Kenangan Cinta Pertama

Kenangan Cinta Pertama
Bab 13: Kebenaran dari masa lalu


__ADS_3


💮 Selamat membaca, dan semoga sehat selalu 💮


''BRAAKK!'' ( Suara pintu mobil )


''Ya Tuhan Ren, kenapa mengagetkanku,'' tanya Dimas saat dirinya terkejut karena Iren menutup pintu mobil dengan keras. Namun tak lama kemudian Dimas paham kenapa Iren tiba-tiba badmood. Karena dari dalam toko, keluar seorang pria yang tak lain adalah Dafa mantan Irena.


''Pria brengsek itu!'' Ucap Dimas yang akan turun untuk menghampiri Dafa. Namun dengan segera tangannya di tarik oleh Iren.


''Biarkan saja, aku sudah tidak ingin berurusan dengannya. Lebih baik kamu segera antarkan aku kerumah mamaku,'' ucap Irena.


''Huuuuuh!'' Dimas membuang nafas kasar. Ia sungguh ingin sekali menghajar pria itu. Sebab, bagaimana pun Iren adalah sahabatnya dan sahabat istrinya. Mereka sudah seperti keluarga. Dengan perasaan kesal Dimas mengklakson Dafa yang sedang berjalan kearah mobilnya dengat suara yang keras.


''BIMM..BIMM..BIMMMMMMM!!!'' ( anggap saja suara klakson ya hehehe )


Dafa yang diklakson tiba-tiba membuatnya terkejut dan hampir saja jatuh ke parit.


''Sialan!'' Gerutunya.


...💮............................💮...

__ADS_1


Mobil Dimas kini sudah berhenti di depan pintu pagar rumah yang bernuansa serba putih dan bergaya klasik. Semenjak menikah lagi, mamanya kini tinggal bersama suami dan dua anaknya dari pernikahan papa tirinya terdahulu.


Mama kandungnya bernama Sriyana, menikah dengan papa sambungnya yang bernama Bayu. Dari istri pertamanya memiliki dua putra bernama Arsen 27 tahun dan Kenzo 20 tahun. Sedang papa kandung Irena bernama Dani, istri barunya bernama Lidiya, namun sampai 3 tahun usia pernikahan mereka belum dikaruniani anak.


''Ren, aku langsung pergi ya, nanti takut kemalaman pulangku,'' ucap Dimas. Iren pun mengiyakannya. Setelah kepergian Dimas, lalu ia memencet bel rumah itu. Namun tak seorang pun keluar dari rumah itu. Iren mencoba menghubungi mamanya, namun ponsel mamanya sepertinya sedang tidak aktif.


''Kemana mereka? padahal tadi sebelum berangkat aku sudah menghubungi mama,'' batin Iren. Namun tak lama kemudian datang sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan Iren. Iren mencoba memperhatikan siapa pemilik mobil itu. Hingga sang empunya mobil turun.


''Sedang apa kau berdiri di sini?'' Tanya sosok pria yang baru turun dari mobilnya, yang tak lain adalah Arsen Kakak tirinya Irena.


''Aku ingin menemui mamaku. Apa tidak boleh?'' Jawab Iren dengan ekspresi datar. Pria itu pun membuka pintu gerbang dan meminta Iren untuk masuk.


''Duduklah dulu, aku akan mengambilkan minuman untukmu.'' Arsen pun lalu berdiri menuju dapur untuk mengambilkan minuman. Tak lama kemudian Arsen menghampiri Iren dengan membawa segalas jus jeruk.


''Kenapa mama tidak bilang? Dan tadi pagi saat aku menelfon juga masih baik-baik saja?'' Ucap Iren.


''Sebenarnya, mama sudah sakit sejak lama. Bahkan sebelum mama menikah dengan papa. Saat itu papa menemukan mama pingsan di depan halte bus dekat kantor papa. Dan mama meminta papa untuk merahasiakan dari keluarganya,'' ucap Arsen tiba-tiba.


''Apa! Bagaimana bisa aku tidak tahu jika selama ini mama sakit. Mama sakit apa Ar?'' Tanya Irena. Air matanya sudah mengalir deras membasahi pipinya. Yang ia tahu selama ini, kedua orang tuanya tidak pernah peduli dengannya. Orang tuanya sering bertengkar, dan tiba-tiba mamanya meminta cerai dari papanya. Ia mengira karena papanya sering pulang larut dan jarang peduli dengan keluarga sehingga membuat mamanya memutuskan untuk becerai.


''Mama sakit kangker otak stadium akhir,'' DEG.... ''Selama ini, mama bertahan hidup dengan obat-obatan. Itulah sebabnya, mama sering di bawa papa pergi keluar negeri untuk berobat. Sebenarnya bukan karena tidak menyayangimu, tapi mama tidak ingin membebanimu, dan membuatmu sedih.'' Arsen Sebenarnya tidak tega mengatakannya, namun saat ia melihat wanita paruh baya yang merawatnya tiga tahun terakhir ini terbaring lemah di rumah sakit, hatinya pun merasa sedih. Mau tidak mau ia pun harus mengatakan hal yang sebenarnya pada adik tirinya itu.

__ADS_1


''Kangker...'' Irena tak sanggup lagi berkata apa pun. Ia pun meminta tolong Arsen untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, ia masih berdiri di depan pintu ruangan tempat mamanya kini di rawat. Dari balik kaca pintu, terlihat pak Bayu yang dengan telatennya menyuapi mamanya. Iren memejamkan matanya, ia harus berusaha kuat. Ia tak ingin terlihat sedih di hadapan mamanya.


''Masuklah, mama pasti senang melihatmu,'' ucap Arsen. Iren pun berusaha mengembangkan senyumannya. Dan saat Iren membuka pintu, mamanya sangat terkejut melihat putrinya kini berdiri di hadapannya. Pak Bayu pamit untuk pergi keluar. Ia ingin memberi ruang untuk istri dan anak sambungnya berbicara, dan mengobrol bersama.


''Mamaaaa....'' Meski sudah berusaha ia tahan, namun saat melihat mamanya, pada akhirnya air matanya pun tak mampu ia bendung lagi. Tangisannya pecah tak kala ia memeluk tubuh renta wanita yang telah melahirkannya itu. Menyadari putrinya kini tahu tentang kondisinya, Sriyana pun berusaha membuat putrinya untuk tegar.


''Jangan menangis lagi nak,'' ucapnya sambil mengusap air mata di kedua mata Irena.


''Maafkan mama yang membuatmu sedih seperti ini, maafkan mama yang telah membuatmu dewasa sendirian, dan membuatmu menghadapi masalahmu selama ini sendiri. Jangan berusaha memikulnya sendirian nak, kamu tak perlu begitu lagi, kamu bisa membaginya dengan mama dan papa. Mama dan papamu masih banyak kekurangan untuk bisa kamu andalkan nak," ucap mamanya sambil menepuk-nepuk bahu Iren.


"Jangan khawatir ma, aku hanya lebih nyaman menyendiri. Selama ini, Iren selalu baik-baik saja ma," matanya terpejam, air matanya pun semakin deras terasa.


"Nak, meskipun begitu...." belum selesai mamanya berkata namun Iren sudah menjawab.


"Aku sungguh baik-baik saja mah, aku suka hidupku saat ini. Aku sungguh tidak apa-apa, " jawab Irena.


"Aku mengatakan "Tidak apa-apa" seperti sebuah motto, walau sebenarnya aku tidak pernah sekalipun baik-baik saja," batin Irena.


Setelah cukup lama mengobrol, tiba-tiba Irena menanyakan apakah papanya selama ini tahu tentang penyakit mamanya.

__ADS_1


''Kamu jangan marah sama papamu nak, papamu tidak salah. Sebenarnya itu semua salah mama. Mama yang meminta papamu untuk menceraikan mama, setelah mama tahu kalau hidup mama nggak akan lama lagi. Tapi papamu selalu menolak, hingga terjadilah pertengkaran-pertengkaran yang selama ini kamu dengarkan. Mama tidak ingin membuat kalian sedih berlarut-larut setelah kepergian mama nanti. Tapi papamu tetep kekeh tidak mau menceraikan mama. Hingga akhirnya mama berpura-pura selingkuh dengan papa Bayu, setelah papa Bayu menolong mama. Dan sejak mengetahui mama selingkuh, akhirnya papamu mau menceraikan mama. Jadi, mama harap kamu jangan membenci papamu ya, jangan terlalu keras padanya. Dia sungguh sangat menyayangimu nak,'' Ucap Sriyana pada anaknya.


🐰 Maaf ken Mala apabila masih ada beberapa kata yang belibet, dan typo dimana-mana. Terimakasih sudah mau membaca karya coret² Mala 🐰


__ADS_2