Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 43: Penyesalan Ranty


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...


''Ren, cabenya habis. Apa perlu beli dulu ke tokonya kak Nadia Ren?'' Tanya Mira.


''Nggak perlu Mir, aku ada cabe di belakang rumah,'' Iren pun langsung menuju belakang rumah untuk memetik cabenya sendiri. Kebetulan cabenya sedang berbuah cukup lebat. Saat Iren sedang asik memanen cabenya tiba-tiba dari arah belakang....


''Sedang panen Ren?'' Ucap sebuah suara yang berasal dari belakang Irena. Irena pun membalikkan badannya untuk melihat sang pemilik suara.


''Bibi Ranty!'' Batin Irena.


''Iya bi,'' jawab Iren dengan tersenyum. Meskipun dalam hatinya kini berdebar tidak karuan. Ada perasaan takut yang menjalar dihatinya. Ia takut kejadian yang dulu terulang kembali. Mengingat minggu lalu Danisha baru saja memakinya habis-habisan.


''Apakah bibi Ranty kesini mau memarahiku lagi soal aku ketemu sama alif?'' Batin Iren.


''Apa bibi mengganggumu nak?'' Tanya Ranty. Karena melihat Irena terdiam melamun.


''Aaah, tidak bi, Iren hanya sedang banyak pikiran saja,'' Iren sedikit terkejut melihat sikap Ranty yang berbeda. Biasanya setiap melihat Iren, Ranty rasanya seperti ingin melahap orang saja. Tapi kali ini sikapnya 180° berbanding terbalik dari biasanya. Bahkan jika tidak salah dengar, tadi Ranty memanggil Iren dengan sebutan nak.


Ranty tersenyum melihat tingkah Iren. Ia memaklumi respon yang Iren perlihatkan. Terlebih mengingat kejadian dulu saat dirinya memaki-maki dan menuduh gadis itu. Pasti tidaklah mudah bagi gadis itu saat melihat dirinya.


''Ren,'' Ranty mengibas-ngibaskan tangannya saat melihat Iren melamun kembali.


''Aaah! Iya bi,'' Iren pun tersadar dari lamunannya. Dilihatnya kembali wanita paruh baya yang kini berdiri dihadapannya dengan tersenyum.


''Ren, bisakah kita berdua berbicara sebentar?'' Ucap Ranty. Iren sedikit ragu untuk mengiyakan permintaan Ranty, mengingat ia sendiri benar-benar ingin hidup tenang dan bahagia dengan melupakan segala hal tentang masa lalunya. Namun, melihat ekpresi Ranty, Iren pun tak sampai hati menolaknya.


''Boleh bi, mari duduk dulu,'' Iren mempersilahkan Ranty untuk duduk dibangku yang ada di taman mininya itu. Kemudian ia pun pamit dulu sebentar ke dalam untuk mengantarkan cabe pada Mira, sekalian mengambilkan minuman untuk Ranty.


''Kok lama banget sih kamu ambil cabenya Ren?'' Gerutu Mira saat Iren menghampirinya dan memberikan cabe pesanannya.


''Maaf Mir, tadi aku sedang ngobrol dulu sama bi Ranty, jadinya lama deh,'' ucap Iren sambil menuangkan air kedalam sebuah gelas.


''Haaah? Apa tadi kau bilang? Bukan, maksudnya dengan siapa kau tadi mengobrol Ren?'' Tanya Mira memastikan kalau pendengarannya tidaklah salah.


''Bibi Ranty Mir, mamanya Alif,'' Iren mengulang kembali jawabannya.


''Are you sure Ren?'' Tanya Mira.

__ADS_1


''Yes I'm 100% sure Mir, kalau kau tidak percaya, kau bisa melihatnya sendiri. Sekarang bibi Ranty sedang duduk di bangku taman belakang rumah,'' ucap Iren, lalu pergi meninggalkan Mira dengan membawa segelas minumannya itu.


''Gadis itu benar-benar sudah gila! Bagaimana bisa dia mau mengobrol dengan orang yang membencinya. Sama saja dengan ular yang menghampiri tongkat. Iren...Iren,'' Mira kemudian mengikuti Iren dari belakang. Namun ia tidak langsung muncul, melainkan mengintip dari balik pintu.


''Mari bi, silahkan diminum. Maaf ya bi, Iren cuma membawakan segelas air putih,'' ucap Iren dengan tersenyum.


''Waaaah, gadis itu benar-benar sudah tidak waras. Dia pikir nyawanya ada sembilan kali!'' Gerutu Mira dari balik pintu.


''Aduuh nak Iren, maafkan bibi. Bibi datang malah merepotkanmu,'' ucap Ranty sambil meminum minuman yang tadi dibawa oleh Iren.


''Eeeeeww...'' Apa dunia sudah mau kiamat? sejak kapan nenek sihir berubah jadi seorang malaikat? Sepertinya aku ketinggalan berita ini,'' ucap Mira kemudian masuk kembali ke dalam rumah untuk menelfon suaminya.


''Maafin bibi ya Ren, bibi datang tiba-tiba begini,'' Ranty menggenggam tangan Irena.


''Deg..''


''Ada apa lagi ini?'' Batin Irena.


Iren bingung, seakan kata-katanya tercekat ditenggorokannya. Ia hanya bisa tersenyum menanggapi omongan Ranty.


''Ren, bibi datang kesini mau meminta maaf padamu.''


''Sikap bibi padamu dari dulu sangatlah buruk. Bibi benar-benar mau meminta maaf padamu Ren, atas semua hinaan dan makian yang dulu bibi pernah lontarkan pada Iren. Bibi benar-benar merasa sangat menyesal sekarang. Gara-gara sikap dan sifat bibi, anak bibi hidupnya jadi hancur berantakan. Kamu mau kan Ren memaafkan kesalahan bibi?'' Ucap Ranty yang masih memegang kedua tangan Irena.


Iren merasa seperti komputer yang sedang loading. Ia bingung harus berkata apa? Sebenarnya saat ini hatinya masih tidak percaya sikap dan sifat bibi Ranty benar-benar bisa berubah.


''Ren?'' Ranty memanggilnya sekali lagi, karena Irena masih diam saja dan belum menjawabnya.


''Iya bi, Iren sudah memaafkan bibi. Iren tidak pernah menyimpannya didalam hati. Maaf kan Iren bi, Iren tadi diam karena Iren masih belum mempercayai jika bibi benar-benar sudah berubah. Iren bukan orang yang munafik, tapi jujur Iren masih sedikit syok saat bibi mengatakan itu semua tadi,'' ucap Iren dengan jujur.


Ranty tersenyum mendengar jawaban Irena. Ia mengelus-elus telapak tangan Iren.


''Bibi paham kok, perubahan yang tiba-tiba terkadang sedikit sulit untuk bisa langsung diterima. Tapi bibi benar-benar tulus mengucapkannya,'' ucap Ranty.


''Iya bi, maaf kan Iren,'' Iren masih merasa bersalah dengan ucapannya tadi.


''Jangan minta maaf sayang, kamu tidak salah apa-apa pada bibi. Bibi yang banyak salah padamu, dan juga kedua orang tuamu nak. Apa kau tahu nak, setelah mengucapkan itu semua, rasanya beban dihati bibi sedikit berkurang. Bibi harap kedepannya kita bisa menjalin komunikasi dengan baik. Kapan-kapan mampirlah ketempat bibi ya, jika kamu mengunjungi papamu,'' ucap Ranty.

__ADS_1


''Iya bi,'' Iren tersenyum menganggukan kepalanya.


Setelah mengobrol cukup lama, Ranty pun berpamitan pada Iren, sebab suaminya sudah menunggunya di depan rumah Iren.


''Jadi bibi benar-benar berniat langsung untuk datang kesini,'' batin Iren saat melihat Ranty memasuki mobilnya.


...¤~¤~¤~♡~¤~¤~¤...


Disisi lain....


''Yang, apa kau tahu apa yang sedang terjadi saat ini?'' Ucap Mira yang saat ini tengah menelfon suaminya.


''Memangnya kenapa Yang? Kamu itu kalau ngomong seperti sedang bermain teka-teki mingguan saja,'' gerutu Dimas.


''Haiiis kau ini. Bibimu Ranty datang kesini menemui Iren!'' Ucap Mira.


''Ooo...'' Jawab Dimas. Sepertinya Dimas sama sekali tidak merasa terkejut dengan yang baru saja istrinya ucapkan.


''O..?'' Yang, kenapa rasanya dirimu seperti tidak terkejut sama sekali? Padahal bukankah ini kejadian yang sangat langka. Mengingat sifat bibimu itu,'' Mira masih bingung dengan sikap suaminya itu yang seakan sudah tahu saja.


''Tentu saja aku tidak terkejut Yang, karena bibi memang sudah berubah sejak ia tahu kalau anaknya diselingkuhi. Apa lagi saat ini ia pasti sangat merasa bersalah saat melihat putranya berada disidang pengadilan,'' ucap Dimas.


''Sidang pengadilan? Maksudmu Yang?'' Mira masih tidak mengerti ucapan suaminya. Karena ia benar-benar belum tahu apapun.


''Alif sudah mengajukan gugatan cerai dipengadilan, Yang, dan sudah sidang pertama. Minggu depan ia akan memasuki sidang putusan. Jadi aku rasa bibi Ranty merasa bersalah pada anaknya karena dulu tidak merestui hubungannya dengan Iren,'' ucap Dimas.


''Diih! Sekarang aja baru menyesal, dulu-dulu kemana tuh matanya. Tiap lihat orang yang berharta langsung buta!'' Gerutu Mira. Suaminya hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan istrinya.


-


-


Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa


👍like


❤ pavorit

__ADS_1


dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala


Terimakasih


__ADS_2