Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 82: Sudah siap


__ADS_3

...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...



''Baiklah pah, nanti Alif akan bicarakan pelan-pelan dengan Iren. Tapi pah, bolehkah Alif ikut menyelidikinya?''


''Bukannya tidak boleh, Lif. Tapi papa takut kalau kalian kenapa-napa malahan. Untuk saat ini biar papa yang mengurusnya. Kau cukup jaga putri papa dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai dia tahu tentang masalah ini,'' ucap Pak Bayu.


Alif mengangguk paham dengan keputusan pak Bayu. Setelah selesai berbicang-bincang, Alif pun pamit untuk kembali ke kamarnya. Sebab, Istrinya pasti sudah menunggunya sedari tadi.


Alif dengan pelan membuka pintunya, saat melihat istrinya sedang melamun memandang ke arah luar balkon yang ada di kamarnya. Dengan perlahan Alif memeluk badan istrinya dari belakang.


''Mas Alif?''


''Iya, memangnya siapa yang kau harapkan untuk datang memelukmu selain aku ha?'' Ucap Alif sambil mencium puncak kepala Iren.


''Ummm...., mungkin pria tinggi dan tampan yang kita lihat waktu di rumah sakit itu. Sepertinya tidak buruk jika dia datang menemuiku dan memelukku,'' ucap Iren dengan santainya. Ya, sewaktu Iren melakukan pemeriksaan rutin, mereka sempat bertemu dengan seorang Dokter dari luar Negeri, yang kebetulan sedang ada kegiatan di rumah sakit itu. Bahkan mereka sempat berkenalan dan menjadi teman.


''Ya Tuhan, siapa tadi ha? Awas saja jika dia berani datang, apa lagi sampai berani memelukmu. Aku pastikan dia tidak akan bisa pulang ke Negaranya,'' ucap Alif yang cemburu karena termakan oleh kejahilan Iren.


''Hahahahaaa....'' Memangnya mau kamu apain itu Dokter Luwis?''


''Tentu saja akan aku kurangi kakinya satu. Siapa suruh dia berani menggoda istriku!'' Ucap Alif dengan wajah cemberut.


Astaga melihat ekpresi Alif, ia benar-benar terlihat sangat menggemaskan. Iren rasanya ingin sekali mencubit pipinya suaminya itu. Namun saat ini ia masih belum puas menjahili suaminya itu.


Dengan perlahan Iren melepaskan pelukan Alif, dan sedikit menjauh. Ia lalu berbalik memandangi wajah suaminya itu sambil satu tangannya memegang dagunya.


''Oh ya? Apa kamu tidak takut nanti masuk penjara? Apalagi dia seorang Dokter yang profesional. Aku yakin, dia juga orang yang kaya. Pasti hanya dengan beberapa dolar uangnya, kamu akan masuk penjara hingga bertahun-tahun lamanya. Memangnya Mas mau aku jadi janda gara-gara ditinggal di penjara? Kan nggak lucu pengantin baru tapi sudah ditinggal suaminya karena di penjara,'' ucap Iren.

__ADS_1


''Irena....!'' Alif benar-benar tidak tahan lagi dengan kejahilan istrinya. Dengan perlahan Alif mulai mendekati Iren. Iren yang merasa suaminya sudah berada dipuncak kecemburuan, ia pun langsung berlari menghindari suaminya. Hingga terjadilah aksi kejar-kejaran di kamar mereka.


Lalu, ''Bruuuk...'' Badan Iren tersandung kaki ranjang, hingga membuat mereka berdua jatuh ke atas kasur dan posisi Iren berada dibawah badan Alif.


Alif tersenyum melihat wajah Istrinya yang sedang gelisah. Ia malah sengaja menopang kepalanya menggunakan tangan kanannya, namun badannya masih di atas badan Iren.


''Mas Aliiif..!'' Ucap Iren dengan suara sedikit meninggi. Ia benar-benar sedang menahan malu karena posisi mereka.


''Sekarang bukankah giliranku? Siapa suruh tadi kau asik menjahiliku, hahaha,'' batin Alif dengan tersenyum mencurigakan.


''Ooooy, kenapa senyummu terlihat mengerikan ya Mas?'' Iren menelan ludahnya dengan susah payah. Apalagi saat Iren melihat senyuman suaminya itu.


''Apakah Mas Alif akan meminta haknya sekarang? Ya Tuhan, apakah aku benqr-benar akan siap melakukannya,'' ucap Iren di dalam hati. Bahkan tanpa ia sadari Iren malah menutup kedua matanya.


Alif pun merasa tidak tega melihat ekpresi wajah istrinya. Tadinya ia hanya berniat membalas kejahilan istrinya, tapi sekarang saat melihat ekpresi wajah Iren, Alif menjadi tidak tega. Ia pun mencium pipi istrinya, lalu segera bangun dari posisinya.


Namun dengan segera Iren menahan pergelangan tangan suaminya itu. Ia tidak ingin membuat suaminya kecewa. Ia merasa, sepertinya ia sudah siap lahir dan batin untuk memberikan cinta dan seluruh jiwa raganya kepada suaminya. Jika memang Alif menginginkannya.


Alif yang belum paham, pun mengernyitkan dahinya.


''Siap?'' Namun dengan segera ia pun langsung paham maksud dari ucapan istrinya itu.


''Sayang, maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud...'' Belum selesai Alif berbicara, Iren dengan segera memotong pembicaraannya.


''Tapi Iren benar-benar sudah siap, jika Mas Alif ingin melakukannya sekarang,'' ucap Iren.


Alif bingung harus berkata apa. Ia sungguh-sungguh tidak beemaksud untuk ke arah itu. Ia hanya ingin membalas kejahilan istrinya saja. Tapi saat melihat wajah istrinya yang penuh keyakinan, ia benar-benar merasa bingung harus berbuat apa.


''Sayang, aku tidak mau memaksakan kehendakku, jika memang kamu belum siap. Lagi pula, waktu kita masihlah sangat panjang. Aku tidak ingin membuatmu terbebani oleh masalah itu,'' ucap Alif.

__ADS_1


''Tidak, em...'' Maksudku, aku benar-benar sudah siap melakukannya Mas. Percayalah, aku sama sekali tidak merasa terbebani Mas, karena itu sudah seharusnya, dan sudah menjadi kuwajiban Iren untuk memenuhi haknya Mas Alif setelah kita menikah,'' ucap Iren dengan penuh keyakinan.


Alif pun tersenyum lalu memeluk tubuh Istrinya. Perasaannya saat ini tidak bisa ia jabarkan dengan kata-kata lagi. Namun ia benar-benar ingin memastikannya sekali lagi apakah...


''Apa kamu yakin Sayang?'' Tanya Alif sekali lagi. Iren pun mengangguk sebagai jawabannya. Alif pun mencium puncak kepala istrinya itu, hingga perlahan turun ke wajah, dari dahi lalu ke hidung hingga ke bibir manis milik Irena.


Lidah Alif mulai menjelajahi mulut Irena dengan pelan. Membiarkan agar istrinya mengikutinya dan menikmatinya. Iren yang terhanyut dalam suasana melingkarkan tangannya di leher suaminya.


Ciuman Alif yang menjalar perlahan menyusuri rahang,leher, dan berakhir di gunung kembar milik Irena. Suara desah parau yang berasal dari mulut Iren, membuat mereka semakin hanyut dalam suasana yang indah nan romantis.


Ciuman alif yang menyusuri tubuh Iren membuat jejak merah dimana-mana. Tangan pria itu masih membuat gerakan meremas dan mengelus yang membuat Iren tak mampu menahan suara desahahannya lagi. Hingga perlahan tubuh mereka kini hanya berbalut selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka.


Dalam keadaan telanjang di atas ranjang. Momen magis yang terjadi yang menciptakan suara riuh yang terdengar. Hingga yang tersisa kini hanya peluh keringat dan kenikmatan yang mereka rasakan membuat mereka saling terpaut dalam buaian angin malam.


Alif mendekap tubuh Istrinya, dan menghujani istrinya dengan kecupan.


''Terimakasih sayang, terimakasih atas semua cinta dan juga kepercayaanmu terhadapku,'' ucap Alif dengan penuh rasa syukur.


Iren tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia pun juga sangat bersyukur karena Tuhan sudah mengirimkan sosok laki-laki yang tulus mencintainya, menjaganya dan setia merawatnya dalam keadaan apapun. Namun, ia tak mampu mengucapkannya dalam kata-kata. Ia hanya bisa bersembunyi di balik dada bidang suaminya. Alif tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu. Kini Irena sudah sepenuhnya menjadi miliknya seutuhnya. Alif menutup kedua matanya dan perlahan hanyut ke dalam alam mimpi bersama istrinya.


...-...


...-...


...Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa...


...👍like...


...❤ pavorit...

__ADS_1


...dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala...


...Terimakasih...


__ADS_2