
...πΈ Selamat membaca, dan sehat selalu πΈ...
β
Setelah selesai melayani pembelinya, Iren hendak pulang kembali ke rumah, karena hari masih gelap. Lumayan kan lanjutin tidur lagi hehehe.
''Nak Iren....''
Mendengar panggilan suara itu, membuat Iren mengehentikan langkahnya. Ia pun membalikkan badan untuk melihat sang pemilik suara. Namun setelah melihatnya, Iren diam membisu....
''Nak Iren, boleh kita berbicara sebentar nak?'' Ucap seseorang wanita paruh baya yang kini duduk di kursi roda itu yang ternyata adalah Eva mamanya Gio. Namun yang terlihat hanya Eva saja, ''Kemana Gio? Apa dia sengaja datang kesini sendirian untuk berbicara denganku?'' batin Iren.
Iren tidak ingin menggubrisnya, ia pun hendak berlalu pergi meninggalkan wanita itu. Namun tangannya langsung digenggam oleh Eva.
''Kumohon nak, bibi berjanji, setelah selesai pembicaraan ini bibi tidak akan pernah mengganggumu lagi,'' ucap Eva memohon.
Iren menghela nafasnya, kemudian melepaskan genggaman tangan Eva.
''Saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita. Anda tahu betul bahwa saya tidak ingin melihat wajah anda bukan?'' Ucap Iren dengan suara yang dingin.
''Bibi tahu kamu sangat membenci bibi. Tapi bibi mohon, sekali ini saja, demi Gio,'' ucap Eva.
''Demi Gio? Tapi saya rasa pembicaraan saya dengan Gio pun sudah selesai. Lalu untuk apa anda ingin berbicara lagi dengan saya?'' Iren berbicara tanpa menoleh ke arah Eva.
''Nak Iren, Gio tidak bersalah dan tidak tahu apapun tentang masalah yang telah terjadi diantara kita. Bibi mohon jangan membenci Gio juga, kamu berhak menghukum bibi atas segala kesalahan bibi di masa lalu. Karena bibi juga tidak akan pernah menampik kesalahan bibi yang teramat besar pada dirimu dan keluargamu. Tapi Gio sangat tulus mencintaimu. Bibi tidak ingin hanya karena perbuatan bibi di masa lalu, Gio yang mendapat balasannya. Bibi dengar cerita dari Gio, kalian juga sudah mulai saling menerima bukan? Gio anak yang baik, hatinya sangat tulus mencintaimu. Setiap dia menelfonku, dia selalu menceritakanmu, kamu selalu menjadi topik obrolan yang menarik dalam setiap pembicaraan kami. Bibi mohon, terima Gio, bibi berjanji, bibi akan pergi jauh dari kehidupan kalian. Bibi tidak ingin membebani Gio dan dirimu,'' ucap Eva. Terlihat dari ujung sudut matanya pun mulai basah terkena air mata.
''Haaah!'' Iren membuang nafanya dengan kasar.
''Ternyata anda sangat menyayangi dan melindungi putra anda ya? Tapi apakah anda pernah berpikir bagaimana perasaan saya dan mama saya waktu itu ha! Pernahkah anda memikirkannya! Dengan seenaknya anda selingkuh, bercumbu mesra dengan papa saya tanpa memikirkan hati mama saya yang tersakiti. Anda dan mama saya sama-sama perempuan, tidakkah anda memiliki sedikit hati nurani! Anda memohon kepada saya di pagi-pagi buta demi agar putra anda tidak terluka hatinya. Tapi apakah anda menyadari bahwa sebenarnya putra anda sudah tersakiti hatinya saat ini?''
__ADS_1
''Jika saya menerima Gio, apakah Gio akan tetap melanjutkan hubungan kami, setelah mengetahui kebenarannya? Apa lagi anda berkata jika saya mau menerima Gio anda akan pergi dari kehidupan kami, anda pikir saya seperti anda? Yang tega memisahkan putranya dari mamanya yang bahkan tidak bisa apa-apa, hanya bisa mengandalkan kursi roda untuk berjalan. Saya tidak sekejam anda, saya bukan anda yang tega membuat seorang anak kehilangan ibunya yang telah melahirkan dan membesarkannya. Jadi lebih baik anda pulang dan tenangkan putra anda. Saya khawatir, bahkan putra anda tidak akan memaafkan anda,'' ucap Irena
Iren pun lalu pergi meninggalkan Eva yang masih diam membisu setelah mendengarkan ucapan Iren. Ia menyadari semua yang diucapkan oleh Iren sangatlah benar. Saat ini, putranya pasti sangat terluka setelah mengetahui kebenarannya.
Dan tanpa mereka sadari ternyata pembicaraan mereka terdengar oleh seseorang yang saat ini berdiri didekat toko Iren.
Alif sedang menemani kakaknya berbelanja kebutuhan toko, dan saat akan berjalan pulang, kakaknya melupakan sebuah barang yang seharusnya mereka beli. Alhasil Nadia kembali ke pasar. Sedangkan Alif, ia hendak melihat toko Iren. Ia tidak menyangka, Iren sudah ada di toko dan sedang melayani pembeli. Alif akan menghampiri Iren, namun langkahnya terhenti saat ada seorang wanita paruh baya menghampiri Iren dan ingin berbicara dengan Iren. Alif pun hendak mengurungkan niatnya untuk menemui Iren, ia pun membalikkan badannya untuk menyusul kakaknya. Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti saat mendengar suara Iren yang meninggi.
Rasanya Alif ingin langsung menghampiri Iren. Ia pun sudah mendengar semua pembicaraan Iren dan Eva, tangannya ikut mengepal mendengar wanita yang dicintainya berkata sambil menahan air mata. Ia bisa membayangkan bagaimana saat itu Iren pasti sangat lah menderita.
...β.....β‘.....β...
Setelah lumayan jauh ia berjalan meninggalkan mamanya Gio, Iren segera mengambil ponselnya dan menghubungi Gio.
''Halo,'' sahut Gio dari sebrang.
Setelah sampai di rumah, ternyata Mira sudah bangun. Ia sedang bersender di depan pintu kamar mandi.
''Sedang apa kamu disana Mir?'' Tanya Iren.
''Menunggu Mura mengeluarkan harta karun,'' jawab Mira dengan ekspresi masih mengantuk. Iren tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu.
''Baiklah, selamat menunggu harta karunnya, aku mau bobo lagi. Bantalku sudah memanggil-manggil ku dari kamarku,'' ucap Iren lalu pergi ke kamarnya di lantai atas.
''Haiiis dasar,'' Mira cemberut mendengat ucapan Iren.
''Mama! mama.'' Suara Mura dari dalam.
''Apa sudah selesai sayang?'' Tanya Mira pada putrinya.
__ADS_1
''Sudah mah, tapi perut Mura masih sakit, sepertinya mau pup lagi,'' jawaban Mura membuat Mira menepuk jidatnya.
''Itu namanya belum selesai Oh Mura Ardimas!'' Mira berucap gemas pada putrinya yang saat ini hanya tertawa mendengar mamanya yang kesal.
''Ya sudah, lanjutkan dulu pupnya sampai selesai. Kalau sudah selesai baru panggil mama ya? Mama mau duduk di sofa saja,'' ucap Mira yang akan berjalan ke arah sofa, namun langsung berhenti saat Mura...
''Jangan tinggalin Mura sendirian mah, Mura takut. Mama kalau menunggu di sofa pasti ketiduran yang ada,'' ucap Mura.
''Takut sama siapa? Takut itu sama Tuhan. Jika ada hantu kamu bisa bacakan doa sayang,'' Mira masih berusaha membujuk putrinya agar mau membiarkannya menunggu di sofa.
''Mura tidak takut dengan hantu mama! Mura hanya takut kalau ada kecoa yang tiba-tiba terbang dibadan Mura. Itu kan sangat menjijikkan mama,'' ucap Mura.
''Oh iya, aku lupa kalau anak itu sangat takut dengan kecoa,'' batin Mira.
Dengan terpaksa Mira pun tetap menunggui Mura di depan pintu kamar mandi. Walau harus menahan bau parfumnya Mura yang sedapnya tiada terkira.
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
πlike
β€ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih
__ADS_1