
...🌸 Selamat membaca, dan sehat selalu 🌸...
☆
''Ren, aku datang kesini karena memang ada yang ingin aku bicarakan langsung denganmu. Dan aku juga yakin kau sebenarnya tahu apa yang akan aku bicarakan ini bukan?'' Ucap Alif menatap wajah Irena yang saat ini berdiri diam di sampingnya.
''Apa jangan-jangan Alif tahu lagi kalau aku sudah mendengar semua ucapannya sewaktu di rumah Mira tadi pagi.''
Iren bingung jika nanti Alif menanyakannya, apa yang harus ia jawab. Alif pun berdiri lalu berjalan menghampiri Irena.
''Ren, apakah tadi pagi kau mendengar semua pembicaraanku dengan Dimas sewaktu di rumahnya?'' Alif bertanya pada Irena, namun pandangannya seakan membuat lidah Iren kelu untuk menjawab. Akhirnya Iren pun hanya bisa menjawabnya dengan mengangguk saja.
''Ren, semua perkataanku yang kau dengar tadi pagi sewaktu di rumah Mira, itu benar adanya. Perasaanku masih sama, cintaku pun masih sama untukmu. Meskipun aku sempat hendak mengubur dalam-dalam perasaanku itu dan menghapus ukiran namamu yang ada dihatiku, namun aku tetap tidak mampu Ren. Entah engkau mau mempercayainya atau tidak, tapi yang pasti semuanya benar adanya.''
''Ren, sebenarnya, aku sendiri tidak punya nyali yang besar untuk menemuimu. Apa lagi mengatakan semua isi hatiku. Terlebih, mengingat statusku sekarang, semakin membuatku ciut untuk mengungkapkannya. Maka dari itu, selama ini aku hanya bisa memendamnya didalam hati. Dan mencintaimu dalam diam. Aku.....'' Ucapan Alif langsung dipotong oleh Iren.
''Cukup Lif! Aku tidak ingin mendengar omong kosong apapun lagi darimu. Kamu selalu seperti itu Lif, selalu berpikir sesuai keinginanmu sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain! Pernahkah kamu mempertimbangkan perasaanku? Pernahkan kamu bertanya bagaimana perasaanku padamu Lif? Kamu selalu membuat keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu.''
''Lif, aku diam saja karena aku lelah padamu. Karena harus memperjuangkan perasaanku sendirian, kamu selalu bimbang, tidak bisa tegas dengan perasaanmu. Dan kamu tidak bisa memperjuangkan cinta dan perasaanmu dihadapan orang tuamu Lif, aku lelah Lif, lelah sekali dengan perasaanku sendiri. Meskipun sering tersakiti, tapi aku juga tidak mampu menolak keberadaanmu. Aku juga sudah berusaha membuka pintu hatiku untuk pria lain, tapi tetap saja kau yang selalu bertahta dihatiku, meskipun saat kau sudah menikah sekalipun.'' Iren menjatuhkan badannya bersandar di bangku. Entah keberanian dari mana sehingga membuat Iren mengeluarkan semua isi hatinya.
Alif berjongkok dihadapan Iren, terlihat dari sudut matanya sudah mulai basah karena terkena air mata. Alif memegang kedua telapak tangan Iren.
''Maafkan aku Ren, aku tahu, aku hanyalah laki-laki pengecut yang tidak bisa memperjuangkan cinta dan perasaanku. Maafkan aku yang egois karena tidak pernah mempertimbangkan perasaanmu.''
''Baiklah, Irena,'' Alif menjeda ucapannya lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
''Bisakah kita memulai kembali hubungan yang baru Ren? Beberapa waktu telah kita lewati. Banyak yang sudah kita dilalui. Tidak mudah memang, Berjuta rasa yang tak mampu diungkapkan oleh kata-kata. Dengan beribu cara-cara kau selalu membuat ku bahagia. Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kau tuk menjadi pilihanku? menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau tuk menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagi aku membuka mata? Tahukah kamu? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu Ren. Karena, syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.''
''Irena, maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu dengan ku? Maukah kamu menjadi pendamping hidupku dengan status sebagai istriku?'' Ucap Alif dengan serius, matanya menatap wajah cantik gadis yang sangat ia cintai itu, yang saat ini ada dihadapannya dan menunggu jawaban apa yang akan gadis itu berikan.
Namun saat Irena baru akan membuka mulut, tiba-tiba dari arah belakang....
''Ren?'' Suara pak Bayu yang memanggil Irena dari arah belakang. Ternyata pak Bayu sudah mendengarkan semua pembicaraan antara Iren dan Alif sejak tadi.
Awalnya pak Bayu hanya khawatir saat Kenzo memberitahu jika yang datang adalah Alif yang ingin bertemu dan berbicara dengan Irena. Arsen hendak menyusul adiknya agar masuk dan tidak menghiraukan Alif, namun pak Bayu yang berdiri dan melarang Arsen memanggil adiknya.
''Biar papa saja yang melihatnya,'' ucap pak Bayu. Hingga akhirnya saat didepan pintu ia mendengar semua percakapan putrinya dengan Alif.
''Papa!'' Iren sangat terkejut saat melihat papanya menghampirinya.
Iren bingung harus berkata apa, mulutnya masih terkunci diam membisu. Dan akhirnya yang ia ucapkan...
''Ya sudah, ayo masuk dulu Lif, papa menyuruh kita untuk masuk ke dalam. Benar juga kata papa, jika sampai para tetangga tahu, mereka akan bergosip buruk tentang kita nantinya,''
''Ayo!'' Iren mengajak Alif untuk masuk, Alif pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Irena untuk masuk ke dalam rumah.
Saat langkah kakinya Alif memasuki dalam rumah, hawanya sudah terasa horor, tiba-tiba rasanya seperti ada tumpukan salju yang menjatuhinya, saat Alif melihat pak Bayu, Arsen dan Kenzo duduk di ruang makan.
''Ayo nak Alif, mari silahkan duduk,'' ucap pak Bayu.
Alif pun menuruti kata pak Bayu, mereka pun makan malam bersama dalam keheningan. Rasanya seperti mengheningkan cipta.
__ADS_1
Setelah makan pak Bayu menyuruh Arsen dan Kenzo untuk mengajak Iren mengambil oleh-oleh yang ada di kamar papanya. Awalnya Iren tidak mau ikut, karena khawatir kalau papanya bakal memarahi Alif, namun Arsen dan Kenzo langsung menarik tangan Irena. Hingga yang tersisa hanya Alif dan pak Bayu saja.
''Ekheeem...'' Pak Bayu seperti memberi kode kepada Alif. Namun sepertinya Alif juga bingung mau berkata apa, padahal sudah pernah menikah, tapi rasanya masih grogi.
''Nak Alif, kalau boleh paman bertanya, kira-kira maksud kedatangan nak Alif itu apa?'' Ucap pak Bayu sambil menyeruput secangkir teh hangat yang ada di meja depannya.
Alif menundukkan kepalanya, dalam hatinya ia berusaha untuk menguatkan tekat supaya bisa berbicara lancar dihadapan calon mertua itu. ( Tanda kutip : Kalau diterima 🤣🤣🤣)
''Sebenarnya paman, Alif kesini untuk mengungkapkan perasaan Alif kepada Iren. Karena Alif masih mencintai putri paman, dan apabila Irena dan paman berkenan menerimanya, Alif ingin langsung ke jenjang yang lebih serius. Alif ingin Iren menjadi pendamping hidup Alif, paman,'' ucap Alif. Kedua tangannya mengepal, mencengkram erat ujung bajunya.
''Benarkah? Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu nak Alif?'' Ucap pak Bayu, namun matanya masih menatap tajam kearah Alif.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih
__ADS_1