kan pah?'' Irena dan Kenzo seperti Tom and Jerry, dari pertama bertemu selalu ada saja yang diributkan.

__ADS_1


''Pah...'' ( Kenzo merengek )


''Sudah..sudah!'' Kalian ini selalu saja begini. Ayo kita masuk ke ruangan mama, mama pasti senang melihat kalian semua datang,'' Ajak pak Bayu pada ketiga anaknya.


''Aku masih ingin duduk di sini pah, kalian masuklah dulu.'' Pak Bayu memaklumi keadaan Irena. Ia pun mengajak Arsen dan Kenzo untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.


''Andai papaku sebaik dan selembut pak Bayu, pasti keluargaku tidak akan berantakan seperti ini,'' Guman Irena. Munafik jika Irena menampik perasaannya sendiri yang ingin keluarganya tetap utuh. Meskipun pada akhirnya ia tahu, jika mamanya lah yang memulainya.


Meskipun membenarkan alasan mamanya, tapi Irena juga menyalahkannya. Sebab mamanya tidak mau jujur dan tidak mempercayai keluarganya sendiri. Menyesal pun kini percuma, karena nasi sudah menjadi bubur. Yang terpenting sekarang, ia harus tetap kuat dan menjadi penyemangat untuk mamanya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Di lain tempat...


"Apa? Jadi Irena pergi ke kota?" Tanya Alif.


"Iya Lif, harus berapa kali lagi sih aku menjawabnya. Salahmu sendiri menghilang tanpa kabar! Ponsel tidak aktif, rumah juga selalu sepi," gerutu Mira.


"Ini semua karena mama, karena aku menolak di jodohkan dengan Danisha, mama membanting ponselku dan mengurungku di kamar. Bahkan sampai mengancam kak Nadia. Sekarang Irena pergi ke kota, tidak ada yang tahu kapan ia akan kembali," Batin Alif. Melihat Alif melamun, Mira pun mencipratkan air, hingga membuat Alif sadar dari lamunannya.


"Kenapa malah melamun? Tenang saja, Iren pasti kembali kok. Hanya saja...." Mira sengaja menggantung ucapannya untuk menyelidiki perasaan Alif yang sebenarnya.


"Hanya saja apa Mir?" ( "Alif sepertinya terpancing hehehe," isi pikiran Mira.)


''Hanya saja....Apa yang membuatmu menanyakan tentang Iren?'' Ucap Mira. ( dalam hatinya sudah tidak sabar menunggu jawaban Alif )


''Karena aku menyukainya Mir,'' ucap Alif dengan spontan.


''Apakah kamu sudah memastikan perasaanmu sendiri Lif? Dan bukankah kamu akan bertunangan dengan gadis sialan itu? Jika kamu menyukai Iren, lantas bagaimana dengan keluargamu dan perjodohanmu itu?'' Mira ingin tahu semua tentang Alif, ia tidak ingin kelak sahabatnya disakiti lagi.

__ADS_1


''Sudah....'' Tapi jika soal perhodohan...


__ADS_2